NovelToon NovelToon
JODOHKU MAJIKANKU

JODOHKU MAJIKANKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:92.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nie Junie

Risha yang akan dijodohkan memilih kabur dari rumahnya, dan akan bertahan dengan bekerja menjadi ART.

Namun siapa sangka ternyata tempat ia bernaung adalah rumah lelaki yg akan dijodohkan olehnya.

Bagaimana Risha mengahadapi perjodohan ini, bagaimana lika liku yang akan dihadapi Risha?

Nantikan ceritanya disini yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27 - SIAPA

Hari ini semua keluarga sedang bersiap kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Risha akan pergi kuliah, Iki dan Vina akan pergi bersekolah, Pak Bagas, Pak Razak dan Rayhan akan pergi ke perusahaan, Bu Rini dan Bu Dian akan menghadiri penggalangan dana di panti asuhan tempat mereka selalu memberikan santunan. Mereka semua masing-masing akan pergi dengan dikawal bodyguard yang sudah datang sejak shubuh.

Seperti sebelumnya Risha menyiapkan keperluan Rayhan dari bangun tidur sampai ia akan berangkat ke kantor, begitu juga yang dilakukan oleh Bu Dian dan Bu Rini kepada suami mereka. Vina yang melihat kegiatan para wanita dewasa hanya menggelengkan kepalanya, memutar bola matanya dan duduk lesu di meja makan.

"Kenapa Dek? Ga semangat" Bi Zah menghampiri Vina dan menaruh makanan juga susu untuk Vina sarapan.

"Adek ngelihat mereka para wanita dewasa repot banget kalau pagi. Apa harus gitu terus Bi?" tanya Vina heran.

"Ya ga Dek, kalau libur kan ga sibuk. Adek nanti jaga diri baik-baik ya, kabarnya lagi banyak orang jahat." Bi Zah memperingati karena ia sudah tahu berita yang beredar di keluarga ini, Vina mengangguk.

Bu Dian, Pak Bagas, Bu Rini, Pak Razak dan Iki sudah berada di meja makan menyusul Vina yang sudah lebih dulu berada di sana. Mereka kemudian bersiap untuk sarapan karena makanan sudah dihidang sesuai pesanan mereka tadi malam.

"Risha sama Ray mana?" Pak Razak bertanya karena tak melihat anaknya dan Rayhan di meja makan.

"Biasa Om, Kak Sha sama Kak Ray paling telat. Kak Ray manja banget sama Kak Sha" ucap Vina, ia memang tak pernah memfilter ucapannya walau yang dibicarakan adalah kakaknya.

"Biasa gitu ya Gas anak kamu? Kaya bapaknya ya" ucap Pa Razak meledek Pak Bagas.

"Iya Zak, aku aja ga sangka sejak ada Risha, Ray bisa banyak berubah. Aku aja ga tau gimana ceritanya mereka bisa sampai bersama sekarang, antara bangga dan bingung." ucap Pak Bagas menimpali.

Mereka yang mendengar ucapan Pak Bagas langsung tertawa karena apa yang diucapkan Pak Bagas memang ada benarnya. Dan bersamaan dengan itu orang yang dibacarakan turun dari lantai dua.

"Pada kenapa? Kok senang banget?" tanya Risha yang hanya lewat meja makan karena ia segera ke dapur untuk membuatkan sarapan Rayhan.

"Ga ada apa-apa kok sayang." Bu Dian yang menjawab dan langsung segera menutup mulutnya menahan tawa.

Risha tak menaruh curiga apa-apa pada mereka karena ia tak ambil pusing. Ia langsung membuat sarapan untuk Rayhan dan untuknya. Dengan cekatan ia membuat nasi goreng seafood dibantu dengan Bi Zah sedikit-sedikit.

Saat Rayhan sudah datang ke meja makan Risha pun sudah hampir selesai. Ia langsung meminta Bi Zah untuk meletakkan dua gelas teh hangat untuknya juga Rayhan di meja makan, sementara ia mengisi piring saji dengan nasi goreng yang sudah matang.

