Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Dengan perdebatan yang sangat sengit dan alot akhirnya Dewa menerima dengan hati yang kacau. Bagaimana tidak? Jika dirinya tidak menikahi Acha secara SAH maka seluruh kekayaan Karta Wijaya akan di sumbangkan ke panti sosial.
"Aku akan membuatmu menderita dalam pernikahan ini Acha." Geram Dewa saat ini yang tengah berada di dalam kamar miliknya.
Dewa bergegas meninggalkan kediaman keluarga Karta Wijaya dan meninggalkan sang asisten sekaligus sahabatnya sendirian didalam rumah tersebut. Dewa mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh tanpa pikir panjang. Tujuan dia adalah saat ini pergi dimana tak ada yang bisa menemukan dirinya sampai acara akad itu berlangsung.
Tama yang melihat kepergian Dewa pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah pasti Dewa akan kalah oleh Ravendra. "Terpaksa naik taksi online lagi deh gue, Dewa kampret emangnya ye." Geram Tama saat ini.
Ravendra berjalan mendekat menuju Tama "Tolong pastikan Dewa tidak akan kabur ya Tam. Om meminta bantuan kepada kamu. Pastikan Dewa tidak membuat ulah. Om dan Tante ingin yang terbaik untuk pernikahan Dewa kali ini. Om mohon dengan sangat tolong pantau Dewa ya Tam." Ucap Ravendra disebelah Tama saat ini.
"Baik Om, Tama akan pastikan Dewa tidak akan kemana-mana untuk kali ini. Tama yang akan menjadi jaminan untuk Dewa Om. Om dan Tante engga usah khawatir." Ucap Tama meyakinkan kembali Ravendra yang sedang dirundung gelisah.
"Kalau begitu Tama pamit dulu Om. Taksi online pesanan Tama sudah sampai."
"Kenapa harus repot-repot pesan Taksi online Tam? disini dirumah ini banyak mobil yang bisa kamu pakai."
"Tidak apa-apa Om, kalau begitu Tama pamit ya Om. Om jangan banyak fikiran untuk saat ini. Tama pastikan sekali lagi , bahwa Dewa tidak akan kemana-mana. Percaya sama Tama ya Om." Ucap Tama yang mencoba menenangkan Ravendra.
Ravendra lantas berdiri seraya melihat kepergian Tama. Dan dia tidak lupa berdoa di dalam hati agar ucapan Tama memang benar adanya. Bahwa Dewa tidak akan mengingkari pernikahan yang telah disepakati ini.
"Hadi, semoga Kamu dan Istrimu mau memaafkan kesalahan anakku Dewa. Akan kupastikan Acha akan bahagia dan kujaga selalu sampai akhir hidupku Hadi." Ucap Ravendra sembari melipat tangannya di dada.
****
Hari-hari telah berganti, hari yang dinanti oleh Shiren dan Ravendra pun telah tiba. Hari dimana Dewa dan Acha akan bersatu menjadi sepasang Suami dan Istri yang Sah secara agama dan hukum.
Acha sangatlah cantik dengan balutan kebaya modern atas desain yang Shiren buat demi calon menantu kesayangannya tersebut. Tidak tanggung-tanggung Shiren bahkan rela untuk menggempur habis-habisan karyawannya guna menjahit kebaya yang dia desain khusus untuk Acha.
Berbeda sekali dengan Renata yang dinikahi oleh Dewa pada saat itu. Shiren bahkan tidak sudi gaun indah rancangannya sendiri jatuh kepada Renata. Walaupun Dewa memohon pada saat itu, tetap saja Shiren tidak sudi memberikan gaunnya sekalipun itu gratis.
"Bagaimana semuanya sudah siap?." Ucap Shiren sudah memasuki kamar Acha yang sudah di hias dengan dekorasi indah kamar pengantin.
"Sudah Nyonya, kebaya yang di pakai pun sangat indah nan cantik ditubuh calon pengantin wanita." Ucap salah satu perias pengantin tersebut.
