Perang antar galaksi yang terjadi antara Ras Mogoley dan Ras Hujole belumlah usai. Banyak galaksi, sistem tata surya lain, sekarang sudah menjadi arena pertempuran dari perang besar itu. Lalu kini, perang tersebut sudah mengarah ke tata surya di mana Bumi berada.
Lintang Cahya Sendira, salah satu orang yang baru saja lulus dari kuliah jurusan programer miliknya, mendapatkan sebuah hadiah yang sangat tidak terduga, sebuah Sistem. Lalu, misi yang diberikan oleh Sistem tersebut sangatlah memberatkan Lintang.
…
“Membuat sebanyak mungkin orang di Bumi menjadi kuat dan mampu mengikuti perang antar galaksi? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?” tanya Lintang kepada Sistem tidak lama setelah mendapatkannya.
Tidak lama setelah berpikir keras dan hampir membuatnya stres, Lintang pada akhirnya menemukan cara untuk bisa membuat manusia di Bumi bisa mengikuti perang antar galaksi.
“Jika mereka tidak bisa melakukan perang secara langsung, bagaimana jika kita menjadikan perang itu sebagai lata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GW 29 Identitas Baru
Lintang masih mengikuti regu dari Kapten Y. Mereka sekarang sudah berada cukup dekat dengan tempat musuh berada. Hanya tinggal satu kilometer lagi untuk mereka sampai di tempat musuh. Namun, Lintang melihat Kalten Y dan yang lain sudah jeluar dari game. Padahal, jatah bermain mereka masih tersisa setengah jam lagi.
Ini karena jarak yang terlalu dekat dengan markas musuh. Dengan jarak seperti sekarang, cukuo mudah bagi musuh menemukan mereka. Daripada memaksakan diri, pilihan Kapten Y untuk mundur adalah pilihan yang tepat.
"Lihatlah, Lintang. Para pemainmu justru meninggalkan game dan tidak menyelesaikan misi mereka. Sangat tidak kompeten sekali. Seharusnya mereka menyelesaikan misi yang Kamu berikan," protes Momoy.
"Sudahlah, Momoy. Jngan lagi protes mengenai mereka. Bagaimanapun juga, kinerja mereka sudah sangat bagus. Mereka masih bertahan dengan regu lengkap tanpa ada yang mati. Padahal, mereka hanya di level 20 sekarang, sedangkan di sekitar sini monster yang ada sudah mencapai level 30. Jadi, mereka sudah lebih baik daripada pemain pada umumnya."
Di sini Lintang bisa melihat dengan jelas perbedaan antara mereka yang berpengalaman berperang dengan lawan yang memiliki kecerdasan, dibandingkan dengan para pemain yang selama ini hanya melawan program saja.
Meski pun Kapten Y dan regunya lebih lemah, ia tahu bagaimana menghindari para monster untuk menghemat waktu serta tenaga. Jika pemain lain, kemungkinan besar mereka akan memilih membasmi para monster. Bagaimanapun juga, monster-monster itu adalah EXP yang tidak bisa begitu saja mereka tinggalkan.
"Sekarang, saatnya kita memberikan sedikit bantuan. Satu jam lagi para pemain itu kembali ke sini. Jadi, kita harus bergegas menyelesaikan tugas kita. Rarae, aku minta bantuanmu, tolong lakukan apa yang aku minta sebelumnya," pinta Lintang kepada Rarae yang sedari tadi diam dan memandangi berlian di tangannya.
"Baiklah. Aku akan melaksanakan tugasku. Kamu sudah memberiku berlian yang indah. Jadi, aku harus bekerja untukmu sekarang," jawab Rarae.
Sedari tadi, Lintang, Momoy, Jasmine, dan Rarae mengikuti Kapten Y dan regunya lewat jalur bawah tanah yang sudah Rarae buat. Dengan begini, Kapten Y dan yabg lain tidak akan mengetahui keberadaan Lintang.
Sekarang, Lintang juga meminta hal yang sama kepada Rarae. Lintang meminta Rarae untuk membuat jalur bawah tanah yang akan membawa mereka ke dalam benteng musuh tanpa ada yang mengetahuinya. Lintang berharap Kapten Y dan yang lain bisa menemukan jalur ini untuk membantu mereka menyusup ke benteng musuh dengan mudah.
Jika Kapten Y tidak bisa menemukannya pun, Lintang bisa memakainya untuk perang nanti. Sekarang, mereka perlu mengintai musuh dan mengetahui kekuatan yang mereka miliki.