Risha datang ke meja makan membawa dua piring nasi goreng seafood ditangannya.

"Makasih yang" ucap Rayhan saat Risha sudah meletakkan sepiring nasi goreng di depannya.

"Sama-sama" ucap Risha sambil duduk di sebelah Rayhan dan bersiap menyantap sarapan mereka.

Saat mereka masih sibuk dengan sarapan masing-masing terdengar langkah seseorang terburu-buru menuju meja makan. "Hai semua" Esa dengan santainya melambaikan tangan kepada semua yang berada di meja makan tak terkecuali kepada Pak Razak dan Bu Rini.

"Esa kok lo udah sampai?" tanya Rayhan heran karena Esa mengatakan kalau ia akan pulang hari ini.

"Iya bokap lo yang suruh gue ikut penerbangan malam tadi. Bi minta kopi ya." Esa langsung memesan minumannya.

"Kaya dirumah sendiri aja lo!" kesal Rayhan mengusap wajah Esa dengan telapak tangannya.

"Aduh Ray, ngapa sih lo!" Esa langsung menepis tangan Rayhan dan melemparkannya asal.

"Gimana Esa ada kabar?" tanya Pak Bagas yang sedari tadi hanya diam.

"Iya om, Esa punya banyak kabar. Ehm di kantor aja Om." kata Esa sambil melirik ke arah para wanita.

"Oh oke" Pak Bagas menganggukkan kepalanya mengerti maksud Esa.

*******

Di Kampus

Suasana kampus hari ini seperti biasanya, terlihat lalu lalang para mahasiswa yang akan bersiap mengikuti mata kuliah pagi. Tak jauh dengan dua wanita yang bersahabat, mereka sudah akan masuk ke kelas saat ada seseorang yang sangat mereka kenali memanggil nama mereka, "Risha, Andini!" pekik Marko.

"Loh lo telat Ko?" tanya Andini.

"Ya ga lah, kurang dua menit lagi." Marko melihat jam tangannya di pergelangan tangan kirinya kemudian mengangkat jari tengah juga telunjuknya membentuk huruf V.

"Ya ampun perhitungan banget dua menit aja diitung" sahut Andini mereka akhirnya masuk kelas bersamaan dan duduk di kursi yang sejajar agar bersebelahan namun tidak pada Marko, ia memilih duduk di deretan kursi belakang.

"Ko lo ngapa duduk disitu?" tanya Risha heran karena biasanya Marko akan duduk disebelahnya atau disebelah Andini.

"Ga apa, gue lagi males aja hari ini. Gue disini aja dulu Ris" elak Marko, padahal ia sedang malas dengan hatinya yang belum bisa merelakan Risha.

"Eh Ris lo ga aneh apa lihat Marko?" kata Andini saat mereka sudah memutar balik badannya agar menghadap ke depan kelas karena dosen sudah datang.

"Aneh napa An?" Risha mengernyitkan keningnya, bingung.

"Dia ga biasanya kaya gini. Terus kemarin sebelum lo sakit, dia juga aneh" Andini mencoba memberikan beberapa bukti lagi kepada Risha.

"Hmm..anehnya?" Risha makin heran ia menopang dagunya, mode akan berpikir.

"Kamu berdua! Jangan ngobrol aja, apa mau pindah ngobrolnya di luar kelas?" Dosen yang berada di depan ternyata tengah memperhatikan Risha dan Andini yang sedari tadi berbisik.

"Maaf Pak" ucap Risha dan Andini bersamaan.

"Nanti lagi" bisik Risha dan dianggukkan oleh Andini.

*******

Di Kantor

"Pi, apa benar menurut papi yang mau jahat itu kawan lama papa?" tanya Rayhan saat mereka berempat sedang berada di ruang CEO.

Pak Bagas, Pak Razak, Rayhan dan Esa kini sedang berdiskusi tentang siapa dalang dibalik semua ini. Apa maksud dan tujuannya. Lagi pula siapa yang sangat jahat?

