NovelToon NovelToon
My Bastard Husband

My Bastard Husband

Status: tamat
Genre:Patahhati / Balas Dendam / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Erna Surliandari

Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.

Happy reading!

Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.

Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.

Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lepas kontrolnya Rani

"Mas, gimana?" tanya Naya, yang sedang berbenah rumah. Ia memindahkan semua isi rumah itu sesuai dengan seleraya, karena menganggap tatanan rumah itu begitu jadul.

"Bagaimana apanya?".

"Lah tadi nelpon siapa? Mba Isti 'kan?"

"Iya, ngasih tahu kalau kamu udah pindahan ke rumah ini."

"Dia marah ngga?" tanya Naya yang membayangkan reaksi Isti.

"You knowlah, bagaimana responnya. Kadang Mas heran, dia seperti wanita yang sudah mati rasa. Dia lebih sering berbicara tanpa ekspresi sekarang, tak tahu kenapa." jawab Fikri.

Naya hanya mengangguk, lalu mereka dengan bahagianya kembali menata rumah itu dengan selera Naya.

Kreeeek! Suara pintu terbuka.

Fikri dan Naya kompak menoleh dan menatap siapa yang datang, dan rupanya Rani. Rani masuk tanpa salam, dengan wajah penuh kebencian. Terutama ketika melihat tatanan rumahnya yang berubah total.

"Kau apakan rumah ibuku?" lirik Rani pada Naya.

"A-aku hanya merubah dekorasinya, agar tak membosankan." jawab Naya.

"Membosankan? Baru sekali kau datang dan melihat isi rumah ini, dan kau sudah bosan? Apakah nanti kau juga bosan dengan kakakku, ketika Ia sudah tua dan sudah tak bisa lagi memanjakanmu?"

"Rani...." tegur Fikri, dengan nada lembut.

"Kenapa? Mas ngga setuju dengan kata-kata Rani? Atau, Mas udah kepedean, kalau tua nanti bakal ada Mba Isti yang masih setia merawat Mas? Ngga akan Rani biarin Mba Isti menderita lagi seperti itu, Mas. Udah cukup penderitaan Mba Isti selama ini."

"Rani, kamu maunya apa? Mas harus gimana dengan semua ini?"

"Ya, ngga gimana-gimana. Kalau memang watak Mas udah gitu, ya gitu  aja. Ngga akan bisa ngerubah keadaan." jawab Rani.

Naya hanya bisa terdiam dan bingung. Rani bahkan lebih tua darinya, ketika Ia ingin menasehati. Terlebih lagi, statusnya yang sudah begitu terhina dimata Rani. Ia tak akan pernah Rani dengarkan, meski begitu serius Ia bicara.

Rani memasuki kamarnya, Ia mengambil barangnya yang tersisa disana. Tapi, perasaannya menjadi begitu marah, emosinya begitu memuncah hingga tak dapat terkontrol lagi.

"Aaaaagggghhhhh!" Rani lepas kontrol, lalu berteriak dan menyerak semua benda yang ada diatas meja.

"Mas... Rani kenapa?" tanya Naya yang khawatir.

Fikri dan Naya pun kompak berlari dan menghampiri Rani. Kamarnya sudah betantakan, dan Rani duduk dengan raut wajah yang begitu frustasi.

"Ran, Rani... Kamu kenapa, sayang?" tanya Fikri, yang perlahan mendekati.

"Aku ngga akan pernah perduli lagi dengan sebuah kehormatan yang seperti ini. Rasa hormat itu sudah benar-benar hilang buat Mas. Orang yang membenarkan sebuah pengkhianatan dan perselingkuhan atas nama sebuah perlindungan!" amuk Rani pada Fikri.

"Lalu mau kamu apa? Mba Isti pun sudah ikhlas dengan semua ini, kenapa justru kamu yang begini?"

"Mba Isti ngga pernah mengikhlaskan. Dia diam karena Mba Isti hanya ingin menjaga Ibu dan Zalfa. Pada kenyataannya, hati itu begitu hancur berkeping-keping, lebih hancur dari hati Rani sekarang. Mas ngga tahu, dan ngga akan pernah tahu tentang itu. Karena Mas sudah dibutakan sama DIA!" tunjuk Rani pada Naya, yang hanya bisa diam tertunduk dan menangis karena terus menjadi bahan perdebatan.

"Apa Mas harus memohon, apa Mas harus berlutut sama kamu, agar kamu merasa lebih baik, Ran?"

"Rani sudah sering membaca kisah cinta yang indah, Rani pun begitu mengekspetasikan cinta Mas dan mba Is yang begitu indah selama ini. Kesabaran, kegigihan, kesetiaan, pengorbanan Mba Isti untuk menunggu dan terus mendukung Mas hingga sampai di titik ini. Tapi, semuanya seolah sia-sia. Bahkan kini justru Rani yang trauma, Mas! Rani bahkan tak pernah ingin jatuh cinta.....!" ucap Rani, yang tampak begitu depresi dengan kelakuan sang Kakak.

Perlahan Fikri mendekatinya, mengusap bahunya yang terasa begitu tegang.

" Mas sudah berusaha menolak semua keinginan ini, Ran. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi." ucap Fikri padanya.

"Mas tahu, Rani begitu terluka. Rani sampai tak tidur, tak bisa fokus dengan belajar. Padahal baru bertemu Dua tahun, tapi dengan mudah bisa menghancurkan yang berusia puluhan tahun." nada bicara Rani mulai sedikit tenang dan tak terdengar emosi lagi.

