" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Ffandra ke Kantin
Hari kedua sekolah telah dilalui oleh Aruna, ia masih tetap betah duduk di kursi tanpa mau keluar kelas saat istirahat, paling Ffandra membawakan jajanan dari kantin.
" Tetep betah di dalam, enggak pengin ngikut kita ke kantin Run?"
" Enggak lah Ffand, lagi belum ingin keluar saat istirahat."
" Ya sudah nanti ku bawakan empek empek ya," Runa mengangguk, teman teman semua menyadari dengan perhatian Ffandra pada Aruna, bahkan Bagas telah mundur ngejar ngejar Runa sejak klas 10 tak berhasil, mending menerima cewek yang telah meyayanginya dari pada Runa yang belum tertarik dengan cowok, kaya Sisi, Rinda dan cewek cewek di sekolah ini.
" Run, habis empek empeknya, aku belikan juz jambu."
" Terimakasih Ffand, ini aku bawa cemilan kok," Ffandra duduk di kursi sebelah memperhatikan Runa minum jus.
" Dihabisin Run."
" Aku sudah kenyang, biar nanti kalau bau di buang," Runa hanya minum separoh saja tak ada.
" Ya sudah ku habiskan jusnya," Ffandra memegang gelas paper, Runa diam cuman tangannya sigap ambil sedotan.
" Kenapa diambil, aku minumnya gimana Run?"
" Tanpa sedotan saja Ffand," Dani sudah dua hari ini termenung, sesekali matanya mengawasi Ffandra dan Runa.
" Mungkinkah keduanya ada hubungan kerabat, hatiku mengatakan " ya", kalau Oom Ferdi, ya Oom Ferdi bukan tante Mia, karena Oom Ferdi lebih mirip ke Runa."
" Dan, kamu kuamati sejak kemaren mengawasi Ffandra sama Runa, karena mirip ya, orang yang tak kenal tentu dikira kakak adik."
" Kamu tahu yang aku pikirkan kok Nda."
" Iya lah abis kamu terkenal ditektif sekolah, yang selalu sukses membongkar ketidak beresan di sekolah," lirih Rinda ngomongnya.
" Nda, yang tak habis pikir saat kita melayat orang tua Runa, keluarganya Ffandra didekat Runa," Dani cukup bicara hanya segitu.
" Dan, aku sempat dengar Oom Ferdi cerita ke tante Mia," dan Rinda menceritakannya bahkan ceritanya disampaikan ke Runa.
" Tanggapan Runa gimana Nda?"
" Bapak kaya ngerasa mau ninggalin Runa,"
" Oh gitu, ya sudah, terimakasih Nda," Dani menuju tempat duduknya karena guru sejarah habis istirahat kedua masuk kelas, cuman otaknya tertuju pada cerita Rinda tentang pesan Pak Jono.
" Ada apa dibalik pesan Pak Jono pada Oom Ferdi, ini aku harus mulai nyelidiki, aah bukan berarti aku ngurusin orang lain, tetapi siapa tahu yang kulakukan ini dibutuhkan terutama oleh Oom Ferdi, aaah jangan jangan Aruna itu kakak kandung Ffandra, iih ya bukanlah beda lahirnya saja cuman hitungan bulan."
Pelajaran sejarah dimulai, Dani tak ingin bernasib kaya Runa yang diusir guru matematika, membuang semua lamunannya, ia konsen mengikuti pelajaran.
Bel pulang berbunyi, setelah mengakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ffandra, sambil antri berjabat tangan dengan guru sejarah ia mepet ke Ffandra.
" Ffand, aku pengin ngomong ke kamu, dianggap penting boleh, dianggap tidak ya abaikan yang penting jangan dimasukkin ke hati, abaikan saja ya," Ffandra melebarkan mata.
" Ok siap Dan untukmu."
" Hanya ingin tahu tentang keberhasilan bisnis Papamu, kiat kiat apa saja yang membuat sukses karena tidak semua orang bisa sukses dalam usaha."
" Kalau nanya tentang kiat kiat kesuksesan bukan ke aku donk Dan, itu Papa lah jurusannya, cuman yang kutahu keluarga papa pembisnis ulung, bahkan salah satu pengusaha terkenal di negara ini."
" Hmmm Ffand, aku tertarik tuh mendengar atau bahkan seneng baca berita berita para konglomerat."
