Stop plagiat!!
Dan ini karya prematur, jadi jangan bandingin sama Kun.. Ini genre romance bukan detektif, jadi jangan nyari teka-teki di sini. Kalau mau mecahin teka-teki, belilah buku teka teki silang 😗
.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) -Ir. Soekarno.. atau maksudku, jangan sekali-kali merubah sejarah...
Aku seorang gadis bernama Ayu yang benar-benar mencintai sejarah romantis tentang Raja Anggara namun aku malah begitu membenci ratu yang bersamanya.
Dia pengkhianat dan tak pantas untuk raja.
Ya, itu yang sebelumnya selalu ku katakan, sebelum aku terdampar pada masa-masa berdirinya kerajaan yang di pimpin oleh Raja Anggara..
Ternyata... ini yang sebenarnya terjadi..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkhianat??
*Author POV
Dengan sigap Raka segera membenamkan kepala Ayu di dalam tempat tidurnya, tepat ketika teman-temannya terbangun.
Ia menutupi kepala Ayu dengan selimut untuk menyamarkan kehadiran gadis tersebut. Sementara Ayu langsung menahan napas karena mencium bau aneh dan menyengat di hidungnya.
Wajah Raka nampak kikuk meskipun datar. Dengan mata sembab, teman-teman sekamarnya menoleh ke arah lelaki tersebut.
"Suara berisik apa itu?" Keluh Dibong yang berbadan gempal, sembari mengucek mata dengan liur yang membanjiri pipinya.
"Ah!! Aku tidur larut semalam, sekarang apa yang membuatku terbangun dengan teriakannya ini?" Si kurus Yayan pun ikut mengeluh.
"Uuph!! Kakinya bau sekali!!" Gerutu Ayu di dalam hati, sambil berusaha beranjak untuk menghirup udara yang lebih wajar. Mengetahui hal tersebut, Raka langsung menginjak pipi Ayu dengan telapak kakinya. Membuat gadis tersebut kembali terbenam di atas kasur.
"Aku mendengar suara teriakan perempuan? Apakah telingaku salah?" Kini Ikal mulai melirik teman sekamarnya satu-persatu.
Raka hanya terdiam, namun diam seperti itu tentu akan membuat orang-orang mencurigainya. Ia mulai memutar otak untuk membuatnya terbebas dari kecurigaan.
"A.. aku juga terbangun karena hal itu. Tapi, mungkinkah ada perempuan yang tiba-tiba masuk ke kamar prajurit?? Tentu itu hal yang bodoh dan mustahil." Ujar Raka hingga membuat Ayu merasa kesal.
"Bodoh apanya!! Harusnya aku yang bertanya, kenapa kalian ada di kamarku!!" Bisiknya sambil mengerekatkan gigi.
"Apakah kita bermimpi karena terlalu kelelahan?" Dibong mulai menyeka air liurnya.
"Ku rasa tidak. Kalau salah satunya bermimpi, tak mungkin semua yang berada di ruangan ini terbangun dan mendengarkan suara serupa. Pasti memang ada yang menyimpan wanita di kamar ini." Ikal mulai beranjak dari atas tempat tidurnya. "Biar aku yang memeriksanya." Lanjutnya hingga membuat Raka terbelalak.
"Gawat!! Kalau begini.. Ayu akan ketahuan!!" Gerutunya di dalam hati. Sementara Ayu mulai kehilangan oksigen karena tak tahan dengan bau kaki Raka.
"Gila!! Aku bisa mabuk karena bau ini!!" Keluhnya dalam hati sambil menutup hidung sembari memasang gaya mual.
Kaki Ikal pun mendarat di atas lantai, membuat seisi ruangan mendapati kegugupan serupa. Mereka nampak terkejut, sementara Ikal tak menyadari apa yang membuat teman-temannya terlihat heran begitu.
"Aku akan memeriksa.. satu persatu tempat tidur kalian." Lanjutnya dengan wajah yang menyeringai, sementara Yayan menatap heran ke wajah Raka dan Dibong. Ia pun hanya bisa menghela napas panjang.
