Ini kisah season 2 dari nikah kontrak dengan om ceo tampan.
Mia Allura Atmaja putra pertama dari Alex Atmaja dan Rara Artnia, ia terpaksa kabur dari rumah orangtuanya untuk menghindari perjodohan dengan rival sang papa hingga akhirnya ia terjebak cinta segitiga dengan pengusaha muda bernama William.
Akankah ia menyerah atau memperjuangkan cintanya?
Nb : Untuk melihat visual mereka bisa cek di ig ; Duwi Sukema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Making Love
Wil, emang masalah apa? Aku ikut ya," rengek Lura. "Kamu kan biasanya selalu bawa aku kemana aja. Tapi, Wil, di perusahaankan tidak ada masalah kok kamu kesana emang ada apa sich?" cecar Lura yang penasaran.
Apa aku berterus terang saja pada Lura saat ini jika aku kesana untuk mengakhiri hubunganku dengan Shintia. Kalau aku jujur pasti Lura akan marah besar dan memutuskan hubungan denganku. Aku sudah terlanjur mencintai Lura, dia wanita yang berbeda tidak seperti wanita-wanita yang pernah aku kenal.
"Wil, kamu kok melamun sich. Cerita dong kalau kamu ada masalah jangan di pendam sendiri saja, kita ini menjalin hubungan harus saling terbuka. Aku siap mendengar semua keluh kesah kamu, aku juga akan berusaha untuk membantu jika kamu ada masalah."
"Tidak ada sayang, aku masih bisa menangani semua masalahku ini sendiri. Kamu doakan saja ya, oya kamu mau makan malam dimana? Gimana kalau malam ini kita dinner? Selama kita pacaran belum pernah dinner nich."
"Wil, buat aku kita selalu bersama-sama seperti cukup membuat aku bahagia tidak perlu neko-neko seperti yang lain. Kita jalani apa yang membuat kita bahagia itu sudah cukup, lebih baik kita habiskan waktu malam ini berdua di rumah," jelas Lura.
Benar kata Lura pikir William.
Malam hari di kediaman William, tepatnya di taman tepi kolam renang belakang rumah. Sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta duduk saling berdekatan dengan memainkan kuku jari tangannya. Ingin mulai percakapan namun canggung untuk memulainya.
"Wil."
"Ra."
Ucap mereka bersamaan lalu tertawa bersama.
"Kamu duluan saja," ucap Lura.
"Kamu saja, aku hanya," kata William yang telah di potong oleh Lura
"Hanya apa, kamu mau bercerita masalah kamu ya kan."
William menggeleng.
"Wil, aku boleh tanya sesuatu padamu ngak? Kita pacaran pastinya bukan untuk main-main, umur kamu sudah matang begitupun aku. Apa kamu ada niat untuk menikah denganku atau aku hanya kamu buat sekedar bermain-main dikala kamu kesepian. Aku yakin jika kamu bukanlah orang yang suka jomlo secara kamu tampan, laki-laki yang sukses tidak mungkin jika kamu wanita membiarkan kamu sendirian berlama-lama."
"Maksudnya?" tanya William.
"Intinya aku ingin tahu masa lalu kamu, berapa banyak wanita yang telah kamu ajak kencan atau kamu berpacaran promiscuity, you are a mixture of Indonesia and New york. Pasti kamu juga ikut adat barat," ucap Lura menyelidik.
William menyentil jidat Lura, ia tidak terima jika dirinya dikatakan berpacaran bebas. Ia adalah orang yang menganut agama islam walaupun ia terlahir di negara luar tapi bundanya orang islam yang kental dengan agama. Ya, memang papanya dulu bukan imam yang mengerti agama tapi setelah menikah dengan bundanya jadi mualaf dan khusuk. Ia dari kecil sudah di tanamankan bekal agama yang kuat walaupun lingkungan dan sahabatnya selalu bebas bergaul yang selalu ke club malam atau bermain-main dengan wanita ia bisa menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke zina.
"Kalau aku tipe cowok seperti itu sudah aku gauli kamu dari dulu. Buktinya tidakkan, aku sangat menghargai wanita seperti aku menghargai bunda juga adikku. Aku selalu ingat jika aku melecehkan wanita sama saja aku merusak adikku. Aku pacaran pasti hanya seumumnya pacaran saja, sudah ngak usah bahas itu. Lebih baik kita bakar jagung lebih asyik bukan."
