Ayura Azura sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Elvano, cowok populer di kampusnya. Saat mabuk, tanpa sadar Yura menyatakan perasaannya pada Elvano secara langsung. Dan saat cintanya bersambut, masa lalu kedua orang tua mereka menjadi penghalang terbesar bagi hubungan mereka. Akankah mereka bisa terus mempertahankan cinta mereka?
Ikuti yuk kisah Yura dan Vano dan jangan lupa masukkan sebagai favorit kalian.
Terus dukung Author ya. Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya.
Terimakasih 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : BSC
Pagi ini Vano menelfon Yura dan mengajaknya bertemu ditaman jam 4 sore nanti.
"Datanglah dan jangan sampai terlambat" ucap Vano dari balik sambungan telefon.
Sambungan telefon pun terputus, Yura nampak begitu bahagia karena secara tidak langsung Vano mengajaknya untuk berkencan.
Menjelang sore, Riri membantu Yura berdandan dan bersiap. Ia juga sudah memesankan sebuah taksi untuk sahabatnya itu. Yura terlihat begitu cantik dengan dress tanpa lengan berwarna biru muda, ia mengenakan jaket denim berwarna putih untuk menutupi bagian atasnya yang terbuka.
Sudah hampir jam 4 sore, Yura bergegas naik kedalam taksi menuju ke arah taman. Setelah menempuh setengah jam perjalanan, taksi yang dinaiki Yura belum juga sampai ditaman karena terjebak macet.
"Ada apa pak? Kenapa berhenti?" tanya Yura saat taksi itu tiba-tiba berhenti.
"Sepertinya ada kecelakaan didepan non makanya macet panjang" jawab supir taksi.
Dengan perasaan gelisah Yura menunggu didalam taksi. setelah setengah jam menunggu dan taksi belum juga bergerak maju, akhirnya Yura memutuskan untuk turun. Yura mulai berlari menuju taman yang masih lumayan jauh jaraknya dari tempat taksi itu berhenti.
Seperti orang gila, Yura terus berlari demi menemui kekasihnya tanpa memperdulikan orang-orang tengah melihat ke arahnya.
"Tunggu aku kak..." batin Yura sambil terus berlari.
Saat sudah berada ditaman, Yura menghentikan langkahnya dan melihat sekelilingnya tapi ia tidak melihat Vano disana, beberapa kali ia menelfon namun tidak diangkat. Dengan wajah panik, Yura kembali berlari masuk lebih dalam ke taman itu.
Setelah mencari kesana kemari dan tidak menemukan kekasihnya itu, Yura pun menghentikan langkahnya disebuah jembatan kayu ditengah-tengah air. Ia kembali melihat ke arah layar ponselnya dan jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit.
"Apa dia sudah pergi? Kenapa tidak menungguku sebentar lagi" gumam Yura dengan mata berkaca-kaca, badannya sudah terasa lemas dan lelah.
Yura nampak terdiam dengan tatapan sedihnya. Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang dan berdiri tak jauh dibelakangnya.
"Yura..." panggil suara yang sangat familiar itu.
Dengan cepat Yura membalikkan badannya dan melihat Vano sudah berdiri disana, ia pun merasa senang karena pria itu ternyata belum pergi.
Tanpa melepaskan pandangannya dari Yura, Vano berjalan mendekat.
"Selamat ulang tahun, tuan putri" ucap Vano. Yura tersenyum bahagia karena Vano mengetahui jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, ulang tahun yang ke 21.
"Bagaimana kakak bisa tau?" tanya Yura, ia merasa sangat terharu.
"Tentu saja aku tau" Vano tersenyum dan membelai lembut wajah Yura.
Untuk sesaat mereka saling terdiam dan saling menatap. Tanpa terasa mata Vano mulai memerah dan berkaca-kaca.
"Kak, apa kamu menangis?" Yura bertanya dengan nada khawatir.
Vano mendekatkan wajahnya dan memegangi wajah Yura, wajah yang mungkin tidak akan ia lihat lagi. Akankah ia sanggup menjalani hari-harinya nanti tanpa melihat wajah gadis itu.
"Tuan putri harus selalu tersenyum bahagia" hanya kata itu yang keluar dari bibir Vano, rasanya ia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Asalkan kamu selalu berada disisiku, aku pasti akan selalu tersenyum. Jangan pernah berfikir untuk pergi meninggalkanku, jika itu sampai terjadi maka jiwaku akan mati bersama dengan kepergianmu" tanpa terasa air mata menetes diwajah cantiknya.
Tak menjawab, Vano langsung memeluk erat tubuh Yura, ia merasa sangat sedih karena harus pergi meninggalkan gadis itu. Semua ini bukan kehendaknya, tapi mungkin ini yang terbaik untuk mereka.
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun aku selalu mencintaimu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu" isak Yura dalam pelukan Vano.
Mendengar ucapan gadis itu, Vano pun semakin mempererat pelukannya dan air matanya pun menetes diwajah tampannya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua yang terjadi ini bukan salah cinta mereka. Tapi takdir seakan tidak mendukung cinta mereka untuk bersatu.
"Berjanjilah kamu tidak akan pernah pergi meninggalkanku" ucap Yura, Vano melepaskan pelukannya untuk menatapnya.
