Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kecil
Sudah dua jam Arsen dan Sinta berkeliling desa ini. Sinta juga menyapa beberapa penduduk desa sambil memperkenalkan Arsen sebagai ponakan dari istri pertama pak kades.
Akhirnya mereka tiba di air terjun yang ada di desa itu.
"Wah, tempat ini sangat bagus. Alamnya masih asli." kata Arsen tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada tempat ini.
"Iya. Ini memang sangat bagus. Menurut penduduk desa, setiap weekend banyak yang datang ke tempat ini. Makanya khusus pengunjung dari luar desa ditarik retribusi sebesar 5000 rupiah."
"Bagus juga." Arsen mengeluarkan handphone nya. "Sinta, ayo kita ambil gambar di sini. Aku akan mengirimkan pada Aldi dan Natari. Mereka pasti iri. Kamu kan tahu Aldi sangat suka berpetualang di alam."
"Kamu saja, Arsen. Biar aku yang ambil fotonya."
"Kenapa sih jika kita berdua? Kan kita nggak ngapa-ngapain. Hanya foto doang."
Sinta sebenarnya merasa tak enak. Dia tahu ini hanya foto. Tapi mereka hanya berdua dan semua teman-teman mereka tahu bagaimana perasaan Arsen padanya. Andai saja mama Arsen tak pernah datang mengancam Sinta, pasti mereka kini sudah berbahagia.
"Ayolah, Sinta! Kita selfie!" Arsen langsung mengarahkan kamera handphone pada mereka berdua. Sinta pun berusaha tersenyum.
Awalnya hanya foto-foto biasa namun di bagian akhir, Arsen justru melingkarkan tangannya di bahu Sinta membuat Sinta terkejut namun lelaki itu terlanjur mengabadikan momen itu.
"Sinta, kenapa?"
Sinta mundur beberapa langkah. "Jangan foto kayak gitu lagi, Arsen. Aku ini sudah menikah."
Arsen kesal namun ia menahannya dalam hati. "Maaf. Aku pikir kita kan berteman. Jadi nggak masalah."
"Kita ada di kampung. Beda dengan orang kota yang.....ah......!" kaki Sinta terpeleset di batu tempatnya berpijak sehingga akhirnya ia jatuh ke dalam air.
Arsen tertawa melihat Sinta yang basah kuyup. Sinta juga ikut tertawa.
"Ada yang sakit?" tanya Arsen saat menarik Sinta keluar dari air.
"Tidak." Sinta langsung meremas gaunnya yang basah agar tak terlalu menempel di tubuhnya.
Tiupan angin membuat tubuh Sinta menggigil.
"Sebaiknya kita pulang." kata Sinta sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Arsen membuka jaketnya. "Pakai ini, Sinta."
Sinta pun memakainya. Keduanya langsung melangkah bersama meninggalkan kompleks air terjun.
Ketika melewati hamparan persawahan, Sinta dan Arsen melihat Mahendra yang sedang berbicara dengan beberapa pekerja.
"Pak kades, kayaknya itu Bu kades kedua." kata salah satu pekerja.
Mahendra menoleh. Ia melihat Sinta yang nampak kedinginan, rambutnya basah, begitu juga sepatunya. Lelaki itu langsung mendekati Sinta dan Arsen.
"Abang.....!" sapa Sinta.
"Kamu pulang dengan aku." kata Mahendra pada Sinta. Ia kemudian menatap Arsen. "Arsen, nanti pak sekdes akan mengantarmu."
"Uncle....!" Arsen protes.
"Aku ada urusan sedikit dengan istriku." kata Mahendra lalu segera melangkah. Sinta menoleh ke arah Arsen.
"Aku pergi dulu ya..." pamitnya lalu segera pergi mengikuti langkah Mahendra.
"Masuk!" Mahendra mendorong tubuh Sinta untuk segera masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu membanting pintu mobil membuat Sinta sedikit terkejut. Mahendra kemudian berputar dan duduk di belakang kemudi. Mobil Pajero sport itu kemudian meninggalkan area persawahan sedangkan Arsen hanya menatap kepergian mereka dengan wajah kesal.
"Abang, kita mau kemana?" tanya Sinta saat mobil melewati jalan menanjak menuju ke mansion.
Mahendra tak menjawab. Ia terus melakukan mobilnya sampai akhirnya ia membelokan mobilnya ke sebuah jalan setapak. Jalan menurun yang ternyata menuju ke pinggiran sungai. Di sana ada sebuah pondok kayu yang terlihat asri karena banyaknya bunga yang ada di sana.
Mahendra menghentikan mobilnya di depan pondok itu. Ia turun lalu memutari mobil dan membuka pintu di mana Sinta duduk. "Turun!"
Sinta turun sambil terus memeluk tubuhnya sendiri. Udara di tepi sungai ini lebih dingin. Apalagi hujan mulai turun.
Mahendra mengambil kunci dari dasboard mobil lalu membuka pintu pondok itu.
"Masuk, Sinta!" kata Mahendra sedikit memerintah karena Sinta hanya berdiri di depan pintu.
Sinta masuk. Pondok itu tak terlalu besar. Yang ada hanya ruangan lepas, ada dapur kecil,.meja makan, tempat tidur, dan sebuah sofa panjang, perapian dan kamar mandi yang pintunya terbuat dari kaca sehingga bisa terlihat dari luar.
