Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan yang berubah drastis.
Setahun kemudian...
Zalina dan ayahnya kini tinggal di sebuah rumah petak sederhana di pinggiran kota. Rumah itu memang tidak besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali. Ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi di luar. Juga, area dapurnya cukup luas, walaupun jauh dari ukuran dapur di rumahnya dulu.
Reyhan menjual beberapa perhiasan dan jam tangan miliknya untuk membeli rumah itu. Uang hasil penjualan juga tersisa cukup banyak, hingga mereka bisa memenuhi kebutuhan hingga setahun ke depan.
Namun, Reyhan tidak begitu saja bersantai di rumah. Ia pergi ke beberapa tempat untuk melamar pekerjaan.
Untungnya, ia punya skill menjahit yang cukup mumpuni, sehingga ada sebuah rumah usaha yang memperkerjakan dirinya sebagai tukang jahit pakaian.
Rumah itu memproduksi berbagai macam seragam skala besar, dan sedang membutuhkan tambahan pekerja di bagian produksi.
Reyhan bersyukur karena di usianya yang tidak lagi muda, ia masih mampu menghasilkan uang. Walaupun gaji yang ia hasilkan tidak sebesar penghasilan yang ia hasilkan dari pabriknya dulu, namun uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Apalagi Zalina tidak banyak menuntut darinya. Ia bisa menerima kondisinya saat ini dengan hati yang lapang.
Terkadang, Reyhan selalu merasa bersalah ketika melihat putrinya yang dulu ia banjiri dengan kemewahan, kini harus hidup sederhana. Bahkan sudah beberapa bulan terakhir sejak mereka tinggal di rumah ini, Zalina tidak pernah lagi membeli pakaian baru. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah.
Apalagi, gadis itu kini selalu bangun lebih pagi, untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Gadis itu tidak pernah sekalipun terdengar mengeluh. Ia selalu memberikan senyuman hangat pada Reyhan. Hal itu, kerap kali membuat Reyhan menangis di kamarnya, meratapi kebodohannya karena tidak mampu menjaga apa yang sudah diwariskan kepadanya.
Tetapi tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Karena semuanya tidak akan kembali lagi padanya.
Namun, ada satu hal yang tidak ia beritahukan pada Zalina. Ia tidak hanya berhutang pada bank, tetapi juga pada seorang rentenir.
Hutang itu akan segera jatuh tempo, dan jumlahnya juga tidak sedikit. Ia bahkan baru berhasil mengumpulkan seperempat dari jumlah hutangnya, dan itu belum termasuk bunga yang setiap bulannya selalu bertambah.
Ia sudah berusaha untuk meminjam uang dari beberapa teman dekat yang dulu pernah ia tolong, namun mereka tidak bisa membantunya. Mereka malah langsung memblokir nomornya begitu ia selesai menelpon.
Padahal ketika mereka meminta bantuan padanya dulu, ia dengan sukarela memberi pinjaman pada mereka.
Memang benar, di saat kita sedang di uji, kita baru bisa melihat mana orang-orang yang tulus pada kita.
Pagi itu, Zalina tampak menata dua piring nasi goreng dan teh hangat di atas meja makan mereka yang kecil. Wajahnya tampak ceria seperti biasa, penuh ketulusan dan keikhlasan.
Dada Reyhan seketika terasa sesak ketika melihat putrinya yang begitu tulus merawatnya. Sementara istri yang seharusnya menjadi rumah bagi putrinya itu, dengan tega meninggalkannya.
"Ayo, Yah. Sarapannya sudah siap." ucap Zalina dengan sikap tenang.
Gadis itu baru berusia dua puluh dua tahun, tapi sikapnya bahkan jauh lebih dewasa dari dirinya. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak tunggal. Dan ia terbiasa melakukannya semua sendiri sejak dulu. Bahkan di saat mereka memiliki asisten rumah tangga.
"Iya, Nak. Terima kasih." ucap Reyhan, dengan senyum tipis yang menenangkan.
Mereka lalu duduk bersama dan mulai sarapan.
"Ini enak sekali, Nak. Ayah bisa bertambah gemuk jika setiap hari makan hidangan yang lezat seperti ini." ucapnya dengan menyelipkan gurauan di dalamnya.
