Namaku Almira.
Akh, tidak!
Namaku Rosella.
Yah sebenarnya semuanya adakah namaku, hehehe.
Ini adalah kisah perjalanan hidupku sebagai seorang istri yang menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya dari suami dan keluarganya.
Ya, inilah kisahku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Libra Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Mita menggelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan saat melihat apa yang disodorkan Mira kepadanya.
"Tidak, Mbak Mira ... Tolong jangan sentuh mereka, jangan sakiti mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah ini, bahkan jika aku mati, jangan biarkan mereka tahu tentang kematianku."
"Mereka tidak bersalah, akulah yang bersalah karena sudah mengganggu keluarga Mbak ... Tolong jangan sentuh mereka," ucap Mita dengan penuh permohonan, dia tahu apa yang dikatakan oleh Mira itu bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dan dia juga tahu kalau Mira pasti akan melakukan apa saja yang dia ucapkan itu, semua yang dia katakan, pasti akan benar-benar menjadi kenyataan.
Entahlah, meski tidak memiliki bukti khusus untuk itu. Tapi Mira seolah bisa mempercayai dan merasakan kebenarannya itu, terbukti dengan apa yang telah menimpanya beberapa saat lalu.
"Semua tergantung padamu, Mita ... Aku bisa membiarkan mereka tetap hidup dalam kebebasan dan kebahagiaan, tapi kamu harus menuruti apa saja yang aku perintahkan."
"Dan kamu juga harus ingat kalau aku tidak pernah main-main dengan perkataanku, bahkan aku juga bisa saja memisahkanmu dengan Arion selamanya ... Jadi, bersikap baiklah agar aku tidak melakukan semua itu!"
Mira masih berdiri dengan tatapan mata tajam menusuk ke arah Mita, sedangkan Mita sendiri memilih untuk menundukkan kepalanya. Tidak ada sedikitpun rasa malu dalam dirinya sekalipun dia masih berada dalam posisi duduk bersimpuh di atas lantai kotor dengan tubuh polosnya, justru yang ada dalam kepalanya saat ini adalah bagaimana caranya dia menyelamatkan keluarganya.
Ya, gambar yang ditunjukkan oleh Mira kepadanya beberapa saat lalu adalah gambar wajah keluarganya.
Kedua orang tuanya, kakaknya, adiknya, dan bahkan sampai pada keponakannya yang masih kecil. Wanita itu jelas tidak akan mau mengorbankan mereka semua hanya demi kesenangannya saja, padahal dia sendiri sudah susah payah menyembunyikan hubungan gelapnya dengan Arnold yang waktu itu menyandang status sebagai suami orang. Dan dia juga sudah berusaha keras menyembunyikan kehamilannya sejak setaun lalu, beruntungnya mereka semua tidak ada yang curiga kepadanya lantaran uang selalu mengalir dengan lancar ke rekening mereka.
Arnold lah yang memberikan uang itu kepadanya, dan kemudian dia mengirimkannya kepada mereka. Dengan begitu, meski Mita tidak pernah kembali ke rumah keluarganya, mereka sama sekali tidak pernah merasa curiga.
Tapi, bagaimana jadinya jika nanti mereka tiba-tiba terseret pada masalah yang dibuat olehnya?
'Ayah dan Ibu pasti akan sangat kecewa padaku, apalagi jika sampai aku menyeret nyawa mereka pada kematian.' pikir Mita.
"Berpikirlah dengan baik, Mita! Aku akan memberikanmu kesempatan untuk memikirkan semuanya dengan baik, ikut denganku ke rumah sebagai pembantu dan bawahanku, menjadi santapan singa peliharaanku ... Atau mau berusaha melawanku, dan merelakan nyawa seluruh keluargamu padaku!"
Tidak lama setelahnya, beberapa pria yang disuruh oleh Mira sebelumnya kembali ke sel tahanan dengan membawa seorang dokter dan juga sehelai pakaian yang masih terbungkus plastik.
"Nona, saya akan memeriksa keadaanya terlebih dahulu." ucap dokter pria yang ikut bersama anak buah Mira, sedangkan perempuan itu sendiri hanya menganggukkan kepalanya, memberi tanda kalau dia mengijinkan dokter tersebut segera berjalan mendekat ke arah Mita.
