Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama?
Resepsi usai. Tamu satu per satu pamit. Lampu ballroom mulai diredupkan. Aruni berdiri di samping Sena di lobi hotel, melepas satu per satu tamu kehormatan. Senyumnya sudah kaku. Kakinya terasa seperti mau copot. Gaun berat yang sedari tadi dia tahan sekarang terasa seperti baju besi.
Setelah tamu terakhir -kerabat jauh dari pihak Sena yang entah kenapa sangat cerewet -pergi, Aruni menghela napas panjang sampai bahunya turun.
"Legaaa..." desahnya tanpa sadar.
Sena menoleh. Wajahnya juga tampak lelah. Jas sudah dilepas, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Dasi sudah longgar. "Jangan cepet lega. Belum selesai."
"Ada apa lagi, Mas? Tamu sudah pulang semua kan?"
Sena menatapnya datar. "Malam pertama."
Aruni terdiam.
Detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Pipi Aruni merona perlahan. "Oh. Itu."
"Iya. Itu."
"Maksudnya... kita..."
"Ya! Tidur, di kamar yang sama. Karena kita resmi suami istri."
"Tapi kita kan..."
"Palsu. Aku tahu." Sena mengusap wajahnya. "Tapi di mata keluargaku, kita pengantin baru. Tidak sopan kalau tidur terpisah di malam pertama."
Aruni menggigit bibir. "Jadi... kita benar-benar harus..."
"Tidur. Saja." Sena menekankan kata 'tidur'. "Jangan berkhayal macam-macam."
"I-Iya! Siapa yang berkhayal?!" Aruni mendelik. "Aku enggak kok!"
"Bagus."
Mereka berjalan menuju lift dalam diam. Sepanjang koridor menuju suite pengantin, hanya suara karpet yang tertapak dan degup jantung Aruni yang terasa terlalu keras. Ya Allah, kenapa aku gugup begini? Ini cuma tidur. Tidur biasa. Bukan apa-apa.
Tapi kenapa tangannya berkeringat?
.
Suite Pengantin, Lantai 27
Pintu terbuka. Aruni tercengang.
Suite-nya... gila. Bukan kamar hotel biasa. Ini semacam apartemen mewah dengan ruang tamu terpisah, jendela kaca dari lantai sampai langit-langit menghadap pemandangan malam Jakarta. Lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Ada kelopak mawar merah berserakan di lantai. Lilin aroma terapi menyala di sudut-sudut ruangan. Dan di tengah, ranjang berukuran king size dengan seprai sutra berwarna merah marun.
Tepat di atas bantal, ada handuk yang dilipat berbentuk angsa yang tengah berciuman. Angsa beneran. Romantis banget.
Aruni tidak tahu harus merasa terharu atau mual.
"Dekorasi konyol," gumam Sena sambil melepas dasinya.
"Ini... kamar kita?"
"Jangan pakai kata 'kita'. Kedengarannya terlalu... intim."
"Ya sudah. Kamar Mas."
"Kamar kita," Sena mengoreksi dirinya sendiri dengan wajah sedikit canggung. "Tapi aku tidur di sofa."
Aruni menoleh ke sofa. Sofanya panjang dan empuk, cukup untuk pria setinggi Sena. Tapi tetap saja, sofa tetaplah sofa.
"Mas enggak apa-apa tidur di sofa?"
"Enggak."
"Tapi punggung Mas nanti sakit."
"Punggungku lebih kuat dari perutmu yang minta makan tiap setengah jam."
Aruni cemberut. "Ya sudah kalau begitu. Terserah Mas."
Sena berjalan ke lemari, mengambil selimut cadangan, lalu melemparkannya ke sofa. Dia duduk dengan gerakan tegas, lalu menatap Aruni. "Kamu mandi dulu."
"Mas enggak mandi?"
"Nanti. Kamu dulu."
Aruni mengangguk kaku. Dia mengambil tas kecil berisi perlengkapan darurat—yang disiapkan Mama Sena entah kapan—lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam, dia menatap bayangannya di cermin. Riasan masih sempurna, tapi matanya menunjukkan kelelahan luar biasa. Aku menikah. Aku benar-benar menikah. Dengan pacar kak Bianca. Yang sudah dua tahun ini menjadi tokoh hayalan dalam mimpiku? Biarpun kelihatan judes, tapi tadi membantuku memperbaiki gaun. mengantarku ke dapur saat aku lapar. diam-diam mengambil nasi goreng untukku tanpa diminta.
Aruni menggeleng. Jangan baper, Aruni. Dia melakukan itu semua karena kewajiban! Bukan karena cinta! Yang dia cinta Cuma Kak Bianca!
Aruni mandi secepatnya, lalu mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Saat tangannya meraih rak kecil, dia tak menemukan baju ganti di sana. Astaga! Dia lupa tak mengambil baju ganti. Dengan jantung berdebar Aruni membuka pintu kamar mandi –sedikit, lalu menyembulkan kepala dnegan badan masih tetap di belakang pintu.
“Mas.. Mas…”
“Hm?”
Aruni berdecak kesal, Sena benar-benar irit ngomong! “Tolongin aku…”
“Astaga! Dari tadi kamu selalu minta tolong!” kesal Sena. Apa lagi!” Sena berdiri tepat di depan pintu kamar mandi sambil berkacak pinggang. Dia terdiam beberapa detik saat melihat Aruni dnegan malu-malu mengintip di sela pintu kamar mandi.
“Tolong.. ambilkan baju ganti…” ucap aruni lirih –putus asa.
Sena mendengus keras, lalu membuka koper yang tadi disediakan oleh Mamanya di kamar ini. Sena tertegun saat melihat isi koper. Mama nya benar-benar keterlaluan. Dengan cuek Sena mengambil sebuah gaun tipis yang disediakan oleh sang mama.