"Aku mencintaimu" ucap Vano, lalu ia mendaratkan ciuman dibibir gadis itu.
Vano POV
Untuk pertama kalinya aku mencintai seorang gadis begitu dalam. Aku ingin selalu bersamanya dan menjaganya, namun takdir seolah tidak berpihak pada cinta kami. Ayura Azura, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Tersenyumlah walaupun tanpa aku disisimu.
Vano POV end
🌟🌟🌟
Beberapa hari kemudian...
Mira dan Vivian menurunkan koper mereka ke lantai bawah. Hari ini mereka akan terbang ke London. Mira menegur Vano saat melihat putranya itu berjalan melewati mereka.
"Vano kamu mau kemana? Sebentar lagi kita akan berangkat ke bandara" ucap Mira
Vano menoleh ke arah mamanya, "Vano ada urusan sebentar, mama dan Vivian tunggu Vano dibandara saja. Nanti Vano langsung menyusul kesana"
Mira tidak bertanya lagi, ia bisa mengerti perasaan putranya itu. Mereka memang tidak salah dalam hal ini, namun ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.
"Maafkan mama ya Vano, mama tau kamu sangat mencintai gadis itu" batin Mira sambil menatap ke arah kepergian putranya.
Di kampus...
Seisi kampus ramai melihat ke arah Vano dan Bella yang tengah berjalan dengan bergandengan tangan. Riri yang juga melihatnya pun segera berlari menyusul Yura kekantin untuk memberi tau sahabatnya itu.
Sesampainya dikantin Riri melihat Yura yang tengah duduk sendirian, ia langsung menarik pergelangan tangan gadis itu tanpa mengatakan apapun. Ia tidak memperdulikan Yura yang terus bertanya padanya. Saat sudah sampai halaman kampus, Riri menghentikan langkahnya dan menunjuk ke arah Vano dan Bella yang tengah berjalan ke arah mobil Bella sambil terus bergandengan tangan.
Yura yang melihatnya pun hatinya merasa seperti teriris. Ia berlari mengejar ke arah mereka.
"Kak...!" panggil Yura membuat langkah Vano dan Bella terhenti dan menoleh ke arah Yura.
Vano melepaskan tangan Bella dan menyuruhnya untuk menunggunya di dalam mobil, lalu ia pun berjalan mendekat ke arah Yura yang tengah menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa. Kini mereka pun berdiri saling berhadapan.
"Apa kamu akan pergi dengannya?" tanya Yura dengan air mata tertahan.
"Hmmmm" jawab Vano menganggukkan kepalanya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Yura sambil matanya menjelajahi wajah pria itu.
"Jika kamu mau, kamu juga bisa pergi dengan siapapun yang kamu mau. Aku tidak pernah melarangmu untuk pergi dengan pria lain bukan?" ucap Vano
Jlebb...
Kata-kata itu begitu terdengar menyakitkan dihati Yura. Bibirnya bergetar dan air matanya mulai menetes membasahi wajahnya. Ia mencoba mengontrol emosinya dan mencoba untuk bertanya kembali.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Yura dengan suara bergetar.
"Tidak ada yang salah" jawab Vano, "Aku harus pergi, Bella sudah menungguku"
Vano membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya.
"Jika kamu tetap pergi dengannya maka kita putus!" teriak Yura membuat langkah Vano terhenti.
"Kalau begitu putus saja" jawab Vano tanpa menoleh. Hati Yura pun terasa sakit mendengar ucapan Vano.
Pintu mobil Bella sudah terbuka dan Vano bergegas masuk ke dalam, ia duduk dikursi belakang bersama dengan Bella. Supir Bella melajukan mobil itu pergi.
Melihat mobil yang dinaiki Vano melaju pergi, Yura berlari mengejarnya sambil berteriak.
"Kak... Jangan pergi.....!!" teriak Yura sambil terus berlari mengejar mobil itu.
Didalam mobil air mata Vano mulai menetes, ia menundukkan kepalanya. Hatinya terasa begitu sakit karena ia harus berpisah dengan Yura, gadis yang sangat ia cintai.
Bella yang duduk disampingnya pun mengerjip-ngerjipkan matanya agar air matanya tidak keluar. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar jendela, ia tidak sanggup melihat seorang Elvano menangis seperti itu.
Mobil itu sudah semakin jauh, langkah Yura pun terhenti dan air matanya terus membanjiri wajahnya.
"Kamu bilang kamu tidak akan berkhianat, tapi kenapa kamu melakukan ini padaku kak" tangis Yura sesegukan.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, mobil Bella berhenti tepat didepan bandara.
"Terimakasih" ucap Vano lalu menoleh ke arah Bella.
"Jangan berterima kasih, semoga kamu tidak menyesali keputusan kamu ini" jawab Bella.
Tanpa menjawab ucapan Bella, Vano membuka pintu mobil itu dan bergegas turun. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam bandara dimana mama dan adiknya sudah menunggu disana.
Bella yang sedari tadi berusaha kuat pun akhirnya tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar saat melihat kepergian Vano.
Satu jam kemudian pesawat yang dinaiki Vano pun terbang menuju London. Vano pergi meninggalkan negara itu, meninggalkan Yura dan kenangan mereka.
💖💖💖