Raina adalah seorang istri yang sholikha, baik hati, dan selalu patuh terhadap suami.
Tidak hanya itu saja dia adalah sosok wanita yang lemah lembut.
Pernikahan nya dengan Nurman Hadiwinata awalnya berjalan dengan hangat dan penuh kebahagiaan walaupun sudah 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak.
Namun kebahagiaan itu hancur saat ibu mertua Raina yang bernama Miranda datang mengusik kehidupan mereka.
Akankah Raina mampu menghadapi semua dilema kehidupan dengan ikhlas ataukah dia akan berhenti sampai disitu saja
yuk ikuti kisahnya
dan jangan lupa kasih dukungan
like
komentar
favoritkan
vote ya
dukungan kalian sangat berarti buat author
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uma shidqiyya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Nurman sekarang sudah dalam mobil yang sama dengan Febi, Dia kendarai mobilnya membelah jalanan Jakarta yang sangat padat dan tak beberapa lama mereka sampai di kediaman Nurman.
Miranda yang mengetahui kepulangan anaknya menyambutnya dengan hangat.
"Aduh anak mama ini, bilang aja kalau tidak mau diganggu sampai-sampai pindah ke hotel segala" ledek Miranda.
"Gimana Feb, perkasa kan anak mama" lanjut Miranda.
Febi terpaksa mengangguk karena sejujurnya tidak pernah sekalipun dia melakukan itu bersama Nurman.
Fantasi liar Febi pun kembali dan dia membayangkan bagaimana rasanya dengan Nurman. Jujur saja Febi sebenarnya orang yang hiper jadi jauh disudut hatinya dia ingin sekali merasakan keperkasaan Nurman.
Nurman yang digoda sama mamanya hanya diam saja dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Feb, melamun aja. Pasti membayangkan tadi malam ya" ledek Miranda.
"Ih mama, malu ma" kata Febi pura-pura malu-malu yang sebenarnya sedikit kaget karena fantasi liarnya diganggu oleh mertuanya.
"Aku harus melancarkan rencana Hartawan nanti malam, biar aku bisa merasakan keperkasaannya si Nurman" batin Febi.
"Ayo nak, masuk jangan bengong aja. Tuh mama kamu sudah menunggu kamu dari tadi" kata Miranda.
"Ya sudah Febi masuk dulu ya ma" kata Febi dan berlalu pergi.
Miranda pun juga mengekori Febi masuk kedalam rumahnya.
Febi langsung masuk kedalam kamar Nurman karena kamar itu akan menjadi kamarnya juga.
Sedangkan Miranda kini bergabung dengan Ratmi yang sedang asik menonton sinetron kesukaannya.
Saat memasuki kamar dilihatnya Nurman tidak ada diatas kasur ataupun sofa, Febi pun semakin masuk kedalam dan didengarnya gemericik air dikamar mandi.
Ia sudah mengira kalau saat ini Nurman sedang mandi. Dan dengan segera Febi mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam tas nya yang diberikan oleh Hartawan kemarin malam.
Febi segera beranjak ke dapur dan dibuatkannya Nurman kopi. Ini pertama kali Febi membuat minuman dan itu untuk Nurman.
Setelah kopi selesai dimasukkannya bungkusan yang semalam di berikan Hartawan dan dimasukan bubuk itu sedikit kedalam minuman Nurman.
Kini Febi sudah membawakan minuman itu ke kamar dan menyerahkannya kepada Nurman yang saat itu sedang duduk disofa sambil membuka laptopnya.
"Mas ini diminum, mumpung masih panas mas" kata Febi.
Nurman hanya melihat sesaat saja dan kembali melanjutkan aktifitasnya dengan menggunakan laptop sambil berbicara
"Letakkan saja di atas meja" jawab Nurman yg kembali fokus dengan laptopnya.
Tak lama perkerjaan Nurman pun selesai dan dia beranjak pergi tanpa menyentuh minuman yang dibuatkan Febi yang saat ini sedang bersama mertua dan mama nya melihat acara ditelevisi.
Nurman mengganti bajunya dengan baju kerja. Dan dengan segera dia memasukkan berkas dan laptopnya kedalam tas.
Nurman keluar kamar dan saat sampai diruang tengah dia berjumpa dengan mama, mertua dan Febi.
"Mas mau kemana kok rapi amat" tanya Febi.
"Aku harus keluar kota untuk 7 hari karena ada pekerjaan penting dan sekalian bertemu dengan investor" jawab Nurman.
"Man kenapa kamu gak ajak Febi aja sekalian biar sekalian kalian honeymoon gitu" kata Miranda yang sudah ingin sekali mendapatkan cucu.