Ia mulai tampak menormalkan kontur wajahnya, mengusap air mata dan menarik nafas panjang untuk menormalkan kembali nafas dan detak jantung yang sempat nerdetak dengan begitu cepat.

Fikri yang melihat keanehan dari Rani, berusaha menenangkannya. Ia mendekatkan dirinya, dan berusaha memeluk Rani dengan erat. Tapi, Rani menangkisnya dengan kuat.

"Ngga perlu..." ucap Rani. "Pelukan dari Mas sudah tak akan Rani perlukan lagi. Hambar rasanya, bahkan hanya untuk melihat Mas yang selama ini begitu Rani agungkan." imbuhnya, lalu meraih tas sandangnya dan kembali pergi dengan beberapa buku yang telah Ia pilih. Ia melenggang pergi tanpa mengucap salam, atau bahkan menoleh ke arah Fikri dan Naya.

"Kenapa sampai seperti ini, Mas?" tanya Naya yang tampak begitu sedih.

"Tak apa, tak udah di hiraukan. Dia hanya sedang labil saja saat ini. Wajar, karena mungkin apa yang Ia harapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dia memang terlalu dimanja oleh Isti selama ini." jawab Fikri, dengan begitu enteng.

Bahkan, Fikri mengatakan jika Naya lebih dewasa dibandingkan Rani, meski Naya lebih muda dari segi usia.

Fikri meminta Naya tak begitu menghiraukannya, Ia meminta Naya tetap fokus pada rumah dan pekerjaan yang tengah Ia tekuni itu. Ia ingin, mereka hidup dengan damai disana.

Fikri kemudian mengganti pakaian dan berangkat ke pabrik, karena lagi-lagi Ia harus lembur hingga malam. Dan sesuai perjanjian, Fikri akan tidur di rumah Isti malam ini. Berharap dengan kecemburuan yang Ia berikan kemarin, bisa membuat hati Isti sedikit luluh, dan sadar jika Fikri masih benar-benar mencintainya.

Peluk cium diberikan Naya padanya. Ia kemudian melangkah pergi menghampiri mobilnya yanh terparkur di halaman, dan mengendarainya dengan kencang.

Naya sendiri saat ini. Mengobrak abrik rumah kuluarga itu sesuka hatinya, seolah Fikri telah benar-benar memberikan untuknya. Ia pun melihat sebuah foto lama yang tersimpan di lemari, yaitu foto pernikahan Fikri dan Isti Sebelas tahun lalu.

Isti yang begitu cantik dengam balutan gaun putih yang mewah pada masanya, serta senyumnya yang tampak begitu bahagia dengan polesan make up yang lumayan tebal. Tampak begitu mempesona bagi Naya yang sering melihat Isti polos tanpa make up sama sekali.

"Kamu cantik, Mba. Pantas Mas Fikri begitu sulit melepasmu untukku. Aku pun ingin memiliki foto seperti ini, dengan senyum semua orang di dalamnya. Apakah bisa?" tanya Naya pada benda mati itu.

Naya sedang meluapkan perasaan yang telah lama Ia tahan sendiri. Perasaan egois yang sebenarnya ada, tapi masih ditutupinya dengan kedok kata sabar. Apalgi, Ia memang melihat Isti yang begitu sempurna, jauh jika dibandingkan dengannya.

Gaes, minta dukungannya terus ya🙏🙏🙏 seoalnya sepi banget ini karya. Demi kalian yang setia lah, aku terus lanjut sampai sekarang.

1
NaNa
Luar biasa
kinan kinan
Seru dan ceritanya bagus...
wo ai ni
lah gajelas bgt, takdir situkang selingkuh sama pelakor kok enk bgt hidupnya, kyk ga ada rasa sesal bersalah
Soraya
mksh y thor karyanya
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak👍
Ririn Nursisminingsih
suka karakter isti
Assyifa Ramadhani
untung isti masi liat ank ma ibu,
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya
Aas Azah
baru mampir thoor tapi udah bikin nyesek😭😭😭
Alexa Juliana
Semoga bayinya kembar biar rumah tambah rame..
Alexa Juliana
Jgn² nanti ternyata ayahnya Laras adalah Pak Bardo..
Alexa Juliana
Menjemputnya ---> menjenguknya
Alexa Juliana
Awal kehancuran hidupmu sdh di depan matamu Fikri..nikmati hari2mu saat sdh di ceraikan Isti..
Alexa Juliana
Jgn² Rani tuh yg ngehajar Naya
Alexa Juliana
Si Naya tuh yg ngirim foto ke sekolah Zalfa..
Alexa Juliana
Gaji Masih pas²an sok sok'an punya istri 2..
Alexa Juliana
Mengharapkan naik pangkat demi utk menghidupi selingkuhan bukan demi kebahagiaan anak dan istri sah..Semoga mimpimu g akan terwujud Fikri..kalau perlu posisimu diturunkan..
Alexa Juliana
Pak Bardo kan duda..semoga Isti bercerai dgn Fikri dan menikah dgn Pak Bardo biar si Fikri tau rasa klo berlian yg dia sakiti menikah sama si Boss..
Alexa Juliana
Klo ada di dekat si Fikri, asli pengen getok tuh kepalanya.. egois banget sih..
Alexa Juliana
Setuju sama perkataan Bu Laksmi..
Alexa Juliana
Tetap keukeuh g mau cerai tp ga mau juga ngelepasin selingkuhan hanya krn sdh dijebol..Iihh jijay banget itu otong udh nyelup lobang yg lain..di pikiran suami, klo suami selingkuh itu g apa dan dianggap wajar, tp klo istri selingkuh ga ada kata maaf dan langsung bilang istrinya seorang jalang dan diceraikan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!