NovelToon NovelToon
Beyond The Sea

Beyond The Sea

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ssintia

Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.


Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.


Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.


Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.

Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.


xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter | 28

+

+

Lily mengelus keningnya yang pasti terdapat ruam merah setelah di lempar Kay dengan Ipad-nya. Bayangkan benda itu di lempar tepat di keningnya, Lily berharap keningnya tidak benjol, tapi sepertinya harapannya tidak terkabul karena dia merasa permukaan keningnya jadi sedikit tidak rata.

Kay marah padanya karena menggunakan pakaian yang katanya tidak cocok. Tentu saja Lily membela dirinya yang tidak salah karena laki-laki itu tidak memberi tahunya.

"Cepat ganti bajumu." Kay melemparkan paper bag berisi pakaian yang laki-laki itu pesan setengah jam yang lalu.

Dengan cepat Lily masuk ke kamar mandi dan membuka paper bag yang berisi satu set pakaian hangat dan juga mantel berwarna hitam. Lily mengganti pakaiannya dengan cepat, tidak ingin Kay marah karena menunggunya terlalu lama.

"Kau sangat lambat." Kalimat bernada pedas itu terdengar ketika Lily keluar dari kamar mandi.

"Maaf." Tidak memperdulikan perkataan Kay, Lily segera mendekati laki-laki itu.

Setelah satu jam lebih berada di perjalanan, akhirnya mobil yang membawa mereka berdua berhenti di depan sebuah gedung yang sangat tinggi. Lily takjub melihatnya.

Ketika keduanya masuk ke dalam, lagi-lagi orang-orang menyambut mereka. Kay tidak ingin berlama-lama dan langsung menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana pertemuan akan di laksanakan.

Lily merapatkan tubuhnya di samping Kay, "Kay kenapa aku harus selalu ikut bersamamu?"

Kay menunduk lalu menatap Lily, "Kehadiranmu cukup berguna." Lily mencibir dalam hatinya ketika mendengar jawaban Kay.

"Oh." Lily kembali memandang ke depan tidak perduli dengan Kay yang tidak berhenti memandangnya.

Ketika lift berhenti ternyata sudah ada seorang laki-laki dengan pakaian formal menunggu kedatangan Kay, laki-laki itu menunjukkan jalan ke ruangan dimana rapat akan berlangsung.

Sepanjang lorong, Lily melihat kesana kemari, tapi tidak ada hal apapun yang menarik perhatiannya, selain laki-laki yang ada di sampingnya ini.

Laki-laki itu berhenti di depan sebuah ruangan lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk. Sebelum masuk Lily mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.

Lily kaget ternyata sudah ada banyak orang yang ada di sini. Dan semua yang hadir juga terlihat seperti sepasang. Mungkin ini alasan kenapa Kay membawanya. Keduanya di persilahkan menempati kursi yang sudah di siapkan.

Lily bernafas lega ketika Kay melepaskan kaitan tangan di pinggangnya. Lily menghirup nafasnya dengan dalam, menetralisir perasaan gugup yang tiba-tiba saja melanda. Dengan perlahan Lily menengok ke arah sampingnya dan menemukan seorang wanita dewasa yang tengah menatapnya tidak suka dengan terang-terangan membuatnya mengernyitkan kening.

Memberikan senyuman tipisnya tapi wanita itu malah melengos membuat wajah Lily kembali datar. Sepertinya dia jangan berbuat seperti itu lagi.

Meskipun sudah merasa bosan, tapi Lily menahan perasaan itu dengan mencoba bersabar. Tapi sepertinya itu tidak berhasil karena dia sudah merasa ingin segera keluar dari ruangan ini. Melirik ke sekitarnya orang-orang masih fokus pada pembahasan yang tidak bisa otak Lily tangkap apa maksudnya.

Lily menggigit bibir bawahnya seraya melihat Kay yang sedang berbicara. Merasakan tepukan di pahanya membuat Lily segera melihat siapa pelakunya. Rupanya wanita yang sedari tadi melihatnya dengan tidak suka adalah pelakunya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lily sepelan mungkin.

