Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPANKU DISINI
"Bangun! Sejak kau punya hape, kerjamu lebih sering bengong. Bakalan terus tuh kepoin mereka yang diluaran sana? Hape itu dajjal buatmu, tau?.. Lebih banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya! Mau kubuang hape kau itu ke lobang septictank??"
"Jangan, bang! Iya, iya..maaf! Aku lagi kangen anak istriku, bang!"
"Kangen pala lu bau menyan! Bull shit, *** ayam! Ayo buruan, kalapas manggil lu dari tadi. Dapur keteteran tuh!"
"Hehehehe...siap bang!"
Aku memang jiwa yang terbuang saat sekarang. Bahkan hanya sekedar mengkhayalkan orang-orang tersayang yang dulu ada disekelilingku pun sepertinya memang tak bisa. Selain pasrah dan menerima kenyataan, apalagi yang kini bisa kuperbuat. Selain menjalani hari-hariku dengan baik disel ini.
Aku makin menyibukkan diriku dengan segala kegiatan. Bang Sobri bilang, hayalan hanya akan membuatku semakin jauh terbang melayang. Orang bisa jadi jahat hanya dengan hayalan. Pikiran jadi mumet juga walau hanya hayalan. Itu kata bang Sobri! Aku menurut saja. Karena kupikir ada benarnya juga. Bila aku habis melihat istriku memposting apapun itu event hanya sekedar masakannya hari ini, atau tempat cozy yang ia datangi tadi. ., aku baper sebaper-bapernya. Aku khayalkan Ranti dengan imajinasiku yang tinggi. Membuat otakku panas dan nafsuku menaik. Aku jadi malas berbuat apapun dan larut dengan khayalan tingkat tinggi. Hhhh....
Tapi aku salut, istriku itu tak berminat sama sekali memposting wajahnya atau full dirinya. Kecuali Jingga sesekali, dengan gaya manisnya yang membuatku gereget rindu setengah mati pada anak semata wayangku dengan Ranti.
Juga kata-kata postingan Ranti, tak pernah sekalipun ia ungkapkan rasanya. Baik itu kesedihan apalagi kegalauan. Hanya emoji senyum dan kebahagiaan yang selalu ia tebarkan. Bahkan kadang sedikit kata balasan dikolom komentar bila beberapa teman mengkomen postingannya. Ah, Rantiku yang dewasa!
"Dika!! Lama-lama lu gue rukyah nih! Bengong mulu kerja lu!!" Lagi-lagi bang Sobri mengagetkanku. Aku tersenyum dengan menggaruk kepala meski tak gatal.
Beberapa hari nyaris seminggu handphone-ku mati tak berpulsa. Tak ada uang karena tak ada pemasukan. Pak sipir bilang, aksesoris kita kurang bagus pemasarannya minggu ini. Aku hanya bisa tersenyum kecut.
Bang Sobri hanya tersenyum lebar puas karena aku kembali menjadi manusia primitif seperti dirinya yang tak punya koneksi internet. Hhh.... Apa daya!
Aku kembali mengaji setiap sore dan petang. Kembali fokus dengan hataman Qur'anku yang lumayan cukup melancarkan hafalan dan bacaan panjang pendeknya harakat.
Benar, dunia hanyalah nafsu sesaat. Seperti juga cinta yang kadang luber, penuh dan menguap. Begitu juga iman. Ada saat full ada saat lowbatt. Macam hape, bang Sobri bilang. Karena itu, tugas kitalah yang menjalaninya. Mau seperti apa. Tak kan pernah ada habisnya mengejar nafsu dunia. Tak akan ada puasnya. Bahkan cinta pun yang disanjung banyak pecinta bisa berpindah dan hilang entah kemana, kecuali cinta Tuhan kepada setiap hamba-hamba-Nya.
Tak terasa kalapas memberiku kabar gembira. Masa tahananku akan berakhir sebulan lagi katanya. Lebih cepat sebulan dari yang kuperkirakan karena kelakuan baikku selama ditahanan.
Jujur mendengar kabar gembira itu aku justru bingung. Akan kemana aku setelah keluar dari sini. Akan bagaimana kehidupanku nanti selepas aku pergi dari sini. Hhh.... Aku menelan ludah penuh kegamangan.
Pulang kerumah orangtuaku? Atau pergi mencari Ranti dan Jingga? Atau kemana?... Aku sungguh tak tahu!