"Menurut papa bukan Ray" ucap Pak Razak, ia berjalan mendekat ke meja Pak Bagas dengan tangan yang satunya memegang gips.

"Kalau dari bukti mengarah ke orang yang kamu pecat Sa" Pak Bagas kali ini yang bicara berdasarkan data yang didapat dari orang-orang terpercayanya.

"Itu Ray yang suruh pecat Om" sanggah Esa tak mau disalahkan.

"Wajar dong dipecat, provokasi, korupsi, belum lagi mengubah data perusahaan seenaknya" Rayhan pun kekeh pada pendiriannya.

"Bagaimana kalau dia cuma kaki tangan?" Esa mengutarakan pendapatnya.

"Kenapa?" Pak Bagas bingung dengan ucapan Esa.

"Sepertinya dia ga punya banyak kekuatan buat lakuin hal aneh macam ini. Dan lagi dia ga kenal sama Om Razak" ucap Esa dengan argumennya.

"Jadi maksud kamu ada orang lain lagi?" tanya Pak Razak raut wajahnya tak terbaca, khawatir? Jelas. Esa hanya menganggukkan kepalanya.

"Mobil Iwan? Siapa yang buat?" Rayhan kini yang bertanya pada Esa karena sedang mencoba mencari benang merah dari semua kejadian.

"Itu semua bosnya yang buat. Gimana masuk akal ga detektif-detektifan aku Om?" Esa malah balik bertanya pada para tetua di sana, membuat Rayhan memutar bola matanya.

"Serius Esa!" kesal Rayhan ia sudah tak tahan berpikir menerka-nerka seperti ini.

"Bisa jadi seperti yang Esa katakan. Kita tunggu Iwan, kita tanya kejadian detailnya. Ray kamu jangan sampai lengah." Pak Bagas menimbang-nimbang apa yang Esa katakan dan memperingati Rayhan. Rayhan mengangguk tanda mengerti.

"Ya udah Om, Esa sama Ray mau meeting dulu di luar." Esa kemudian berjalan menuju pintu keluar bersama Rayhan, mereka pun hilang dibalik pintu saat sudah tertutup.

Tinggallah dua orang pria yang sudah tak lagi muda sedang berpikir keras dengan apa yang tengah terjadi di hidup mereka.

"Semoga apa yang kita takutkan jangan sampai kejadian ya Zak" Pak Bagas menepuk pundak Pak Razak pelan, memberi dukungan kepadanya. Pak Razak hanya mengangguk.

"Aku harap incarannya hanya antara kita Gas, jangan keluarga kita." kata Pak Razak, kemudian ia duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut sambil berpikir.

"Kita keluar dulu Zak, makan siang." ucap Pak Bagas, mereka kemudian bersama menuju restoran terdekat dengan kantor agar menghemat waktu tanpa harus kemacetan.

*******

Di Kantin Kampus

Risha dan Andini sedang makan bersama di kantin kampus, Marko sudah ditawari namun ia bersikukuh tak ingin ikut dengan alasan akan pulang saja karena jam kuliah sudah selesai. Ya, jam kuliah mereka memang sudah selesai, namun karena antara Risha dan Andini ada yang harus dibicarakan maka disinilah ia sekarang.

"Menurut lo ada yang aneh ga sama Marko?" tanya Andini basa basi.

"Udah to the point aja. Pengawal gue udah pada nunggu, ga enak gue." ucap Risha melihat disebelah mejanya ada dua pengawal wanita yang sedang duduk terus memperhatikannya.

"Pengawal? Kaya artis aja lo!" sahut Andini, ia pun terkekeh.

"Lo ga tau keluarga gue sama Ray lagi ada musibah. Kapan-kapan gue ceritain ya" Risha menyeruput minumannya yang sudah hampir tandas.

"Eh Ris menurut gue...Marko--" belum selesai Andini bicara langsung di potong oleh seseorang yang memanggil Risha.

"Nona Risha--" ucap salah satu pengawal wanita Risha, Aza.

"Risha aja Kak Aza" potong Risha karena merasa tak enak bila dipanggil seperti itu.