"Gak bisa ma, soalnya aku nanti disana banyak kerjaan jadi Febinya nanti gak aku hiraukan gimana" kata Nurman mencoba menghindari menuruti kemauan mamanya.
"Tapi kan nanti biar ada yang urus kamu Man" Miranda masih berusaha membujuk anaknya.
"Maaf ma, aku tidak bisa. Mungkin setelah kerjaan aku selesai baru aku bisa mengajak Febi seperti keinginan mama" jawab Nurman terang-terang menolak.
"Ya sudah ma, biarkan mas Nurman fokus sama pekerjaannya. Nanti kalau aku ikut jadi terbengkalai lagi kerjaan mas Nurman ma. Kan lain kali kita bisa honeymoon ma" kata Febi menengahi.
"Ya sudah aku berangkat dulu. Kasihan Nicko sudah menunggu diluar" kata Nurman yang langsung berlalu pergi menuju keberadaan Nicko yang memang sekarang sudah berada dihalaman rumah Nurman sambil mengendarai mobilnya.
"Kita mampir ke hotel dulu ya Nick" Kata Nurman memberi perintah.
Kini Nurman sudah sampai dihotel dan benar saja Raina sudah menunggunya dan dengan segera Raina masuk kedalam mobil milik suaminya itu.
"Lama ya sayang, kamu menunggu" tanya Nurman yang kini sudah merengkuh tubuh Raina dalam dekapannya.
"Enggak kok mas, aku baru aja keluar bertepatan dengan mas sampai" jawab Raina yang membalas memeluk Nurman.
"Bagaimana apa kamu sudah siap tinggal dibandung sayang" tanya Nurman.
"Sudah mas, aku sudah sangat siap. Malahan aku sangat antusias lho" kata Raina yang nyaman berpelukan dengan sang suami tercinta.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan ke Bandung dimana Mansion yang akan menjadi tempat tinggal Raina.
Perjalanan jauh dan sangat melelahkan membuat Raina tertidur dalam dekapan sang suami.
Nurman tidak tega membangunkan istrinya itu dan mau tidak mau dia menggendong istrinya menuju kamar utama dimana akan menjadi kamar mereka berdua.
Bangunan Rumah yang besar dan Sangat Indah. Halaman yang luas juga udara yang sejuk.
Direbahkannya tubuh Raina ditemoat tidur berukurang king size dengan sangat hati-hati karena takut membangunkan sang istri nantinya.
Diselimutinya tubuh Raina dengan selimut tebal agar istrinya itu tidak kedinginan karena udara disana termasuk dingin.
Sebelum beranjak pergi diciumnya kening Raina dalam-dalam dan setelah itu Nurman pergi masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Raina begitu pulas dalam tidurnya tidak seperti biasanya. Dia sampai-sampai tidak terganggu dengan hal apapun.
Nurman yang sudah tampak segar segera dia membangunkan istrinya karena waktu sudah mulai gelap dan adzan maghrib sudah terdengar.
Diciumi wajah sang istri bertubi-tubi sambil berkata "sayang bangun yuk dah maghrib nih, yuk kita berjamaah" ajak Nurman yang begitu lembut
Barulah Raina menggeliatkan tubuhnya dan menata kesadarannya dari tidurnya.
Segera dia beranjak dan memasuki makar mandi dan 15 menit kemudian Raina sudah kelihatan lebih segar.
Raina mengambil mukena dan mulai memakainya dan selanjutnya dia berdiri dibelakang sang suami guna melakukan sholat maghrib.
Mereka melaksanakan sholat dengat khitmat dan selesai salam tak lupa Raina mencium punggung tangan sang suami dan Nurman pun menyematkan kecupan dikening Raina sambil didoakan.
Raina mengemas peralatan sehabis sholat dan meletakkannya ditempatnya.
"Ayo kita makan malam sayang, bibi Ijah sudah menyiapkan makan malam buat kita" ajak Nurman yang melihat istrinya telah selesai meletakkan peralatan sholat pada tempatnya.
Mereka menuruni tangga sambil bergandengan tangan dan terlihat pemandangan yang hangat dan harmonis.
Nurman dan Raina pun kini sudah menempati kursinya masing-masing mengelilingi meja makan.
Raina dengan telaten mengambilkan makanan buat Nurman.
"Sudah cukup sayang jangan banyak-banyak" kata Nurman.
Setelah melayani suaminya dia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka makan malam dengan tenang dan hanya denting sendok yang bertabrakan dengan piring.
semangat terus updatenya kak
gdeg sm mmhnya nurmn .. bner" ichh mrtua kek gtu mit amit .. jgn smpe lh ... ckup d dunia novel aj hee