Bang Sobri memberiku banyak wejangan untuk bekalku katanya.
"Jangan tengok kebelakang, Dika! Tapi tatap kedepan. Jalan maju bukan diam ditempat. Jadi pribadi baik, buang semua yang buruk. Ambil hikmahnya dan tinggalkan mudhorotnya."
"Aku senang bisa jumpa abang disini! Aku banyak belajar dari abang tentang segala hal. Terutama keikhlasan dan ketulusan abang dalam menjalani hidup dan menerima takdir Tuhan. Terima kasih, bang!"
"Aku tidak senang, Dika! Karena kita bertemu bukan ditempat yang baik. Tapi ini tempat semua keburukan dan kebobrokan moral dan jiwa berkumpul disini! Tapi aku bersyukur, ada sisi kebaikan yang bisa jadi pelajaran diantara kita! Bila ada umur panjang dan Allah meridhoi pertemuan lagi, aku ingin ketemu kamu ditempat kebaikan."
"Aamiin....ya Allah! Makasih, bang!"
Aku memeluk bang Sobri untuk perpisahan yang terakhir kali. Airmataku mengalir deras karena berat meninggalkan dia dan semua yang baik padaku.
Pukul 9 pagi ketika seorang sipir menemaniku keluar dari pintu gerbang tahanan. Persis seperti difilm-film. Ternyata begini rasanya. Hampa dan takut.
Aku hanya sendirian. Tiada seorangpun yang menjemput. Tak ada satupun yang menyambut. Hhh.... mirisnya aku!
Aku celingak-celinguk mencari tahu mungkin ada orang yang kukenal sedang menungguku. Tapi ternyata tidak. Jalanan lengang sepi. Dan lagi-lagi kehampaan menyeruak direlung hati terdalamku. Aku merasa sangat kesepian.
Tas ransel buluk kupegang erat. Pak Erwin Kalapas pusat memberiku sebuah kotak. Ternyata isinya adalah surat-surat penting milikku. KTP, SIM, juga beberapa kartu ATMku dulu. Juga surat tanda kebebasanku.
Aku masih harus wajib lapor setiap bulan selama 3 bulan kedepan. Dan itu lumrah dilakukan untuk para alumni pesantren setelah lulus dari almamater.
Sebelum melangkah menuju tujuanku, kuayunkan kakiku ke mesjid yang tidak begitu jauh dari Rutan Salemba. Letaknya bersebrangan. Aku izin numpang mandi pada marbot disitu. Alhamdulillah disetujui.
Aku melaksanakan sholat Duha 2 rakaat setelah sholat sunnah tahiyatul masjid 2 rokaat juga, setelah mandi. Dengan langkah mantap merubah sikap, aku ingin Tuhanku selalu menjagaku dari hal-hal yang tidak baik. Untuk itu aku meminta ridho-Nya dimasjid itu.
Marbot itu ternyata melihatku keluar dari gerbang rutan lalu bertanya padaku dengan hati-hati apa aku adalah napi yang bebas hari ini. Aku mengangguk dengan menunduk.
Ternyata ia adalah orang yang baik hati. Ia masuk kedalam kamar masjid, memberiku se setel pakaian baru dan juga sajadah panjang. Aku terharu akan kebaikannya.
"Semoga dengan baju ini, abang menjadi orang yang baru. Yang tidak lagi mengulangi kesalahan seperti diwaktu yang lalu."
"Mas baik sekali sama saya. Moga Allah membalas semua kebaikan mas berlipat-lipat! Saya sangat terharu, padahal mas tidak kenal saya, juga tidak tahu apakah saya orang baik atau orang jahat. Apalagi mas tahu saya baru keluar dari gerbang itu satu jam yang lalu. Disaat saya tidak percaya diri dan ragu kalau masih ada orang baik didunia ini, Allah menunjukkannya pada saya. Mas adalah orang baik itu. Terima kasih banyak, mas!"
"Sama-sama, bang! Abang ga ada yang jemput? Atau abang bukan asli Jakarta?" tanyanya lagi.
"Saya asli lahir di Jakarta. Tapi ibu saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Ayah saya sudah tua, jadi saya sengaja ga ngabarin beliau."
"Oh, pasti ayah akan senang sekali dengan kepulangan abang! Semangat ya bang! Saya percaya, ga ada orang yang pengen jadi orang jahat!"