Acha yang masih dirias wajahnya pun tak kalah gugup. Dengan berat hati dan penuh keikhlasan dia memantapkan sekali lagi memohon pada sang pencipta seluruh semesta tadi malam lewat shalat sepertiga malamnya. Dan tak lupa pula dirinya meminta restu kepada mendiang Bapak dan Ibunya melalui do'anya tadi malam.
Debaran jantung Acha semakin cepat tatkala. Mama Shiren datang menghampiri dirinya. "Anak Mama cantik sekali, jangan gugup ya sayang. Semuanya pasti akan lancar, percaya sama Mama." Ucap Shiren sambil mengelus pipi Acha.
"Iya Ma, Acha hanya gugup saja. Apa nanti Mas Dewa akan menerima Acha atau tidak.?" Jawab Acha kepada Shiren.
"Pasti, Dewa pasti akan menerimamu sayang. Bagaimana tidak kamu adalah Istrinya saat ini. Bagaimana bisa Dewa tidak akan menerimamu Acha?." Shiren berusaha meyakinkan ucapannya kepada Acha. Sebab, Shiren tau bagaimana cintanya Dewa kepada Perempuan ular tersebut.
Semua sudah hadir dan sudah siap di ruang tamu nan megah dan mewah milik keluarga Karta Wijaya. Dewa yang saat ini berbalut jas putih khas mempelai pria pun duduk dengan tenang menjabat tangan pak penghulu yang berada dihadapannya. Tidak pernah terfikirkan oleh Dewa akan mengkhianati Istri tercintanya tersebut.
Kenapa? Kenapa bisa yang ditabrak oleh Dewa adalah sahabat Papanya sendiri. Jika bukan sahabat Papanya mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Tetapi, penyesalan memang datanglah terlambat bagaimanapun dirinya menyesali dan meratapi , pernikahan ini harus diselenggarakan apalagi Dewa mendapatkan ancaman tidak akan mendapatkan sepeserpun harta kekayaan Karta Wijaya.
Sang Oma yang turut hadir pun bertanya-tanya. Untuk apa Dewa menikah untuk yang kedua kalinya? Bukanlah dengan Renata sudah cukup? Apa yang sebenarnya terjadi didalam keluarga ini. Iya, Memang Oma Rihanna tidak tinggal bersama dengan Anak dan Menantunya tersebut. Oma Rihanna lebih memilih tinggal di dekat perkebunan teh milik keluarga Karta Wijaya. Jadi dirinya begitu kaget dan penasaran, mengapa Dewa tega mengkhianati Renata.
Rihanna pastikan setelah acara akad selesai dirinya ingin mendengarkan penjelasan dari mulut Ravendra dan juga Shiren sang menantu.
Dewa yang sudah berjabat tanganpun dengan pak penghulu siap melantangkan suaranya untuk ijab qabul.
"Dewangga Julian Karta Wijaya saya Nikahkan dan Kawinkan Engkau dengan Natasha Hadiningtyas dengan emas kawin sebesar 500 gram logam mulia dan sebuah Apartement dengan uang sebesar 2 miliyar rupiah dibayar tunai." Ucap lantang seorang petugas penghulu kepada Dewa.
Dewa menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. "Saya terima Nikah dan Kawinnya Natasha Hadinigtyas dengan emas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan lantang dan satu tarikan nafas Dewa berhasil menyelesaikan ijab qabul tersebut.
Suasana yang tadi mencekam berubah menjadi dramatis dan haru saat Dewa sudah menyelesaikan ijab qabul. Ravendra menarik nafas lega saat mendengar Dewa bisa mengucapkannya hanya dengan satu tarikan nafas.
Shiren yang sudah mendengarkan Dewa menyelesaikan ijab qabul pun akhirnya membawa Acha untuk segera turun menemui Dewa yang sudah Sah sebagai Suaminya tersebut.
