Tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan yang memasygulkan.
Tapi, siapa yang bisa menyalahkan takdir.
Semuanya sudah di atur oleh sang Pencipta.
Walaupun, separuhnya kadang menggodot hati.
Begitu pun dengan Afrina, menjalani semua masalah yang datang tanpa menjamin kebahagian yang mehadang.
Namun, tidak semuanya memilukan.
Dia pantas bahagia, dengan seorang lelaki idaman banyak orang.
#Novel ini ditulis tidak untuk memburukkan atau menyudutkan seseorang di kalangan tertentu, semua yang sudah saya tulis tidak lain hanyalah untuk menghibur dan memberi pengetahuan semata. Dan cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, atau alur cerita, semua hanya kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.
Note : Update setiap hari, kecuali Senin dan Jum'at (Jadwal seakan-akan bisa berubah)
Ig : @Rahmaniahhh___
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmaniah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPSIODE 29
Angin yang berhembus sejuk masuk melalui pintu rumah Afrina yang terbuka.
Hari ini, Afrina duduk di teras rumahnya, bersama dua buah koper berwarna biru muda.
Sepasang mata Afrina yang cantik memintas air mata, yang membasahi seluruh pipinya.
"Aku akan membuka lembaran baru lagi," sela Afrina di tengah tangisan nya. Hingga, tidak berapa lama,
Tot, tot, tot.
Terdengar suara mobil yang singgah di halaman rumahnya.
"Hei! Kenapa kamu menangis? Apa aku terlalu lama? " Terdengar suara seorang lelaki tampan yaitu Presdir Tuan Muda Alex Adidaya, yang sedang berdiri di depan mobilnya.
"Kau ... kau sudah datang? Eee ... aku tidak apa-apa.
Apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Afrina kepada Presdir Tuan Muda Alex Adidaya.
"Ayahmu mana?"
"Ayah sudah pergi ke Kantor bersama pak Andi, pagi tadi."
"Kemarilah kita akan berangkat sekarang," tuturnya.
Afrina pun langsung masuk ke dalam mobil, dan duduk disamping Presdir Muda Alex Adidaya, kedua kopernya di bawa oleh Doni, Asisten Alex.
Tidak berapa lama, mobil yang membawa mereka pun berjalan dengan kelajuan yang cepat.
"Bodoh sekali, dia bahkan tidak mengajakku ngobrol sampai saat ini, benar-benar manusia aneh," geram Afrina di dalam Hatinya, sambil menatap Alex dengan kesal.
Mereka sudah menempuh waktu cukup lama di dalam mobil, tapi tidak ada satu suara yang keluar dari bibir mereka semua, rasanya semua bibir tertutup dengan hembusnya angin yang masuk lewat kaca mobil yang sedikit terbuka.
"Kenapa kau mentapku dengan kesal, apa kau lapar?" ucap Alex kepada Afrina Tanpa menoleh, dan pandangannya tetap saja lurus ke depan. Afrina tidak menjawabnya, karena dia benar-benar kesal, "Kenapa aku harus menemui manusia se aneh ini," batinnya.
Tiba-tiba mobilnya berhenti di sebuah Restoran besar yang masih berada di Belgia.
Alex langsung turun tanpa bicara, dan dia langsung memasuki Restoran itu, dan duduk di meja No. 162
"Heiii, kenapa kau masih di dalam mobil??"terik Alex yang mengejutkan Afrina, yang dari tadi hanya memasang wajah kesal.
Dengan Wajah Kesal Afrina masuk ke Restoran itu, dan duduk di depan Alex tanpa bicara apa pun.
Alex yang melihatnya hanya tertawa sambil memandang wajah Afrina yang sangat cantik apalagi saat Kesal.
Tidak berapa lama, Pelayan datang membawa buku menu, yang di dalamnya banyak terdapat menu makanan khas Belgia khususnya khas Eropa.
Alex pun meminta pelayan itu bertanya kepada Afrina saja, dan dia berkata bahwa dia mesan apa yang dipesan Afrina.
"Huhhh menyebalkann," gumam Afrina sambil memilih menu makanan yang tertera di dalam buku itu.
Setelah beberapa menit memilih menu makanan,
"Saya mau pesan Carbonaden, Pate, Crevette Grise, boudin Blanc, dan Stoemp, serta minumannya chocolate belgian," ucap Afrina.
"Baik mba, apa ada lagi?
"No! Itu saja."
"Tambah satu French fries," ucap Alex.
Aww!!
Afrina menginjak Kakinya,
"Hei Tuan, ini Belgia bukan Perancis.
Setidaknya apabila kamu ingin memesan kentang goreng, jangan coba-coba mengatakan French fries. Karena pelayan dan pemilik restoran akan tersinggung. Kamu cukup menyebutkan fries atau frites saja," bisik Afrina kepada Alex, sambil pelahan melepas kaki Alex yang diinjaknya. Sedangkan Alex hanya terdiam sambil menahan kakinya yang sakit .
"Maaf mbak. Maksud teman saya, pesan satu lagi yaitu frites," ucap Afrina.
Setelah mencatat apa yang di pesan, pelayan itu langsung meninggalkan mereka.
"Lihatlah; Pelayan itu biasa saja, hanya kamu yang terlalu ribet," ucap Alex kepada Afrina.
"Setidaknya aku menghargai perasaan mereka, daripada kamu yang terlalu egois dengan perasaanmu sendiri," sahut Afrina.
Tidak beberapa lama datanglah pesanan mereka dengan sempurna tanpa ada yang tertinggal.
Mereka langsung memakannya dengan lahap, karena makanan di Restoran itu benar-benar lezatt.
#Hello guys!! Makasih ya udah baca novel aku sampai Up ke 29, Tetap baca nya sampai tamat nanti.
Oh iya, Tolong bantu aku ya biar semangat upnya, dengan cara Like 😘dan koment😍 dan yg belum rate serta jadikan favorite buruan yaa🤗 biar tau kapan aku Upnya lagi😉