Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Karena banyaknya acara yang berlangsung di Hotel Perdana hari itu, seluruh staf bergerak tanpa sempat menarik napas panjang. Troli makanan mondar-mandir di lorong, denting peralatan makan saling bersahutan, sementara para tamu terus berdatangan memenuhi ballroom. Melihat beberapa rekan mulai kewalahan, Kayla segera mengenakan sarung tangan putih dan ikut membantu melayani tamu dalam pesta ulang tahun putri keluarga Lesmana.
“Si anak kaya sombong itu sengaja memilih hotel kita sebagai tempat perayaan ulang tahunnya.”
Lisa mengembuskan napas panjang. Jemarinya tetap sibuk menyusun deretan gelas hingga sejajar sempurna di atas meja prasmanan, meski raut wajahnya jelas memperlihatkan rasa jengah.
“Aku yakin dia akan membuat onar hari ini,” keluh Lisa sambil merapikan gelas-gelas minuman.
“Sebagai karyawan kita jaga sikap kita,” kata Kayla.
“Hei, pelayan.”
Suara nyaring itu memotong kesibukan ballroom dan membuat beberapa staf spontan menoleh.
Kayla dan Lisa mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Senyum tipis yang sempat menghiasi wajah mereka langsung menghilang. Di hadapan mereka berdiri Rina dengan gaun pesta berwarna mencolok, rambut yang ditata rapi, serta riasan wajah yang membuatnya tampak seperti tamu kehormatan, bukan seseorang yang beberapa hari lalu masih mengenakan seragam hotel.
“Ambilkan aku wine.” Tatapan Rina sinis pada Kayla dan Lisa.
Kayla dan Lisa saling bertukar pandang. Kening mereka berkerut bersamaan. Bukankah Rina mengaku mengambil cuti selama dua minggu? Namun sekarang perempuan itu justru berdiri di tengah pesta dengan pakaian mewah, seolah menjadi bagian dari keluarga penyelenggara.
“Oh, aku lupa memberi tahu.” Lisa menyilangkan tangannya dengan sinis seraya berkata, “Aku datang ke sini sebagai keluarga penyelenggara acara, keluarga konglomerat Permana, bukan sebagai staf.”
Rina melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. Senyum tipis yang terukir di bibirnya bukanlah keramahan, melainkan ejekan yang sengaja dipamerkan. Tatapannya bergantian menyapu wajah Kayla dan Lisa sebelum berhenti tepat di depan mereka.
“Sekarang ambilkan aku wine.” Tangannya terulur.
Kayla mengambil satu gelas wine dari atas baki perak, lalu menyodorkannya dengan tenang kepada Rina. Gelas itu sudah berada tepat di depan tangan Rina, tetapi perempuan itu sama sekali tidak berniat menerimanya. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk seringai meremehkan.
“Aku tidak mau dilayani oleh pelayan rendahan seperti kamu. Hamil sama orang lain, tapi mencari pria kaya untuk tanggung jawab.”
“Kamu...” geram Kayla.
Rahang Kayla mengeras. Jemarinya mencengkeram baki hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meluap. Namun sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, suara musik mendadak mengecil, digantikan suara MC yang menggema memenuhi ballroom. Kesempatan itu dimanfaatkan Rina untuk berbalik pergi. Langkahnya ringan dengan senyum penuh kemenangan, sementara Kayla hanya mampu menatap punggungnya sambil mengepalkan kedua tangan erat-erat.
“Para hadirin sekalian, kita sambut kedatangan Nona Lina Lesmana dan keluarga.”
Suara MC menggema melalui pengeras suara, membuat seluruh percakapan di dalam ballroom perlahan mereda. Semua tamu serempak mengalihkan perhatian ke pintu utama.
Lina melangkah masuk mengenakan gaun putih yang menjuntai anggun hingga menyapu lantai. Mahkota bertabur permata berkilauan di atas kepalanya, berpadu dengan kalung berlian yang memantulkan cahaya lampu kristal di langit-langit ballroom. Di sisi kanan dan kirinya, Linda serta Adam berjalan mendampingi dengan senyum penuh kebanggaan. Tepuk tangan bergema dari berbagai penjuru ruangan, diiringi alunan musik megah yang membuat suasana pesta terasa semakin mewah.
Pesta ulang tahun itu berlangsung meriah. Ballroom Hotel Perdana dipenuhi cahaya lampu kristal, alunan musik elegan, serta para pengusaha ternama yang datang membawa hadiah dan ucapan selamat. Walaupun keluarga Lesmana bukan keluarga utama dalam lingkaran konglomerat, nama mereka tetap diperhitungkan karena memiliki kerja sama erat dengan keluarga Wijaya.
