Dika Nugraha seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Saat ini dia sudah berusia 30 tahun namun dia belum juga mau untuk menikah. Karena sebuah kecelakaan dia mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda.
Pak Nugraha sebagai papah Dika merasa kasihan pada putra nya itu. Akhir nya dia membeli gadis bernama Nisa Putri Surya yang masih berusia 19 tahun untuk Dika nikahi.
Dika di beri minuman oleh sang papah agar dia berhubungan badan dengan Nisa.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Tetap setia di sini😊😊😊
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diyah nur arroyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Tiara berdiri dari duduk nya Dika juga tersenyum bahagia dengan suara tangisan bayi. Tiara berpelukan dengan Dika karena mereka sangat bahagia dengan kelahiran anak pertama Nisa.
Suster mulai membuka pintu ruang oprasi. Dika melihat Nisa yang masih belum sadarkan diri dari efek obat bius nya.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang inap pak" Ucap suster.
"Iya sus. Di mana anak saya?" Tanya Dika.
"Kami akan membawa putra bapak ke ruang inap ibu Nisa nanti" Jawab suster.
"Baik lah. Kami akan menunggu di ruang inap istri saya saja kalau begitu" Jawab Dika.
Dika Tia dan simbok mengikuti suster yang mendorong ranjang Nisa ke arah kamar inap Nisa.
Di ruang inap Nisa.
Dika dan Tia menunggu Nisa sadar. Mereka sudah mulai tenang melihat keadaan Nisa yang baik baik saja.
Tak lama suster masuk ke dalam kamar inap Nisa dengan mendorong ranjang bayi. Dika dan Tia berdiri ketika melihat bayi mungil yang tampan itu terlelap.
"Ini putra ibu Nisa. Setelah siuman tolong untuk menyusui nya pada ibu Nisa." Ucap suster.
"Baik sus" Jawab Dika
Setelah mengantarkan bayi Nisa suster keluar dari kamar inap Nisa. Dika mendekati putra kecil nya itu dengan gemetaran.
"Putra ku" Guman Dika perlahan mengusap pipi kecil putra nya itu.
Tanpa di duga jari Dika di genggam oleh bayi kecil nya. Dia terharu dengan bayi kecil di depan nya itu. Dika sampai menitihkan air mata nya karena terharu.
"Selamat ya bos." Ucap Tia menepuk bahu Dika.
"Lihat lah Tia, dia sangat menggemaskan" Ucap Dika.
"Iya dia sangat tampan" Jawab Tia.
"Mau di kasih nama siapa?" Tanya Tia lagi.
"Saputra Nugraha" Jawab Dika.
"Nama yang bagus mas" Sahut Nisa lirih. Dika melihat ke arah Nisa. Dia tersenyum dan menghampiri Nisa ketika melihat Nisa yang sudah siuman.
"Terima kasih sayang" Ucap Dika menangis menciumi kening Nisa terus menerus. "Maaf karena mas tidak di samping mu saat kamu akan melahirkan" Ucap Dika menyesal.
"Mas aku nggak papa kok. Aku juga sudah ada Tia dan simbok" Jawab Nisa menghapus air mata Dika.
"Aku ingin melihat nya mas" Pinta Nisa. Tia menggendong bayi Nisa. Dia mengantarkan bayi itu pasa Nisa.
"Lucu nya" Ucap Nisa mengusap lembut pipi bayi kecil nya itu.
"Coba lah susui dulu. Kata suster kamu harus menyusui nya" Ucap Tia.
"Iya" Jawab Nisa. Nisa sedikit kesusahan karena efek dari bekas oprasi nya tadi.
"Maaf mas bantu ya" Ucap Dika. Dika membuka kancing baju Nisa. Setalah itu Nisa mulai menyusui bayi kecil nya itu.
"Kenapa kok tertawa?" Tanya Dika penasaran.
"Rasa nya geli" Jawab Nisa tanpa dosa. Dika tersenyum lalu mengusap lembut kepala Nisa.
"Kita sudah menjadi orang tua sekarang sayang" Ucap Dika lembut.
Dika duduk di kursi sebelah ranjang Nisa. Dia terus menggenggam tangan Nisa karena dia ingin selalu di samping Nisa saat ini.
Beberapa hari telah berlalu. Nisa dan bayi nya sudah keluar dari rumah sakit. Dika juga memilih cuti selama 1 minggu untuk menemani Nisa.
Saat ini mereka sedang berada di depan rumah baru. Nisa sedang menggendong bayi nya dan berjalan jalan santai di depan rumah.
Sedangkan Dika berada di toko bersama Tia karena Nisa meminta toko nya tetap buka. Banyak pembeli yang menghubungi Nisa karena saat Nisa di rumah sakit toko kue Nisa sama sekali tidak buka.
