Di dunia ini banyak orang gagal mencintai dirinya sendiri, termasuk Nafla. Sehingga, saat seorang pria hadir dan menawarkan cinta, dengan terlalu antusias Nafla menerimanya. Sayangnya, hubungan yang ia idamkan selama ini hanya bertahan sehari saja karena setelahnya Nafla diteriaki pelakor oleh istri sah sang pacar baru.
"Mas?"
"Saya udah berkali-kali bilang sama kamu, saya udah punya istri. Nggak paham-paham juga kamu, ha?!"
Tatapan jijik yang dilayangkan semua orang, membuat Nafla terus menundukkan kepala. Tragedi itu membuatnya teringat kembali pada sosok ayah yang juga menghianati dan meninggalkannya. Luka yang selamanya tidak akan pernah sembuh itu kembali menganga.
Kepercyaan dirinya seketika hancur. Rasa terbuang, tidak diharapkan, kembali pelan-pelan menikam hatinya. Hingga, saat sebuah mobil menyambar tubuhnya, Nafla merasa biasa saja. Namun, saat ia terjaga ...
"Anda baik-baik saja Nona Bianca?"
Nafla memandang perawat pria di hadapannya dengan ketakutan. Ia berlari ke kamar mandi, lantas berteriak saat melihat wajah barunya di cermin. Wajah adik kandungnya yang selama ini sangat ia benci.
Karya ini dibuat untuk mengikuti kontes Mengubah Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
"Benar-benar mengkhawatirkanku, ya?"
"Hm," gumam Az tanpa membuka mata. Ia masih saja merebahkan kepalanya di atas pangkuan Nafla, meski tahu gadis itu pasti sedang salah tingkah karena tertangkap basah mengusap kepalanya.
Tanpa mereka sadari, papa memperhatikan mereka dari balik kaca pintu. Tatapannya tampak tidak terbaca.
Papa bahkan mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke ruang rawat Nafla dan memilih duduk di kursi tunggu. Menanti kedatangan orang yang tadi ia telepon.
Hampir satu jam kemudian, nenek datang bersama Bianca. Papa yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri menyambut dan mencium punggung tangan nenek.
"Maaf, membuat Ibu khawatir terus," ucap papa tidak enak. Di usia nenek yang tidak lagi muda, ia merasa masih saja merepotkan ibu mertuanya itu.
"Ibu ini masih Ibumu, kan?" Nenek menatap papa tajam. "Nggak ada kata merepotkan di antara keluarga."
Nenek memeluk tubuh papa dengan tangan rentanya. Mau tidak mau adegan singkat itu membuat keduanya menitikkan air mata. "Semenjak menikahi putriku, kamu sudah aku anggap sebagai putraku sendiri, Tirta. Nafla dan Bianca itu cucuku."
Papa mengangguk, lalu menyeka matanya yang berembun saat nenek melepaskan pekukannya. "Terima kasih, Bu," ucapnya sungguh-sungguh.
Orang tua Tirta sudah meninggal dunia sejak ia masih kecil dan dari ibu mertuanya inilah ia mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang membuatnya merasa seumur hidup tidak akan bisa membalasnya.
Lebih dari lima belas tahun, ia menitipkan salah satu putrinya tanpa ragu sedikit pun. Lebih dari lima belas tahun pula, ibu mertuanya itu merawat dan menyayangi putrinya tanpa pernah mengeluh. Sekali lagi, papa merasakan matanya berembun.
Begitu pula dengan nenek. Meski putri kandungnya telah lama meninggal dunia, tetapi ia tidak pernah memutuskan hubungannya dengan Tirta. Baginya, suami mendiang putrinya itu sudah ia anggap anaknya sendiri, apalagi Nafla dan Bianca.
"Bagaimana keadaan Bianca, Tirta?"
Papa tidak langsung menjawab pertanyaan nenek karena sesungguhnya ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Namun, ia juga tidak ingin menyembunyikan keadaan Bianca pada neneknya.
"Tidak bisa dibilang baik, Bu."
Mendengar ucapan papa tersebut membuat nenek tidak kuasa menahan tangisnya. Ia seolah kembali pada kejadian puluhan tahun yang lalu, saat mama Nafla dan Bianca juga dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang sama. Sedangkan, Bianca yang berdiri di samping nenek tampak bergeming.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, nenek dan Bianca masuk ke ruang rawat Nafla. Hal ini tentu saja membuat Nafla kalang kabut dan berusaha membangunkan Az yang tertidur di pangkuannya.
Pemuda itu memang tidak sulit dibangunkan. Ia terbiasa tidur tidak terlalu lelap, tetapi entah kenapa sore ini tidurnya nyenyak sekali.
"Ada Nenek!" pekik Nafla tertahan. Tentu saja ia malu jika adegan ini dilihat oleh nenek. Namun, Az terlambat mengangkat kepalanya karena baik nenek maupun Bianca sudah melihat tingkahnya.
Nenek tampak menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, sedangkan Bianca hanya menatap mereka tanpa ekspresi.
"Maaf, Nek." Az yang baru bangun, langsung berdiri dari duduknya. Mengabaikan rasa sakit diehernya akibat posisi tidur yang salah, tetapi ia bahagia.
"Anggap Nenek nggak lihat," goda nenek, lalu mendekati Nafla dan menggenggam tangannya. Sedangkan, Az hanya tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya. Diam-diam Bianca memperhatikan tingkah Az tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Bia?"
Memang dasarnya Nafla gampang menangis jika di dekat nenek, kini ia sudah sesegukan di dalam pelukan wanita tua itu. Ia merindukan neneknya, sangat.
"Aku kangen sama nenek."
Entah kenapa nenek merasa ada yang berbeda dengan cucunya itu. Ia memang tidak melepaskan pelukannya, tetapi ia menatap lama puncak kepala Nafla yang terperangkap di tubuh Bianca. Pelukan ini ... rasanya familiar sekali.
Papa dan Az memilih beranjak keluar agar ruangan tidak terlalu banyak dihuni orang. Niatnya, Az ingin langsung pamit pulang untuk mandi dan berganti pakaian karena shift selanjutnya akan tiba. Namun, ucapan papa membuatnya menghentikan langkah.
"Saya kira kamu menyukai Nafla." Papa tersenyum hangat sembari melipat kedua tangannya ke belakang, lalu melanjutkan, "Rupanya yang kamu suka Bianca."
Senyum papa terlihat hangat sekali. Hangat dan ... bahagia.
***
Selagi menunggu SUPERBIA update, yuk mampir ke novel temanku. Ceritanya seru dan menyentuh banget, sih, menurutku. Silakan dikepoin.