“Mah, itu orangnya,” Lina menunjuk ke arah Kayla.
Tatapan Linda tertuju pada kayla yang sedang melayani para tamu
“Kata kamu dia manajer kenapa dia jadi pelayan?”
“Dia itu sedang mencari perhatian Adrian mah”
“benar-benar murahan” Gumam Linda
“Mamah harus beri dia pelajara mah” Provokasi Rina
“Nanti setelah acara ini kita beri pelajaran dia.”
“Baik, Mah.”
Rina tersenyum puas sebelum kembali bercampur dengan para tamu undangan. Lina pun ikut bergerak menyapa teman-temannya dengan percaya diri, seolah seluruh perhatian di ruangan itu memang sudah menjadi miliknya.
“Nyonya Linda, di luar ada Tuan Adrian. Apakah Anda yang mengundangnya?” ucap Winda, teman Linda.
Linda langsung menoleh. Matanya sedikit membesar karena terkejut.
“Benarkah itu?” gumam Linda. “Akhirnya Adrian bisa datang juga. Selama ini dia hanya mengirimkan hadiah.”
“Hebat sekali, Nyonya. Kalau Tuan Adrian bisa datang ke sini, perusahaan suami Anda pasti akan banyak yang memperhatikan.”
“Adrian datang karena aku, Mah. Kemarin dia terus mengabaikanku, sekarang dia pasti mau memberi kejutan,” tiba-tiba Lina berkata dengan penuh percaya diri.
“Syukurlah kalau begitu. Berarti hubungan kamu dengan Adrian ada kemajuan.”
Kabar kedatangan Adrian menyebar cepat di antara para tamu. Beberapa orang mulai berbisik membicarakannya. Namun, MC tidak mengumumkan kedatangannya karena nama Adrian memang tidak tercantum dalam susunan acara yang telah dibuat sebelumnya.
Tidak lama kemudian, pintu lobi ballroom terbuka.
Suasana yang sebelumnya ramai berubah menjadi lebih hidup. Adrian masuk bersama Aldo, tangan kanannya, serta beberapa bodyguard yang berjalan dengan jarak teratur di belakang mereka.
Kehadiran pria itu langsung menarik perhatian semua orang.
Beberapa pengusaha menghampiri untuk menyapa. Adrian hanya membalas dengan senyum tipis dan sapaan seperlunya. Sikap dinginnya tetap melekat, membuat banyak orang semakin segan.
“Lina, kamu harus siap-siap beri senyum terbaik untuk Adrian,” kata Linda.
“Iya, Mah. Adrian memang datang untukku.”
Langkah Adrian semakin mendekat ke arah Lina.
Selangkah...
Senyum Lina semakin melebar.
Selangkah lagi...
Rasa percaya dirinya semakin tinggi. Dalam pikirannya, Adrian pasti datang membawa hadiah mahal untuknya. Mungkin juga meminta maaf karena selama ini mengabaikannya.
Lina menyiapkan sapaan terbaik. Dia bahkan sudah membayangkan bagaimana semua orang akan melihat kedekatan mereka.
Namun, ketika Adrian semakin dekat, pria itu hanya melewatinya begitu saja.
Senyum Lina membeku.
Adrian bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Langkahnya justru semakin cepat menuju Kayla yang sedang sibuk melayani para tamu.
“Kenapa kamu melayani para tamu?” tanya Adrian.
Kayla yang sedang membawa nampan terkejut mendengar suara itu. Dia segera membalikkan badan.
“Maaf, hotel kekurangan staf, jadi aku membantu di sini.”
Adrian, pria yang biasanya dikenal dingin dan sulit menunjukkan emosi, justru tersenyum lembut melihat Kayla.
“Baiklah, kamu jangan terlalu lelah ya. Ingat ada bayi kita.”
“Jangan kencang-kencang ngomongnya,” geram Kayla. Wajahnya memerah karena malu.
Percakapan sederhana itu terlihat hangat di mata semua orang.
Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka. Senyum Adrian yang jarang terlihat, tatapan lembutnya pada Kayla, serta caranya memperhatikan perempuan itu membuat suasana berubah.
Berbeda dengan Lina yang berdiri beberapa langkah dari sana.
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
Matanya menatap Kayla dan Adrian dengan penuh amarah.
Giginya bergemeretak menahan emosi.