Asih, bunga desa itu berlari diantara pekatnya malam. Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang yang mengejarnya dengan marah.Suara riuh membuat Asih semakin ketakutan dan melayang menuju kompleks pekuburan di desa itu yang masih terbuka liang lahatnya. Perempuan itu masuk ke liang lahat dan tanah kuburanpun tertutup disertai suara gemuruh dan getaran hebat seperti gempa. "Semua mundur. Biar aku yang akan mengunci perempuan itu didalam kuburnya!!” teriak Ahmad
Asih bunga desa yang terlibat cinta terlarang dengan pak Lurah yang tampan dan tajir dinikahi secara siri oleh pak Lurah.Namun untuk menutupi pernikahan siri mereka, Asih kemudian dinikahkan dengan Ibrahim tanpa diceraikan terlebih dahulu oleh pak Lurah. Asih yang sombong karena kecantikannya kembali berselingkuh dan dinikahi seorang konglomerat yang akan membangun Mall di desanya.
Bagaimanakah nasib Asih selanjutnya ? Akankah Asih memilih salah satu diantara ketiga suaminya itu ? Ikuti dan dapatkan jawabannya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhaken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Bencana Longsor di kampung Asih.
"Sudah siap Im?" tanya bapak yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ibrahim.
"Iya pak ," jawab Ibrahim sambil merapikan sarung dan kopiah yang dipakainya.
"Jangan lupa, bangunkan istrimu. Suruh sholat... Akhir-akhir ini bapak perhatikan istrimu itu sudah mulai jarang sholat," bapak memperingatkan Ibrahim yang hanya diam mendengar perintah mertuanya.
"Ya udah. Sana, bangunin..!" suruh Bapak.
Ibrahim masih berdiri ragu-ragu.
"Im..!?" Bapak menepuk pundak Ibrahim.
"I..iya pak,". Laki-laki itu kaget dan menjawab dengan terbata-bata membuat bapak geleng-geleng kepala.
Ibrahim berjalan ke kamar Asih yang masih tertutup rapat. Laki-laki itu meraih handle pintu kamar dan mencoba membukanya.
"Terkunci," ucap Ibrahim pelan.
"Im...ayo buruan. Nanti kita telat ke suraunya !"seru Bapak mengingatkan Ibrahim.
"Iya pak," sahut Ibrahim. Buru-buru dia meninggalkan kamar Asih.
"Kamu sudah bangunin Asih?" tanya Bapak begitu Ibrahim sudah berada didepannya.
"Sudah pak. Tapi pintu kamar dikunci dari dalam. Kayaknya Asih masih tidur, pak" jawab Ibrahim jujur.
"Lho. Kok kayaknya ?, Emangnya semalam kamu tidak tidur di kamar?" tanya Bapak heran.
Ibrahim tercekat. Jujur Ibrahim tidak bisa berbohong. Tapi dalam situasi seperti saat ini haruskah dirinya berkata jujur?.
"Eum...Iya pak..saya tidur di kamar. Cuman karena badai semalam saya memutuskan untuk berjaga-jaga. Makanya saya memilih duduk di ruang tamu aja pak sambil memantau situasi di luar," jawab Ibrahim, berharap mertuanya percaya ucapannya.
"Oh, gitu ya ?. Ya udah, ayo kita jalan," perintah Bapak. Mertua dan menantu itu kemudian meninggalkan rumah mereka menuju surau.
Matahari memancarkan sinarnya melalui celah jendela kamar Asih. Perempuan itu masih tidur. Wajahnya tersapu lembut sinar mentari pagi.
Asih terbangun. "Sudah pagi," guman Asih
Perlahan Asih beranjak dari ranjang dan meraih handuk, hendak mandi. Saat membuka pintu kamarnya, rumah terlihat sepi. Tak ada siapapun.
Mak yang jam segini biasanya sudah sibuk di dapur tak terlihat batang hidungnya. Demikian pula dengan Ulfa, Ibrahim dan Bapak.
"Tumben ?" Asih mengernyitkan keningnya.
Ditelusurinya setiap ruang di rumah itu. Tapi tak ditemukannya siapapun disana.
"Kemana mereka?" tanya Asih penasaran.
Asih hendak melanjukan ke kamar mandi, namun tiba-tiba mak datang.
"Mak..," panggil Asih. "Bapak dan lainnya kemana mak?" tanya Asih.
"Ulfa, bapak dan suamimu lagi ke rumah uwaknya Ibrahim. Rumah mereka roboh kena longsor semalam. Beberapa rumah warga disekitarnya juga ikut roboh," jawab Mak sambil ke dapur menjerang air minum.
"Ooh..," jawab Asih singkat.
Mak menoleh dan menegur Asih. "Kok jawabnya gitu doang Asih ?. Sana....mandi lalu kamu susul suami dan bapakmu," suruh Mak," Sekalian bawa kopi buat warga yang lagi bantu-bantu disana. Pada mau bikin dapur umum soalnya," perintah mak sambil membuat kopi setermos besar.
