Ketidaksengajaan membawa Kayla masuk di kehidupan Kenzo. Padahal, betapa bencinya gadis itu kepada Kenzo yang terkenal tengil dan play boy di sekolah.
Untuk berlama-lama dengannya rasanya Kayla enggan, apalagi untuk menjadi pacarnya. Tapi, siapa sangka Kenzo mengumumkan bahwa dirinya adalah kekasih barunya di hadapan teman-teman Kenzo, termasuk Frans, pemuda idaman Kayla.
Akankah Kayla tetap bersama Kenzo? Ataukah ia akan berlari mengejar cintanya pada Frans?
Ikuti kisah ketiganya dalam cerita Di Antara Dua Hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lien Machan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29~Pindah
"Termasuk Kayla?" seketika Kenzo terdiam mendengar nama gadis yang mengusik pikirannya beberapa hari ini disebutkan.
Sambil berjalan, Kenzo terlihat mengangguk dan bergumam. "Hemh!"
Walaupun hanya gumaman yang keluar dari mulut Kenzo, namun Bagas dan Devian masih bisa mendengarnya. Keduanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang menurut mereka jadi sedikit pemalu.
Bagas maupun Devian bisa menebak jika Kenzo kali ini benar-benar tulus mencintai gadis dan itu adalah Kayla. Walaupun dia selalu terlihat ketus dan galak kepada gadis itu, tapi Kenzo selalu memberikan perhatian secara diam-diam untuk Kayla.
"Oke deh, Ken. Hati-hati di jalan ya! Kabarin kita kalau lu udah nyampe di sana," Kenzo mengangguk sambil melambaikan tangan.
Kedua teman Kenzo itu hanya bisa menatap kepergian sang sahabat dengan tatapan sulit diartikan, antara sedih dan juga penasaran. Mereka tidak percaya begitu saja tentang alasan yang diberikan Kenzo tadi.
Mengapa dia harus pergi mendadak seperti ini? Ada yang tidak beres, batin keduanya. Lalu, apa Frans mengetahui kepergian Kenzo ke luar negri malam ini? Teman mereka yang satu itu bahkan tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi siang.
Apa Kenzo dan Frans saling bertengkar?
Argh! Kenapa bikin pusing sih?
Devian mengambil ponsel di kantong celana, lalu menekan nomor Frans untuk melakukan panggilan. Berkali-kali mencoba namun Frans tidak menjawab panggilannya hingga Devian mulai kesal.
Apa dia sedang sibuk? pikir Devian mulai gusar.
Tak menyerah, Devian kembali melakukan panggilan sampai panggilan yang entah ke berapa puluh kali akhirnya Frans pun menjawab panggilannya.
"Hemh, apa?" ketus Frans ketika menjawab panggilan dari Devian.
Devian menggerutu kesal karena temannya itu baru menjawab panggilannya tapi dengan nada ketus. "Kampret, lu. Gue telponin dari tadi baru diangkat. Lu di mana sih?"
Sejenak Frans terdiam sebelum menjawab panggilan Devian, "Gue lagi ada perlu. Ngapain lu nyariin gue?" sahutnya kemudian balik bertanya.
"Si tengil pergi," sahut Devian datar. Mungkin pemuda itu kesal karena sepertinya Frans tidak ada respon apapun seperti yang biasa dilakukannya. Kenapa dengan anak itu, batin Devian bermonolog.
"Terus? Apa hubungannya sama gue?" tanya Frans cuek. Temannya yang satu ini benar-benar menguji kesabaran Devian.
Devian meninggikan suara karena kesal kepada teman yang sedang dihubunginya. "Anjir, lu. Bukannya elu yang paling heboh kalo si tengil pergi? Kenapa? Apa kalian ada masalah?" selidik Devian karena dari awal dirinya mengira jika Frans dan Kenzo sedang ada masalah. Ia teringat ketika sedang bermain game di apartemen Kenzo. Kedua pemuda itu tak saling menegur satu sama lain saat duduk berdampingan sekalipun.
Apa ada hubungannya sama gadis tomboi dan judes yang bernama Kayla?
Bagas merebut ponsel Devian dan menyela pembicaraan mereka. "Lu dateng ke basecamp sekarang juga! Kita bahas masalah ini sampe tuntas," ujarnya kemudian.
Sebelum menjawab, terdengar nada berdecih kesal dari mulut Frans. "Apanya yang perlu di bahas, kampret. Dia mau pergi ke mana 'kan bukan urusan gue. Dan kita juga gak ada masalah kok. Hanya aja gue lagi ada perlu, gak bisa diganggu!" pungkasnya menyudahi, bahkan Frans menutup panggilan sepihak membuat Devian dan Bagas kesal.
