"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari berganti hari, seakan waktu akan berlari... kejar sesal di hati. Nah kan author nya jadi nyanyi.
Hari berganti hari, Laela pun mulai bisa menyesuaikan diri dengan baik di kampusnya, dengan pelajarannya dan juga dengan teman-teman barunya. Termasuk Dara. Bahkan mereka sekarang jadi teman baik.
Dara memang selalu sigap melindungi Laela bahkan dari nyamuk. Karena itu Laela sangat senang berteman dengan Dara. Apalagi sosok gadis itu tidak banyak bicara dan mampu menjaga jarak Laela dari mahasiswa buaya karbitan yang ada di kampus. Karena Laela memang tidak suka ada mahasiswa yang mendekatinya atau sok akrab dengannya. Karena selain karena tak terbiasa, dia juga berusaha menjaga dirinya dan menjaga perasaan Arman sebagai tunangan nya.
Namun suatu hari, setelah dua Minggu dari peristiwa pertemuan pertama Dara dan Laela. Ketika Laela akan pulang Dara menawarkan Laela untuk pulang bersama.
"Ku antar sampai rumah dengan aman!" ajak Dara.
Laela langsung mengangkat tangannya dan melambai beberapa kali di depan Dara.
"Tidak usah, aku akan di jemput tunangan ku!" jawab Laela dengan senyum di wajahnya.
"Begitukah, padahal aku mau mengenalkan mu pada ibuku yang baru akan datang dari kota lain!"
Dara sengaja memasang wajah sedih, sebab bosnya meminta Dara membawa Laela ke bandara agar sebelum Kabir ke blok C. Dia bisa mempertemukan Laela dengan Zahra terlebih dahulu.
"Kamu kan tahu, aku selama ini tidak banyak mempunyai teman. Dan kamu adalah temanku satu-satunya...!"
Mendengar ucapan Dara yang terlihat sangat sedih dan penuh harap seperti itu. Laela pun jadi tidak tega. Memang benar apa yang dikatakan Dara. Selama dua Minggu ini memang hanya Laela saja teman Dara. Laela pikir karena Dara tomboi dan jarang bicara tidak ada yang mau berteman dengannya. Padahal nyatanya adalah, Dara yang tidak mau berteman dengan mereka semua. Dara selalu bersikap galak dan jutek pada semua orang kecuali pada Laela dan dosen di kampus itu.
Dara lalu menghela nafasnya panjang.
"Tapi aku mengerti, baiklah aku akan katakan pada ibuku jika kamu punya keperluan lain...!"
Laela benar-benar merasa tidak enak.
'Aduh bagaimana ya? Dara hanya ingin mengenalkan aku pada ibunya yang baru datang dari luar kota. Tidak enak juga kalau aku menolak. Tapi bang Arman tadi sudah menelepon dan bilang kalau sudah berangkat ke sini. Bagaimana ya?' Laela terus bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang harus dia lakukan.
"Ya sudah Laela, aku pergi ya!" ucap Dara dengan ekspresi wajah sedih, sangat sedih.
Padahal selama ini ekspresi wajah semacam itu jarang sekali di tunjukkan oleh Dara. Biasanya dia selalu galak dan datar. Laela benar-benar jadi tidak enak hati pada Dara.
"Tunggu Dara!"
Laela memanggil Dara yang sudah melajukan pelan mobilnya meninggalkan Laela.
Setelah di panggil oleh Laela, Dara pun dengan cepat mengerem mobilnya. Dalam hati dia bersorak senang.
'Yes, berhasil. Aku tidak akan kena marah bos!' seru Dara dalam hati.
Laela lalu berjalan mendekat ke arah jendela mobil Dara.
"Begini, aku akan ikut denganmu ke Bandara menemui ibumu. Tapi tadi bang Arman sudah bilang kalau dia sudah berangkat, jadi aku telepon dulu ya bang Arman!" jelas Laela yang di balas anggukan kepala dengan cepat oleh Dara.
Laela lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arman.
"Halo Laela, sebentar lagi aku sampai...!"
"Bang, aku minta maaf. Tapi bolehkah aku pulang dengan Dara hari ini?" tanya Laela ragu.
Arman mungkin akan mengijinkan dirinya, tapi kalau ayahnya tahu dia tidak pulang di antar Arman pasti Abdul Kodir akan marah pada Laela.
