Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Maya Miya dan Rencana Diam-diam
Pagi itu, udara terasa sejuk sekali, embun masih kelihatan menempel di ujung-ujung daun tanaman di halaman rumah. Faris baru saja selesai membereskan barang-barang di teras, pikirannya melayang ke rencana besar yang sudah ia susun matang-matang: pindah ke Gedangan Sidoarjo, memulai lembaran baru, menjauh dari gangguan Bima, dan mengembangkan usaha lebih besar lagi.
Tapi saat dia menoleh ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba dia menepuk jidatnya sendiri keras-keras. Wajahnya berubah jadi bersalah dan kaget.
"Aduh... aku ini gimana sih?! Sibuk mikirin ini itu, sampai lupa hal yang paling penting!" gumamnya sendiri.
Dia langsung menengok ke belakang rumah, lalu memanggil keras-keras, "Gun! Ali! Kemari dulu cepat, ada yang mau Abang omongin!"
Tak lama kemudian, Guntur dan Ali berlari keluar dari belakang, tangannya masih memegang kain lap dan kunci inggris. Wajah mereka bingung, takut ada hal mendadak atau ada masalah baru lagi.
"Ada apa Bang? Ada yang ketinggalan? Atau ada urusan mendadak?" tanya Ali cemas.
Faris menghela napas panjang, lalu menatap kedua adiknya dengan tatapan menyesal. "Kalian ini sama Abang sama saja, sama-sama pelupa berat! Kalian lupa ya sama Maya dan Miya?! Itu dua adik kita kembar itu, dari kemarin sore disuruh main ke rumah temannya, katanya cuma sebentar, eh sampai sekarang belum dipulangkan! Abang sibuk mikirin rencana pindah sama urusan bengkel, jadi lupa sendiri kalau mereka belum ada di rumah. Kalian juga diam saja, nggak ada yang ingat sama sekali!"
Guntur sama Ali langsung melotot kaget, mulutnya mangap-mangap nggak percaya. "Ya ampun... bener juga Bang! Kita lupa total! Astaga, pasti mereka sudah bosan dan capek nunggu di sana," seru Guntur sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
"Sudah, nggak usah banyak alasan. Sekarang juga sana panggilkan adikmu itu, suruh pulang segera. Kasihan kalau lama-lama di sana, nyusahin punya teman juga," perintah Faris cepat.
Pas Guntur mau melangkah pergi, Faris menahan sebentar, suaranya jadi lebih lembut dan serius.
"Dan dengar ya... Maya sama Miya itu masih kelas 3 SD lho, dik. Masih kecil banget, masih butuh banyak belajar. Tapi kasihan, mereka sempat berhenti sekolah gara-gara kita dulu susah, nggak ada biaya. Nah, ingat baik-baik ya, nanti kalau kita sudah pindah ke Gedangan, kita daftarkan mereka sekolah lagi di sana. Mau kan? Kalau mereka mau sekolah lagi, kita usahakan semampu kita. Kalau misal mereka malu atau nggak mau, ya sudah nggak apa-apa, biarkan saja nanti di rumah bantuin Ibu sama Bapak. Nanti di sana rencananya Ibu mau buka warung jualan gorengan, biar Ibu ada kesibukan dan penghasilan sendiri juga. Tenang saja soal modal buat semuanya, Abang ada punya kok. Nanti nanti saja ya, Abang kasih tahu semuanya kalau waktunya sudah pas. Sekarang kalian jemput dulu mereka, kasihan."
Guntur sama Ali mengangguk semangat, hati mereka lega dengar Abangnya masih memikirkan nasib adik-adik bungsu itu juga. Mereka langsung berlari naik ke atas motor, melesat menjemput Maya dan Miya yang sudah pasti kangen rumah.
Setelah kepergian kedua adiknya, Faris berdiri diam di teras, menatap langit biru yang bersih tanpa awan. Di dalam hatinya, dia bicara sendiri, menyimpan rahasia besar itu rapat-rapat supaya belum ada yang tahu, bahkan orang tuanya pun belum.
"Simpan saja dulu rahasia ini... Biarkan mereka biasa saja dulu, biarkan mereka berpikir kita cuma pindah sewa tempat seperti biasa. Nanti kalau sudah sampai di Gedangan, nanti kalau sudah berdiri di tanah dan bangunan itu, baru aku jujur. Baru aku bilang: 'Ini rumahnya sendiri, tanahnya sendiri. Abang beli sendiri pakai hasil kerja keras dan rezeki halal yang Tuhan kasih.'