Dengan cepat Rarae membuat jalur bawah tanah. Jalur itu tidak telalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Jalur itu hanya memliki lebar tiga meter dan tinggi empat meter. Dengan ukuran ini, para pemain Lintang masih bisa melewatinya tanpa kesusahan.
Tiba-tiba saja Rarae yang sebelumnya menggali tanah, berhenti. Matanya terlihat awas memandangi lingkungan sekitarnya. Begitu pula dengan Momoy dan Jasmine. Keduanya langsung mendekat ke arah Lintang dan membuat Lintang berada di tengah-tengah mereka.
Apa yang mereka lakukan ini membuat Lintang kaget. Perubahan sikap mereka cukup cepat. Ketika Lintang membuka mulutnya hendak berbicara, Jasmine menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Hal itu membuat Lintang menatap tajam ke arah Jasmine sebagai bentuk protes.
Namun, Jasmine hanya meletakkan jari telunjuknya yang lain di depan bibir, pertanda meminta Lintang untuk tidak membuat suara. Sikap mereka yang seperti ini, dan raut wajah mereka yang serius membuat Lintang tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi. Jika tidak, mereka bertiga tidak akan bersikap seperti sekarang.
Rarae kemudian membalikkan badan. Ia lalu memandang ke arah Momoy dan Jasmine bergantian. Ketiganya seolah tengah melakukan pembicaraan melalui tatapan mata. Tidak lama kemudian, ketiganya saling mengangguk.
Tangan Jasmine yang sebelumnya masih berada di mulut Lintang, kini berpindah ke pinggang Lintang. Tanpa memberikan aba-aba apa pun, Jasmine menarik Lintang, lalu kemudian menggendongnya dengan gendongan pengantin.
Jika saja Lintang tidak menyadari keseriusan yang ada di wajah ketiga rekannya, maka Lintang pasti akan berteriak dan protes akan apa yang Jasmine lakukan. Bagaimana mungkin Lintang membiarkan dirinya, seorang laki-laki, digendong dengan gedongan pengantin oleh Jasmine, seorang perempuan.
Cukup lama Jasmine membawa Lintang berlari. Momoy dan Rarae juga mengikuti dari belakang. Meski mengikuti Jasmine dan Lintang, pandang Momoy dan Rarae tidak pernah terlepas dari arah markas musuh.
Setelah lima menit berlari, Rarae mulai menutup kembali jalur yang ada di belakang mereka. Di belakang mereka sekarang sudah tidak ada lagi jalur yang bisa dilewati hanya tanah. Rarae seolah-olah tidak ingin orang lain tahu bahwa di sini ada jalur bawah tanah sebelumnya.
Berulah setelah mereka berlari selama lima belas menit, pada akhirnya Jasmine berhenti. Sekarang, barulah Jasmine menurunkan Lintang dari gendongannya. Meski begitu, Lintang masih bisa melihat kewaspadaan dari wajah ketiga rekannya.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian menyuruhku untuk tidak bersuara dan malah membawaku tanpa ada aba-aba. Aku berhak tahu mengenai apa yang sedang terjadi bukan?" tanya Lintang yang mengatur nafasnya.
Meski Lintang tidak ikut berlari bersama yang lain, tetapi adrenalin Lintang naik. Hal ini membuat jantung Lintang berdebar cukup kencang. Maka dari itu, Lintang mengatur nafasnya untuk menenangkan diri.
"Musuhmu ini bukanlah orang sembarangan, Lintang. Kami bertiga merasakan auranya ketika Rarae menggali tadi. Memang, kami masih bisa mengatasi dia. Namun, orang yang memiliki aura seperti itu tidak hanya satu. Aku takut ketika ketahuan," jawab Jasmine.
"Jasmine benar. Jika kita ketahuan, memang tidak terlalu menjadi masalah besar. Hanya saja, setelah kami menghabisi satu orang, yang lain akan datang. Ketika hal itu terjadi, maka tidak ada yang bisa melindungi dirimu. Kamu ini masihlah sangat lemah Lintang. Kamu tidak seperti Kakekmu yang sangat kuat," imbuh Momoy.
Keringat dingin langsung mengalir di punggung Lintang. Ia tidak menyangka bahwa keikutsertaannya dalam misi kali ini justru membahayakan nyawanya. Lintang tidak seperti para pemain yang lain. Para pemain hanya jiwanya saja yang dikirim ke Planet Mars. Sedangkan Lintang, ia menggunakan tubuh aslinya.