"Maaf tapi prosedur kami tidak boleh memanggil demikian" jawab Aza dan dianggukkan oleh Lea, teman Aza sesama pengawal Risha.

"Mbak aja Ris" usul Andini.

"Baik bagaimana kalau Mbak?" tanya Aza kepada Risha, ia pun menganggukkan kepalanya.

"Kenapa tadi Kak Aza?" tanya Risha kemudian.

"Kita sudah ditunggu oleh Tuan Rayhan di kantor Mbak" ucap Aza karena ia mendapat pesan dari Esa yang sudah pasti diperintah langsung oleh Rayhan.

"Iya sebentar lagi ya Kak" Risha menyeruput lagi minumannya sampai tandas.

"Tadi lo mau ngomong apa An?" Risha menghadapkan badannya ke arah Andini agar lebih nyaman bicara tanpa merasa was-was dengan adanya para pengawalnya.

"Menurut kacamata gue, Marko suka sama lo Ris" ucapan Andini membuat Risha hampir tersedak, ia pun menelan ludahnya dengan susah payah.

"Jangan bercanda lo!" sinis Risha, ia pun melirik ke arah para pengawalnya.

"Sumpah, soalnya gue pernah tanya ke dia, dan dia lagi fokus liatin lo jadi jawabannya langsung keluar dari hati" ucap Andini lagi meyakinkan.

Risha yang mendengar hal itu langsung diam seribu bahasa, ia merasa tak enak dengan Marko, selama ini Risha hanya menganggapnya sebagai sahabat tak lebih dari itu. Andini yang sudah selesai dengan makannya mengajak Risha untuk segera pulang mengingat sahabatnya sedang ada janji dengan kekasihnya.

"Ris lo jangan kepikiran ya." ucap Andini lagi, Risha hanya mengangguk. Ia sedang mencerna semua perlakuan Marko kepadanya, apakah bisa dikatakan Marko memang menyukainya jika ditilik dari setiap perlakuannya dan Risha menyatakan ya, sepertinya seperti itu.

Risha menghembuskan nafasnya kasar, ia tak menyangka persahabatannya dengan lawan jenis berakhir seperti ini. Ia tak mau, karena memang rasa yang ia miliki tak lebih dari ini. "Maaf Ko" lirih Risha mengatakannya saat akan beranjak dari kantin menuju parkiran kampus.

Risha mengajak Andini untuk pulang bersama, walau mereka berlawanan arah Risha ingin sekali masih bisa bersama Andini karena ia ingin bercerita banyak dengan Andini tentang apa yang tengah keluarganya alami. Paling tidak ia sudah mengeluarkan sedikit keluh kesahnya.

"Serius lo sampai segitu jahatnya tuh orang mau celakain keluarga lo?" tanya Andini terkejut dengan apa yang baru saja Risha ceritakan.

Ia tak menyangka kini Risha dan keluarganya juga keluarga kekasihnya sedang dalam keadaan bahaya, namun Risha masih bisa terlihat tenang. Tapi jelas berbeda dengan apa yang dirasakan Risha sebenarnya hatinya selalu khawatir, namun karena ia selalu berpikir positif hal itupun bisa ia tepis.

*******

Di Rumah Keluarga Stanley

"Pa, pokoknya Adly ga setuju dengan keputusan papa seperti ini. Papa lepaskan mereka atau Adly ga mau akuin papa adalah papa Adly" ucap seorang pria tinggi berwajah blasteran, ia sedang bersitegang dengan papanya.

"Ini bukan hanya masalah kamu Adly, tapi juga menyangkut dendam papa sama kekasih orang yang kamu cintai itu!" teriak sang papa menggema disemua sudut kamar pria tadi.

"Papa ga tau kalau cinta bisa bahagia meski tak bersama, asal yang kita cintai menemukan kebahagiaannya pa" ketus pria blasteran tersebut.

Pria paruh baya yang sudah menginjak usia hampir setengah abad tersebut diam, ia sedang berpikir. Apa yang membuat anaknya begitu kuat saat ini, sedangkan saat ia dalam kondisi ini dulu, ia sangatlah frustasi.

