Silvira, wanita berparas cantik yang ditinggal meninggal suaminya, ia memiliki putra kembar yang pintar namun selalu merindukan kasih sayang ayahnya.
Silvira tak sengaja bertemu mantan kekasihnya waktu kuliah dulu. Namun sang mantan sudah berkeluarga, dia sebenarnya sangat menginginkan mantan kekasihnya itu kembali, namun keinginan itu ditepis jauh-jauh setelah mengenal istrinya, dan dia mendapat hidayah untuk belajar agama lebih baik menjadi wanita sholiha agar mendapat pasangan yang sholih pula.
Siapakah lelaki yang memikat hatinya? Bahagiakah kehidupannya selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Azam dan Silvira, juga Indra dan Adistia duduk di ruang tamu kembali, mereka melakukan penandatanganan perjanjian klinik dengan Aditya yang kapan hari dibicarakan.
"Alhamdulillah sudah beres, sekarang kamu bisa fokus untuk keluargamu dan dua cabang lainnya," ucap Adistia setelah Silvira menandatangani perjanjian itu.
"Iya Mba, alhamdulillah," ucap Silvira.
"Kalau gitu kami pamit dulu ya, Mas Azam cepat pulih kembali, nanti ajak kami main ke agro wisatanya," ucap Indra.
"Aamiin, iya Mas in syaa Allah kita ke sana sama-sama," ucap Azam.
🚗🚗🚗🚗
Hari itu waktunya Azam kontrol, Silvira mengantarnya ke rumah sakit. Alhamdulillah perban penutup kepala Azam sudah dibuka, karena jahitan kepalanya sudah kering dan tidak ada infeksi. Rambut kepala Azam yang semula digunduli karena operasi kepalanya juga sudah mulai tumbuh.
"Hmm.. maa syaa Allah gantengnya suamiku," ucap Silvira sambil memakaikan sabuk pengaman di mobilnya. Setelah itu Silvira duduk di bangku pengemudi.
"Jazaakillahu khayran sayang," ucap Azam sambil memakai peci talibannya.
"Waiyyaka, Mas kita ke klinik sebentar yuk, aku mau ambil sabun muka, sama ngecek kantor sedikit lah, udah hampir sebulan aku gak ngecek,"
"Iya, ok baby," sahut Azam menyetujui.
"Thank u honey," ucap Silvira.
Sesampainya di klinik..
"Assalamualaikum, Mayang, Vanya.." sapa Silvira.
"Waalaikumusalam," jawab kedua resepsionis itu, mereka segera menghampiri Silvira dan menyalaminya.
"Pak Azam sudah sehat?" tanya Mayang.
"Alhamdulillah, tuh, tadi kami baru kontrol," jawab Silvira sambil menunjuk ke arah Azam yang duduk di lobi depan.
"Diandra mana?" tanya Silvira.
"Bu Diandra gak masuk Bu, sudah tiga hari ini, hari pertama kami telepon katanya tidak enak badan," sahut Vanya.
"Oh begitu, itu uang klinik selama saya gak ke sini ada di kamu?" tanya Silvira kepada Vanya yang merangkap kasir.
"Itu Bu, Bu Diandra meminta menyetorkan ke beliau selama Ibu tidak masuk," jawab Vanya.
"Hmm, saya tidak pernah memerintahkan seperti itu, tapi gak papa nanti saya tanyai, Mayang juga tahu waktu Diandra minta uangnya?"
"Iya Bu, waktu itu saya juga ada di sini kok," jawab Mayang.
"Oke baiklah, coba saya telepon dia dulu,"ucap Silvira, kemudian dia mencoba menelpon Diandra namun tidak tersambung.
" Tidak tersambung, berapa total yang dia bawa?" tanya Silvira.
"Ini Bu, tertulis di buku totalnya 200juta sekian, ini ada tanda tangan bu Diandra setiap setorannya," jawab Vanya sambil memperlihatkan buku catatannya. Silvira melihat-lihat buku itu, dan benar ada tanda tangan Diandra setiap setoran.
"Baiklah bukunya saya bawa ya, untuk setoran tiga hari ini Mayang setorkan ke bank ya, rekeningnya seperti biasa.
"Baik Bu," ucap Mayang.
Silvira kemudian ke lantai atas bagian pengadaan dan gudang.
"Assalamualaikum, bu Dewi," sapa Silvira.
"Waalaikumusalam," jawab Dewi yang bertanggung jawab di gudang dan pengadaan barang.
"Suaminya sudah sehat Bu?" tanya Dewi.
"Alhamdulillah, itu ada di bawah, tadi pulang kontrol," sahut Silvi.
"Eh iya Bu, selama saya gak ada, ada masalah gak dengan pengadaan?" tanya Silvi.
"Gak ada sih Bu, cuma itu kemarin saya nerima tagihan dari cv. mitra terkait orderan krim, saya merasa aneh, biasanya kita selalu bayar duluan kan Bu, lha ini kok ada tagihan, berarti kita punya hutang ke mereka," kata Dewi.