"Berapa harga mu." Perempuan itu malah balik bertanya dengan nada yang meremehkan. "Sepertinya sangat murah, barangmu terlihat tidak menarik." Lanjutnya dengan senyum meremehkan.

Mengerti apa maksud perkataan wanita itu membuat Lily mengepalkan tangannya. Apa maksudnya berkata seperi itu padanya. Tapi lebih baik Lily tidak memperdulikan perkataan itu daripada suasana hatinya semakin memburuk.

"Ayolah jawab pertanyaanku, jangan munafik." Tapi sepertinya wanita dewasa itu tidak ingin membiarkan Lily tenang. "Aku ingin tahu bagaimana bisa kau menggaet pria kaya Yunani yang ada di sampingmu."

Lily mendekatkan wajahnya ke wanita itu lalu berbisik tepat di samping telinganya. Memundurkan kembali kepalanya, Lily melihat wajah perempuan itu berubah merah, merasa tidak terima dengan perkataan Lily.

"******."

Saat lily akan mendekat pada perempuan itu, pinggangnya terlebih dulu ditahan oleh Kay. Melihat Kay yang menatapnya dengan pandangan menenangkan membuat emosi Lily berangsur turun.

"Bukan sekarang honey." Bisik Kay di samping telinganya.

"Aku ingin keluar dari sini." Balas Lily dengan berbisik.

"Sedikit lagi." Kay mengambil tangan Lily lalu menyimpannya di pangkuannya seraya mengelus-elus nya.

Setengah jam berlalu, akhirnya selesai juga pertemuan membosankan ini. Mood Lily sudah jatuh total karena wanita yang ada di sampingnya yang tidak menyerah untuk mengganggunya.

Lily melihat wanita itu berdiri dan langsung menggandeng seorang laki-laki yang terlihat sudah tua. Saat wanita itu akan berjalan di depannya dengan sengaja Lily memanjangkan kakinya hingga membuat wanita itu hampir terjatuh jika saja Kay tidak menahannya.

"Hati-hati nona." Ujar Kay seraya melihat wanita itu dengan raut yang tidak bisa Lily lihat karena Kay membelakanginya. Melihat wajah wanita itu yang memerah membuat Lily mengepalkan tangannya lalu dengan segera berdiri ingin keluar tapi kalah dengan Kay yang mencekal tangannya.

Lily mencoba melepaskan tangannya tapi Kay menahannya dengan erat membuatnya tidak bisa bergerak. Meskipun perasaan kesal yang masih menyelimuti hatinya, Lily berjalan di samping Kay dengan percaya diri. Memperlihatkan pada wanita itu jika Kay adalah miliknya.

"Sudah ku bilang belum waktunya tapi kau sudah tidak sabar." Ujar Kay setelah keduanya keluar dari gedung dan memasuki mobil yang mengantarkannya tadi.

"Wanita itu sangat menyebalkan." Rajuk Lily dengan wajah yang di tekuk.

"Aku tahu."

"Kau tahu, tapi kenapa tadi malah membantunya." Ujar Lily dengan jengkel yang malah membuat Kay tertawa.

"Kenapa kau malah tertawa." Lily memalingkan wajahnya agar tidak melihat Kay.

"Kau terlihat manis jika sedang marah seperti itu." Mobil melaju meninggalkan gedung itu menuju tempat selanjutnya.

"Terserah bilang apa saja, aku tidak peduli." Lily melipat tangannya di depan dada lalu pandangannya fokus pada luar.

Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah restoran tradisional. Tadinya Lily tidak mau mengikuti Kay yang sudah keluar tapi perutnya berkhianat karena terus berbunyi membuatnya mau tidak mau harus keluar.

Lily berlari kecil menyusul Kay yang sudah berjalan di depannya. Ketika sudah di sampingnya dengan segera Lily menarik tangan Kay lalu melilitkan tangannya. Kay meliriknya sekilas lalu fokus kembali ke depan.

"Apa kabar Tuan Cyrano" Seorang laki-laki sepantaran dengan Kay menyambut keduanya.