" Ya nanti setelah kita keluar pintu klas," giliran salim pada guru.
" Ffand, tuh kakakmu di hibur biar cepet move on," Ffandra sempat terjengit dengan kata kata guru sejarah saat bersalaman, ya semua pada menganggap kalau Ffandra sama Aruna bersaudara selain mirip di dukung lagi waktu melayat keluarga Oom Ferdi berada di dekat Aruna, sehingga semua pelayat menganggap saudara, bahkan anak anak kost percaya juga ada hubungan saudara.
" Iiiya Pak, terima kasih," Dani dan Ffandra yang berjabat tangan terakhir dengan pak Daniel, terus keluar, tetapi memberi jalan pada pak guru untuk mendahuluinya.
" Ffand, tadi yang membuat aku tertarik tentang para konglomerat tolong ceritain."
" Oklah aku mulai," Ffandra cerita simple saja tentang Papanya.
" Oh jadi papamu cucu Wisesa, konglomerat terkenal juga masuk kederetan 10 besar orang kaya di negara ini."
" Cuman ya itu papaku sudah di coret dari keluarga Wisesa karena tak mau dijodohkan dengan tante Jelita atau tante Alissa ya, aku bingung abis papa pernah mengguman tentang tante Alissa saat ketemu pertama dengan Aruna," Dani pegang kening sambil dipijit pijit.
" Ngapa kamu pusing apa, atau lagi mikir?" pertanyaan Dani yang selalu muncul diotaknya sedikit mulai kejawab.
" Lagi mikir, soalnya aku pernah main ke rumah tante Alissa."
" Haaah dimana itu rumahnya."
" Di Solo, aku liburan pekan besok ingin main kesana kamu ikut ya."
" Lho, kamu lagi ada hubungan dengan wanita seusia ibumu?"
" Hahaha, kamu penasaran makanya besok ngikut aku ya, Runa, Sisi juga Rinda diajak sekalian sambil ke rumah di Solo."
" Naik krl saja ya, asyik kok, nanti ke sananya pakai mobil Papaku yang di gerai, soalnya Papa kemaren ke Solo pulangnya juga naik krl, sehingga mobil ditinggal disana."
" Ok ok siaplah," mereka berdua bertoz ria.
" Dan, kamu bawa mobil apa motor."
" Motor, dah ya aku nuju ke parkir motor, Ffand kamu seneng ya di kelilingi cewek tiga, aku boro boro lagi pdkt, ditonyor orang."
" Ceweknya sudah ada yang neken kali."
" Katanya sih enggak masih kosongan, cuman si cowoknya saja yang ngaku ngaku gebetannya."
" Beranti cowok itu hampir sama denganku kali ya Ffand," keduanya tertawa ngakak.
" Owlh, ditunggu malahan ngobrol terus sih," Runa matanya membelalak.
" Dan, udah ya, tuh biniku mulai manyun bibirnya, ini aku berjam jam belum jadi sasaran kdrtnya kok."
" Apa Ffand kamu ngomong aku binimu, enak saja ya, mikir sekolah dulu, otak mesuum," Runa menonyor dadaa Ffandra.
" Kan nih sudah mulai nonyor nonyor bini gua," tangan Ffandra nangkep telapak mungil Runa, ia genggam erat.
" Ffand, sehari kamu enggak ditonyor Runa, enggak bisa ngelus elus jemarinya donk," ucap Sisi, dan lainnya mengiyakan dengan tertawa terkekeh, sementara Dani sudah menuju ke parkiran motor matic, ia sekarang lagi suka pinjam motor matic kakak perempuannya, karena kakak lagi seneng pakai mobil.
Ffandra yang selalu dikelilingi cewek tiga masuk ke mobil, sambil nyanyi,
Senangnya dalam hati
Kalau beristri tiga
" Apaan sih, anak kok ngomongnya kawiin melulu sih," Runa, Sisi juga Rinda nabok bareng ke pundaknya.
" Yaelaaa pada galak semua, abis teorinya kan sudah mateng diajarin bu Farida."
" Dasaaar otak mesuum melulu," ceplos Runa,
" Kan kamu jadi enggak suntuk terus Run."
" Dasaar!" Runa nyucit lengan tangan Ffandra yang banyak dagingnya,
" Ffand, aku turun dekat jalan rumahku."
