Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Doni menjemput Arini di rumahnya pagi-pagi, Arini Belum siap kala itu. Dia masih sibuk menyiapkan makan pagi untuk ibu dan Cila.
"Apa Nak Doni sudah sarapan?" tanya Bu Mira.
"Belum Bu, aku buru-buru kesini. Kangen banget sama Cila, sekalian antar Arini kerja." Sebenarnya Arinilah yang sangat dirindukannya, Cila hanya alasannya saja di depan Bu Mira.
" Kalau gitu ikut sarapan dulu saja, Arini sudah menyiapkan semuanya."
"Terimakasih Bu," ucap Doni menuruti.
Doni pun segera menuju ruang tengah, nampak Cila sedang duduk dengan seragam sekolahnya lengkap sedang menunggu ibunya menyiapkan makanan.
"Eh Om Doni, Cila kangen Om," ucap Cila berlari memeluk Doni.
Doni pun menyambut hangat pelukan anak kecil itu. Anak kecil yang sudah dia anggap anaknya sendiri.
"Om Juga kangen banget sama Cila," ucap Doni Yeng kemudian mencubit gemas pipi Cila.
"Ayuk Om sarapan dulu, Ibu sudah menyiapkan makanannya." Cila menuntun Doni ke meja makan.
Sarapan pagi yang sederhana, Arini hanya memasak sayur dan beberapa lauk.
"Lho Mas Doni sudah di sini?" tanya Arini yang baru keluar dari dapur.
"Iya aku sengaja datang pagi, minta jatah sarapan." Doni tersenyum menggoda Arini.
"Ooh gitu ya tapi nggak gratis ya," ucap Arini bercanda.
"Tenang Nona, akan ku bayar dengan hidupku."
"Iih..., Mas ini apaan si. Pagi-pagi sudah ngegombal saja."
Mereka pun sarapan bersama, Arini mengambilkan nasi dan semua lauk ke piring Doni. Sungguh Doni sangat bahagia saat itu, dia membayangkan jika mereka sudah menikah pasti kebahagiaan seperti ini akan dirasakannya setiap hari.
Setelah selesai dengan makan paginya, Doni dan Arini mengantarkan Cila ke sekolah. Jarak sekolahan yang cukup dekat membuat mereka memilih berjalan kaki.
Cila sangat bahagia serasa memiliki keluarga lengkap saat ini. Dia bermanja-manja pada Doni, Doni pun dengan senang hati memanjakan bocah itu.
Dari kejauhan sepasang mata melihat dengan jelas kebahagiaan mereka. Sepasang mata milik Juna yang sengaja datang dengan rasa penasarannya terhadap Cila.
Niat hati hanya ingin memperhatikan Cila, nyatanya Juna disuguhi pemandangan mesra mereka bertiga. Cila yang terlihat sangat dekat dengan Doni, membuat hatinya tiba-tiba merasa cemburu.
"kenapa tiba-tiba aku merasa cemburu melihatnya, bukan hanya pada Arini tapi pada bocah itu. Arini, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku selama ini?" tanya Juna dalam hati.
Tidak tahan melihat semua itu, Juna memilih segera pergi. Sebelum emosinya memuncak dan dia tidak mampu mengendalikannya.
Setelah berpamitan pada Cila, Doni mengantarkan Arini ke kantornya.
"Apa Juna masih menemuimu?" tanya Doni sambil memgemudikan mobilnya.
"Iya, kemarin malam dia datang menemuiku." Arini menjawabnya dengan jujur.
"Apa kamu masih punya perasaan padanya?" tanya Doni tanpa ekspresi.
"Kenapa Mas menanyakan hal itu?" Arini malah balik bertanya.
"Dia masih sangat mengharapkanmu kembali?"
"Apa maksud Mas Doni, apa Mas ingin aku kembali dengannya?" tanya Arini merasa tidak mengerti maksud Doni.
"Bukan itu maksudku, justru sebaliknya aku tidak mau kehilangan kamu."
"Ya sudah tidak usah membahasnya lagi, kita punya masa lalu masing-masing tidak usah diungkit lagi." Arini nampak kesal dengan sikap kekasihnya itu.
"Kalau Mas percaya padaku, jangan membahasnya lagi." Imbuh Arini saat mobil Doni berhenti di depan tempat kerjanya.
Doni hanya terdiam, melihat Arini keluar dari mobilnya tanpa berpamitan apalagi menyalaminya.
Saat jam makan siang, Arini dipanggil oleh rekan kerjanya.
"Rin, ada yang mencarimu di luar?"
