Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kerja?
"Ra masih lama?"
"Bentar, kalo mau cepet ya bantu milih"
Keadaan mood Farel kali ini memburuk, niatnya ia akan bersenang senang dengan istri dan adiknya eh ternyata ia malah terjebak dengan temannya satu ini, Farel beberapa kali berpikir apakah istrinya tersakiti atau tidak karena ia tidak bisa tegas menolak ajakan Citra dan meninggalkan mereka, tapi mau bagaimana lagi karena Farel juga mempunyai tanggung jawab menjaga Citra.
"Ini cocok nggak?" dia sedang mencoba sepatu hak tinggi berwarna putih.
"cocok" jawab Farel cepat, ia ingat cepat cepat menyusul Sindi dan Naila.
"Ya udah gue ambil yang ini" Farel bernafas lega, ia langsung memanggil mbak mbaknya.
Sambil menunggu Citra membayar Farel menelpon Sindi.
Tet teret teret teret teret tet teret teret teret teret 🎶
📞 Perkedel Call
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam... lu dimana?"
"Di tempat permainan, ini lagi mandi bola sama Naila."
"Jangan kemana mana, gue otw kesana."
"Iya."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
tut
Farel menghela nafas kasar, ia sangat ingin bermain dengan mereka sekarang, pasti seru mandi bola bersama mereka, demi Citra ia jadinya harus berpencar dengan Sindi dan Naila.
"Yuk Rel."
"Kita susul Cia di lantai 3." Farel berjalan duluan.
"Mereka ngapain disana?" Citra berusaha menyamakan langkah Farel.
"Main."
Naila yang melihat abangnya mendekat langsung melambaikan tangannya.
"Abang..."
"Kelihatannya seneng banget dek."
"Seneng dong bang..."
"Sista mana?" tanya Farel tidak melihat keberadaan istrinya.
"Isi kartu lagi." Naila menunjuk Sindi.
"Lagi?" alis Farel terangkat.
"Iya 3 kali." mengangkat tiga jarinya, Farel menganga mendengar jawaban Naila.
"Nih yang terakhir ya." Sindi datang dan memberikan Powercard kepada Naila.
"Ci dari tadi disini?"
"Iya, tadi cuma beli squishy ini." Sindi menunjukkan squishy yang dibelinya tadi.
"Lu udah isi 3kali?"
"Iya." Sindi mengangguk.
"Jangan boros boros Ci..."
"Paling kalau duitnya habis minta lu lagi." Citra bersuara.
"Gue selama kenal Farel aja nggak pernah pakai duitnya paling cuma di bayarin makan, nah lu baru beberapa hari aja udah ngabisin duit, bangkrut lama lama." Citra menatap sinis ke Sindi.
"Apasih, nih duit yang dikasih Kak Farel masih dua ratus tiga puluh, lagian gue punya hak atas duit suami gue lah lu siapa? ck, nih gue balikin, males gue masalah ngitung ngitung duit." Sindi meletakkan uang itu di genggaman Farel lalu dia pergi menghampiri Naila.
"Ngambekan." Citra tersenyum sinis, ia mengedihkan bahunya dan fokus pada handphonenya.
Ingatkan Farel besok besok jangan ajak dua wanita ini jalan bersama, ia pergi menghampiri istrinya.
"Ci..." Farel melingkarkan tangannya di pinggang Sindi.
"Hemm?"
"Lu marah?"
"Nggak, males aja gue juga takut kebawa emosi sama kak Citra."
"Sista sista dapet sembilan puluh." Naila menunjuk tiket yang belum berhenti keluar.
"Tapi kartunya dihabisin sama Naila." dengan takut Naila memberikan Powercard kepada Sindi.
"Nggak papa tapi udah ya mainnya." Mengelus kepala Naila.
"Makasih sista." Naila tersenyum ceria, ia mengumpulkan tiket yang ia dapat.
"Ci bener habis?" Farel mengambil Powercard itu dan menggesekkannya di salah satu permainan, di sana tertera sisa saldo hanya 1000.00
"Bener habis loh Ci, kan baru lu isi."
"Nggak papa gue isinya dua puluh ribu terus, biar nggak boros kalau sekali langsung banyak bisa kalap, kalau ginikan ada kepuasan tersendiri udah habisin kartu tiga kali."
"Pinter banget istri babang Farel." Farel menoel pipi Sindi.
"Pintir bingit istri bibinh Firil." Sindi menirukan ucap Farel.
"Ooooo..... awas lu ya." Farel memiting kepada Sindi dengan lengannya.
"Naila tolong sista..." Sindi meminta bantuan kepada adik iparnya yang dipastikan akan berpihak kepadanya.
"Heh abanggg... lepasin sista." Naila langsung menarik tangan Farel.
"Nggak bisa wlekk..." Farel mengejek Naila.
"Besok besok lagi nggak Naila ajak jalan jalan sama sista." Ancam Naila membuat Sindi tertawa.
"Kamu yang nggak abang ajak jalan jalan sama sista." Farel membalikkan omongan Naila.
"Sistaaa...." rengek Naila, Sindi yang masih berada di lengan Farel tertawa.
"Rel..." Citra menghampiri mereka.
Sindi langsung melepaskan diri dari Farel dan membantu Naila mengumpulkan tiket.
"Makan yuk Rel, Laper." Ucap Citra manja.
"Kita nuker tiket dulu habis itu ke resto biasa." Farel mendengus, dalam hatinya ia memakin kedatangan Citra yang mengganggu momen kebersamaannya dengan Sindi.