Zalina terkekeh kecil. "Kalau begitu aku akan lebih semangat belajar masak, agar aku bisa menghidangkan berbagai macam menu untuk ayah. Katakan saja ayah mau makan apa. Aku akan belajar untuk membuatnya."
Reyhan tersenyum lirih. "Apapun yang kau masakkan untuk Ayah, pasti akan Ayah makan, Nak." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia menggenggam tangan putrinya yang sedikit terasa kasar. Bukti bahwa selama ini ia sudah bekerja keras untuk menerima kehidupannya yang sekarang.
Setelah sarapan pagi, Reyhan berpamitan padanya untuk berangkat kerja. Tak lupa, Zalina membawakan bekal makan siang untuknya.
Setelah memastikan sepeda motor yang dikendarai ayahnya tidak terdengar lagi, Zalina cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Satu-satunya hal yang ia sembunyikan dari ayahnya adalah pekerjaannya.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Zalina meminta bantuan pada temannya yang seorang pemilik kafe untuk memberikannya pekerjaan. Untungnya ia bisa bekerja sebagai pelayan di salah satu coffee shop miliknya.
Zalina yang baru saja lulus kuliah, tidak bisa segera mendapatkan pekerjaan. Banyak lamaran pekerjaan yang sudah ia masukkan ke beberapa perusahaan, namun semua perusahaan itu menolaknya karena mereka menginginkan karyawan yang punya pengalaman kerja minimal setahun.
Untungnya ia punya seorang sahabat yang bisa ia andalkan ketika ia sedang berada dalam masa sulit seperti ini.
Walaupun awalnya Diandra, sahabatnya itu tidak begitu yakin menerima Zalina untuk bekerja sebagai pelayan di kafenya. Mengingat bagaimana kehidupannya dulu yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti menjadi pelayan.
Zalina yang punya tekad kuat, mampu belajar dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia kini tampak mahir melakukannya.
Sesampainya di depan kafe, Zalina yang berjalan terburu-buru, tidak sadar menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja menabrak Anda." pinta Zalina dengan wajah panik.
"Berhati-hatilah, Nona. Kau bisa melukai seseorang jika berjalan dengan terburu-buru seperti itu." ucapnya dingin.
Pria itu mengusap ringan bagian lengannya yang sempat tersenggol. Sorot mata di balik kaca mata beningnya itu tampak dingin, menatap Zalina dengan pandangan merendahkan.
Zalina menunduk dalam, jemarinya saling menggenggam gugup. "Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Aku sedang terburu-buru..."
Pria itu mendengus pelan, lalu menatap Zalina dengan pandangan penuh penilaian yang terkesan merendahkan. Begitu angkuh dan arogan.
Ia lalu melengos pergi dan masuk ke dalam butik pakaian mewah di samping kafe tempatnya bekerja.
"Dasar pria sombong." Zalina tampak menggerutu pelan setelah kepergian pria itu.
Ia lalu bergegas masuk ke dalam kafe karena sudah hampir terlambat.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" tanya Diandra begitu melihat Zalina masuk dengan wajah masam.
"Ada serangga yang menyebalkan tadi." jawabnya asal.
"Serangga mana yang berani mengganggu kucing betina galak sepertimu, hem?" tanya Zalina lagi sengaja menggodanya.
Zalina mendengus pelan, lalu menyambar gelas kopi yang dibawanya, meneguknya cepat tanpa permisi. Diandra hanya menatapnya heran.
"Serangga mahal." gumamnya kemudian, menatap sahabatnya itu dengan malas.
Diandra mengangkat satu alis, sudut bibirnya tertarik geli. "Oh? Dari spesies apa itu? Jangan bilang... tipe yang pakai jas rapi, turun dari mobil mewah dan bersikap arogan."
Zalina langsung menatap tajam. "Jangan bilang kau mengintip tadi, ya?"
Diandra terkekeh pelan. "Aku cuma menebak. Tapi jika dilihat dari reaksimu... sepertinya tebakanku benar."
Zalina memalingkan wajahnya kesal.
"Apa wajahnya tampan?" tanya Diandra lagi.
"Entahlah..." gadis itu tampak mengangkat bahu. Lalu melengos pergi dari hadapannya.
Diandra hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu.
🥀🥀🥀
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..🤗
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...