Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Lembah Waktu yang Terlambat
Setelah membantu memulihkan kembali pengetahuan dan ingatan di Kerajaan Pasir Laut, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah wilayah yang udaranya terasa aneh — seolah bergerak lebih lambat dari biasanya. Burung terbang dengan sayap yang terasa berat, daun pohon bergoyang sangat pelan, bahkan suara angin terdengar seperti tertahan dan lambat.
“Kang, ada yang tidak beres dengan waktu di sini,” kata Dawala sambil mengamati sekeliling dengan waspada. “Seolah segala sesuatu berjalan sangat lambat, namun tidak terasa tenang, justru terasa berat dan menyesakkan.”
Cepot mengangguk sambil memegang batu petunjuk yang selalu mereka bawa. Batu itu berdenyut perlahan, seolah mengikuti irama yang tidak wajar. “Kita sedang memasuki Lembah Waktu. Konon, di tempat ini mengalir arus waktu yang bisa diatur oleh penjaganya — namun jika ia terganggu, seluruh kehidupan di lembah akan terhambat pertumbuhannya.”
Mereka melangkah lebih dalam, dan semakin ke tengah lembah, suasana semakin jelas terasa aneh. Di sebuah desa kecil yang terletak di dasar lembah, warga terlihat bergerak sangat lambat, seolah berjalan di dalam air kental. Anak-anak yang seharusnya tumbuh cepat terlihat tetap berwujud kanak-kanak selama bertahun-tahun, sedangkan orang tua tidak menua, namun juga tidak memiliki kekuatan untuk bekerja atau bergerak dengan lincah.
“Selamat datang di tempat yang tidak berubah,” sapa seorang tetua desa dengan suara yang keluar perlahan, seolah setiap kata harus ditarik keluar dengan susah payah. “Sudah lama kami hidup seperti ini. Tidak ada yang bertambah tua, tidak ada yang sakit, tidak ada yang berubah sama sekali. Namun… rasanya hidup ini terasa hampa, seperti air yang tidak mengalir dan akhirnya menjadi keruh.”
“Siapa yang membuat waktu berjalan seperti ini?” tanya Cepot dengan nada lembut namun jelas.
“Beberapa waktu lalu datanglah seorang lelaki bernama Ki Tenang,” jawab tetua itu. “Ia berkata bahwa perubahan adalah sumber segala kesusahan — karena bertambah tua, orang menjadi lemah; karena berubah, kebiasaan rusak; karena bergerak maju, banyak hal yang hilang. Ia mengikat arus waktu agar tetap diam, sehingga tidak ada lagi perubahan yang terjadi.”
Malam itu, Cepot dan Dawala berjalan menuju puncak bukit di tengah lembah, tempat menurut cerita warga Ki Tenang menetap. Di sana berdiri sebuah bangunan berbentuk jam raksasa yang terbuat dari batu, namun jarum-jarumnya tidak bergerak sedikit pun. Di depannya duduk seorang lelaki yang wajahnya tampak awet muda namun matanya terlihat kosong dan tidak bersemangat.
“Kalian datang untuk mengubah apa yang telah aku atur menjadi sempurna?” tanyanya tanpa menoleh. “Di sini tidak ada kesedihan karena tidak ada perpisahan, tidak ada rasa takut karena tidak ada masa depan yang tidak pasti. Semuanya tetap sama, selamanya.”
“Tetap sama bukan berarti hidup, Ki Tenang,” jawab Cepot tenang. “Air yang tidak mengalir akan menjadi keruh dan berbau busuk. Tanaman yang tidak tumbuh akan mati. Manusia yang tidak mengalami perubahan tidak akan belajar, tidak akan dewasa, dan tidak akan memahami makna perjalanan hidup itu sendiri.”
Ki Tenang berdiri perlahan, lalu menoleh dengan pandangan tajam. “Perubahan membawa penderitaan! Mengapa harus menerima hal yang menyakitkan jika bisa dihindari? Aku telah menciptakan kedamaian abadi!”
“Kedamaian tanpa perubahan hanyalah kematian yang tersamar,” jawab Dawala dengan tegas. “Jika tidak ada masa muda yang tumbuh menjadi dewasa, maka tidak ada generasi baru yang melanjutkan kehidupan. Jika tidak ada perubahan musim, maka tidak ada panen, tidak ada kehidupan yang berlanjut.”
Mendengar kata-kata itu, Ki Tenang terlihat terguncang. Ia mengangkat tangannya, mencoba menahan arus waktu agar tetap terikat, namun ia merasakan bahwa kekuatannya justru membuat dirinya sendiri semakin kaku dan tidak berkembang. Ia mulai menyadari bahwa apa yang ia anggap sebagai perlindungan justru menjadi penjara bagi seluruh makhluk hidup di lembah itu.
Cepot melangkah mendekat, mengangkat Golek Pancasona. Cahaya lembut namun mantap memancar, menyentuh jarum jam raksasa itu. “Waktu adalah sungai yang harus mengalir — cepat atau lambat, tergantung kebutuhan, namun tidak boleh berhenti sama sekali. Kembalikanlah iramanya yang wajar, agar kehidupan bisa berjalan sebagaimana mestinya.”
Seketika itu juga, jarum jam batu itu mulai bergerak perlahan, semakin lama semakin teratur. Udara yang tadinya terasa berat menjadi ringan kembali, daun-daun bergoyang dengan alami, dan warga desa mulai merasakan tubuh mereka kembali bergerak dengan lincah. Mereka menyadari bahwa meskipun kini akan kembali menua dan mengalami berbagai peristiwa, mereka juga kembali merasakan makna hidup yang sesungguhnya — tumbuh, berkarya, dan mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Ki Tenang menunduk dalam-dalam, penuh rasa menyesal. “Aku salah mengira ketenangan sebagai keheningan mutlak. Sekarang aku mengerti, kedamaian sejati ada saat segala sesuatu berjalan sesuai iramanya, bukan saat ia dipaksa berhenti.”
Ia pun memutuskan untuk tetap tinggal di lembah itu, bukan lagi menghentikan waktu, melainkan menjadi penjaga agar arusnya tetap terjaga dan tidak berjalan terlalu cepat maupun terlalu lambat.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Cepot dan Dawala menerima sebutir butiran pasir yang selalu bergerak mengikuti irama detak jantung — sebagai pengingat bahwa setiap momen memiliki nilainya, dan perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.