"Asih malas mak. Biar Asih di rumah aja," tolak Asih.
"Kamu ini ya. Keluarga suamimu lagi tertimpa musibah, kamu malah memilih di rumah aja nggak bantuin," omel mak sambil geleng-geleng kepala.
Asih diam saja, acuh tak acuh. "Udah akh mak. Asih mau mandi dulu," Asih ngeloyor pergi tanpa memperdulikan omelan maknya.
"Haah, anak ini ya, susah banget dibilangin!" kesal mak. "Habis mandi kamu langsung nyusul mak ke sana, bantu-bantu masak di dapur umum. Nggak boleh nggak Asih. Akan ada banyak pejabat yang datang,"
Asih yang mendengar kalimat terakhir mak menghentikan langkahnya.
"Berarti Prabowoku juga datang juga dong. Hmm..." Asih tersenyum sendiri. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah sejenak. "Mudah-mudanya bininya yang culas itu nggak ikut," harap Asih kemudian tertawa kecil.
"Ntar Asih nyusul mak," teriak Asih sambil berlalu ke kamar mandi.
Mak geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya itu yang mudah sekali berubah moodnya.
Asih mandi sembari membayangkan adegan semalam bersama Prabowo. Senyumnya merekah. Wajahnya bersemu merah.
"Prabowo benar-benar tergila-gila padaku. Dia nggak akan bisa lepas dariku. Buktinya...semalam dia berani datang kesini tanpa memikirkan cuaca semalam dan nggak takut ketahuan bininya," guman Asih.
"Tapi..seperti kata Prabowo, aku harus tetap berhati-hati, jangan sampai ketahuan bininya," Asih mempercepat mandinya dan berpakaian serta berdandan cantik.
Saat keluar dari kamar, Asih tidak melihat emaknya. Mungkin sudah pergi duluan. Bergegas Asih keluar dan mengunci pintu rumah.
Di luar beberapa orang warga terlihat berlalu-lalang di jalanan depan rumah sambil membawa peralatan seadanya. Nampaknya mereka akan pergi ke tempat yang sama yang dituju Asih.
Beberapa perempuan yang melihat Asih, menegurnya.
"Asih..ayoo, ikut kita," ajak salah satu diantara mereka.
"Kemana?" tanya Asih.
"Ke kompleks di dekat tebing sebelah sana. Semalam longsor dan katanya ada korban jiwa juga," jawab yang lain sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Iya Asih. Dan katanya rumah uwaknya Ibrahim, suamimu juga kena," tambah yang lain.
"Iya, aku tau. Tadi mak juga ngasi tau,, makanya aku mau kesana sekarang," jawab Asih sambil berjalan beriringan dengan perempuan-perempuan tadi.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tempat yang dituju. Tebing yang tidak terlalu tinggi di belakang rumah uwaknya Ibrahim terlihat longsor menimpa sekitar 6 rumah yang ada dibawahnya.
Untungnya kata orang-orang ternyata nggak ada korban jiwa. Hanya beberapa yang luka ringan dan sudah dibawa ke puskesmas. Namun rumah-rumah yang terkena akibat longsor semuanya rusak parah.
Beberapa aparat TNI dan Polri juga terlihat membantu warga menggali secara manual timbunan tanah longsor dengan peralatan apa adanya.
Asih mengarahkan pandangannya ke sekitar lokasi, mencari seseorang. Namun orang yang dicarinya tak terlihat berada di tempat itu.
"Eum..dari kecamatan nggak ada yang datang ya?" tanya Asih pada temannya yang tadi bersamanya.
"Informasinya sih pak camat dan aparat pemerintahan lainnya akan datang. Tapi nggak tau juga jam berapa mereka tiba disini,"
Asih mengangguk dan tersenyum simpul "syukurlah...aku yakin, Prabowo juga pasti bakal datang." batin Asih senang.
Bapak dan Ibrahim terlihat sedang ikut membantu warga. Sementara mak sibuk menyajikan kopi untuk minum warga.
"Ayok Asih..kita ke dapur umum, bantu-bantu disana," ajak Gendis, tetangga Asih sambil menarik tangan Asih.
Asih tidak menolak dan mengikuti Gendis bersama ibu-ibu serta beberapa remaja putri lainnya.
Beberapa tentara dan polisi yang ikut membantu mendirikan tenda untuk dapur umum memperhatikan Asih dan gadis-gadis muda yang melewati mereka.
Asih memang menonjol diantara perempuan-perempuan lainnya yang ada disitu. Parasnya yang menawan dengan postur tubuh tinggi semampai dan rambut panjang yang masih agak basah memancarkan kecantikannya yang alami.
Mungkin mereka tidak menyangka kalau di kampung itu ternyata ada seorang bidadari yang mempesona.
Asih yang merasa dirinya diperhatikan dan disenyumi hanya menatap sekilas kemudian berjalan lagi memasuki dapur umum.
________________