“Nih!” ucapnya sambil menyerahkan gaun tipis kecil itu.
“Maka- hah!” pekikkan Aruni sontak membuat Sena mengulum senyum. Mana mungkin Aruni tak kaget, Sena memberinya lingerie warna pink transparan penuh dengan jaring-jaring seperti raket nyamuk. “Gila kamu, Mas!” teriaknya lagi.
“NggaK ada lagi, bagaimana? Pakai gaun pengantin saja tidurnya.” Sena berlalu tak peduli.
Aruni tertegun. Masa dia pakai lingerie ini? Mana nggak ada bra pula! Bisa gila Aruni.
“Nih!” tiba-tiba Sena melempar sebuah kaos ukuran besar berwana putih dan jatuh tepat di atas kepala Aruni.
“Cuma ada kaos punyaku, pakai saja.” Lalu Sena pergi, melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertinda karena panggilan Aruni.
Aruni menatap kaos itu dan tersenyum senang. “Makasih mas!” lalu menutup pintu dan mulai memakai kaos pemberian Sena. Kaosnya terlalu besar, Aruni bahkan tak perlu memakai bawahan karena ini sangat panjang. Maklumlah, Sena kan tinggi besar, sedang Aruni sangat mungil. 185 cm vs 158 cm, coba saja bayangkan bagaimana jomplangnya pasangan ini.
Begitu keluar, uap hangat mengepul di belakangnya. Sena sedang berdiri di dekat jendela, menatap lampu kota dengan punggung membelakanginya.
"Mas, aku udah selesai."
Sena menoleh.
Dia berhenti.
Matanya sempat melirik ke seluruh tubuh Aruni -rambut basah yang masih meneteskan air, wajah tanpa riasan yang membuatnya terlihat lebih muda, kaos longgar pemberiannya yang membuat Aruni tampak... kecil. Sangat kecil.
Sena membuang muka cepat. "Cepat keringkan rambutmu. Nanti masuk angin."
"Iya." Aruni mengambil pengering rambut, tapi jari-jarinya gemetar. Entah karena gugup atau dingin AC.
Sena mengambil alih pengering rambut dari tangannya. "Duduk."
"Hah?"
"Duduk. Aku yang kerjakan."
"Mas bisa?"
"Aku punya keponakan perempuan. Pernah membantunya mengeringkan rambut."
“Benarkah? Berapa umurnya?”
Aruni duduk di tepi ranjang. Sena berdiri di belakangnya. Jari-jarinya yang dingin mulai menyisir rambut Aruni dengan hati-hati, mengeringkan sehelai demi sehelai. Suara pengering rambut meredam detak jantung Aruni yang sebenarnya sedang kencang bukan main.
Dekat sekali, pikir Aruni. Wanginya enak. Tangan Mas Sena... lembut.
“Empat belas tahun… sepertinya,” jawab Sena asal.
Lima menit kemudian, rambut Aruni kering. Sena mematikan pengering, meletakkannya, lalu tanpa berkata apa pun dia mengambil bantal dan selimutnya menuju sofa.
"Mas."
"Apa."
"Makasih."
"Untuk apa?"
"Untuk... semuanya malam ini."
Sena tidak menjawab. Dia membaringkan tubuh di sofa, membelakangi Aruni. Suaranya terdengar lirih. "Tidurlah, aku sudah lelah."
Aruni berbaring di ranjang. Ranjangnya empuk, wangi, dan sangat besar untuk seorang diri. Dari kejauhan, dia bisa melihat punggung Sena yang tegap di sofa. Jauh. Tapi entah kenapa, dia merasa tidak sendirian.
"Mas."
"Kamu ini tidak bisa tidur diam-diam, ya?"
Aruni tersenyum tipis, "Mas Sena..."
"Apa?"
"Selamat malam."
Jeda panjang. Aruni hampir mengira Sena sudah tertidur. Tapi kemudian suaranya terdengar, sedikit serak.
"Selamat malam, Aruni."
.
.
Tengah malam, Aruni terbangun karena haus. Dia bangkit pelan, berusaha tidak berisik. Di sofa, Sena berguling -selimutnya hampir jatuh.
Tanpa sadar, Aruni mengambil selimut itu dan menyelimuti Sena kembali. Diam-diam.
Sena bergumam dalam tidurnya. Tidak jelas. Tapi tangannya tanpa sadar meraih ujung selimut, menariknya sampai ke dagu.
Aruni tersenyum kecil. Dasar judes. Tapi... imut.
Dia kembali ke ranjang, memeluk bantal di sampingnya, dan membayangkan seandainya... saat ini.. mereka berdua berbaring bersama di kasur…
Aah! Sudah! jangan aneh-aneh.
Tapi pipinya merona dan menghangat hingga pagi.
Sena tak tau, jika selama ini, dirinya selalu ada di dalam khayalan Aruni. Dan di sana, Sena adalah kekasih hati Aruni. Kekasih yang sangat memanjakan Aruni dan sangat Aruni cintai. Namun di dunia nyata, melirik Aruni saja dia enggan. Cinta bertepuk sebelah tangan memang sesakit ini.
Tapi Aruni berjanji pada dirinya sendiri, walaupun pernikahan ini hanya kontrak setahun, dia akan melakukan segalanya untuk mendapatkan hati Sena. Dia ingin benar-benar menjadi istri lelaki idamannya itu. Urusan Bianca biar saja, toh tidak ada yang tau kapan dia kembali. Dan memangnya dia punya muka untuk kembali? Setelah membuat kehebohan besar ini? Nggak mungkin!
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