Kesetiaan itu memang ada. Hanya saja, situasi dan kondisi yang membuat itu tiada. Saat kita menerima dia sepenuh jiwa, tapi kondisi memintanya sesuatu yang tak terduga. Maka, kita harus bersiap dengan kemungkinannya yang akan membuat kita kecewa dan menderita.
Pengorbanan hati dan harga diri demi dia yang kita sayang. Apakah dia akan menerima meski hati terluka, atau dia akan menjauh dengan hati yang runtuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
...🌺🌺🌺...
...Salahkan bila diriku...
...Terlalu mencintaimu...
...Masihkah ada hasratmu...
...Tuk mencintaiku ... lagi...
...🌺🌺🌺...
"Jadi ini kamar Kakak? sangat rapi untuk ukuran cowok. Bahkan lebih rapi dari kamarku." Raya memajukan bibir bawahnya. Andre tersenyum lalu kembali mengacak rambut Raya. Untuk kesekian kalinya, Raya kembali merasa senang.
"Ayah dan Ibu sebentar lagi pulang. Kalau lelah, tidurlah dulu di sini."
"Aku boleh melihat-lihat, Kak?"
"Silakan. Aku mandi dulu, ya."
"Hmm."
Raya berkeliling kamar Andre. Dia begitu takjub melihat deretan sepatu mahal yang ada di balik lemari kaca. Matanya kembali membelalak melihat jam mahal yang ada di laci kaca.
Dengan senangnya, Raya mencium lalu memakai salah satu parfum milik Andre. Puas melihat barang-barang mewah Andre, Raya beralih pada lemari kecil. Sebuah lemari kayu tanpa kaca ataupun pintu.
Banyak foto terpajang di sana. Foto Andre dan Anggela saat masih kecil. Foto saat dia lulus TK, SD, SMP, SMA dan juga wisuda kemari. Termasuk foto sedang bersamanya. Ya, ada foto mereka berdua yang disandingkan bersama foto Andre dan keluarganya saat wisuda. Ada rasa haru dalam hati Raya.
Tidak hanya satu. Ada beberapa foto dia bersama Andre. Dia mencari sesuatu yang ingin dia lihat tapi mungkin tidak. Foto Mia yang sudah dia berikan dulu.
"Nyari apa?"
Suara Andre dari belakang membuat Raya sangat terkejut.
"Ah, bukan. Aku tidak nyari apa-apa."
"Nyari foto Mia? tidak ada. Di kamar ini tidak ada fotonya."
"Foto yang dulu, kemana?"
"Ada. Berbaliklah, aku mau ganti baju."
Di mana? di mana Kak Andre menyimpan foto Mia?
Raya begitu penasaran di mana Andre menyimpan foto Mia. Dia bahkan tidak sadar jika Andre memanggilnya sedari tadi.
"Kamu ngelamunin apa, sih?" Andre merangkul pundak Raya.
"Kakak wangi banget udah mandi."
"Hmm?"
Raya tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Begitu juga Andre yang merasa aneh dengan sikap Raya. Mereka saling bertatapan.
Andre menelan ludah. Berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan bunyi jantungnya yang begitu kencang. Sementara Raya, dia merasa tidak punya tenaga untuk bergerak sedikitpun.
Jantung keduanya semakin tidak beraturan saat mereka bisa merasakan embusan nafas satu sama lain.
Hingga keduanya larut dalam buaian keindahan rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh kata.
Di ruang makan.
"Bagaimana rasanya, Sayang? Tante sengaja masak sendiri."
"Istri Om itu, tidak biasanya masak sendiri, sekalinya masak pada kamu ada di sini."
"Terima kasih, Tante. Raya jadi tersanjung mendengarnya."
"Sering-sering datang ke sini. Nanti kita belajar masak. Tante akan ajarkan masak makanan kesukaan Andre. Biar kalau sudah jadi istrinya, kamu sudah terbiasa."
"Tante ...." Raya malu-malu.
"Ini juga pertama kalinya kami makan sambil ngobrol. Ck!"
"Anggela, jangan begitu. Ketahuan deh kita melanggar aturan sendiri," ujar Ibu.
"Anggela? Ya ampun." Raya memeluk jidatnya pelan."
"Kenapa?" tanya Anggela heran.
"Bukan apa-apa, Kak. Hi hi hi."
"Dia kira, kamu itu cewek aku, La. Waktu itu tuh, aku kan–"
"Udah, sih, Kak. Tutup mulutnya pake ini, nih."
Raya menutup mulut Andre dengan tempe goreng. Meski terkejut, keluarga yang ada di sana merasa senang. Mereka tertawa melihat kelakuan Raya dan Andre.
