Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan
Atas permintaan Rania yang tidak ingin bermalam di rumah sakit dan selalu meminta pulang, akhirnya Rangga dan yang lainnya menuruti keinginannya itu.
Jika berada di rumah membuat Rania merasa jauh lebih nyaman, itu akan mempercepat proses penyembuhannya. Jadi, kenyamanan Rania yang menjadi prioritas utama mereka sekarang.
“Bagaimana? Suhu badannya sudah turun?” tanya mama Tian saat Rangga menembakkan alat pengukur suhu tubuh ke kening Rania,
“Sudah normal Ma,” jawab Rangga.
“Syukurlah. Biarkan Rana istirahat dulu sekarang, Nia, ayo kita keluar!” seru mama Tian.
Rana mengecup kening Rania terlebih dulu sebelum melangkah keluar, disusul mama Tian di belakangnya.
Namun saat akan membuka pintu kamarnya, tubuh Rana seketika membeku saat tiba-tiba mama Tian menarik dan memeluknya dengan erat,
“Terima kasih kamu sudah mau berbaik hati meminjamkan suamimu untuk Nia. Mama tahu kamu pasti merasa tidak nyaman dengan semua ini, tapi semua demi kebaikan Nia. Kamu mengerti kan?”
Memangnya pilihan apalagi yang Rana punya selain menuruti keinginan mama Tian itu? Ia Hanya tidak mau dilabeli sebagai anak durhaka.
“Ya, Ma.” Hanya itu respon dari Rana. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi dengan mama Tian. Entah kenapa ia merasa ucapan mama Tian itu tidak setulus kedengarannya. Selalu seperti kitu setiap kali Rana mau mengalah untuk Rania.
Mama Tian melepas pelukannya, lalu mengusap lembut kepala Rana,
“Mama tidak pernah membedakan kamu dengan Nia. Mama sayang pada kalian berdua. Kalian sama-sama putri Mama.”
Tidakkah mama Tian tahu kalau Rana bukanlah anak kecil lagi yang tidak tahu betapa timpangnya kasih sayang mama Tian padanya dan Rania?
“Iya Ma aku tahu.”
“Ya sudah, Sekarang kamu juga istirahat yaa. Mama tidak mau kamu juga ikutan sakit seperti Nia.”
Ikutan sakit?
Terlalu lelah untuk berdebat dengan mama Tian, Rana lebih memilih menganggukkan kepalanya saja sebelum membuka pintu kamarnya.
“Selamat malam, Ma,” ucapnya sebelum menutup pintunya. Lama Rana bersandar di sana sambil menahan tangisnya. Ia tidak mau menitikkan airmatanya lagi, yang hanya akan membuat matanya terlihat sembab keesokan harinya.
Bisa dipastikan malam ini Rangga tidak tidur lagi bersamanya. Rangga pasti menemani Rania yang kesehatannya memang sedang drop itu. Rana hanya bisa berdoa semoga saja ingatan Rania segera kembali, agar Rangga bisa kembali lagi ke dalam pelukan Rana.
Sementara itu di kamar lainnya, Rangga membantu Rania meminum obatnya. Pria itu sangat berharap Rania segera tidur setelah meminum obatnya, agar ia dapat menyelinap sebentar ke kamar Rana.
Saat meninggalkan kamar tadi, Rangga melihat raut kesedihan di wajah Rana. Ia ingin menghibur istrinya itu, dan meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.
Waktu akan berlalu dengan cepat, hingga mereka tidak akan sadar kalau sudah akhir bulan, dan mereka bisa mengakhiri semuanya. Rana akan kembali lagi padanya.
Namun alih-alih tidur, Rania malah menarik tangan Rangga, dan Rangga berusaha untuk tidak langsung menepisnya,
“Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tidak tidur?” tanya Rangga.
“Aku takut, Mas.”
“Ada aku di sini, kenapa kamu masih takut juga?”
“Tolong peluk aku, Mas. Aku … Aku takut bayangan mengerikan itu datang lagi,” pinta Rania.
Memeluknya? Astaga, bagaimana ini?
“Kenapa, Mas? Apa Mas tidak mau memelukku karena sudah menganggap aku tidak waras?”
Wajah Rania terlihat sedih. Bukannya itu tidak bagus untuk pemulihannya?
“Mas mau sikat gigi dulu sebentar ya,” elak Rangga. Ia baru akan berdiri tapi lagi-lagi Rania menahannya,
“Mas, malam ini saja, please …”
Tidak tega melihat Rania yang memelas seperti itu, Rangga pun berbaring di samping Rania, ia membiarkan wanita itu memeluknya dan merebahkan kepalanya di dadanya.
“Entah kenapa aku merasa nyaman seperti ini, Mas. Rasanya semua rasa takutku menguap pergi begitu saja. Mungkin karena aku tahu ada kamu yang akan selalu melindungi aku,” ucapnya lirih.
Rangga merasa air mata menembus kemejanya dan membasahi kulit dadanya. Ia tahu Rania tengah menangis, namun ia tidak mau meresponnya. Ia hanya berharap Rania segera tidur dan tidak meminta yang aneh-aneh darinya.
Tapi sepertinya rasa kantuk belum juga kunjung datang, karena Rania kembali berkata,
“Terima kasih karena sudah sabar merawatku. Aku tahu pekerjaan kantormu pasti menumpuk, tapi kamu tidak mengeluh sama sekali. Aku cukup beruntung karena sudah menikahi pria hebat sepertimu, Mas.”
“Terima kasih untuk pujiannya, Sayang. Sekarang tidurlah, jangan lupa pesan dokter tadi kalau kamu harus banyak istirahat. Kamu harus …”
Rahang Rangga mengeras saat jemari Rania mulai mengusap lembut dadanya. Secara refleks pun ia menahan tangan Rania dan menjauhkannya,
“Jangan, Sayang. Kamu harus istirahat. Kalau kamu sayang sama Mas tidurlah, biar Mas juga bisa istirahat karena besok Mas harus kembali kerja.”
“Maaf, Mas. Aku hanya terbiasa tidur menyentuhmu, itu saja.”
“Tidak masalah kalau kamu tidak sedang sakit. Tapi kenyataannya sekarang kamu harus banyak istirahat kan? Dan sejujurnya Mas pun teramat sangat lelah, Mas juga mau istirahat.”
Rania sedikit mendongak untuk mengecup pipi Rangga sebelum mengucapkan,
“Selamat tidur, Mas. Mimpi yang Indah.”
Rangga menahan dirinya untuk tidak langsung menghapus jejak yang ditinggalkan Rania di pipinya. Ia hanya memfokuskan pandangannya ke langit-langit kamar sambil terus berharap Rania segera tidur.
Tapi karena hari itu terlalu melelahkan, Rangga pun tertidur juga. Ia terbangun pagi harinya dengan Rania yang sudah berada di atas tubuhnya.
Namun karena masih terlalu lelah dan ngantuk berat, Rangga salah mengira kalau Rania itu adalah Rana. Jadi alih-alih menjauhkan Rania, Rangga malah meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping wanita itu,
“Minta jatah pagimu, Sayang?” Godanya.
***
Karena selanjutnya terlalu hot dan tidak bisa up di sini, maka nice up di KK yaa … Kalian bisa baca additional part 29nya di sana.