Akibat kenakalan di masa remajanya, Shanum sampai hamil di luar nikah. Wanita itu menyembunyikan kehamilannya dari Aska—kekasihnya kala itu, dan yang Aska tahu Shanum sudah menggugurkan kandungan.
Hingga Enam tahun kemudian, Shanum bertemu Aska yang baru saja menikah dengan seorang wanita bernama Zara.
Shanum ingin putranya yang dia beri nama Laskar, mendapat kehidupan yang baik karena papa kandungnya menjadi orang sukses. Namun, akankah Aska akan menerima Laskar dengan tangan terbuka? Lalu bagaimana dengan Zara? Sanggupkah wanita itu menerima masa lalu sang suami?
Shanum, alasan apa yang membuatnya sampai dengan tega memberikan anaknya? Apa benar hanya karena Aska kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Acara Sekolah
Acara keluarga di sekolah Laskar pun tiba. Acara itu mengharuskan para anak datang bersama kedua orangtua mereka untuk melakukan outbond bersama.
Laskar terlihat begitu senang, akhirnya kini dia bisa datang bersama ayahnya ke acara di sekolah. Pagi mereka berkumpul di sekolah, kemudian naik bis menuju tempat outbound untuk melaksanakan kegiatan tahunan yang memang sudah menjadi agenda tetap sekolah itu.
Sesuai dengan ide Bagus, ternyata dia dan Zara juga ikut tapi menggunakan mobil pribadi dan memantau dari jauh.
“Apa kamu cemburu?” tanya Bagus untuk menggoda Zara. Dia berani menggoda karena Zara terus memperhatikan kegiatan yang dilakukan Shanum dan Aska.
“Nggak,” jawab Zara tanpa menoleh. “Aku ikut ke sini pun semata-mata karena ingin melihat Laskar.”
Zara lantas menoleh Bagus, kemudian berkata, “Bukankah kamu juga seharusnya tahu kalau Laskar akan tinggal bersamaku, wajar jika aku berusaha untuk dekat dan lebih mengenalnya.”
Bagus menggelengkan kepala mendengar ucapan Zara, lantas membalas, “Aku tidak tahu, aku pikir itu hanya rencana."
Sementara itu, di lapangan anak-anak bersorak gembira melakukan adu balap gendong dengan papanya membawa bendera, lalu di garis finish ada para mama mereka yang menunggu.
Permainan itu mengharuskan bendera diberikan ke sang mama, lalu mereka diminta berlari membawa bendera itu dan meletakkan di tempat yang sudah disediakan agar menang.
Semua terlihat baik-baik saja, hingga tiba-tiba Shanum yang baru saja mendapat bendera dari Laskar merasa perutnya sakit. Shanum meremas perutnya, mencoba menahan tapi rasa sakit itu semakin menjadi. Ia pun akhirnya terjatuh, hingga membuat Aska langsung berlari menghampiri.
“Bunda!” teriak Laskar ikut berlari.
Zara dan Bagus kaget, para orangtua dan guru juga terkejut melihat kondisi Shanum.
“Bunda kenapa?” tanya Laskar dengan wajah panik.
“Bunda ga apa-apa. Bunda baik-baik saja.” Jelas Shanum kesakitan tapi masih mempertahankan senyumnya untuk Laskar.
Zara dan Bagus mendekat. Mereka tak peduli dengan pandangan orang-orang. Zara terus menatap Aska yang menyangga tubuh Shanum, perasaannya sedikit sakit karena suaminya itu terkesan menaruh perhatian.
Shanum menoleh ke Zara dan Bagus, melihat tatapan Zara dan Bagus yang sangat mencemaskannya, dia pun merasa bersalah.
"Aku tidak apa-apa, tidak perlu cemas," kata Shanum.
Akhirnya acara pun kembali dilanjutkan. Bagus dan Zara pun memilih untuk kembali ke posisi mereka seperti tadi. Dua orang itu menatap sedih dan juga khawatir. Sedih karena membayangkan sakitnya Shanum sangat parah, juga khawatir bagaimana kalau karena Laskar orangtuanya akan bersatu kembali.
Bagus mendahului Zara berjalan pergi, dan setelah beberapa menit acara itu pun selesai, mereka memutuskan berkumpul di sebuah rumah makan.
“Apa kamu benar-benar baik-baik saja?” tanya Bagus mencemaskan keadaan Shanum.
Shanum menoleh ke Laskar yang sedang melihat ikan di kolam, kemudian kembali memandang Bagus.
“Tidak, sakitnya benar-benar mengganggu. Besok aku harus mulai kemo,” jawab Shanum.
Aska dan Zara saling pandang, mereka pun merasa prihatin dengan nasib Shanum.
Saat keempat orang dewasa itu masih diam mencari topik pembicaraan, Laskar mendekat dan memandang Aska juga Zara secara bergantian.
“Apa nanti malam aku benar-benar harus tidur di rumah Papa Aska dan Mama Zara,"tanyanya.
"Iya donk, Laskar harus mulai terbiasa menginap di rumah mama," jawab Zara dengan senyuman ramah. Diusapnya rambut Laskar sambil memandang betapa indahnya bola mata anak itu.
"Apa Bunda boleh ikut menginap?" Laskar bertanya kembali.
recommended...
bahkan setelah baca ini . bakalan banyak bersyukur
Aska kamu berhutang permohonan maaf yg sangat besar ke shanum.
Laskar harus kuat ya nak 💪
bikin anak kehilangan ibuknya...😭😭😭😭😭