"Nisa" Panggil seseorang pada Nisa. Nisa mencari arah suara yang memanggil nya. Dia tersenyum ketika melihat Luki yang berada di luar gerbang rumah nya melambaikan tangan nya.
"Hai Luki. Mau berangkat kerja?" Tanya Nisa ramah.
"Iya. Wah kamu sudah melahirkan selamat ya" Ucap Luki.
"Iya makasih. Kapan kapan aku akan ajak kamu makan bersama. Tapi belum dalam waktu dekat ini soal nya aku masih sibuk mengurusi anak dan toko ku juga" Ucap Nisa.
"Iya tidak apa apa. Ya sudah aku kerja dulu" Pamit Luki.
"Iya hati hati" Ucap Nisa tersenyum. Luki membalas senyuman Nisa dan melambaikan tangan nya.
Ternyata sedari tadi Dika melihat keakraban Nisa dan Luki. Dika juga terkejut karena Luki sepupu nya itu ada di daerah sini di tambah lagi dia mengenal Nisa.
"Siapa dia?" Tanya Dika tegas pada Nisa.
"Eh mas kamu sudah pulang?" Tanya Nisa tersenyum.
"Cukup jangan pernah berbicara dengan dia lagi aku tidak suka itu" Ugap Dika masuk ke dalam rumah.
Nisa ikut masuk ke dalam membuntuti Dika. Dika duduk di sofa dengan menahan amarah nya. Dia sangat emosi saat ini namun dia tidak ingin bertengkar dengan Nisa.
"Mas kamu marah sama aku?" Tanya Nisa lembut.
Sebelum nya Nisa menitipkan Putra pada simbok karena dia ingin bicara dengan Dika. "Aku hanya tidak suka" Jawab Dika.
Dika berdiri lalu masuk ke dalam kamar nya. Dia sebisa mungkin menghindari Nisa karena dia tidak ingin melulai Nisa seperti dulu.
"Mas apa kamu berfikir kalau aku selingkuh lagi?" Tanya Nisa lirih.
"Cukup Nisa. Aku tidak ingin bertengkar dengan kamu. Biarkan aku sendiri dulu" Ucap Dika tegas.
Bukan nya meninggalkan Dika, Nisa malah berjalan menghampiri Dika dan memeluk Dika dari belakang. "Mas aku tidak bermaksud menyakiti mu. Maaf kan aku" Ucap Nisa lirih.
Sejak Nisa hamil dia semakin dewasa di tambah lagi sekarang dia sudah memiliki anak. Dia semakin bijak sana dan lebih berfikir positif.
Dika melepaskan pelukan Nisa. Dia membalik tubuh nya menghadap Nisa. Dia kembali memeluk Nisa erat.
"Maaf atas kecemburuan ku yang besar sayang. Aku hanya takut kehilangan kamu. Maaf" Ucap Dika lirih.
Nisa tersenyum lalu mempererat pelukan nya pada Dika. Dika mencium kening Nisa lembut.
"Aku sangat mencintai kamu Nisa. Aku tidak ingin kehilangan kamu" Ucap Dika.
"Iya mas aku tau itu" Jawab Nisa.
Di saat bersamaan ponsel Dika berdering. Dia melepaskan pelukan nya dari Nisa. Dia menhambil ponsel nya.
"Siapa mas?" Tanya Nisa.
"Telfon rumah lama sayang" Jawab Dika. Dika mengangkat panggilan dari rumah lama.
"Ada apa bik?" Tanya Dika ketika mendengar suara pembantu nya yang terdengar ketakutan.
"Tuan besar tuan" Ucap pembantu Dika cemas.
"Papah kenapa bik?" Tanya Dika khawatir.
"Tuan besar masuk rumah sakit tuan" Jawab pembantu Dika.
Dika terkejut dengan jawaban pembantu nya itu karena setau Dika, papah nya itu sehat sehat saja.
"Ada apa mas?" Tanya Nisa khawatir.
"Papah masuk rumah sakit" Jawab Dika lirih.
"Ya Tuhan bagaimana bisa mas? Memang nya papah sakit apa?" Tanya Nisa khawatir.
"Papah sakit punya sakit jantung sayang. Maaf mas harus pulang sekarang." Pamit Dika.
Dika berjalan ke arah meja di kamar nya untuk mengambil kunci mobil nya.
"Aku ikut mas" Pinta Nisa.
"Jangan sayang. Putra lebih membutuhkan kamu. Aku akan pergi bersama Tia, kamu tidak apa apa kan jika di sini cuma sama bibik?" Tanya Dika.
"Iya mas aku tidak apa apa. Aku akan tetap di rumah sampai mas kembali" Jawab Nisa.
"Good girl. Mas berangkat ya sayang" Pamit Dika mengusap kepala Nisa dan sekilas mencium kening nya.
"Hati hati mas" Ucap Nisa. Dika hanya mengangguk lalu berjalan keluar rumah.
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