Kisah tragis anaknya mengingatkan dengan kisahnya sendiri yang harus kandas sebelum ia berjuang. Ya kisahnya sama persis dengan anaknya karena sama-sama tak punya keberanian yang cukup untuk mengungkapkan.

*******

Sore hari pada hari ini adalah yang paling ditunggu Risha dan keluarganya. Iwan akan sampai di Indonesia pada hari ini, dan akan dijemput oleh Rayhan. Bagi Risha tak apa jika ia tak bisa menjemput kakaknya asalkan ia selamat sampai rumah.

"Hati-hati ya sayang" ucap Risha saat Rayhan sudah siap dengan mobilnya yang berada di depan pintu utama.

"Iya sayang. Kamu sabar nunggu ya." balas Rayhan, ia mengelus puncak kepala Risha.

"Nanti kabarin kalau ada masalah ya Ray" Pak Bagas memperingati.

"Tenang pi, kan Ray udah pakai pengawal." ucap Rayhan tersenyum ke arah orangtuanya kemudian beralih ke arah Risha.

"Aku berangkat ya. Pi, pa, ma, mi Ray berangkat ya. Vina, Iki jagain keluarga kita ya" ucap Rayhan saat berpamitan ia memandang satu per satu keluarganya dan keluarga Risha.

Mereka melepas Rayhan menjemput Iwan dengan di kawal satu mobil pengawal dibelakangnya dan juga Esa tentunya di samping supir.

Saat di dalam mobil mereka pun membicarakan apa yang dibahas tadi pagi tentang seseorang.

"Ray menurut lo Iwan ada informasi apa nanti?" Esa angkat bicara.

"Ga tau gue, semoga informasi dari Iwan sebanyak-banyaknya yang kita butuhkan Sa" Rayhan berkata sambil memandang keluar jendela mobil.

"Semoga aja, kita lihat nanti" ucap Esa mengakhir pembicaraan.

Selepas bicara terakhirnya tadi tak ada lagi diantara mereka yang membuka suara sampai mereka tiba di tempat tujuan, Bandara Soetta.

Sampai di bandara Rayhan langsung melihat jadwal kepulangan dari negara Iwan, ternyata sudah landed dari sepuluh menit yang lalu. Ia menyapu ke semua tempat, melihat dimana Iwan berada dan pandangannya berhenti di satu titik, pria yang telah lama tak ia tatap wajahnya.

"Iwan!" teriak Rayhan memanggil Iwan yang berada di seberangnya.

1
nisa
mksih kk ok critanya👍👌
Dewi Anggriani Efendi
ZzzZu
Anyta Djami Lay
visualnya
Aldy Yhla
💖💖💖💖
nie junie
buat pembaca novelku ini, yang mau ikutin kisah anaknya Risha dan Rayhan bisa ke apk yang lambangnya G ya...
terima kasih semua...
salam sayang...
TK
👍
StrawCakes🍰
aku mampir kak💖
StrawCakes🍰: sama-sama kak Junie
total 2 replies
❤ yüñdâ ❤
modus oohh modus 😂😂😂
nie junie: harus dong kak...biar tambah lengket 😂😂
total 1 replies
Bang Regar
👍👍👍👍👍👍
❤ yüñdâ ❤
nerus lg bacanya 🙈🙈🙈
nie junie: maacih kak yun 😗😗
total 1 replies
Neti Jalia
10 like untukmu🤗🙏
🜲 P̶e̶a̶c̶e̶M̶i̶n̶u̶s̶O̶n̶e̶
hmmm
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
next
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅
tap tap neng
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅: udah masuk list..sabar ya🤣
total 2 replies
TK
salam Anne dan Anna 🙏✌️
TK
next Thor
🌷Srie❤💋🍆
baru mampir lg
Rahmalia Maricar
next kak
TK
2 jejak semangat
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ ve
Siapa yg tergila-gila dengan mama Risha, sehingga anaknya jadi korban penculikkan 😱

Semangat thor nie 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!