Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ketiduran.
...~•Happy Reading•~...
Mathias sedang berusaha untuk beristirahat, karena baru kembali dari Surabaya, setelah menyelesaikan kasus di perusahaan Erwin Senjaya.
Beberapa waktu belakangan ini, saat bekerja di Surabaya untuk menangani kasus di perusahaan Erwin, Mathias harus bekerja ekstra keras, sebab kasusnya ruwet dan rumit. Hal itu membuatnya sangat sibuk dan menguras energi.
Tubuhnya terasa pegal dan tidak bertenaga karena selain kurang istirahat, banyak yang dipikirkan dan dikerjakan. Belum lagi berhadapan dengan pengacara lawan yang ingin memenangkan perkara.
Mathias masuk ke cabin untuk istirahat, sebab tidak kuat lagi untuk pulang ke rumah. Ketika sedang menyandarkan punggungnya dan berbaring di tempat tidur, ada notifikasi pesan masuk. Mathias mengambil ponsel dari saku celana dan membaca.
"Selamat malam Pak Mathias, ini dengan Ambar. Mohon maaf kalau saya mengganggu." (Isi pesan Ambar sudah diperpanjang). Mathias yang membaca pesannya, langsung menelpon Ambar. Karena dia terlalu cape' untuk mengetik pesan.
Ketika melihat Mathias menelpon, Ambar langsung merespon dan urung naik ke kamar Juha. Dia tidak menyangka Mathias akan menelponnya.
"Hallo, Pak Mathias. Selamat malam." Sapa Ambar, saat merespon telpon dari Mathias dan duduk di ruang tamu.
"Selamat malam, Bu Ambar. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mathias. Ketika mendengar suara Mathias yang agak serak, Ambar menyadari Mathias mungkin sedang istirahat.
"Pak, kalau sedang istirahat, nanti saya telpon lagi." Ambar jadi ragu-ragu.
"Tidak apa-apa Bu Ambar. Bicara saja, saya mendengar. Saya agak cape' saja, karena baru kembali dari luar kota." Mathias berkata dengan suara mulai pelan.
"Baik, Pak. Saya mau minta nasehat Pak Mathias tentang mobil Alm. suami saya. Sekarang mobil tersebut mau diambil oleh saudara Mas Rulof. Mereka katakan, Mas Rulof telah menjanjikan mobil itu kepada kakaknya."
"Mas Rulof akan membeli mobil yang baru untuknya. Menurut Pak Mathias, saya harus bagaimana?" Ambar minta pendapat Mathias, tetapi dia mendengar suara nafas Mathias pelan dan tenang. 'Apakah Pak Mathias tertidur.' Tanya Ambar dalam hati.
"Bu Ambar..." Panggil Mathias.
"Yaa, Pak Mathias." Jawab Ambar.
"Nanti saya telpon lagi. Saya tidur sebentar." Mathias tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan pikirannya tidak bisa menyimak apa yang dikatakan Ambar.
"Baik, Pak. Selamat istirahat." Ambar mengakhiri pembicaraan mereka dengan perasaan tidak enak, karena telah mengganggu Mathias. Ambar langsung menuju kamar Juha untuk membaca cerita untuknya sebelum tidur.
~**
Mathias tertidur dengan nyenyak, sehingga tidak menyadari telah pagi dan sudah waktunya bekerja.
Bagas merasa heran, bossnya belum masuk kerja. Dia sudah telpon dan kirim pesan, tapi tidak direspon. Kemudian dia coba mengetuk pintu cabin, dengan harapan bossnya ada tidur di cabin.
Mendengar ketukan di pintu, Mathias membuka mata perlahan dan mengumpulkan kesadarannya, lalu turun dari tempat tidur untuk membuka pintu cabin.
"Maaf Pak, saya mengganggu. Apakah bapak ngga pa'pa?" Tanya Bagas ketika melihat bossnya membuka pintu dengan wajah yang baru bangun tidur.
"Iyaa, Bagas. Saya ngga pa'pa, hanya kecapean. Tolong siapkan sarapan untuk saya." Ucap Mathias, mulai merasa lapar.
"Baik, Pak. Silahkan mandi dulu, saya akan siapkan sarapan untuk bapak." Bagas langsung meninggalkan bossnya dengan hati lega, sebab dia sempat khawatir, bossnya kurang sehat setelah kembali dari Surabaya.
Mathias menutup pintu kamar. Ketika melihat jam di dinding, dia terkejut. Sudah hampir jam sepuluh pagi. Dia segera mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Selesai mandi dia mengenakan pakaian kerja, dan makan dengan cepat sarapan yang sudah disediakan Bagas. 'Kenapa aku bisa tidur sangat pulas?' Mathias bertanya pada dirinya sendiri, sebab dia belum pernah tidur sebegitu lamanya, tanpa terjaga sedikit pun.