"Kamu juga makan, nih." Andre memaksa Raya memakan sayuran. Raya berusaha menolak.
"Kakak!"
"Apa?" Andre segera pergi. Dia berlari menuju ruangan lain. Raya menyusulnya. Dia kembali ke meja makan untuk pamit pada Ayah dan Ibu Andre.
"Kak Andre!" Raya berteriak. Mereka saling mengejar hingga ke halaman belakang. Di sana ada kolam renang yang sangat besar. Andre loncat ke dalamnya.
"Sini kalau berani."
"Curang! Ayo ke sini. Akan aku cubit perut Kakak."
"Ogah. Weee!"
"Kakak, ayo naik. Jangan curang. Nyebelin!"
Bukannya naik ke atas, Andre malah menyiramkan air pada Raya.
"Basah! Kakak jangan, ih."
"Iya, iya. Aku naik, nih." Andre merapat ke pinggir kolam. Tepat berada di bawah kaki Raya. Saat Andre sudah di atas, dia berdiri di hadapan Raya. Tanpa aba-aba, Andre memeluk Raya lalu mengajaknya loncat ke kolam renang.
Raya yang tidak bisa berenang begitu kaget dan ketakutan. Andre masih memeluknya. Nafas Raya memburu karena kaget dan dan takut. Dia berusaha agar kepalanya tidak tenggelam dengan menautkan kedua tangannya ke leher Andre.
"Aku tidak bisa renang, Kak. Jangan lepaskan. Tolong."
Mendengar Raya berucap dengan suara bergetar, Andre merasa kaget dan merasa bersalah. Dia memeluk Raya erat.
"Aku tidak tahu. Maaf."
"Jangan lepas. Aku takut tenggelam."
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu. Jangan takut."
Andre membawa raya ke tapi kolam. Menaikkan Raya duduk di sisi.
"Aku minta maaf."
"Tidak apa-apa."
"Mau aku gendong? naiklah di punggungku, kita keliling kolam. Yuk!"
"Takut, Kak."
"Tidak apa-apa. Percaya saja padaku."
"Aku sudah pernah percaya, tapi hancur berkeping-keping. Haruskah aku percaya lagi?"
Raya menatap sendu pada Andre yang berada di bawahnya. Masih berdiri di kolam renang.
"Sebaiknya aku pulang dari sini, Kak."
"Ada apa?"
"Semakin lama berada di rumah ini, membuatku merasa bahagia. Aku harus apa? kenyataannya ini hanya akan menjadi harapan kosong."
"Raya. Bisakah kita berbahagia tanpa membahas hal yang menyakitkan?"
"Kenyataannya aku memang sudah tersakiti sejak awal. Akulah yang bodoh karena memilih jalan ini."
"Raya."
"Aku bukan Betadine yang hanya berfungsi mengobati luka. Setelah luka itu sembuh, aku diabaikan begitu saja."
"Aku tidak mengabaikanmu, Raya."
"Sudahlah, Kak. Aku ingin pulang saja. Mungkin Om akan meminta supirnya mengantar jika Kakak tidak mau."
"Raya tunggu." Andre berteriak saat Raya semakin menjauh darinya. Raya berlari menuju kamar Andre karena hanya kamar itu yang dia tahu di rumah ini. Menutup pintu lalu menguncinya.
Sudah beberapa kali Andre menggedor pintu, tapi diabaikannya. Tiba-tiba Raya teringat sesuatu. Dia mencari di tas yang selalu Andre bawa. Ketemu!
Wajah Raya semakin sendu saat dugaannya menjadi kenyataan. Foto Mia ada di dalam dompet Andre.
"Bodoh! kenapa aku begitu bodoh?" Raya memukul-mukul kepalanya.
"Jelas saja foto ini ada dalam dompet. Dompet ini selalu dia bawa kemana-mana. Dia akan selalu membawanya serta seperti nyawanya sendiri." Raya menyimpan kembali dompet itu. Dia berjalan menuju lemari kayu dengan banyak foto di sana.
Satu persatu foto yang ada dirinya, dilepas dan disobek. Hanya bagian dirinya saja. Semuanya.
Raya membuka pintu lemari Andre satu-satu. Mencari baju untuk ganti. Koper dia disimpan di mobil Andre.
Setelah mendapatkan kaos dan celana, Raya segera bergegas menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti saat matanya melihat sesuatu secara tidak sengaja.
Raya kembali membuka pintu lemari tadi. Dia memastikan apa yang dia lihat adalah kenyataan. Ya, dari semua pakaian mahal Andre, pakaian yang Raya belikan dulu ada diantaranya. Bahkan, kaos murah itu tergantung.
Raya semakin sakit melihat itu semua. Dia benar-benar merindukan tukang ojek kesayangannya.