"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"Kak antar Tari ke rumah sakit dong!"
Arka diam dan tidak perduli pada Mentari, apalagi permintaan Mentari yang sama sekali tidak menarik bagi dirinya.
"Kak Arka!!!!!" seru Mentari dengan suara yang keras.
Plak....
Tangan kiri Arka mendorong wajah Mentari jauh dari dirinya, dan ia tetap fokus pada jalanan.
"Ish....." Mentari kesal dan memukul tangan Arka, "Kakak tahu nggak?"
"Enggak!" jawab Arka dengan singkat.
"Ish....." Mentari lagi-lagi menggerutu kesal karena Arka tidak pernah bisa berbicara dengan selayaknya manusia, "Susah nya...bicara sama makhluk aneh!"
Arka tidak perduli sama sekali, mungkin Arka memang bersifat tidak banyak bicara hingga Mentari harus punya banyak cara agar Arka bisa berbicara dengan benar.
"Kak Arka....lu baik deh," Mentari mencoba berbicara dengan baik, ia ingin membuat Arka mau mengantarkan dirinya ke rumah sakit, "Kak lu baik kan?"
Arka masih diam, dan sesaat kemudian mobil Arka terparkir di depan perusahaan Wijaya group.
"Kak kok kesini sih?!" Mentari kesal karena tujuannya ke rumah sakit, namun Arka malah membawa dirinya ke kantor.
Dan lagi-lagi sama saja, Arka masih diam tanpa berbicara sepatah kata pun. Hingga Mentari juga ikut turun, kaki jenjang Mentari melangkah dengan cepat berusaha mengimbangi langkah kaki Arka yang lebar.
"Kak gw manusia lho....dari tahu gw ngomong....Lo punya telinga nggak sih Kak Arka?!" tanya Mentari sambil terus berjalan dan akhirnya ia ikut masuk ke dalam lift mengikuti Arka, namun mulutnya tetap saja komat kamit tidak jelas.
Ting.
Pintu lift terbuka Arka keluar dari lift begitu juga dengan Mentari, bocah ingusan itu memang terus mengomel namun anehnya ia tetap mengikuti Arka.
"Selamat siang Pak Arka?" sapa seorang sekretaris dengan tubuh tidak kalah tampan dari Arka dan ia bernama Dimas.
Arka diam dan ia berlalu masuk kedalam ruangannya, masih dengan di ikuti oleh Mentari. Sesaat kemudian Arka duduk di kursi kebesarannya, tangannya mulai mengambil setumpuk kertas yang bersusun rapi di mejanya.
"Kak Arka......" Mentari ikut duduk di kursi tepat di depan Arka dan keduanya hanya terpisah oleh meja saja, "Kak, gw kerumah sakit ya.....atau bagi duit dong Kak, buat naik taxi....." kata Mentari sambil sedikit memohon pada Arka.
Arka tidak berniat membuat Mental selalu mengemis masalah uang padanya, dan tidak ada masalah jika ia memberikan kartu ATM dan kredit card sekalipun. Hanya saja entah mengapa Arka sangat senang melihat Mentari selalu membutuhkan dirinya.
"Kak lu bilang kita Suami istri, tapi kok gw berasa jadi pengemis sih.....tau gini mending gw enggak usah mau dulu di nikahin sama lu Kak......lu mah tega sama gw!" kata Mentari dengan wajah melasnya.
Arka lagi lagi-lagi hanya diam namun sejenak ia memperhatikan wajah Mentari yang tengah beracting menjadi seorang istri yang terjolomi, sesaat kemudian Arka kembali melanjutkan pekerjaannya dengan mulai membuka laptop miliknya.
"Kak........!!!!!"
"Em...."
"Kak, gw berasa kayak istri terzolimi deh.....kagak di kasih nafkah di angkuhin.... huuuufff," Mentari menopang kepalanya dengan tangannya sambil menunjukan wajah lelahnya pada Arka.
Arka menatap Mentari, "Nafkah?" tanya Arka tanpa ada exspresi sedikit pun.
"Katanya udah dewasa...." Mentari memutar bola matanya dengan jenuh.
Arka bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Mentari, ia duduk di sisi meja sementara Mentari tetap di kursinya. Kaki Arka sebelahnya menginjak sedikit kursi yang di duduki Mentari dan ia setelah berjongkok, hingga Mentari berusaha menjauhkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan Arka.