"Anjim banget si kampret. Gak tau apa kalo kita lagi kesel ama dia," gerutu Bagas.
"Gue sih yakin mereka berdua pasti sedang marahan," ujar Devian sembari mengusap dagunya dan Bagas pun setuju atas perkataannya.
Keduanya bergegas pulang menuju basecamp untuk membahas masalah Kenzo dan Frans. Mereka berharap semua itu selesai tanpa ada yang harus sakit hati.
•
•
Pagi ini semua siswa kelas tiga berkumpul di aula sekolah. Para guru menyampaikan pemberitahuan bahwa seminggu lagi akan diadakan ujian akhir nasional.
Berarti sebentar lagi mereka lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bagi yang mampu. Untuk yang tak punya biaya, mereka akan cenderung mencari pekerjaan.
Banyak yang ingin melanjutkan kuliah, banyak pula yang ingin berhenti sekolah dan segera mencari pekerjaan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membantu meringankan beban kedua orang tua dalam bidang perekonomian.
Ada yang memiliki orang tua kaya, tapi si anak tidak ingin lanjut sekolah dengan alasan malas mikir serta capek untuk mengerjakan tugas. Ada yang berasal dari keluarga tidak mampu, tapi dia ingin sekali melanjutkan sekolah agar bisa menjunjung tinggi harkat, derajat, martabat keluarga. Ada pula yang cuek dan tak memikirkan apapun, yang terpenting bisa makan dan memiliki tubuh sehat.
Entahlah!
"Kay, kamu mau lanjut kuliah di mana?" samar-samar Rania mendengar pertanyaan Delisa kepada Kayla.
Kayla menoleh, kemudian menatap ke depan lagi. "Aku gak tahu, Del! Mungkin aku bakal nyari kerja dulu buat biaya kuliah," jawabnya lesu.
Rania tersenyum meledek mendengar jawaban dari Kayla. Dia begitu yakin jika dirinya pasti melanjutkan kuliah dari pada Kayla. "Hahaha, dasar pembokat. Elu emang gak pantes buat lanjut kuliah, soalnya elu kan orang miskin. Beda sama kita yang kaya dan juga masih punya orang tua," ejeknya sambil terus tertawa meledek.
Kayla, Delisa, dan Afika tahu siapa pemilik suara tersebut. Ketiganya pun melirik sembari memutar bola matanya jengah_geram menanggapi sikap arogan Rania.
"Iya lah tahu, orang kaya ... monyet! Hahaha," Afika tertawa cekikikan.
"Cih, belagu! Gayanya setinggi langit, tahu-tahunya selama ini yang biayain sekolah dia itu kamu, Kay?!" Delisa balas meledek Rania.
Emosi Rania terpancing karena ejekan Delisa dan Afika, sehingga gadis sombong itu pun maju ingin menampar kedua teman Kayla. "Jangan mulut kalian ya," bentaknya dengan tangan terkepal.
Tangan Rania melayang ke udara hampir menyentuh pipi Delisa, namun Kayla dengan cepat menahan tangan itu hingga menggantung di udara. "Jangan bikin rusuh, Ran! Kalo kamu berani mukul temen-temenku, akan ku pastikan tangan ini gak bakal bisa digunain lagi!" ancamnya kemudian.
Rania mengeram kesal dengan gigi menggertak, "Berani lu lawan gue?!"
"Kenapa enggak?" Kayla menatap tajam Rania. "Jangan bersikap sok jagoan di depanku, Ran! Aku udah muak nanggepin sikap kamu yang sok itu,"
Keributan tersebut didengarkan teman-teman yang lain juga para Guru, hingga Guru pun menegur mereka.
Kayla dan yang lainnya menghentikan keributan itu demi berlangsungnya acara.
Seusai pengumuman para Guru, semua siswa-siswi pun berhamburan keluar aula menuju kelas masing-masing.
Kayla mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kelas, mencari seseorang yang selalu mengganggunya.
"Ke mana dia? Apa dia gak masuk kelas lagi?" teringat Kayla kejadian bersama Frans semalam saat pemuda itu menerima panggilan dengan nada kesal. "Apa ada hubungannya dengan Kenzo?" gumamnya lirih.
Ketika Kayla sedang berpikir, seseorang datang ke kelasnya dengan membawa kabar yang menghebohkan hingga semua orang berkumpul mengerubunginya seperti lalat, sebab penasaran dengan berita terkini yang sedang diperbincangkan seluruh siswa-siswi dan juga para Guru di kantor.
"Gaes, Kenzo pindah!"
"Apa?"
...Bersambung ......
Kenzo ungkapin cinta nya🥰🥰🥰