"Baik, aku segera keluar," jawab Arini singkat.
Arini segera keluar menemui orang tersebut. Terlihat seorang wanita paruh baya yang dia tidak kenal.
"Maaf, apa Ibu yang mencariku?" tanya Arini dengan sopan.
"Apa kamu yang bernama Arini?"
"Iya benar Bu," jawab Arini sambil menganggukkan kepalanya.
" Kita bicara di cafe depan!" perintah wanita tersebut.
Dengan penuh tanya dalam hatinya Arini pun menurutinya. Dia berjalan mengikuti langkah wanita itu.
"Duduklah!" ucap wanita itu.
"Tolong menjauhkan dari kehidupan Doni anakku!" Bu Leni mengatakannya langsung tanpa basa-basi.
Arini hanya tercengang kaget mendengarnya, lidahnya kelu untuk menjawab permintaan wanita itu.
"Berapa jumlah yang kamu minta, akan aku berikan. Agar kamu bisa membesarkan anakmu dengan layak tanpa mengganggu kehidupan anakku."
"Terima kasih atas tawaran Ibu, maaf aku harus segera pergi." Arini beranjak tanpa meladeni perempuan yang adalah ibunya Doni.
Arini merasa sangat terhina dengan ucapan Bu Leni. Apa yang dia cemaskan benar adanya, keluarga Doni tidak akan dengan mudah menerima statusnya.
Sementara Bu Leni merasa sangat marah dengan sikap Arini yang begitu saja pergi tanpa merespon permintaannya.
Hari ini Arini jalani dengan perasaan resah, setelah pulang kerja dia tidak mampir ke resto Doni. Doni juga sama sekali tidak menghubunginya. Akhirnya dia hanya memilih tidur setelah menemani Cila belajar dan menidurkannya.
Esoknya setelah Arini keluar dari gerbang sekolah Cila, terlihat Juna sedang menunggunya. Tanpa bisa dihindari, dengan terpaksa Arini menemuinya.
"Ada apalagi Mas menemuiku?" tanya Arini tanpa ekspresi.
"Ada yang ingin aku bicarakan, masuklah ke mobil sekalian aku mengantar kamu kerja."
"Bicarakan di sini saja," tolak Arini.
"Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, tidak usah takut," ucap Juna langsung menyeret Arini masuk ke dalam mobilnya.
"Katakan apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Arini saat telah berada dalam mobil Juna.
"Siapa anak itu, siapa ayahnya?" tanya Juna dengan penekanan.
"Dia anakku, aku ibu sekaligus ayahnya." Arini menjawab singkat tanpa menoleh ke arah Juna.
"Aku mohon katakanlah Arini." Juna mulai nampak emosi.
"Selama ini aku tidak pernah mencampuri kehidupanmu, jadi tolong jangan lagi mencampuri kehidupaku juga. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."
"Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku selama ini?" tanya Juna belum puas.
"Tidak ada, turunkan aku di sini saja."
Juna tidak mau memberhentikan mobilnya. Dia mengantarkan Arini sampai di tempatnya kerja. Arini segera keluar tanpa berpamifan.
Doni yang telah menemui kakaknya berada di depan kantor saat Arini turun keluar dari mobil Juna. Dia tahu dengan jelas mobil siapa yang Arini tumpangi.
Melihat Doni yang sedang menatapnya membuat Arini terkejut, dia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah meski dia tidak melakukan apapun. Arini yakin Doni akan salah paham.
"Ini tidak seperti yang Mas Doni lihat," ucap Arini menjelaskan pada Doni.
"Aku tahu," Doni hanya menjawab singkat kemudian berlalu begitu saja.
Arini merasa bersalah melihat sikap Doni, rasanya baru kemarin mereka masih bercanda. Sekarang tiba-tiba semuanya berubah.
Tidak mau berlarut-larut, Arini segera menemui Doni setelah pulang dari kantornya. Dicarinya Doni di ruangannya namun tidak ada. Arini hanya melihat beberapa lembar pakaian Doni yang berserakan di sofa ruang kerja tersebut.
"Apa selama ini kamu tinggal di sini Mas?" tanyanya dalam hati.
Arini segera keluar mencari keberadaan Doni, namun tidak terlihat juga. Akhirnya dia memilih mengerjakan pekerjaan di resto sambil menunggu Doni kembali.
Sementara Doni tengah berada di toko perhiasan dengan seorang perempuan. Perempuan itu mencoba beberapa cincin yang pas di jari manisnya.
****
happy reading
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.