"Sebelum kau hendak melakukan itu, sebaiknya pakai dulu celana mu itu!! Kau mau berkeliling kamar tanpa celana? Benda menggantung itu bahkan lebih kecil dari punyaku meski hanya tertutup dalaman, jadi pakailah sesuatu agar kau tak merasa malu!!" Mendengar perkataan Yayan, Ikal langsung tersentak kaget dan menunduk ke arah bawah selangkangannya. Wajahnya seketika memerah dan ia langsung menutupi auratnya dengan tangan.
"Oh!! Ehe!! Aku lupa memakai baju. Aku selalu tidur telanjang, jadi..." Ikal yang merasa malu langsung melompat kembali ke atas tempat tidurnya. "Lupakan dan tidur saja lagi. Ini masih terlalu pagi untuk bangun!!" Ujarnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ku bilang juga tak terjadi apa-apa. Mungkin saja itu suara para bangsawan yang sedang paduan suara." Ucap Dibong asal, sambil kembali berbaring dan memunggungi teman-temannya.
Yayan pun melakukan hal serupa, dan Raka berpura-pura ikut tertidur lagi. Namun tentu saja, Ayu langsung mencubit tubuh Raka ketika berbaring di sampingnya.
"Kau mesum!! Menjauhlah dariku!!" Geramnya sembari berbisik.
Raka hanya menatap datar ke wajahnya. "Diam atau ku bunuh kau!! Kalau sampai kau ketahuan, aku akan menendang tubuhmu ke dasar jurang!!" Ancam Raka hingga membuat Ayu membungkam mulutnya sendiri.
Beberapa saat setelahnya, Raka kembali memeriksa apakah teman-temannya sudah tertidur atau belum. Setelah di rasa aman, Raka segera mengenakan baju dan menyeret Ayu keluar perlahan-lahan.
Mereka keluar bersama dan Raka membawanya ke tempat yang di rasa aman, jauh dari gedung prajurit. Ayu yang terdesak berusaha melepaskan cengkraman Raka pada lengannya.
"Hei!! Lepaskan!! Kau mau mematahkan tanganku ya?!" Bentak Ayu sambil menampik tangan Raka, membuat lelaki itu berhenti menyeret Ayu.
"Kau sudah gila?? Berhentilah menyusahkan orang lain!!" Sahutnya, terdengar sangat kesal.
Ayu mengernyit tajam memandangnya. "Kau sendiri yang mesum!! Bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?!" Pekiknya.
"Jelas-jelas itu kamarku!! Apa kau kira aku akan menyelinap ke dalam kamarmu dan membawa ketiga temanku beserta kasurnya?!" Perkataan Raka membuat Ayu terdiam.
"Aah.. kau benar juga." Gerutunya pelan. "Kalau begitu, bagaimana caranya kau membawaku ke kamarmu?!" Lanjut Ayu lagi. Ia benar-benar tak mau kalah dari Raka.
Raka yang kesal mulai meremas rambutnya sendiri. "Apa aku perlu menghantam kepalamu ke dinding supaya kau berhenti berbicara sesuatu yang gila dan tak masuk akal?! Kau berada di sini saja sudah cukup mengejutkanku, sekarang bagaimana bisa kau muncul di dalam selimutku?" Perkataan Raka membuat Ayu terbelalak.
"Sekarang aku jadi tabib di istana ini!! Kau tak lihat bajuku?!" Ucapnya, terdengar mengeluh.
Raka sejenak memandangi baju yang tengah di kenakan oleh Ayu. "Bukan itu maksudku!! Tapi bagaimana kau bisa berada di dalam kamarku?! Apa kau mengikuti ku, dan sengaja masuk ke istana hanya untuk melakukan ini?"
"Pih!! Kau kira aku ini tidak waras?!"
"Memang begitu kan kenyataannya!! Kau kira apa yang bisa menjelaskan tentang seorang wanita yang masuk ke kamar pria, dan berbaring di sampingnya?!" Ayu mengerling, terdiam sambil mendecakkan lidahnya. Membiarkan Raka memandangnya dengan penuh kekesalan.
