Raquel Fernandez terpaksa menikahi duda yang penyakitan demi membalas jasa. Tetapi siapa yang menduga? Putra dari duda tersebut adalah mantan kekasihnya-Luiz Edwardo!
Luiz Tak menyangka, gadis yang pernah menjadi kekasihnya bisa menjadi istri ayahnya sendiri. Bagaimana bisa?
*Setting cerita dan budaya Madrid, Spanyol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Pengakuan
...༻◩༺...
Sama seperti Luiz, Felipe juga menerima surat dari Raquel. Akan tetapi surat itu pertama kali ditemukan oleh Romi. Tanpa pikir panjang, Romi segera memberikan surat tersebut pada Felipe.
"Ini dari Raquel," ujar Romi sembari menampakkan raut wajah sedih.
Felipe mengambil surat yang diberikan Romi. Kemudian membacanya.
'Maafkan aku sebelumnya. Tetapi aku tidak bisa menutupi apapun lagi darimu sekarang. Jika kau ingin tahu hubunganku dan Luiz, kami adalah mantan kekasih. Kami kembali dipertemukan karena kau menikahiku. Awalnya semuanya berjalan seperti seharusnya. Sampai aku dan Luiz menyadari bahwa kami belum bisa saling melupakan. Maafkan aku, tuan Felipe... Tapi aku mencintai Luiz. Dialah alasan kenapa aku tidak bisa menerima sentuhanmu...'
Felipe memejamkan mata. Dia berhenti membaca sejenak. Lelaki tersebut menghela nafas karena hatinya terasa sakit mengetahui pengakuan Raquel. Setelah tenang, Felipe kembali membaca surat.
'Aku menyayangimu tuan Felipe. Sungguh... Bukan sayang yang aku rasakan untuk seorang lelaki, tapi rasa sayang yang aku rasakan terhadap keluarga. Bagiku kau seperti seorang ayah. Aku tahu kesalahanku dan Luiz sulit dimaafkan. Karena itulah aku memilih pergi. Aku tidak memilihmu atau pun Luiz. Aku berharap kau bisa memaafkan Luiz dengan kepergianku ini. Biarlah aku saja yang menerima hukumannya. Jagalah dirimu, Tuan. Semoga kau terus diberi kesehatan. Sampaikan pada keluargaku di panti asuhan kalau aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Salam cinta, Raquel...'
Pupil mata Felipe membesar. Dia tentu kaget mengetahui Raquel memilih pergi.
"Bawa aku ke kamar Raquel!" pinta Felipe yang langsung dilakukan oleh Romi.
Saat hendak masuk ke kamar Raquel, Felipe berpapasan dengan Luiz. Keduanya bertemu di depan pintu.
"Ayah..." Luiz terisak. Dia duduk berlutut di depan Felipe. Menyesali kesalahannya serta serta kesedihannya karena kepergian Raquel.
Felipe ikut meneteskan air mata. Dia membuang muka. Membiarkan Luiz menangis di lututnya.
"Apa dia benar-benar pergi?" tanya Felipe.
"Iya... Raquel telah pergi..." isak Luiz.
"Mungkin itu yang terbaik. Apa yang kalian lakukan benar-benar melewati batas," ucap Felipe. Dia segera menyuruh Romi untuk membawanya kembali ke kamar. Meninggalkan Luiz yang masih bersimpuh di lantai.
Sejak tadi Julio melihat apa yang terjadi. Melihat kakaknya tampak menyedihkan, dia langsung menghampiri.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Julio seraya menenangkan Luiz.
"Ayah sudah tahu semuanya, Julio... Tentang hubunganku dan Raquel. Sayangnya dia tahu bukan karena pengakuanku, tapi karena tidak sengaja melihat apa yang aku lakukan bersama Raquel..." ungkap Luiz penuh sesal.
"Maksudmu ayah memergoki kalian sedang..." Julio tidak kuasa mengakhiri kalimatnya. Namun Luiz mengerti. Pria itu lantas mengangguk.
Atensi Julio segera tertuju ke surat yang tergeletak di lantai. Dia segera mengambil surat dari Raquel yang diperuntukkan untuk Luiz itu. Lalu membacanya.
"Ayo!" Setelah membaca surat, Julio membawa Luiz ke kamar. Dia menyarankan kakaknya untuk beristirahat saja.