Jika terjadi sesuatu dan Lintang sampai mati, maka ia benar-benar akan mati. Tidak seperti para pemain yang akan dihidupkan kembali setelah dua belas jam. Nyawanya sangat berharga.
"Jadi, ada seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan kekuatan kalian di markas musuh?" tanya Lintang. Jika ini benar adanya, maka para pemain Lintang jelas akan sangat kesulitan dalam memenangkan pertarungan ini.
"Tidak. Mereka tidak sekuat itu. Aku saja yang paling lemah, bisa menghadapi lima orang dari mereka sekaligus," jawab Jasmine. Lintang masih bisa mendengar rasa percaya diri dari ucapan Jasmine barusan.
"Jika kalian bisa menghadapi musuh, kenapa kalian malah membawaku pergi?" teriak Lintang.
Dari ucapan Jasmine, Lintang bisa menyimpulkan bahwa orang-orang yang ada di markas musuh, diremehkan oleh Jasmine. Itu berarti, mereka akan tetap baik-baik saja meskipun mereka tinggal di tempat tadi. Namun, tiga orang ini justru membawa Lintang mundur. Rarae bahkan menutup jalur yang sebelumnya sudah mereka buat.
"Ini karena Kamu masih sangat lemah. Kami sudah berjanji kepada Bos Seno untuk menjagamu. Jadi, kami tidak bisa mempertaruhkan keselamatanmu. Lagi pula, Kamu sudah mengirim para pemain itu untuk mencari tahu informasi bukan? Jadi, mulai sekarang Kamu tidak perlu ikut terjun langsung ke lapangan sebelum Kamu bisa memperkuat diri, Lintang," jelas Momoy.
Ucapan Momoy ada benarnya. Lintang masihlah sangat lemah. Para pemainnya memperkuat diri dengan melawan para monster. Sedangkan Lintang, semanjak ia memiliki sistem hingga sekarang, ia tidak mengalami yang namanya kenaikan kekuatan. Lintang bahkan tidak melakukan olahraga rutinnya karena sibuk mengurusi game miliknya.
"Sistem, bagaimana cara agar aku bisa menjadi lebih kuat?" tanya Lintang.
Lintang tidak mau hanya menjadi orang yang bekerja dibalik layar. Ia ingin ikut terlibat dalam pertarungan. Bagaimanapun juga, peperangan ini menyangkut masa depan tata surya. Jadi, Lintang ingin memberikan kontribusinya dengan terjun langsung ke medan perang.
[Tentu saja dengan membunuh monster, Host. Jika Host membunuh monster seperti para pemain, maka Host akan memiliki tubuh yang lebih kuat.]
"Membunuh monster? Namun, jika aku ikut membunuh monster, aku tidak yakin bisa mempertahankan nyawaku. Apa yang harus aku lakukan?"
[Host, jangan kebingungan seperti itu. Bukannya Host bisa ikut menjadi pemain dalam game ini. Dengan begitu, Host tidak akan takut akan mati nanti.]
"Eh ... apakah aku boleh melakukan hal itu, Sistem? Menjadi pemain dari game ini, apa aku melakukannya?" tanya Lintang penuh dengan antisipasi. Jika Lintang bisa menjadi pemain dalam gamenya sendiri, maka Lintang tidak akan lagi takut akan kematian. Lintang juga bisa memperkuat dirinya dengan lebih aman.
[Sistem tidak pernah melarang Host utnuk masuk ke dalam game sebagai pemain. Selama ini, Host masuk ke dalam game dengan bantuan Sistem. Namun, Host belum pernah masuk ke dalam game menggunakan pod game bukan?]
"Sial. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu. Kalau begitu, aku akan membuat karakter game baru. Sistem, keluarkan aku dari game," pinta Lintang.
Lintang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam game dengan identitas lain. Untuk masalah pencarian informasi, Lintang mengesampingkan mengenai hal itu. Jikalau Kapten Y mati dalam misi ini, mereka tidak akan benar-benar mati. Namun, jika Lintang memaksakan diri dan mati di sini maka berakhir sudah hidupnya.
yang baru2baca ditahun-tahun ini juga pasti menyayangkan karena tidak diteruskan 😥😥😥
mending buat mc yg jenius
sekarang dah kurang menarik karena ikut terekspos