Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa cemas
Tutuplah aib saudaramu, semana Allah menutup aib dirimu sendiri.
{ Adnan }
💞💞💞
Suasana tegang tercipta kala itu. Pak Willy terbayang saat hari pernikahannya dulu. Di mana Winda dipaksa menikah, demi bisa melanjutkan kuliah. Meski setelah lulus, Winda justru memilih menjadi ibu sepenuhnya.
Biaya kuliah yang lumayan tinggi membuat Winda ikhlas merelakan dirinya menjadi pengantin pengganti. Berdampingan dengan sosok Pak Willy yang notabennya calon suami sahabatnya sendiri.
"Kamu tau. Sehabis nikah Winda bahkan masih nunggu kamu pulang! Dia rela diceraikan asalkan kamu mau kembali," ungkap Pak Willy.
"Mas, kamu itu terlalu terpana dengan kepolosan Winda!" Bentak Bu Sinta. Napasnya memburu. Pikirannya memutar kembali kejadian di mana menyakitkan itu. "Kamu ... sudahlah! Sekalipun aku ngomong, kamu engga akan percaya. Bagimu, aku cuman wanita gila!"
"Kalau aku anggap kamu gila. Untuk apa aku sampai menikahimu!"
"Rio!" Telunjuk tangan Bu Sinta mengarah ke Pak Willy. "Karena Winda engga bisa hamil lagi setelah melahirkan Alina, karena rahimnya bermasalah dan harus diangkat. Dan ... kamu menginginkan anak laki-laki."
Pak Willy diam. Memang benar, itulah alasannya menikahi Sinta. Saat Sinta datang kembali setelah 1 tahun Winda kecelakaan sembari membawa Rio, lalu mereka melakukan test DNA. Hasilnya Rio adalah anak kandung Pak Willy. Hatinya berbunga-bunga. Keinginannya memiliki anak lelaki akhirnya terjadi. Anak yang diharapkan bisa mewarisi perusahannya di hari tua nanti.
Alina dan Rio sama sekali tidak tahu, jika mereka adalah saudara kandung beda Ibu. Pak Willy dan Bu Sinta melakukan test DNA melalui rambut tanpa sepengetahuan keduanya. Maka dari itu, Rio tetap menganggap Alina hanyalah adik tiri.
"Kita akhiri sampai sini! Aku pusing!" Pak Willy berjalan menuju lantai dua meninggalkan istrinya yang masih diam mematung.
"Mas, maaf. Aku terpaksa," batin Winda.
🥳🥳🥳🥳
Di kantor, semua orang bekerja keras untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Adnan dan Alina pun melakukan hal yang sama. Bekerja dengan penuh semangat sembari merapatkan dua hati agar tetap semakin dekat.
Sore nanti, Alina izin pulang ke rumah untuk menengok keadaan papanya. Sekesal apa pun, Pak Willy tetaplah ayah kandung. Orang yang telah membuatnya ada di dunia ini. Adnan tak bisa mengantar. Ada pekerjaan urgent yang harus ia selesaikan.
"Jadi, kamu mau nginep apa pulang?" tanya Adnan saat hanya mereka berdua di ruangannya.
"Pulang dong, Mas," jawab Alina cepat.
"Jangan lupa arah jalan pulang. Pakai GPRS, nanti nyasar ke tetangga sebelah."
"Wah, bagus itu, Mas. Kebetulan tetangga kita cowok ganteng."
Tangan seketika berhenti saat tengah mendatangi sebuah dokumen. Matanya melirik ke arah istrinya. "Kamu berani deketin tetangga?"
"Kalau deketin mah, berani."
Adnan selesai mendatangani. Berdiri, berjalan empat langkah ke depan membuat Alina mundur ke belakang. "Mas, mau apa?"
"Menurutmu?" Adnan menyunggingkan senyuman. Menarik pinggang Alina, mengikis jarak di antara keduanya. Kedua netra itu saling berpandangan. Melupakan sejenak setumpuk pekerjaan. Adnan semakin mendekatkan wajah, dan Alina mulai memejamkan mata. Tiba-tiba suara seseorang mengangetkan mereka hingga membuat tangan Adnan melepaskan pinggang Alina begitu saja.
"Aduh, mata gue ternodai!" teriak Riki yang masuk tanpa permisi. "Pak Direktur, inget! Ini kantor, bukan rumah!"
Alina menunduk, malu. Mukanya memerah seperti tomat. Sementara Adnan berjalan tenang kembali ke tempat duduk tanpa berdosa sekalipun.
"Alina, kamu bisa keluar dari ruangan saya," perintah Adnan dingin. Cara bicara Adnan mendadak formal.