Lutut Silvira lemas seketika, ada apa sebenarnya ini...
"Berapa tagihannya Bu?" tanya Silvira.
"Ini fakturnya bu," ucap Dewi sambil menyerahkan faktur tagihan itu. Di situ bertuliskan 55juta.
"Ya sudah Bu, saya bawa faktur ini," ucap Silvira.
Silvira kemudian turun ke bawah lagi, dia membawa Azam masuk ke ruangannya, dan menceritakan semuanya.
"Tapi aku masih berpikir positif Mas, mungkin dia sibuk hingga belum menyetorkan uang kasir ke bank, dan dia juga belum membayar tagihan cv.mitra," ucap Silvira.
"Kamu tahu rumahnya?" tanya Azam.
"Aslinya luar kota, di sini dia ngekos, kita coba cari ke sana yuk Mas," ajak Silvira.
"Iya sayang, Mas temani kamu kemanapun, maafin Mas, gara-gara sibuk ngurus Mas, kamu gak fokus sama klinikmu, hingga terjadi seperti ini," ucap Azam.
"Ssst, bukan seperti itu, bukankah kejadian ini sudah ditakdirkan Allah? Jadi kita jalani saja Mas, kalau masih rezeki uang itu pasti kembali, tapi yang membuat aku sedih bukan uangnya, namun kepercayaan ku padanya," ucap Silvira.
Azam memeluknya erat..
"Tetap berpikir positif, kita cari dia dulu sayang," ucap Azam.
Silvira ditemani Azam menuju tempat kost Diandra. Hasilnya nihil, menurut ibu kosnya Diandra sudah pergi dari kos nya dari kemarin dengan memboyong semua barangnya memakai mobil mobilio baru.
Silvira kemudian ke tempat kerja pacarnya, namun pacarnya bilang sudah sepekan ini mereka putus dan tidak tahu Diandra dimana.
"Sayang, kita jemput anak-anak sekarang, kita ke kampung halaman Diandra di kota apel," ucap Silvira, Azam mengiyakan, sebenarnya dia kasihan dengan Silveira, apa daya kakinya belum kuat untuk menginjak gas, kopling dan rem.
Mereka sampai di rumah orang tua Azam malam hari. Azam menceritakan semua kejadian itu kepada ayah, ibu dan kakaknya. Mereka memutuskan mencari lagi esok hari.
🍏🍏🍏🍏🍏
Keesokan harinya si kembar ditinggal di rumah orang tua Azam. Silvira dan Azam hendak mencari alamat orang tua Diandra.
"Aku antar kalian ya," ucap Amir kakak Azam.
"Iya Mas, terima kasih," ucap Azam.
Mereka bertiga berhasil menemukan rumah orangtua Diandra. Namun Diandra tidak ada, dia pergi ke rumah temannya, namun orangtuanya tidak tahu alamatnya dimana, Diandra juga masih tidak bisa dihubungi.
Silvira nyaris putus asa, namun Azam dan Amir menyemangatinya.
"Kita ke tempat mas Faraz saja, dia pengacara handal, kita coba minta nasihat dia bagaimana baiknya," ucap Amir.
"Iya baik Mas, aku sudah buntu," sahut Silvira.
Mereka kemudian menuju tempat Faraz sepupu Azam dan Amir yang seorang pengacara. Mereka menceritakan kejadian itu dan menyerahkan bukti-bukti penggelapan dana oleh Diandra.
"Sebenarnya aku masih berharap kita semua salah mengira," ucap Silvira.
"Iya sayang, aku ngerti, tapi karena dia sama sekali tidak bisa dihubungi, kita jadi perlu waspada," ucap Azam.
Tak lama kemudian ada telepon masuk dari kepala cabang klinik kecantikannya di kota apel.
"Halo Assalamualaikum," sapa Silvira.
"Waalaikumusalam Bu Silvi, maaf mengganggu ada yang mau saya tanyakan,"
"Iya Mba Nida, ada apa?" tanya Silvira.
"Apa benar Ibu mengirim utusan untuk mengambil uang klinik? Ini ada Mba Diandra, bawa surat kuasa ada tanda tangan Ibu Silvi juga, tapi saya merasa aneh, karena saya dilarang menanyakan langsung ke Ibu dengan alasan suami ibu lagi sakit, jadi saya telpon Ibu diam-diam di kamar mandi untuk menanyakan kebenarannya," ucap Nida dengan sedikit berbisik.
"Oh begitu, ini saya sedang di kota apel, saya akan segera ke sana, kamu bilang saja uangnya masih disiapkan, jadi tahan dia sampai saya datang, terima kasih Mba Nida," ucap Silvira, kemudian menutup telponnya.
"Mas, Allah masih sayang kita, Diandra ada di klinik cabang sini, yuk kita ke sana,"
wa fiiki baarokalloh ukhti Shakeena..