Julio merasa miris dengan apa yang terjadi pada keluarganya sekarang. Dia pergi memeriksa kamar Raquel. Mencari tahu kemana perginya perempuan tersebut. Nihil, Julio tidak menemukan apapun.
"Tadi malam aku melihat Nona Raquel pergi," ungkap Inna yang sudah berdiri di ambang pintu. Ekspresinya tampak sendu. Dia juga merasa ikut sedih dengan kesedihan yang terjadi di keluarga Edwardo sekarang.
"Benarkah? Lalu dia bilang apa?" tanya Julio.
"Nona Raquel bilang dia akan baik-baik saja," jawab Inna dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.
Julio terdiam seribu bahasa. Dia memang sempat marah pada Raquel. Namun saat mengetahui perempuan itu memilih pergi, dirinya menjadi merasa bersalah.
Hari demi hari berlalu. Suasana di mansion Edwardo semakin sepi. Felipe dan Luiz selalu menghabiskan waktu di kamar masing-masing.
Luiz begitu frustasi dengan kepergian Raquel. Dia sudah mencari perempuan itu dimana-mana. Dari mulai ke rumah teman-teman kampus Raquel, sampai panti asuhan. Luiz bahkan menghubungi neneknya di Meksiko. Sayang, dia tetap tidak berhasil menemukan Raquel.
Selama beberapa hari juga Luiz dan Felipe tidak bicara. Pembicaraan di depan kamar Raquel tempo hari adalah terakhir kali mereka bicara.
Luiz melampiaskan kesedihannya dengan meminum alkohol. Kamarnya dipenuhi banyak sekali botol miras. Ia merasa lebih baik ketika melakukan itu. Terutama saat mengetahui pencariannya selalu gagal.
Hal serupa juga dilakukan Felipe. Meski dia tidak minum alkohol sebanyak Luiz, namun hal kebiasaan tersebut membuat kesehatannya memburuk. Batuk yang di alami Felipe semakin parah.
...***...
Tiga bulan berlalu, Raquel sudah cukup lama menjejakkan kaki di Paris. Di sana dia menyewa apartemen kecil untuk ditinggali. Tak lupa juga mencari pekerjaan agar bisa bertahan hidup.
Semuanya tentu tak mudah bagi Raquel. Untung saja dia memiliki paras cantik, jadi dirinya bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Kini Raquel bekerja di sebuah restoran. Ia bekerja sebagai cook helper atau sering disebut asisten chef.
Menjadi asisten chef memang memiliki gaji yang cukup tinggi, tetapi pekerjaannya penuh tekanan. Tak jarang Raquel kena marah akibat terlalu lamban. Untung saja kelambanan itu bisa ditoleran karena Raquel adalah karyawan baru.
Chef utama yang menjadi bos Raquel bernama Aldric. Dia seorang chef muda yang tampan dan sangat ambisius. Alasan Aldric menerima Raquel menjadi bagian tim dapur karena pengetahuan luasnya tentang masakan Spanyol.
Raquel baru saja menyelesaikan tugasnya membuat adonan. Itu merupakan hidangan terakhir yang dimasak. Dia dan rekan-rekan kerjanya selalu mendengus lega bersama saat pekerjaan selesai.
"Mau ikut ke bar setelah ini? Aku dan Rosie ingin menenangkan pikiran dengan cocktail dan pria-pria tampan," ajak Verna.
"Tidak. Terima kasih," sahut Raquel.
"Ayolah. Kau harus sesekali bersenang-senang. Sejak pertama kali kau bekerja, aku tahu kau orang perantauan yang sedang mengalami masalah berat."
"Dari mana kau tahu?"
"Wajahmu selalu murung," imbuh Verna. Membuat Raquel tak bisa berkata-kata lagi.
"Raquel!" Aldric mendadak memanggil ketika Raquel dan Verna nyaris pergi.
"Ya?" Raquel buru-buru mendatangi Aldric.
"Kau jangan pulang dulu. Aku ingin kau merasakan resep masakan yang kubuat dari salah satu makanan khas Spanyol," kata Aldric.
"Baiklah!" Raquel tak bisa menolak. Dia terpaksa pulang lebih lambat dibanding yang lain.
Raquel memperhatikan Aldric memasak. Jujur saja, sosok lelaki itu selalu mengingatkannya dengan Luiz. Perawakan Aldric sangat mirip dengan mantan kekasihnya tersebut. Terkadang Raquel tenggelam dalam perasaan sendiri ketika mengingat Luiz.