Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan
Kondisi kaki dari putra wanita paruh baya itu memang sudah sangat mengenaskan, mulai membusuk karena dibungkus dan diperban tanpa pernah dibuka untuk dibersihkan, dan tangis wanita itu yang memohon agar kaki anaknya tidak diamputasi membuat Senja merasa iba.
Senja yang sudah pernah menangani luka seperti itu tentu saja tahu apa yang harus dia lakukan. Hanya saja karena sudah lama luka itu dibiarkan, tanpa perawatan hingga membusuk dan bernanah membuat anak itu menjadi begitu lemah, rasa sakit yang diderita bocah itu membuatnya tidak selera makan hingga daya tahan tubuhnya pun turun, juga diserang demam.
Senja segera meminta Tina untuk memasangkan infus untuk anak itu, lalu mulai bekerja, melakukan serangkaian pengobatan memberikan obat yang mujarab agar lukanya cepat sembuh.
"Bagaimana anak saya, Dokter?" tanya wanita itu dengan wajah harap-harap cemas, dia meremas sisi daunnya dan menatap wajah anaknya yang kini sudah bisa tertidur dengan tenang.
"Nggak usah khawatir, Bu. Saya sudah mengobati kakinya, sudah membersihkan lukanya dan dia pasti akan sembuh. Kita biarkan saja dulu dirawat di sini, satu atau dua hari untuk memulihkan kondisinya karena mungkin sudah berminggu-minggu menahan rasa sakit ini membuatnya tidak selera makan, demam yang diderita juga karena efek luka yang dia rasakan," terang Senja dengan lembut.
Ah, perasaan itu datang lagi, setiap dia sudah menolong orang, akan ada perasaan ringan dari tubuhnya seolah-olah satu dosanya sudah terlepas dari tubuhnya. Ada keceriaan, kebahagiaan yang dia rasakan. Dia suka menolong orang, dia berjanji saat nanti dia boleh kembali ke dunianya, dia akan melakukan kebaikan, peduli dengan sesama dan menolong mereka.
Membantu orang itu sangat menyenangkan, membuat perasaan kita menjadi lebih berguna sebagai manusia.
Senja sudah akan beranjak dari bangsal itu ketika berpapasan dengan Dinda yang sudah tiba di hadapannya dengan penuh emosi dan amarah. Dinda melihat pasien itu lalu menoleh ke arah Senja.
"Sebenarnya di sini yang punya aturan itu kamu atau aku? Rumah sakit ini punya prosedur, kenapa kamu sewenang-wenang mengizinkan seseorang untuk dirawat di rumah sakit tanpa prosedur administrasi sebelumnya? Bukankah Dokter Husna sudah menjelaskan bahwa sebaiknya ibu dan anak ini mencair rumah sakit yang lain saja, lantas kenapa dibawa ke sini? Kamu lihat'kan, pasien kita membludak, kita perlu ruangan untuk pasien yang akan datang," hardik Dinda sembari berkacak pinggang.
Senja menaikkan sebuah alisnya, menatap dengan cemooh ke arah Dinda, orang yang sudah menjadi kakaknya di dunia novel ini.
"Maaf sudah mengecewakanmu, tapi nuraniku sebagai dokter tidak bisa mengabaikan orang yang sedang meminta tolong kepadaku, lagi pula kenapa kita tidak menerima pasien ini? Bukankah fungsi rumah sakit untuk mengobati pasien? Kalau hanya masalah ruangan, kita masih memiliki banyak ruangan kosong yang bisa menampung pasien yang akan datang. Mengapa kau menghiraukan pasien yang belum pasti datang ke rumah sakitmu, sementara di hadapanmu sudah ada seseorang yang merintih memerlukan bantuan justru kamu tolak? Sorry, aku nggak bisa mengabaikannya," ucap Senja bermaksud untuk berlalu dari sana namun, Dinda yang sudah marah dan juga merasa dipermalukan, menarik jubah dokter yang dipakai Senja lalu dengan sekeras tenaganya menampar pipi Senja di hadapan banyak orang, tidak hanya pihak rumah sakit tapi juga pasien yang ada dirawat di ruangan itu.