Faris tersenyum lebar di dalam hati. Uang hasil kejeliannya berinvestasi di saham kemarin itu, ditambah tabungan lama yang dikumpulkannya pelan-pelan ternyata jumlahnya cukup, bahkan lebih dari cukup. Dia sudah diam-diam meninjau tempat di Gedangan, menemukan sebidang tanah bagus, ada bangunan rumah sederhana di depannya dan lahan luas di sampingnya yang pas banget buat bengkel. Semua sudah dia urus diam-diam, semua surat-surat sudah ada di tangannya, disimpan rapi di saku baju.
Dia sengaja nggak mau bilang sekarang. Dia mau kasih kejutan terbesar dalam hidup keluarganya itu saat mereka sudah benar-benar sampai di sana, saat mereka sudah berdiri di atas tanah milik sendiri. Dia mau melihat wajah bahagia Ibu, wajah bangga Bapak, dan wajah kaget sekaligus senang adik-adiknya nanti.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor mendekat. Guntur dan Ali sudah kembali, dan di belakang mereka, duduk dua gadis kecil kembar yang sama persis wajahnya, sama-sama ceria dan manis. Maya dan Miya, si kembar yang paling disayang seisi rumah. Begitu turun dari motor, mereka langsung lari kecil menghampiri Faris, memeluk pinggang Abangnya erat-erat.
"Abang! Maaf ya kami lama di sana, asyik main sama teman jadi lupa waktu," kata Maya sambil tersenyum malu.
"Iya Bang, kami sudah kangen banget sama Ibu sama Bapak. Di sana enak sih, tapi di rumah sendiri tetap paling enak rasanya," tambah Miya dengan suaranya yang renyah.
Faris menepuk kepala keduanya bergantian dengan penuh kasih sayang. "Nggak apa-apa, dik. Abang yang salah, Abang lupa menjemput kalian. Maafin Abang ya. dik, denger kabar bagus nih... sebentar lagi kita pindah tempat. Kita mau pindah ke Gedangan, Sidoarjo. Di sana nanti tempatnya lebih luas, lebih sejuk, lebih enak. Kalian mau kan ikut?"
Maya dan Miya langsung bersorak girang. "Mau! Mau banget! Asik ada tempat baru!"
"Terus... nanti di sana Abang usahakan supaya kalian bisa sekolah lagi ya. Masih kelas 3 kan? Masih sempat banget ngejar pelajaran. Kalian mau sekolah lagi biar pinter, biar nanti bisa jadi apa saja yang kalian cita-citakan?" tanya Faris lembut.
Maya sama Miya saling pandang, lalu mengangguk antusias. "Mau Bang! Kami kangen sekolah, kangen teman-teman, kangen Bu Guru. Dulu cuma berhenti karena nggak ada biaya, tapi kalau Abang yang atur semuanya, kami mau banget belajar rajin-rajin!"
Faris tersenyum lega. Dia memeluk kedua adiknya itu, hatinya penuh rasa syukur yang luar biasa. Di belakang mereka, Ibu Arum Sari dan Bapak Wijaya keluar dari rumah mendengar keramaian. Mereka tersenyum melihat anak-anaknya rukun dan bahagia.
"Ngobrol apa seru sekali sampai bersorak-sorak begitu?" tanya Ibu sambil membawa nampan berisi teh hangat dan gorengan sisa tadi pagi.
"Lagi ngomongin rencana pindah ke Gedangan, Bu. Maya sama Miya senang sekali dengarnya," jawab Faris santai, tetap menyimpan rahasia besarnya itu rapat-rapat.
Bapak Wijaya duduk di kursi teras, menatap anak-anaknya satu per satu dengan tatapan bangga. "Bapak sudah bilang sama Ibu, pindah itu keputusan bagus. Di sana peluang banyak, jalannya luas, rezeki insyaallah ngikut. Kita mulai lagi dari awal di tempat baru, dengan semangat baru pula."
"Iya, Pak. Betul sekali. Nanti di sana kita kerja lebih keras lagi, biar semuanya makin cukup, makin enak," jawab Faris singkat, nggak mau banyak bicara soal harta atau kepemilikan dulu.
Pagi itu berlalu dengan penuh keceriaan. Semua beres-beres barang pelan-pelan, berpikir bahwa mereka cuma akan pindah sewa tempat biasa. Hanya Faris yang tahu kebenaran sesungguhnya: sebentar lagi, keluarganya akan hidup di atas tanah sendiri, rumah sendiri, hasil keringat dan keberaniannya sendiri. Dan saat nanti mereka sampai di Gedangan, saat dia jujur mengakuinya, itu akan jadi momen paling bahagia seumur hidup mereka. Rahasia itu dia simpan baik-baik, sebagai kejutan terindah yang sedang dia siapkan untuk orang-orang yang paling dia cintai.