"Seperti yang kau lihat, dan stop memanggilku seperti itu Akira." Laki-laki bernama Akira itu adalah seseorang yang bisa dikatakan dekat dengan Kay ketika laki-laki itu menetap di negara ini selama dua tahun. Akira orang yang selalu bisa Kay andalkan jika dia membutuhkan sesuatu. Hingga Kay meninggalkan negara ini.

"Haha, baiklah-baiklah. Ayo duduk aku sudah mempersiapkan yang spesial untukmu." Keduanya di arahkan menuju ruangan privat.

"Kau selalu tahu apa yang ku butuhkan" Kay setelah melihat meja yang ada didepannya yang sudah terhidang banyak menu.

"Tentu saja, apalagi kali ini kau membawa seseorang yang sepertinya spesial." Akira mengedipkan satu matanya seraya memandang Lily membuat Kay tidak suka melihatnya.

"Ya kau benar." Kay melirik Lily yang sedang menatap makanan di depannya dengan mata berbinar. Tidak memperdulikan percakapan kedua laki-laki yang ada didepannya. Toh dia juga tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Mereka bicara menggunakan bahasa Jepang.

"Sepertinya pasanganmu sudah tidak sabar, kalau begitu aku keluar dan panggil saja jika kau memerlukan sesuatu" Akira keluar setelah memberikan senyuman pada Lily yang tentunya gadis itu balas.

"Sepertinya kalian cukup akrab." Ujar Lily setelah keduanya duduk di kursi yang saling berhadapan.

"Ya, kami berdua cukup dekat." Jawab Kay seraya memandang Lily lalu segera menyiapkan peralatan makannya.

Lily menatap tindakan Kay lalu menurutinya karena dia baru pertama kali melihat tata cara makan seperti ini. Keduanya pun larut dalam makanannya.

"Jangan lupa untuk sering-sering berkunjung." Akira mengantarkan mereka hingga di depan mobil.

"Tentu saja jika ada kesempatan lain." Kay mengelus tangan kanan Lily yang dia masukkan ke dalam saku mantelnya. Cuaca di sini semakin dingin.

"Semoga kau tetap bertahan di samping laki-laki bajingan seperti tuan Cyrano ini, nona." Akira menatap Lily dengan pandangan hangatnya membuat Lily kikuk tidak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan.

"Sialan, untung saja wanitaku tidak mengerti apa yang kau katakan." Kay segera masuk ke dalam mobil setelah melihat bibir Lily mulai bergetar.

Kay merapatkan tubuh keduanya ketika sudah duduk di kursi mobil, "Kay kenapa semain dingin." Lily tidak segan-segan memeluk Kay dengan erat.

"Cuacanya memburuk." Kay mengelus-elus kepala Lily yang ada di depan dadanya.

"Itu bukan hal yang bagus."

"Kita akan kembali ke hotel, sebelum nanti malam bersenang-senang." Ujar Kay membuat Lily melepaskan pelukannya.

"Maksudnya?"

"Kau akan tahu nanti." Kay memberikan senyuman misterius membuat Lily bergidik ngeri dan penasaran melihatnya.

+

+

...°B e y o n d T h e S e a°...

1
charis@ŕŕa
lagi ndong thor knp up ny lama.....
Bzaa
seruuuuu dan bikin penasaran tor....
Bzaa
awalnya sudah menguras emosi...
sukses otor, dan semangat 💪😘
callmevigo: Terimakasih ❤️
total 1 replies
charis@ŕŕa
love love luar biasa keren
charis@ŕŕa
lanjut donk......
👑@N4ND@👑
lanjut ...
👑@N4ND@👑
seru berasa kaya nonton flim ,bikin penasaran semangat thor lanjut 😍😎
callmevigo: Makasih❤️
total 1 replies
charis@ŕŕa
knp hrus pakek pngman....???
callmevigo: biar aman kak😉
total 1 replies
Enok Nurhayati
Ceritanya menarik
Fushito UwU
Ngomong-ngomong, thor, jangan sampe gak rajin menulis, ya! Soalnya aku sudah terlanjur ketagihan dengan ceritamu.
callmevigo: Makasih,,
total 1 replies
Alexia
semangatt kakkk up nya... ceritaanyaaa seruuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!