Acha yang mendengar Dewa hanya satu tarikan nafaspun mendadak gugup. Saat ini dirinya sudah Sah menjadi Istri sekaligus keluarga Karta Wijaya.
"Ayok sayang kita temui Suamimu yaitu Dewa Anak Mama." Ucap Shiren kepada Acha dan diangguki oleh Acha dengan senyum mengembang.
****
Acha yang saat ini sudah berada di anak tangga bersama Mama Shiren pun mendadak jadi pusat perhatian. Bagaiamana tidak, Dewa terpaku dan terpana sesaat melihat Acha dengan riasan make up dengan balutan kebaya yang pas dibadannya.
Begitu pula dengan Oma Rihanna, dirinya pun begitu syok dan kaget saat melihat Istri kedua Dewa tersebut. Rihanna seperti mengenali siapa perempuan itu, tapi entah dimana dan kapan tapi yang pasti mukanya sangatlah tidak asing menurut dirinya
Acha yang sudah berada dihadapan Dewa pun hanya bisa terus mengembangkan senyum. Walaupun jantungnya saat ini sudah berdebar hebat. Acha yang sudah berdiri didepan Dewa memberanikan diri untuk mengambil tangan Dewa untuk disalaminya. Dengan penuh khidmat dan ketulusan hatinya, Acha menyalami dan mencium telapak tangan Dewa.
Dewa yang mendapat sentuhan dari Acha pun akhirnya sadar. Dirinya terlalu terbuai oleh pesona Acha. Dilihatnya bagaimana Acha menciumi tangannya dengan penuh ketulusan. Iya, Dewa bisa merasakan itu. Padahal, ini bukanlah pernikahan pertama Dewa, tetapi mengapa Dewa mendadak menjadi gugup seperti ini.
"Sial." Batin Dewa berbicara.
Acha mengangkat wajahnya guna menatap sang Suami yaitu Dewa. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya Dewa sangatlah tampan untuk sosok laki-laki. Sempurna, mungkin kata itulah yang tepat untuk Acha sematkan pada diri Dewa.
Dewa yang mendadak gugup akhirnya memberanikan diri untuk mendekat dan mencium kening Acha. Acha yang mendapat serangan ciuman dadakan itu hanya bisa berdiri tegak. Dirinya sangat tegang saat ini. Pasalnya hanya Dewalah satu-satunya laki-laki yang pernah mencium Acha.
"Tahan dulu sebentar bisa Tuan? Jangan bergerak atau pindah posisi." Ucap salah satu fotografer yang sedang memotret untuk keluarga besar Karta Wijaya.
"Oke sip, sudah untuk sesi foto ini. Kita akan ke sesi selanjutnya untuk berfoto bersama keluarga besar. Tapi, sebelum itu, untuk acara selanjutnya adalah meminta restu dan do'a dari orang tua kedua mempelai pengantin."
Acha dan Dewa berjalan bersama untuk menemui Shiren dan Ravendra sekaligus Oma Rihanna guna meminta restu dan do'a. Acara yang tadinya penuh senyum dan canda tawa berubah seketika menjadi tangis dan haru saat Dewa dan Acha sungkem kepada Shiren dan Ravendra serta Oma Rihanna.
Sesi sungkeman telah usai. Tangis haru dan bahagia menguar dihati Shiren dan Ravendra saat ini. Dewa yang sudah memisahkan diri dari tadi pun hanya bisa diam tanpa bicara disaat melihat senyuman Acha dan juga kedua orang tuanya.
"Jangan sia-siakan Acha, Wa. Setidaknya lo harus mulai jujur dan memantapkan hati untuk berbicara kepada Acha, jika lo yang udah nabrak orang tuanya. Apapun konsekuensinya lo harus tanggung. Jangan sampai Acha tau dari orang lain, Wa." Ucap Tama yang sedang berdiri disamping Dewa.
Bersambung . . .