Tapi, entah kenapa reaksi yang ditunjukkan oleh Mita saat dokter laki-laki itu mendekatinya justru seperti ketakutan dan sangat terkejut. Terlebih ketika dokter itu menyentuh kulitnya untuk memeriksa beberapa luka yang ada di tubuh Mita, wanita itu justru menarik dirinya agar sedikit menjauh dari dokter tersebut.
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu." ucap dokter yang memiliki name tag bertuliskan Nicholas dengan nada datarnya, merasa sedikit iba pada wanita muda yang saat ini sedang duduk meringkuk dengan tubuh polosnya di atas lantai yang lembab di dalam ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik.
Tapi, rasa iba itu dia tepis jauh-jauh ketika dia mengingat apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu. Dia tentu tahu persis kalau Mira pasti tidak akan melakukan sesuatu pada orang lain tanpa sebab dan alasan yang jelas, jika sampai dia bertindak sejauh ini, pasti kesalahan yang dilakukan oleh wanita yang ada di depannya saat ini sudah sangat fatal.
'Masih untung Queen tidak membunuhnya secara langsung,' pikir dokter itu.
Perlahan, Mita mulai sedikit luluh. Dia mulai beranjak mengulurkan tangannya yang terdapat beberapa luka dengan sedikit darah yang sudah mengering kepada dokter Nicho, tanpa sedikitpun berusaha menutupi tubuhnya yang belum mengenakan pakaian apapun.
'Lagi pula mereka juga sudah melihat tubuhku, jadi untuk apa aku menutupinya lagi?! Mbak Mira benar-benar sudah membuatku menjadi seorang wanita yang tidak lagi memiliki harga diri di depan mereka semua, jadi biarkan saja mereka melihat seluruh tubuhku seperti ini ... Toh mereka juga pasti tidak akan lagi tergoda saat melihat tubuhku yang sudah tidak mulus lagi seperti ini,' batin Mita.
Wanita itu tampak berusaha keras untuk mengalihkan rasa takutnya saat bersentuhan dengan laki-laki, sebab biar bagaimanapun juga, sentuhan dari tangan mereka entah kenapa membuatnya kembali teringat dengan saat lima pria itu memaksa untuk menyentuhnya.
Akan tetapi untuk saat ini Mita bisa sedikit merasa aman sebab laki-laki yang ada di depan matanya adalah seorang dokter, dan seorang tenaga media tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu kepadanya, kan?!
"Bereskan dia, aku harus segera pergi!"
"Baik, Nona!"
Mita sedikit mendongak ketika mendengar langkah kaki Mira yang berjalan semakin menjauh darinya, sedikit merasa lega karena berpikir jika Mira pergi, maka kemungkinan untuk dia memerintahkan anak buahnya melakukan sesuatu kepadanya itu tidak akan terjadi. Dan hal tersebut tentu bisa membuang Mita menghela nafas lega untuk beberapa saat, dia tidak tahu kalau bahkan tanpa adanya Mira di sana pun, perempuan itu masih bisa melakukan apa saja kepada Mita.
Hanya butuh satu pesan saja, dan semua yang diinginkan pasti akan terjadi.
"Tubuhnya kotor sekali, sebaiknya kalian bersihkan dia terlebih dahulu, baru aku akan mengobati luka-lukanya." ucap dokter, masih dengan ekspresi wajah datar dan nada bicara yang begitu dingin. Sedangkan kedua matanya memandang dengan sangat tajam ke arah Mita, seolah sedang menunjukkan betapa dia tidak menyukai wanita yang ada di depannya saat ini.
'Wanita murahan sepertinya memang pantas mendapatkan hukuman ini ... Masih untung Nona Mira masih berbelas kasih kepadanya, jika aku yang diposisi Nona Mira, mungkin sudah aku rusak wajahnya dan aku buat dia tidak bisa menggoda laki-laki lain di atas ranjang lagi!' gumam dokter Nicho dalam hatinya.
"Baiklah, Dokter Nicho. Kami akan segera melakukannya!"
Dua pria berbadan kekar itu kembali mendekat ke arah Mita, namun lagi-lagi Mita berteriak berkata,
"Tidak! jangan dekati aku, menjauh!"
lanjut ...ya thor
masa gak ada greget nya Mira..,cuman ngomong trus ..
semangat lah up nya Thor 🥰
lelaki mokondo Arnold buang aja ke laut Thor 😅😅
lanjut thor ...lg seru2nya
nggak tau apa penyebab nya