"Kau sudah pandai meminta nafkah?!" tanya Arka.
"Iyakan Memang begitu!" Mentari merasa apa yang ia katakan kali ini benar, dan tidak ada yang salah. Jadi ia dengan percaya diri langsung menantang Arka.
"O......" Arka mengangguk mengerti, dengan pandangan yang mulai turun ke arah yang lainnya.
"Dasar Om....om cabul!" Mentari menjauhkan kursinya lalu bangun, karena ia tahu Arka sedang menatap aneh dirinya.
Arka mengangkat sebelah alisnya dan menyimpulkan jika Mentari masih terlalu polos dalam hal itu, tapi entah mengapa Arka merasa senang karena dengan begitu artinya Mentari masih belum pernah di sentuh. Walau pun sangat sulit mengajari ABG itu menjadi gadis dewasa.
"Dasar gila.....Kakak pasti mikir aneh ya?!" tebak Mentari.
Arka masih tetap duduk di sisi meja dan menatap Mentari yang berjarak tiga meter darinya, "Katanya kau seorang istri yang butuh nafkah?" goda Arka.
Mentari melebarkan matanya dan ia ternyata salah, karena kini ia baru ingat kalau orang sudah menikah itu memiliki dua nafkah. Dan mentari tidak ingin nafkah yang satunya itu dan ia pun enggang untuk menyebut kata nafkah batin dalam hatinya sekalipun.
"Kenapa?" tanya Arka, karena ia tahu Mentari kini mulai menyadari kebodohannya.
"Nggak ada nafkah, apalah.....Tari juga nggak akan ngemis ke Kakak karena Tari aku cari kerja, setelah selesai ujian buat biaya kuliah sendiri!" kata Mentari dengan penuh percaya diri.
"Siapa yang mengijinkan mu kuliah?!"
"Emang harus ijin?!"
"Em....." Arka mengangguk, ternyata berdekatan dengan bocah polos di hadapannya jauh lebih menarik dari pada berdekatan dengan gadis dewasa, yang pikirannya tidak jauh dari ranjang.
"Tari nggak butuh ijin!" Mentari keluar dari ruangan Arka, sesuai yang ia katakan kalau ia tidak butuh ijin dan kali ini pun ia keluar begitu saja.
Arka menggelengkan kepalanya, kemudian ia kembali ke kursinya untuk bekerja karena ada banyak pekerjaan yang menanti dirinya. Dan tidak sampai lima menit Mentari sudah kembali masuk lagi keruangan Arka.
"Kak, Tari mau pulang tapi nggak punya uang....Tari mau telpon temen, tapi Tari nggak tahu ponsel Tari di mana?" kata Mentari dengan malas sambil berjalan mendekati Arka.
Arka tidak perduli dengan ocehan Mentari, dan ia tetap fokus pada pekerjaannya. Dua puluh menit berlalu ia sudah tidak mendengar suara Mentari yang mengomel tidak jelas, dan ada sedikit rasa penasaran. Hingga ia melihat dan ternyata Mentari sudah terlelap, dengan berbaring di sofa.
Ada senyuman yang tertarik di bibir Arka, kemudian ia kembali bekerja dengan begitu fokus. Satu jam berlalu Arka selesai dengan pekerjaannya, ia bangun dari duduknya dan mendekati Mentari. Namun belum sepenuhnya mendekat Mentari sudah terlebih dahulu membuka matanya.
"Kau mau menginap di sini saja atau pulang?"
"Pulang lah....." Mentari bangun dari tidurnya dan berjalan mendahului Arka, sesaat kemudian Mentari berbalik dan tidak menyadari Arka sudah sangat dekat dengan dirinya.
Bukk.
Mentari langsung membentur sesuatu yang terasa cukup keras, dan tanpa sadar Arka dengan refleks memeluk pinggang Mentari.
"Ish....." Mentari mendorong dada Arka agar segera terlepas, "Kakak sengaja kan pegang-pegang! Dasar Om-om cabul!" ketus Mentari padahal ia yang berbalik tanpa arah jelas tapi Arka yang ia salahkan.
Arka hanya menggeleng saja,.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.