"Iya juga ya.. kenapa aku bisa berada di dalam kamarmu?? Dan apakah, gedung yang tadi itu.. adalah gedung prajurit?" Gumam Ayu sambil memandangi Raka dengan raut bingung.
Sedetik kemudian, Ayu langsung terkesiap kaget. Ia memandangi Raka dengan alis yang terangkat lebar.
"Aku baru ingat. Kalau tak salah, semalam aku pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Lalu aku tertidur dan di bangunkan oleh pengawal yang menjaga di depan perpustakaan."
"Dalam keadaan mengantuk, aku berjalan menuju gedung tabib dan memasuki kamarku. Dan ketika aku terbangun, aku telah berada di kamarmu. Bukankah itu aneh?" Tanyanya panik sambil memasang wajah takjub.
"Aneh apa? Kau sudah pasti melindur sambil berjalan!!" Balas Raka, membuat wajah Ayu seketika memerah.
"Ma.. mana mungkin aku melakukan itu?!" Dalihnya. "Lagi pula kakimu itu bau!! Kau malah meletakkannya di atas wajahku!!"
"Siapa suruh kau muncul tiba-tiba di depan teman sekamarku!!" Balas Raka. "Sebaiknya kau pergi yang jauh dan jangan muncul di hadapanku!!"
Ayu langsung tersentak kaget. "Dasar!! Masih saja kasar! Padahal sebelumnya, kau berlaku baik padaku." Ucap Ayu, sambil mendengus.
"Itu karena kita akan jarang bertemu. Makanya aku begitu. Melihatmu mengenakan baju tabib, berarti kau akan tinggal di sini dan mungkin saja aku bisa melihatmu setiap hari! Kecuali kalau aku menghindarimu!"
"Ia terus membentak, bahkan sekasar-kasarnya omongan Kun, ia masih berlipat-lipat lebih lucu perkataannya meskipun tajam dari pada orang ini." Batin Ayu dalam hati.
"Kau bodoh!! Mau kau menghindari atau tidak, kau akan tetap melihatku setiap hari!"
Kini Raka mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
"Mulai sekarang aku menjadi tabib prajurit, jadi kalau salah satu di antara kalian ada yang terluka, maka aku yang akan menyembuhkannya."
Raka membelalak mendengarnya. "Apa kau bilang? Tabib prajurit??" Ia mengulangi perkataan Ayu dengan nada yang kurang meyakinkan.
"Tentu saja!!"
"Jadi kau meninggalkan ibuku?? Aku kan sudah menitipkannya padamu!!" Gerutunya.
"Soal itu.. maafkan aku. Tapi, aku sudah meminta tolong Nur untuk menggantikan ku!!"
Raka langsung mendecakkan lidah dengan wajah yang terlihat marah. "Aku sudah berusaha mempercayakanmu, dan ternyata apa? Kau mengkhianati kepercayaan ku!!" Ayu langsung terkesiap mendengar perkataannya.
"Ti.. tidak seburuk itu kok. Aku kan cuma-"
"Benar kan apa yang ku bilang! Setiap kali aku mempercayai seseorang, pasti dengan mudahnya orang-orang itu mengkhianati kepercayaanku." Sergah Raka, membuat Ayu seketika bungkam.
Raut wajah gadis itu seolah bersalah dan penuh sesal. Ia menggenggam kedua tangannya dengan erat. "Aku kan cuma-"
Raka langsung pergi melongos dari hadapan Ayu, bahkan sebelum Ayu sempat menyelesaikan perkataannya. Ayu terdiam dengan wajah yang merungut dan mata yang berkaca-kaca, membiarkan tubuh Raka semakin menjauhinya.
"Apa aku jahat? Padahal.. aku kan cuma ingin berada di dekatnya, dan merawatnya ketika ia sakit." Gumam Ayu seorang diri.
"Aku tak berkhianat, aku tak mungkin melakukan itu pada orang yang ku sukai. Tapi.."
"Apakah keberadaan ku di sini tak membuatnya senang? Ku kira dia akan berlaku baik seperti kemarin-kemarin."
