NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Guru pelajaran sejarah pun akhirnya masuk ke dalam kelas.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak," jawab seluruh siswa hampir bersamaan.

Pak Andi mulai menjelaskan materi sejarah di depan kelas. Suaranya terdengar jelas memenuhi ruangan, sementara para siswa sibuk mencatat dan memperhatikan.

Namun, berbeda dengan Alesha.

Gadis itu yang awalnya masih mencoba fokus, perlahan mulai kehilangan kesadaran. Matanya semakin berat hingga akhirnya kepalanya bersandar di atas meja.

Dinda yang duduk di sebelahnya langsung melirik panik.

"Les..."

Ia menyikut pelan lengan Alesha.

"Bangun."

Namun, Alesha sama sekali tidak bergerak. Tidurnya begitu nyenyak sampai tidak menyadari suara guru yang sedang menjelaskan.

Pak Andi yang melihat dari depan kelas beberapa kali memanggil.

"Alesha."

Tidak ada jawaban.

"Alesha Wijaya."

Tetap tidak ada respons.

Beberapa siswa mulai melirik ke arah bangku Alesha.

Dinda semakin panik dan kembali menyikutnya.

"Les, bangun. Pak Andi lihat."

Tapi Alesha masih terlelap.

Akhirnya, dengan wajah kesal, Pak Andi berjalan menghampiri meja Alesha. Ia mengambil buku paket sejarah yang ada di tangannya, lalu membantingnya pelan ke atas meja.

Brak!

Alesha langsung terkejut dan berdiri refleks.

"Hah?!"

Suasana kelas langsung hening.

Pak Andi menatapnya dengan wajah kecewa.

"Bagus, ya. Saya menjelaskan di depan, kamu malah tidur dengan nyenyak di sini."

Alesha langsung menunduk.

"Maaf, Pak..."

"Maaf saja tidak cukup."

Alesha terdiam.

"Keluar. Berdiri di depan pintu sampai pelajaran selesai."

Alesha langsung mengangkat wajah.

"Tapi, Pak..."

"Keluar, Alesha."

Nada tegas Pak Andi membuat Alesha tidak bisa membantah lagi.

Dengan langkah lesu, ia mengambil bukunya lalu berjalan keluar kelas.

Dinda hanya bisa menatapnya prihatin.

Sementara Alesha berdiri di depan pintu kelas sambil menghela napas panjang.

"Hari ini baru mulai... kenapa gue sudah dihukum lagi?" pikirnya pasrah.

Di dalam kelas, pelajaran kembali berjalan seperti biasa. Pak Andi melanjutkan penjelasannya, sementara para siswa berusaha kembali fokus.

Dinda beberapa kali melirik ke arah pintu, melihat Alesha yang berdiri dengan wajah bosan.

Alesha sendiri hanya bersandar ringan di dinding sambil menatap koridor yang sepi.

"Kenapa sih mata gue gampang banget ngantuk?" keluhnya dalam hati.

Ia melihat jam di dinding.

"Masih lama..."

Alesha menghela napas panjang.

Beberapa siswa yang lewat di koridor sempat melirik heran melihatnya berdiri di depan kelas.

"Eh, itu bukannya murid baru yang adiknya Kevin?"

"Iya. Kenapa dia berdiri?"

Alesha hanya pura-pura tidak mendengar.

Sementara itu, di kelas Kevin, suasana sedang berlangsung seperti biasa. Namun, tiba-tiba Reza yang sedang melihat ponselnya tertawa kecil.

"Kenapa?" tanya Alvian.

Reza menunjukkan layar ponselnya.

"Kayaknya adik lo mulai terkenal lagi."

Kevin langsung menatapnya.

"Kenapa lagi?"

"Katanya Alesha dihukum berdiri di depan kelas."

Kevin terdiam.

"Kenapa?"

Reza menahan tawa.

"Tidur saat pelajaran."

Kevin langsung menghela napas.

"Serius?"

Alvian tertawa kecil.

"Dia memang konsisten."

Arka yang duduk tidak jauh dari mereka mendengar percakapan itu. Ia hanya mengangkat pandangan.

"Dia tidur lagi?"

Kevin menatap Arka.

"Kenapa lo ikut kaget?"

Arka diam sebentar.

"Karena baru kemarin."

Reza langsung tertawa.

"Berarti bahkan Arka pun ingat."

Arka tidak menjawab.

Sementara itu, di depan kelas, Alesha masih berdiri sambil menahan rasa kantuknya.

Ia menutup mulut saat menguap.

"Jangan tidur lagi, Les..." gumamnya pada diri sendiri.

Karena ia tidak ingin hukuman berikutnya datang dari ketua OSIS.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.

Alesha yang sedang berdiri langsung menoleh.

Matanya sedikit membesar saat melihat siapa yang datang.

Arka.

Ketua OSIS itu berjalan melewati koridor sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Seperti biasa, wajahnya tetap datar dan tenang.

Begitu melihat Alesha berdiri di depan kelas, langkah Arka berhenti.

"Kamu lagi?"

Alesha langsung memasang wajah tidak percaya.

"Kenapa semua orang kalau lihat gue reaksinya begitu?"

Arka melihat ke arah pintu kelas.

"Kamu dihukum?"

Alesha mengangguk pelan.

"Iya."

"Kenapa?"

Alesha terdiam sebentar.

Lalu menjawab jujur,

"Ketiduran."

Arka menatapnya beberapa detik.

"Kamu serius?"

"Iya."

Arka hanya menghela napas kecil.

"Baru beberapa hari sekolah."

Alesha langsung mengangkat tangannya.