Kerasnya tamparan itu bahkan membuat kulit pipi Senja memerah bekas tangan Dinda di sana.
"Kalau ini untuk bayaran agar anak itu bisa dirawat di rumah sakitmu yang hebat ini, maka aku akan menerima tamparan lain, bahkan jika satu tamparan belum cukup untuk membayar segala biaya yang diperlukan anak ini maka kau boleh menamparku lebih berulang kali, aku akan menerimanya. Aku ingatkan kepadamu, jangan pernah kau mengusir anak ini dari rumah sakit kalau tidak kau akan menyesali pernah ada di dunia ini," ancam Senja dengan amarah yang ditahan.
Tangannya bahkan sudah mengepal di sisi tubuhnya, kalau hanya untuk menampar Dinda bukanlah hal yang sulit itu. Senja lebih tinggi dari Dinda bahkan mengingat bahwa di dunia nyata gadis itu adalah pelayannya, hanya seorang asisten yang biasa melayaninya membuat Senja berani untuk membalas perbuatan gadis itu.
Tidak banyak berkata lagi, Senja pergi meninggalkan tempat itu. Walaupun dirinya yang ditampar oleh Dinda, tapi semua orang yang melihat kejadian itu memuji perilaku Senja, kesabarannya dan juga bijaksananya dalam menyikapi masalah itu.
Tapi senja hanyalah seorang gadis biasa. Mungkin di dunia nyata dia ahlinya menyembunyikan perasaan sakitnya tapi tidak di dunia novel ini. Tamparan yang tadi dia rasakan adalah tamparan seorang kakak kepada adiknya. Hatinya hancur dan sakit, dia memilih untuk mengurung diri di toilet agar bisa menangis dengan sepuasnya.
15 menit cukup untuknya meredam rasa sedih dan emosinya. Dia keluar setelah membasuh wajahnya namun, bekas tamparan tangan Dinda nyatanya tidak bisa hilang dari pipinya saat itu juga.
Senja tidak punya pilihan lain selain keluar dengan bekas tamparan itu. Dia berjalan sembari menunduk menyembunyikan wajahnya yang masih merah dan matanya yang sembab karena habis menangis namun, betapa terkejutnya dia ketika berjalan justru menubruk seseorang hingga membuatnya mental ke belakang. Senja spontan mengangkat wajahnya, menengadah menatap pria tinggi yang ada di hadapannya itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, pria itu kini menangkap dagunya memaksa untuk melihat pipinya yang merah dan juga matanya yang sembab.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Pipimu kenapa? Siapa yang menamparmu?" tanyanya mengintrogasi Senja yang lagi tidak mood untuk melayani pembicaraan karena apa yang baru saja dialami membuat gadis itu menepis tangan pria itu lalu berjalan dan jauh darinya.
Kalau senja pikir pria itu akan meninggalkannya, tentu saja gadis itu salah besar. Pria itu terus mengikuti ke mana Senja melangkah, hingga gadis itu memutuskan untuk menyingkir ke taman samping rumah sakit, tempatnya sering menghabiskan waktu kalau ingin merenung dan merindukan dunianya yang dulu.
"Berhentilah menangis, kalau tidak aku akan memukulmu!" seru Edward merasa khawatir dengan Senja. Sudah 15 menit duduk di samping Senja, mereka berdua hanya diam. Pria itu memberikan waktu untuk gadis itu menenangkan dirinya. Namun, yang ada Senja malah menangis terisak.
Edward tentu saja tidak bisa melihat air mata gadis itu, rasanya dia ingin membunuh siapapun yang sudah menyakiti perasaan Senja, tapi dia tidak tahu harus melampisnya kepada siapa, pasalnya Senja juga tidak mengatakan siapa yang sudah menamparnya dan membuatnya bersedih seperti ini.
Edward ingin mencari tahu dengan mengintrogasi semua orang yang ada di rumah sakit itu tapi dia juga tidak mau meninggalkan gadis itu sendirian saat sedang bersedih seperti ini.
"Kau juga ingin memukulku? Di sebelah kanan masih ada tempat, silakan!" pekik Senja yang membuat Edward terdiam.