" Ngapain Si, enggak nemenin lagi sama Runa, jangan lupa besok Sabtu pagi nsik krl ke Solo."
" Ngapain Ffand?" Ffandra yang menjalankan mobil standar saja, dan hampir sampai ke jalan dekat rumahnya Sisi.
" Diajak Dani mau ke rumah tantenya," kepaksa bohong lah,
" Terus nginep di rumahku saja ya."
" Iya, memangnya rencana Dani gitu Run," Runa dalam hati pengin ngajak Nenek sama bu lik sama Firlia juga adiknya, biar yang ngurus ternak suami bu lik atau dititipkan ke Sena anak kost yang sering bantu Bapak bahkan sampai sekarang masih bantuin ngurus ternak peningggalan Bapak, dan oleh bapak disuruh tidak bayar kamarnya, dia sih di kasih kamar tak terlalu luas di dekat dapur dekat gudang.
" Ffand, turun depan, nanti kebablasan."
" Iya disini kan Si, maaf enggak bisa nganter sampai rumah Si," Sisi nyubit pundat Ffandra.
" Waah, payah nih pada ketularan Runa," Runa sudah mulai ceria hari ini apalagi Ffandra bisa membuat Runa cemberut, manyun, tersenyum sampai tertawa kepingkel pingkel.
" Si, makasih banget ya selalu ditemanin, sampaikan juga terimasihku pada ibu bapakmu, aku tak bisa ngasih apa apa ya."
" Run, iya sama sama."
" Oh ya Si, besok standby disana ya."
" Ok Ffand, tangkiu Ffand."
" Jangan lupa hari sabtu, kalau bapak ibu mau ngikut, mulai daftar untuk beli teket ka."
" Ok Run, siiaap," Ffandra menjalankan mobil dan Sisi masih berdiri sampai mobil tak terlihat baru ia jalan lewat lorong setapak menuju rumahnya.
" Ffand, kamu enggak perlu masuk ke jalan rumahku ya."
" Kenapa sih, kamu ngumpetin si Davka."
" Kamu kalau ngomong eeemmm," tangan Runa sudah menabok bahu Ffandra kesel, gemes.
" Davka itu sapa sih sebenernya?" Rinda bengong terus kalau Ffandra ngomong Davka Davka.
" Oh kamu belum tahu ya Nda, ya itu yang di Solo."
" Nda, jangan dengerin omongan si Ffandra yang tukang berhalu."
" Makanya nurut ya sama aku, kalau aku pengin nyium kamu jangan nolak."
" Ffand, kamu ya...." nabok keras sekarang, abis sudah nek banget Aruna daadaanya.
" Run, dari pada Ffandra setiap hari bawel, saranku diiyakan saja."
" Nda, kamu ngajarin enggak bener, Ffandra kalau diiyakan maunya setiap kali ketemu maunya nyosor terus lho,"Runa bener bener belum bisa mikirin masalah cinta mencinta, ia belum mau terbelenggu dengan urusan kek gitunan kaya Rinda, Sisi dan lainnya, seneng rasanya menikmati kebersamaan dengan teman teman, dia bayangin kalau sudah mikir cinta tentu pasangannya selalu membatasi gerakannya, ahhh jadinya tidak bisa ber hahahihi dengan teman teman donk.
" Ha ha ha!" Rinda tertawa membayangkan sikap Ffandra yang selalu tak pantang menyerah pada Runa.
" Run, aku ngekost saja di rumahmu ya, kayanya ada kamar kosong yang sebelah barat."
" Lucu kamu lho Ffand."
" Aku sudah bilang sama orang tua, mereka mendukungku, kamu tahu Tasya sama orang tuanya sore ini mau datang, aku males pulang," mata Ffandra redup, bahkan setelah nyampai ia nekad minta kunci kamar yang kosong mau ia tempati, membuat Runa iba juga.
" Run, kasihan Ffandra dibolehin saja, bukankah dia sering nginep di gerai saat Tasya ada," ucap Rinda, itulah akhirnya Runa ngasih kunci kamar yang kosong pada Ffandra.
" Ffand, ada dua kamar yang kosong, mau milih kamar mana."
" Ayuk temani lihat kamarnya Run," Runa ngajak Rinda untuk nemani Ffandra lihat kamarnya.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.