"Abang, kita mau ngapain di sini? Aku kedinginan. Harus ganti baju." kata Sinta.
"Masuk ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu."
"Baju gantinya?"
"Mandilah! Bersihkan dirimu!" hanya itu yang Mahendra katakan.
"Tapi baju gantinya?"
"Mandi!" suara Mahendra semakin meninggi.
Sinta kesal. Namun ia menuju juga ke kamar mandi. Dengan cepat ia membuka semua pakaiannya lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang dari shower. Kamar mandi ini sebenarnya di sediakan bathup juga namun Sinta tak mau menggunakannya. Ia hanya ingin mandi cepat lalu membungkus rambutnya dengan handuk lalu mengenakan jubah handuk sebelum keluar dari kamar mandi.
Mahendra tak ada saat Sinta keluar dari kamar mandi. Namun ada sepasang training berwarna putih di atas tempat tidur. Sepertinya ini milik Mahendra karena ukurannya besar. Sinta mengenakan pakaian itu tanpa mengenakan dalaman.
Mahendra masuk sambil membawa kayu bakar. Ia menaruhnya di dalam kotak pemanas ruangan.
Hujan mulai turun.
Mahendra menyalahkan kayu bakar lalu kemudian menyalakan kompor untuk memanaskan air. Sinta memilih duduk di sofa.
5 menit kemudian, Mahendra sudah menyiapkan segelas coklat hangat dan kopi.
"Abang, aku nggak nyaman menggunakan baju ini. Tak ada dalaman."
"Minumlah coklat panas ini."
"Pertanyaan ku selalu tak dijawab." keluh Sinta lalu mengambil gelas berisi coklat panas. Ia meneguk coklat itu.
"Aow....! Panas......!" Sinta kaget karena coklat itu panas sekali.
"Dasar ceroboh. Memangnya kamu tidak melihat asap yang mengepul di atas gelas itu? Itu tandanya minuman itu masih panas."
"Abang kan menyuruh aku meminumnya."
"Kamu ini! Di tiup dulu!" Mahendra ingin rasanya menjitak kepala Sinta.
Sinta tertunduk saat tatapan tajam Mahendra mengarah padanya.
"Abang, ayo kita kembali ke mansion." kata Sinta.
"Kalau hujan keras seperti ini, jalan setapak tak bisa dilewati. Licin."
"Aku lapar."
"Di meja ada makanan. Tadi, mbo Sarmi sudah mengirimkan makan siang untukku."
"Terus kapan kita kembali?"
"Mengapa kalau kita di sini?"
"Nanti kita dicari."
"Siapa yang akan mencari? Arsen?"
"Mba Gizel."
"Jangan bawa-bawa nama Gizel. Karena dia tahu kalau aku belum pulang rumah berarti aku ada acara." Mahendra kemudian meletakan ponsel nya di atas meja. "Aku sudah mematikan ponselku. Mana ponselmu?"
"Aku...., aku tidak membawanya."
"Baguslah. Mulai besok, jika Arsen mengajak kamu keluar rumah, ajaklah salah satu pembantu. Ini di desa, bukan di kota. Para penduduk bisa salah sangka."
"Tapi.....!"
"Tidak ada tapi, Sinta."
"Aku kan hanya membantunya mengenal desa ini."
"Aku dapat melihat tatapan matanya yang bersinar saat memandangmu, Sinta."
"Abang cemburu?"
Mahendra tertawa sinis. "Hatiku sudah tertutup untuk cinta. Aku hanya ingin kamu menjaga nama baik keluarga Atmaja."
"Untuk apa dijaga kalau Abang sendiri tak ingin memperpanjang garis keturunan?"
"Itu urusan ku dan bukan urusanmu!" Mahendra mendorong tubuh Sinta sehingga gadis itu langsung terlentang di atas sofa. "Aku tak mau kamu membantah aku. Kamu harus taat. Karena setiap kali kamu membantah, aku akan menghukum mu."
"Hukuman?"
"Ya. Karena jika kamu membangkang, aku jadi bergairah karena marah." Mahendra membuka kemeja yang digunakannya. Mata Sinta langsung terbelalak. Ia menahan dada Mahendra.
"Abang, ini gilirannya mba Gizel."
"Diam!" Mahendra langsung membungkam mulut Sinta dengan ciuman yang panas. Tangan Mahendra langsung masuk di balik mantel yang Sinta kenakan.
Sinta memejamkan matanya. Ia selalu kalah dengan sentuhan Mahendra. Tubuhnya langsung merespon tanpa ada keinginan untuk menolak.
"Nanti mba Gizel marah."
"Diam ...!" Mahendra menarik mantel Sinta keluar dari kepalanya.
Hujan di luar semakin deras namun di atas sofa itu tubuh dua insan itu semakin panas. Suara-suara tertahan mulai terdengar. Tak hanya satu ronde, keduanya larut dalam kemesraan yang dalam. Tak hanya di atas sofa, tapi di atas ranjang juga. Mereka lupa waktu.
Sementara di mansion, Gizel yang sudah selesai memasak nampak kesal karena Mahendra belum kelihatan pulang pada hal jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Yanti, di mana Sinta?"
"Kayaknya nyonya kedua belum pulang juga. Tadi tuan Arsen pulang sendiri. Katanya nyonya Sinta pergi bersama pak kades."
Gizel mengepalkan tangannya. Dia benar-benar kesal.
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