Jam kini sudah menunjukkan pukul 4 sore, setelah menukarkan tiket mereka langsung meluncur ke resto yang biasa Farel dan Citra datangi, di perjalanan Citra kembali menceritakan kedekatannya dengan Farel, tentang mereka yang sering jalan bareng, sering makan ditempat yang akan mereka tuju, menceritakan makanan kesukaan Farel, momen momen lucu mereka.
Farel akui jika ia memang sedekat itu, tapi ingatkan dia mulai sekarang harus menjaga batasan dengan Citra karena sudah ada seseorang yang hatinya harus dan wajib ia jaga.
"Mbak..." Farel mengangkat tangan kanannya memanggil pelayan.
Pelayanan itu mendekat, dengan cepat Sindi mengedipkan sebelah mata sebagai isyarat agar tidak mengenalinya.
"Mau pesan apa mas?" Tanya pelayan itu.
"Gue Tom Yum minumnya es jeruk, kalian mau apa? gue traktir deh." Sindi melihat kearah mereka satu persatu.
"Ujung ujungnya juga uang Farel." ucap Citra dengan nada meremehkan, sejak tadi tangan Sindi sudah gatal ingin sekali melayang di bibir seseorang.
"Nggak ini murni pakai duit gue, Naila mau apa?"
"Ini gimana sih bacanya? Naila mau ini." Naila menunjuk foto makanan di daftar menu.
"Roast beef and Yorkshire pudding." ucap Farel.
"Nah mau ini minumnya Milo, emmm bang tadi di mall Naila belum beli es krim, Naila pengen boleh?" Naila menatap kearah Farel.
"Boleh tapi jangan banyak banyak"
"Yeyyy Naila mau ice krim vanilla ya sista." Naila memekik senang.
"Iya, lu kak?"
"Gue Asado minumnya es jeruk"
"Gue Naengmyeon, Haupia, minumnya jus alpukat"
"Ada yang lain?" Tanya Anggun, pelayan yang mencatat pesanan mereka, yang dibalas oleh gelengan.
"Tunggu sebentar ya kak"
Setelah kepergian Anggun Sindi pergi, izinnya ke toilet padahal Sindi mengejar Anggun ingin mengatakan jika Farel ingin membayar pesanan mereka katakan jika sudah di bayar olehnya.
Dari kejauhan Sindi melihat kedekatan Farel dan Citra, mereka duduk berdampingan sedangkan Sindi duduk berdampingan dengan Naila, Citra menunjukkan sesuatu di handphonenya lalu mereka tertawa bersama, jika dilihat lihat mereka memang cocok hanya saja mereka tidak ditakdirkan berjodoh.
Sindi mendekat sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Udah hampir setengah 5 nih sholat dulu yuk" ajak Sindi.
"Nggak ah di rumah aja." tolak Citra.
"Naila mau ikut sista." Naila turun dari kursinya.
"Gue juga ikut" Farel bangkit dari duduknya.
"hisss... ya udah gue ikut."
Mereka menuju ke mushola yang di sediakan oleh resto, mereka sholat berjamaah dengan Farel yang menjadi imannya, seperti kebiasaan bagi Sindi semenjak menikah setelah sholat Sindi mencium punggung tangan suaminya, diikuti oleh Naila yang mencium punggung tangan abang, sista dan Citra.
Melihat hari mulai malam terlebih lagi Citra yang hanya pamit hingga sore hari kepada sang papi akhirnya mereka langsung menuju meja mereka kembali dan menikmati makanan yang sudah tersedia di meja.
Resto kini cukup penuh diisi oleh sekelompok pemuda pemudi yang sepertinya sedang merayakan sesuatu, ada salah satu dari mereka yang menyumbangkan sebuah lagu hingga membuat resto semakin ramai dengan suara pemuda pemudi yang ikut bernyanyi.
"Uhhhh, kenyang..." Naila mengelus perutnya.
"Alhamdulillah..." timpal Sindi.
"Yok pulang, udah jam segini." Citra mengecek jam di handphonenya.
"Gue bayar dulu." Farel merogoh dompetnya.
"Udah gue bayar kak." ucapan Sindi menghentikan Farel yang akan memanggil pelayan.
"Habis berapa?."
"Adalah."
"Udah ayo pulang, ntar kalo uangnya habis juga minta ke lu." Citra bangkit.
Jambak disini boleh nggak ya? gedek lama lama Sindi sama manusia satu ini, untung dia sabar, ususnya lebar.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan resto, menuju kerumah Citra.
"Gue masuk dulu, Rel inget besok malem." ucap Citra sebelum keluar dari mobil.
Langit yang berwarna kuning keemasan membuat suasana tenang, damai, dan hening, Farel yang fokus nyetir, Sindi yang hanya menatap sekitar dan Naila yang tertidur pulas karena kecapean, hingga Farel membuka suara.
"Lu dapet uang dari mana?"
"Adalah"
"Dari tadi adalah, adalah bukan jawaban yang gue pengen denger, Lu dapet uang dari mana? Lu kerja? Apa uang dari ayah? jawab yang benar, sekarang lu istri gue, jadi gue harus tau semuanya tentang lu, kalau lu kerja jelasin ke gue kerja apa? Tapi kalo lu dapet uang dari ayah mulai besok jangan terima, karena itu udah jadi tugas gue" ucap Farel pelan namun tegas.
"Uang itu murni hasil kerja keras gue sendiri, gue ada usaha kecil kecilan, sejak masuk kuliah gue udah ada penghasilan sendiri." jawab Sindi.
"Mulai sekarang kalo ada apa apa bilang gue insyaallah kalau mampu gue penuhin karena lu itu tanggung jawab gue."
{\_/}
( •.•)
/>❤
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO