Mengandung konten dewasa *** harap bijak dalam membaca
NOVEL PERTAMA MantanTerindahSeries BY VIIYOVII
Mata mereka kembali bertemu dalam sebuah kerja sama bisnis. Setelah empat tahun mereka berpisah. Semua hanyalah takdir. Ketika Viena Gloria Jovanca, seorang CEO Perusahaan Advertising menerima kontrak kerja sama pembuatan iklan Hotel Prime. Viena sudah yakin kalau pemiliknya adalah mantannya, Dionisius Eltima Prime.
Viena hendak menolak namun sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu? Mengapa Dion sampai hati meninggalkan Viena sedangkan Viena sudah memberikan semua yang diinginkan Dion? apakah Viena masih memiliki rasa? Atau Dion yang kembali menyukainya setelah sudah ada pengganti Viena di hatinya?
Hati hati, kisah cinta ini akan menguras hati dan perasaan anda.
Segala jalan cerita dan plot sampai tempat yang digunakan pure murni imajinasi penulis. Jika ada kesamaan, itu adalah kebetulan semata. Selamat Membaca :)
MantanTerindahSeries by viiyovii present :
1. Mantan Terindah
Dion Prime ❤ Viena Jovanca
Dior Prime ❤ Gracia Andez
Ezekhiel Dimitri ❤ Zefanya Prime
Patrick Kwan ❤ Zhavia Prime
2. Assistant Love Assistant
Leon Janson ❤ Lexa Luxurio
After Marriage
Xelino Janson ❤ Carolyn Delinsky
3. Satu Satunya yang Kuinginkan
Egnor Jovanca ❤ Claudia Gie
Wilson Jovanca ❤ soon
Willy Jovanca ❤ soon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viiyovii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 29
Revo menatap mata Viena sangat lekat dan tajam. Viena hanya menerka nerka, ada apa dengan Revo saat ini.
Mereka mengunjungi sebuah resort kecil di pinggir pantai kota Legacy yang terdapat tempat makan di pinggir dermaga. Angin bertiup menghempaskan rambut Viena yang terurai, memperlihatkan sisi cantiknya yang agak terkesan dingin.
Revo memberanikan diri untuk memegang tangan Viena. Viena hendak menarik namun tenaga Revo terlalu besar untuk menahannya.
"A-a- ada apa dengan mu, Re-Revo?!" Viena agak gugup. Selama ini, Viena memang tidak mencari tahu bagaimana kepribadian Revo karna banyaknya urusan yang harus dia selesaikan. Jadi, selama Revo mendekati Viena, hanya sifat yang Viena lihat yang membuat Viena mengambil kesimpulan, Revo adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Sama seperti yang kakak nya bicarakan. Segala perlakuan Revo yang membuat hati Viena sedikit tersentuh.
"Viena, mau kah kau mempercayai hatiku?" Tanya Revo selanjutnya. Revo juga sedikit gugup. Pasalnya, Revo selalu menyelesaikan masalah perempuan dengan keadaan spontan bukan terencana seperti ini.
"Apa maksudmu?" Mereka berdua saling bertanya, khususnya Viena yang jantungnya makin berdegup karna Revo membicarakan hati.
"Begini, aku menyadari beberapa hari kita berdekatan, aku mulai mencintaimu, Viena, apa kau percaya?" Lanjut Revo akhirnya kata kata ikut keluar. Dia menarik napas dan memandang Viena. Tangannya berkeringat sampai sampai tangan Viena ikut memanas.
"Oke, aku mengerti arah bicaramu," Viena mulai melepaskan tangannya dengan memegang tangan Revo perlahan lahan.
"Aku malu, semua orang melihat ke arah kita, karna hanya kita yang makan di pinggir dermaga ini," Viena sedikit mengelus puncak tangan Revo agar dia tidak kecewa, ketika Viena melepaskan genggaman tangan Revo. Kini, tangan Viena terlipat manis di depannya. Revo masih menatapnya syahduh.
"Kalau kau sudah tahu, apa perasaanmu, aku belum tahu bagaimana perasaanku. Aku sudah pernah gagal dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Hal itu terlalu sakit," mata hitam Viena mulai berkaca kaca namun dia memalingkan pandangannya ke arah tebing tinggi di ujung pantai.
"Jadi, aku meminta waktu untuk kita terus seperti ini dulu, kita semakin mengenal satu sama lain, bukankah itu mengasikan?" Kini Viena kembali menatap Revo.
"Apa ini sebuah keputusan?" Kini Revo yang bertanya dengan lirih. Perasaannya sedikit hancur. Baru kali ini ada perempuan yang mengulur ulur perasaannya. Namun, alasan yang Viena buat sangat masuk akal.
Viena mengangguk pelan.
"Aku tidak mau setelah keputusan yang ku ambil gegabah untuk hati dan perasaanku menghancurkan hubungan dekat kita," lanjut Viena pelan.
"Jadi, maukah kita mengenal satu sama lain dulu lebih dalam, Tuan Andez?" Viena kembali mengambil tangan Revo dan memijit mijit kecil berharap Revo tidak sangat kecewa.
"Kau sungguh bisa merubah suasana Viena. Sesekali aku membencimu karna kedekatanmu dengan Dion. Sesekali aku ingin menjauhimu. Sesekali aku sama sekali tidak ingin menghubungimu. Tapi, perhatianmu, daya tarikmu, dan kehangatmu membuatku ingin selalu dekat denganmu. Sejak ibumu meninggal, aku jadi semakin ingin menjagamu. Hal ini yang membuatku sulit melupakanmu."
Kata kata Revo membuat Viena tersentak. Apakah keputusannya kali ini salah menolak pria yang perkataannya sangat berwibawa? Seperti ..?? Mengapa aku membayangkan wajah pria itu? Pikir Viena.
~sudahlah, aku hanya mengulurnya saja agar bisa lebih kenal," pikir Viena lagi.
"Jadi, tolong kau percaya dengan perasaanku, apa pun yang terjadi, ijinkan aku untuk selalu bersama denganmu, bagaimana Viena?" Kali ini Revo khawatir. Khawatir rencana Marcel memperburuk bahkan menjauhkan Revo dari Viena.
"Aku janji," senyum Viena merekah dan menekan tangan Revo lebih kencang tanda ketegasan hati Viena.
Revo ikut tersenyum dan memegang tangan Viena. Langkah selanjutnya dia harus bertemu Isa dan memutuskan hubungan mereka. Dia tidak mau Viena tidak mempercayainya karna dia belum memutuskan hubungannya dengan Isa.
Keesokannya, seperti bulan bulan yang lalu, Viena berbelanja untuk kebutuhan bulanannya. Ketika matanya terpusat pada sawi hijau dan daun bawang yang begitu segar. Dia berpikir hendak membuat mie ayam. Dia ingat, kalau dia pernah berjanji akan membuatkan semangkuk mie ayam untuk Revo.
"Baiklah, aku akan membuatnya, sepertinya besok tidak ada meeting, aku akan membuat kejutan untuk pergi ke kantornya." Gumam Viena pelan.
Dia memilih beberapa tangkai sawi dan beberapa ikat daun bawang. Tidak lupa dia membeli bakso dengan kualitas baik dan tente saja mie telurnya. Dia memilih mie telur yang kenyal agat kenikmatannya jauh lebih lezat. Wanita bertubuh cukup tinggi itu tersenyum membayangkan Revo akan menyukainya dengan kata kata gombalnya.
"Hai, Viena kan?" Viena menoleh yang sedikit terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Itu Pevi.
"Hai, iya," hanya itu jawaban Viena. Tanpa sengaja Viena mengingat curhatan terakhir Dion mengenai Pevi.
"Apa kabar Viena? Sayang sekali, kita bertemu di saat seperti ini," sambung Pevi ramah. Viena merasa Pevi memiliki beberapa kepribadian. Dia merasa tidak nyaman atau karna perempuan yang skarang di depannya ini merupakan kekasih Dion, mantannya.
"Ya, aku baik, kau sendiri? Iya sayang sekali," Viena tersenyum tipis.
Belum Pevi menjawab, sudah ada seorang pria setinggi Dion dengan rambut belah samping. Mengenakan setelan jas sangat rapi. Tatapannya teduh dan kalem. Viena menatapnya sesaat, bertanya tanya siapa pria di belakang Pevi yang sama sekali bukan Dion.
"Kau bertemu siapa Pevi?!" Tanyanya dan tersenyum ramah. Satu tangannya memegang sebelah pundak Pevi. Pevi menatapnya manis sebelum dia menjawab pertanyaan Viena.
Nah lho?
Siapa Pevi hayo?
Selingkuhannya? Kakaknya? Adiknya?
😁😆 Next part 30
Plis like komen 😍
plis jangan donk