"Jangan bilang gue mulai terkenal lagi."

"Sayangnya."

Alesha langsung menutup wajahnya.

"Ya ampun."

Arka berdiri di depannya sambil memperhatikan ekspresi pasrah gadis itu.

"Kamu sebaiknya jangan tidur lagi."

Alesha menatapnya.

"Gue juga nggak mau."

"Lalu?"

"Matanya yang salah."

Arka terdiam.

"Matamu?"

"Iya. Dia tiba-tiba berat sendiri."

Untuk pertama kalinya, Arka hampir tertawa mendengar alasan yang begitu polos.

Namun, ia hanya mengalihkan pandangan.

"Alasan yang aneh."

Alesha mengangguk.

"Gue tahu."

Tak lama kemudian, bel pergantian jam berbunyi.

Pintu kelas terbuka dan Pak Andi keluar membawa buku-bukunya.

Alesha langsung berdiri tegak.

Pak Andi melihatnya sebentar.

"Sudah selesai hukumannya. Masuk kembali."

Alesha mengangguk cepat.

"Baik, Pak."

Sebelum masuk, ia sempat melirik Arka.

"Jangan cerita ke Kak Kevin."

Arka menatapnya datar.

"Kamu sering sekali meminta itu."

Alesha tersenyum kecil.

"Soalnya kakak gue cerewet."

Arka hanya menggeleng pelan melihat tingkahnya.

Alesha pun kembali masuk ke dalam kelas. Begitu duduk di kursinya, Dinda langsung mendekat.

"Lo aman?"

Alesha meletakkan buku di atas meja.

"Aman. Tapi harga diri gue sedikit berkurang."

Dinda menahan tawa.

"Ya gimana lagi? Lo tidur di pelajaran sejarah."

Alesha menghela napas.

"Gue juga nggak ngerti kenapa gampang banget ngantuk."

"Jangan-jangan lo tidur terlalu malam?"

Alesha terdiam sebentar.

Dinda langsung menyipitkan mata.

"Les."

"Apa?"

"Jangan bilang gara-gara Pingky lagi."

Alesha langsung menoleh.

"Kok tahu?"

Dinda langsung menepuk dahinya.

"Ya ampun, gue cuma nebak."

Alesha terkekeh kecil.

"Semalam dia agak rewel."

"Dia bebek, Les."

"Iya, tapi dia punya perasaan."

Dinda hanya bisa menggeleng melihat jawaban temannya.

Sementara itu, di kelas Kevin, suasana jam pelajaran masih berlangsung.

Namun, kali ini Kevin tidak bisa berhenti memikirkan kabar dari Reza tadi.

"Kayaknya gue harus ingetin dia," gumamnya.

Alvian yang mendengar langsung menoleh.

"Jangan terlalu khawatir. Dia cuma tidur."

"Masalahnya bukan tidurnya."

"Lalu?"

Kevin diam sebentar.

"Dia baru pindah. Gue nggak mau dia merasa sendirian sampai mencari tempat lain buat kabur."

Mendengar itu, Alvian dan Reza saling berpandangan.

Mereka tahu Kevin memang terlihat cuek, tapi sebenarnya sangat memperhatikan adiknya.

Di sisi lain, Arka yang sedang berada di ruang OSIS masih memeriksa beberapa berkas.

Namun, tanpa sadar pikirannya kembali pada Alesha.

Gadis itu memang ceroboh.

Tapi anehnya, setiap kali melihat tingkahnya, suasana yang biasanya tenang terasa sedikit berbeda.

Arka menggeleng kecil.

"Kenapa gue malah memikirkan dia?"

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Suara kursi bergeser dan langkah kaki siswa memenuhi koridor.

Alesha langsung berdiri begitu mendengar bel.

"Din, ke kantin?"

Dinda mengangguk.

"Ayo."

Mereka pun keluar kelas bersama.

Sepanjang perjalanan, Alesha masih membahas kejadian tadi pagi.

"Menurut lo, gue terlalu sering kena hukuman nggak?"

Dinda berpikir sebentar.

"Kalau dalam waktu beberapa hari..."

Ia menatap Alesha.

"Iya."

Alesha langsung memasang wajah kecewa.

"Jujur banget."

"Kan lo yang nanya."

Alesha menghela napas.

"Padahal gue cuma ngantuk."

"Masalahnya lo selalu tidur di waktu yang salah."

"Itu bukan salah gue."

Dinda menatapnya bingung.

"Lalu salah siapa?"

Alesha berpikir sebentar.

"...Jam pelajaran."

Dinda langsung tertawa.

"Ya ampun, alasan lo."

Sesampainya di kantin, mereka memilih tempat duduk. Tidak lama kemudian, Kevin datang bersama Arka, Alvian, dan Reza.

Melihat mereka, Alesha langsung melambaikan tangan.

"Kak!"

Kevin menghampiri.

"Bagaimana hari ini?"

Alesha langsung diam.

Dinda yang melihat langsung menahan senyum.

Kevin memperhatikan perubahan ekspresi adiknya.

"Ada apa?"

"Nggak ada."

"Les."

Alesha mengalihkan pandangan.

"Sedikit kejadian."

Reza langsung penasaran.

"Kejadian apa?"

Dinda menjawab lebih dulu.

"Dia tidur lagi di kelas."

Suasana langsung hening beberapa detik.

Kevin menatap Alesha.

"Alesha."

Alesha tersenyum kecil.

"Hehe..."

Arka yang mendengar hanya berkata singkat.

"Konsisten."

Alesha langsung menoleh kesal.

"Arka, jangan ikut-ikutan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!