"Hehehe...iya mas! Sekali lagi, terima kasih banyak ya atas semua bantuannya pada saya. Terima kasih, saya pamit!" Aku menyalaminya lalu berjalan keluar dengan hati lebih tenang. Kurogoh tas ranselku, mencari beberapa lembar uang yang memang selalu kuselipkan disitu bila mendapatkan rezeki. Kumasukkan selembar uang dua puluhribuan yang ku gulung kedalam keropak masjid.
Ya Allah! Izinkan aku melangkah ke jalan yang benar. Mudahkanlah segala urusanku dan ringankanlah segala keadaanku.
Aku melangkah tak tentu arah. Mencoba mencari konter hanya untuk membeli pulsa. Mungkin goggle map bisa menuntunku di mana bank BNI terdekat yang bisa mengurus ATM-ATMku. Hanya sekedar mengecek, apa masih bisa kugunakan atau sudah invalid.
Akhirnya aku bisa mengurus semua dengan lancar tanpa kendala. Satu ATM ku sudah habis bahkan terblokir karena saldonya yang minim. Sepertinya itu ATMku yang berisi uang Vika tempo hari.
Alhamdulillah satu ATMku masih bisa kugunakan setelah mengganti kartu karena sudah kadaluarsa masa aktifnya. Masih ada uang tersisa 9 juta. Alhamdulillah.
"Pak Dika! Bapak juga masih menerima bunga pertriwulan dari deposito yang bapak punya di bank kami!" kata kakak cantik di service center menerangkan padaku. Aku termangu.
Aku teringat akan depositoku yang berjangka sebanyak 30 juta. Ternyata Ranti sama sekali belum mengotak-ngatiknya untuk dicairkan. Padahal ia bisa saja mencairkannya sendiri secara dialah ahli warisku dan aku juga sudah membuat surat kuasa untuknya ketika awal masuk penjara, untuk dipakai Ranti bila sewaktu-waktu ia memerlukan surat tersebut.
Aku mengangguk pada teller muda itu. Deposito yang kubuat memang otomatis. Jadi tak perlu diperpanjang atau menunggu jatuh tempo untuk dicairkan. Tapi buku depositonya masih di satukan surat-surat berharga lainnya dirumah kami dulu. Mungkin Ranti simpan juga bersama dokumen ijazah-ijazah sekolahku.
Aku mencari fb Ranti. Mencoba meminta pertemanan. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan yang belum jelas arahnya.
Aku hanya wara-wiri menyusuri jalan. Sesekali mencoba naik bus angkutan umum hanya untuk sekedar melewati waktu.
Aku ingin cepat malam. Karena aku ingin menyambangi ayahku di daerah Depok Baru. Kalau aku pergi sekarang-sekarang, aku khawatir lingkungan wilayah rumah ayah menjadi gaduh karena ada mantan napi yang masuk wilayah situ. Aku gugup dengan statusku yang mantan narapidana ini. Aku juga tak ingin ayah dan adik-adikku jadi bahan gunjingan orang. Untuk itu aku menahan diri pulang kerumah ayah disiang bolong begini.
Kususuri jalan Jembatan Merah. Banyak percetakan dan sablonan disepanjang jalan itu. Ramai orang hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing.
Perut laparku tak bisa kuajak kompromi. Ada gerobak mi ayam tak terlalu ramai membuatku menghentikan langkah dan memesan seporsi mi ayam.
Ada beberapa orang anak muda yang juga duduk bersama denganku menikmati nikmatnya mi ayam yang hampir 2 tahun tak kumakan. Mereka terlibat pembicaraan seru yang mau tak mau terdengar olehku.
Intinya mereka membicarakan pekerjaan yang sangat banyak menumpuk karena banyak pesanan. Sementara boss mereka menyuruh mencari tambahan orang untuk kerja harian selama pesanan yang menumpuk belum selesai dikerjakan.
"Mas! Cari orang buat kerja harian lepas ya? Saya boleh coba ga?" aku mencoba menawarkan diri. Mereka tak langsung mengiyakan. Hanya diam dan saling pandang. Aku paham, mereka tidak kenal aku.
"Saya pernah kerja sablon baju juga benner cuma ga lama. Siapa tau saya bisa diperbantukan!"
Mereka tersenyum mengiyakan. Setelah selesai makan, aku pun diajak mereka menemui boss dipercetakan sablon mereka.
Alhamdulillah, hari ini Allah benar-benar meringankan segala urusanku. Aku langsung bekerja padahal baru beberapa jam keluar dari gerbang penjara.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..