Alina keluar dengan menghentakkan kaki, kesal. Bisa-bisanya lelaki itu bersikap demikian setelah kejadian mesra barusan. Seperti kacang yang lupa kulitnya. Alina mengomel dalam hati sampai ia kembali di tempatnya.
"Suami triplek emang!" omel Alina sembari memainkan komputernya.
Di ruangan, Adnan dan Riki berbicara perihal perancangan keuangan proyek yang akan selesai di daerah Tangerang. Banyak penagihan masuk dari pihak kontraktor. Dan, bagian keuangan sedang memprosesnya.
"Semua harus masuk sebelum pertengahan bulan. Kita juga butuh waktu untuk mencairkan dana dahulu," ujar Adnan.
"Iya, gue tau." Riki memperhatikan Adnan yang tampak gusar. Apa kehadirannya menggangu kemesraan pengantin baru ini? Mungkin bisa dikatakan iya.
"Nan, Lo kenapa?" tanya Riki penasaran.
Adnan terperanjat kaget. Ada perasaan aneh yang terus menyelimutinya hari ini. Sebuah kecemasan yang hadir tiba-tiba tanpa di undang. Mengusik ketenangannya, berhasil mengobrak-abrik jiwanya. Namun, berusaha menutupi dari sang Istri.
"Lo sakit?" Riki kembali bertanya. Tampaknya lelaki itu semakin dihantui rasa penasaran.
Adnan menggeleng.
"Terus?"
"Perasaan gue engga enak dari pagi."
"Ya, tinggal enakin aja pake garam, gula, sama penyedap rasa."
Jangan kaget. Riki adalah tipe lelaki yang lihai dalam urusan memasak. Di rumah, ia sering membantu mamanya. Sehingga, ia hapal betul segala perdapuran termasuk bumbu. Berbeda dengan Riki, kembarannya justru tak bisa apa-apa. Riko, lelaki itu banyak diam di kamar. Mengunci diri layaknya seorang gadis yang tengah dipingit.
Adnan memberikan tatapan tajam pada Riki. Seolah ia sedang tidak ingin bercanda kali ini.
"Ampun, Pak Direktur." Riki beringsut dari tempat duduk sembari membawa dokumen yang ia telah ditandatangi Adnan. "Gue kerja dulu. Cari uang buat bekel nikah."
Riki berjalan mendekati pintu menyisakan Adnan sendirian di ruangannya. Masih bergelayut bersama hati yang mencoba menebak apa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Ah ... ini benar-benar membuat kacau.
Di luar, Riki melirik sekilas pada Alina. Tersenyum simpul, lalu berniat menemui Riko di ruangannya di lantai 6. Namun, kekecewaan yang ia dapati. Riko, lelaki itu tidak ada di ruangannya. Riki akhirnya memutuskan kembali ke lantai 5. Saat keluar dari lift, matanya menangkap sesuatu. Dua orang insan tengah berbicara yang jaraknya hanya 3 meter dari lift. Sayup-sayup terdengar perbincangan keduanya.
"Kamu sudah keluar rumah sakit?" tanya Riko. Orang yang dilihat Riki tengah bersama Lily.
"Sudah, Pak. Perawat mengizinkan pulang tadi pagi," balas Lily sembari menatap lekat. "Katanya, Pak Riko yang menanggung biaya saya di rumah sakit. Totalnya berapa, Pak? Habisa gajian, In Syaa Allah saya bayar."
Riko tidak langsung menjawab. Netranya mencoba menyelusup masuk ke mata Lily. Mencari sesuatu yang ganjal dari gadis di hadapannya. "Kapan kelulusanmu?"
Pertanyaan Riko berhasil membuat Alis kanan Lily terangkat. Untuk apa atasannya ini menanyakan perihal kelulusan? Apa dia mau mempersulitnya? Bisa terjadi bukan? Semua bisa dilakukan saat uang telah berbicara.
"Maaf, Pak. Untuk apa, ya, Pak Riko menanyakan kapan saya lulus? Bukannya ini tidak ada hubungannya dengan insiden kemarin?" Lily mulai berani mengutarakan benak di hatinya.
"Saya ingin menangih biaya rumah sakit di hari kelulusanmu."
Riko berbalik usai mengatakan itu, meninggalkan Lily yang kebingungan sendiri. Sesekali menggaruk kepalanya, karena tidak mengerti.
"Maunya apa, sih?" gumam Lily kesal sembari melangkah kembali ke tempat duduknya.
Tanpa mereka sadari Riki memotret keduanya dari belakang. Ide gilanya muncul untuk menggoda Riko.
"Gue kirim ke Papa, biar langsung dikawinin tuh si Abang Riko! Eh, dinikahin maksudnya. Emang kambing dikawinin," ujar Riki. Berjalan menyusul Riko.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment, dan vote🥳🥳