"Kenapa? kalian ada tugas? tapi bukankah kalian beda semester?" tanya Arman.
Arman berkata demikian karena Laela memang sudah banyak cerita tentang Dara pada Arman. Dan tanggapan Arman terhadap Dara termasuk biasa-biasa saja. Arman juga sudah menyelidiki Dara, tempat tinggalnya dan prestasi akademik nya. Dia cukup pintar karena nilainya bagus, dan dia juga tinggal di kawasan orang-orang yang terkenal baik dan alim. Karena itu Arman tidak mempermasalahkan pertemanan antara Laela dan Dara.
"Tidak ada tugas bang, sebenarnya Ibu dara hari ini akan datang ke kota ini untuk menjenguk Dara. Dan Dara ingin mengajakku menemui ibunya, sebab dia bilang aku temannya... em satu-satunya temannya di kampus. Boleh ya bang?" tanya Laela dengan suara memelas agar Arman mengijinkan nya dan membantunya memberi alasan pada sang ayah jika Abdul Kodir bertanya nanti.
"Baiklah, mau aku temani?" tanya Arman.
Laela langsung melihat ke arah Dara yang mendengar percakapan antara dirinya dan Arman karena ponselnya juga sudah di loud speaker.
Dara langsung melambaikan tangannya beberapa kali. Laela tahu itu artinya Dara tidak ingin Arman ikut.
"Aku akan antar kamu pulang!" ucap Dara dengan gerakan mulut tanpa suara.
"Tidak usah bang, Dara akan mengantarku pulang setelah bertemu ibunya!" jawab Laela.
"Baiklah jika begitu, tapi hati-hati ya. Bilang pada Dara, jangan ngebut!" tutur Arman memberi peringatan pada Laela.
"Iya bang, terimakasih!" sahut Laela.
Setelah itu Laela ikut masuk ke mobil Dara, dan mereka pun melaju menuju ke bandara.
Setelah tiba di Bandara, Dara dan Laela langsung masuk dan menunggu di depan pintu kedatangan domestik.
Kabir yang sudah tiba di bandara, juga sudah melihat Laela dan Dara yang berdiri di depan pintu kedatangan. Kabir lantas bicara pada ibunya.
"Ibu, lihat itu!" ucap Kabir sambil menunjuk ke arah pintu kaca yang tertutup yang bisa di lihat dari dalam.
Dan tangan Kabir itu menunjuk ke arah dua wanita yang sedang berdiri di depan sana.
*Dia Laela
Kabir langsung mengangguk senang.
"Iya, dia Laela. Aku ingin sebelum kita ke rumah Maaz Adnan.. maksudku ke rumah ayah. Ibu bertemu dengannya!" jelas Kabir.
Mata Zahra berkaca-kaca mendengar apa yang di tuturkan oleh putra semata wayangnya itu. Dari sini saja, Zahra sudah sangat yakin kalau Kabir benar-benar menyukai Laela.
Saat Zahra berjalan ke arah pintu, Kabir tidak mengikutinya.
Merasa Kabir tertinggal, Zahra pun berbalik.
*Ayo, bukankah kamu ingin bertemu dengannya?
Kabir pun menggelengkan kepalanya.
"Dia akan pergi jika aku menemuinya sekarang Bu! ibu pergilah, ada Dara di sana!" ucap Kabir.
Zahra terlihat menghela nafas sedih. Tapi kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Melihat Zahra keluar dari pintu kedatangan, Dara langsung menarik tangan Laela mendekatinya.
"Selamat datang nyo.. ibu! selamat datang Bu!" ucap Dara yang langsung memeluk Zahra sekilas.
"Ibu, dia Laela. Yang aku ceritakan!" jelas Dara kemudian.
"Selamat siang Tante, Selamat datang di kota ini! saya Laela, temannya Dara!" sapa Laela sopan sambil mengulurkan tangan pada Zahra.
Saat Zahra memberikan tangannya, Laela langsung mencium punggung tangan Laela.
'Anak yang sopan!' batin Zahra.
Saat Zahra tersenyum dia melihat ke arah pintu kedatangan, dia melihat Kabir juga tersenyum dari sana.
*Ibu menyukainya
Kabir tersenyum lebih lebar melihat ibunya menggerakkan tangannya dan memberikan isyarat itu padanya.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