Semoga saja yang kamu katakan benar Wil, aku yakin jika kamu laki-laki baik-baik pikir Lura.
"Bakar jagung?! Kamu sudah mengemasi baju kamu buat besok belum, terus kamu berangkat jam berapa besok? Aku antar kamu ke bandara tidak," cerocos Lura.
William menjawab dengan meringgis, "Belum, biar nanti malam saja aku lakukan sendiri sekarang kita habiskan waktu untuk berdua."
William mengubah posisi duduknya menjadi rebahan dengan menyadarkan kepalanya di pangkuan Lura. Mereka menikmati embusan angin malam yang sepoi-sepoi dengan menatap bintang dilangit yang berkelap-kelip menghiasi malam yang semakin larut.
Lura sedikit membungkukan tubuhnya, menatap sang kekasih yang asyik tiduran dipangkuannya dengan memainkan ujung rambutnya yang tergerai. Ia mengusap wajah William, penuh dengan kehangatan.
"Ra, kenapa kamu tidak menerima lamaran Henry tadi. Kelihatannya dia sangat mencintai kamu, apa kamu juga ada perasaan dengan dia? Jujur Lura, aku tidak akan marah dengan apa yang akan kamu katakan. Lebih baik menyakitkan dari pada kau menutupi perasaanmu yang sebenarnya."
"Kalau aku ada rasa dengannya pasti aku sudah menerima lamaram dia tadi. Buktinya aku menolak berarti aku tidak mencintai dia dan aku hanya mencintai kamu," jelas Lura.
.
.
.
Lura kini berada di dalam kamar William bersama kekasihnya untuk mengemasi beberapa pakainya William.
William adalah tipe cowok yang tidak suka mengoleksi foto pribadi juga foto kekasihnya hingga tidak ada satupun tanda-tanda jika ia memiliki tunangan atau kekasih selain Lura yang kini ada di depannya.
"Wil, kamu bawa baju ganti berapa pasang? Disana berapa lama sich? Kamu bawa baju santai ngak?" tanya Lura. Ia sedang melipat beberapa kemeja dengan setelan jas serta dasi yang senada agar membuat penampilan kekasihnya semakin keren saat bersama dengan relasinya.
"Aku disana hanya sebentar. Cukup bawa dua pakaian resmi, dua setel baju santai, jangan lupa masukkan boxer dan dalaman juga ya," perintah William yang malah asyik memiankan game dalam ponselnya.
"Siapkan sendiri itu dalaman kamu, aku sengaja bantu kamu agar cepat selesai dan istirahat kamu ya malah asyik main game free fire, sudah kamu kemas sendiri itu baju kamu. Aku mau tidur," kesal Lura.
Lura segera berdiri untuk keluar kamar, namum saat ia diambang pintu tangannya di tarik William masuk ke dalam hingga ia terjatuh dalam dekapan tubuh kekar William.
"Jangan marah dong, main game itu hiburan. Dari pada aku main ke club lebih baik main game online apa lagi main ML, pasti seru. Ayo kita main ML," ajak William.
Lura ingin menolak untuk bermain ML yang di maksud William tapi tangannya telah di tarik oleh William hingga kini ia duduk di ujung isi ranjang.
"Tunggu disini aku mau ambil sesuatu untuk main ML, jangan kabur!" tegas William. "Kita malam ini harus bergadang menghabiskan malam bersama, okey," ucap William dengan mengkode tangannya membentuk huruf O.
"Wil, aku capek. Besok aku kerja juga, sudahlah jangan aneh-aneh!" tolak Lura sambil berdiri untuk mencoba kabur.
Saat William sedang sibuk mencari sesuatu di lemarinya, ia berjalan mengedap-edap menuju pintu kamar untuk kabur. Sial saat ia memutar ganggang handle pintu tidak dapat terbuka.
"Pakai di kunci segala, gimana aku kabur? Habislah nasibku di tangan William, mungkin ini krama untukku," umpat Lura yang takut jika malam pertamanya harus direngut secara paksa oleh William.
Pikirannya mulai tidak karuan saat William bilang ingin bermain ML bersamanya ia tidak ingin bermain making love di saat ia belum halal, kini ia bisa mengucap berbagai matra dari bibirnya agar bisa kabur.
Bersambung..
😍😍