Mathias teringat pembicaraannya dengan Ambar tadi malam. Dia mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab, diantaranya dari Ibunya.
Dia segera menghubungi Ibunya, karena Ibunya menghubungi pagi-pagi. "Hallo, Bu. Tadi Ibu menelpon?" Tanya Mathias saat Ibunya merespon.
"Iyaa, nak. Tadi Ibu telpon, karena mau ke Rumah Sakit. Apa Thias masih di Surabaya?" Tanya Ibunya.
"Ngga Bu, kemaren sudah kembali ke Jakarta. Cuma agak cape' jadi ngga pulang ke rumah lagi, langsung tidur di cabin. Ini baru bangun, Ibu sekarang di mana?" Tanya Mathias khawatir, kondisi Ibunya.
"Ngga papa. Ibu hanya periksa saja, karena merasa ngga enak. Ibu ada bersama suster, mungkin sebentar lagi sudah pulang." Bu Titiek berkata tenang, agar Mathias tidak khawatir.
"Baik, Bu. hati-hati! Nanti selesai kerja, baru Thias pulang." Mathias merasa agak lega.
"Thias juga hati-hati. Kalau masih cape' istirahat saja di situ, ngga usah pulang." Bu Titiek berkata pelan lagi, menahan rasa tidak enak dibagian perutnya.
"Iyaa, Bu. Bilang suster hubungi Thias kalau sudah sampai rumah." Ucap Mathias lalu mengakhiri pembicaraan setelah saling mengucapkan salam.
Bu Titiek sudah setahun lebih, menjalani operasi pengangkatan kandungan, karena ada kanker di rahimnya. Hal itu membuat Mathias lebih sering tinggal di rumah orang tua untuk menemani Ibunya. Sehingga dia memberikan Angel tinggal di apartemennya yang sering kosong.
Sedangkan ayahnya seorang Jaksa, telah meninggal dalam kecelakaan mobil di Tol Cikampek saat kembali dari Subang. Hal itu membuat Bu Titiek sempat drop, sebelum menjalani operasi.
Namun Mathias terus memberikan semangat, sehingga Ibunya bersedia operasi dan masih bisa beraktivitas, walau hanya di sekitar rumah dan ditemani suster.
Setelah selesai menghubungi Ibunya, Mathias mencari nomor kontak Ambar yang belum sempat di save, lalu hubungi.
"Hallo, Bu Ambar. Maaf, baru bisa hubungi." Mathias merasa tidak enak, saat Ambar merespon panggilan.
"Hallo, Pak Mathias. Ngga pa'pa, Pak. T'rima kasih sudah telpon. Apa bisa saya telpon nanti? Sekarang keluarga Alm. ada di depan pagar. Mereka sudah dari tadi minta masuk untuk bawa mobilnya." Ambar berkata pelan dengan suara yang panik.
"Bu Ambar, selama pagarnya terkunci, anda tenang saja. Ada berapa orang yang datang?" Mathias coba menenangkan Ambar, karena mendengar sayup-sayup suara ribut dan ketukan pagar.
"Sepertinya, mereka ada berempat dengan seorang polisi, Pak. Saya tidak tahu jumlah pastinya, karena mereka berada di balik pagar." Jawab Ambar, mencoba tenang dengan menarik nafas pelan.
"Apakah surat-surat mobil ada pada anda?" Mathias coba ingat apa yang disampaikan Ambar tadi malam.
"Ada sama saya, Pak. Apa yang disampaikan Pak Mathias waktu itu, saya cari dan temukan surat-surat mobil." Ambar menjelaskan dan jadi tidak enak karena tidak memberitahukan yang ditemukan kepada Mathias.
"Ooh, ok. Apakah anda bisa menyetir mobil?" Tanya Mathias lagi.
"Tidak, Pak." Jawab Ambar singkat, karena dia tidak pernah diizinkan membawa kendaraan sendiri.
"Kalau begitu, apa yang akan anda lakukan dengan mobil itu?" Tanya Mathias lagi. Pikirnya, kalau Ambar tidak bisa menyetir mobil untuk apa punya mobil.
"Belum terpikirkan, Pak. Mungkin biarkan saja untuk anak saya." Ambar jawab pelan dan ragu-ragu dengan pikirannya sendiri. Dia hanya mau pertahankan haknya Juha saja, tanpa berpikir yang lain.
"Begini Bu Ambar. Selagi mobil itu masih ada, mereka akan terus datang untuk mengganggu anda. Mereka akan terus datang, sampai mendapatkan mobil itu." Mathias mengingatkan, sebab sering menangani kasus TQ tentang perebutan warisan.
...~●○♡○●~...