"Tapi sepertinya aku salah." Ayu terdiam, dengan beban berat yang terasa memenuhi dadanya. Ia sampai berdiri dengan posisi membungkuk, seolah benar-benar sedang memikul sesuatu di pundaknya.
"Ini jelas sekali..."
"Cinta pertamaku.."
"....Malah bertepuk sebelah tangan." Ujarnya dengan suara lirih, dengan beberapa bulir air mata yang mulai jatuh di pipinya.
.......
.......
.......
.......
*Agam POV
Kami berjalan memasuki halaman depan rumah kakek Didi. Pintunya nampak tertutup. Sementara di depan rumahnya di penuhi oleh besi-besi yang terpotong. Sisa dari pembuatan senjata. Dan di sana pun tertulis, kalau di larang mencuri besi itu.
Aku memeluk karung beras dan mengempitnya di antara lenganku, sementara tangan yang satunya ku gunakan untuk membuka pintu.
Aku mempersilakan Kun masuk terlebih dahulu, kemudian aku masuk belakangan sembari menutup pintu.
"Kakek.. kakek tua.." Kun mulai menyapa ketika masuk, sementara aku lebih memilih mengedarkan pandanganku ke sekeliling.
Rumah ini nampak kosong. Ia membiarkan api tetap menyala di pembakaran, dan meninggalkan sebilah pisau yang belum selesai di tempa.
Kami berjalan menuju dapur dan meletakkan belanjaan di sana.
"Saya tak merasakan keberadaan kakek tua.. apakah dia sudah mati di salah satu bagian rumah ini karena serangan jantung??"
"Hus!!" Aku langsung mendengus mendengar ucapan Kun. "Kali aja dia pergi." Ujarku.
Tapi.. meskipun begitu.. entah kenapa aku jadi mencurigai kakek itu. Ia pergi terburu-buru kah, sampai-sampai tak sempat menyelesaikan pekerjaannya dulu.
"Gam!! Cepatlah masak!! Saya sudah lapar!!" Rengeknya.
"Kan tadi lu udah makan cilok di rumah Bu Puput."
Ia hanya menatapku sambil menyipitkan matanya. "Itu sih cuma jadi t*i gigi doang!"
"Jorok lu!! Gue sambit juga entar!!" Ancamku, sambil mengangkat talenan yang hendak ku pakai untuk mencincang daging.
"Wow!! Galak sekali!!" Gumamnya dengan wajah yang meledek.
"Lu tau kemana kakek itu pergi?" Tanyaku sambil mulai memotong daging seukuran dadu.
"Tidak tahu." Singkat Kun.
"Kayaknya, kita harus hati-hati sama kakek itu." Ujarku, membuat Kun menilik menatapku.
"Kau tahu.. sebenarnya kakek itu-"
Kriiieeet....
Kun seketika menutup mulutnya ketika mendengar suara pintu terbuka. Kami menoleh ke arah sejurus, menatap pemilik rumah yang baru saja datang setelah pergi entah kemana.
Ia menatap kami dengan wajah galak dan dengan pandangan yang tidak bersahabat.
"Kakek itu apa?!" Bentak sang kakek, membuat Kun terperanjat dan menutup kedua telinganya.
"Gila!! Kau berteriak sekencang itu pada orang yang tidak tuli!! T*ik kuping saya melompat nih!!" Gerutu Kun dengan nada marah. "Bagaimana bisa saya tak mencium bau-bau kehadiran kakek ini. Apa karena dia bau tanah?" Gumam Kun namun masih terdengar di telingaku.
"Kau juga!! Membicarakan orang tua ketika orangnya tak ada di rumah!! Dasar bocah kurang ajar!!" Balas si kakek sambil duduk di sebuah kursi dan memandangi kami dengan seksama.
"Dari mana kakek tua?" Kun bertanya tanpa basa-basi.
"Bukan urusanmu bocah kurang ajar!!" Balasnya angkuh.
"Dinginnya, seperti kulkas dua pintu." Balas Kun meledek.
"Aku tak tahu apa itu, tapi aku tahu kau pasti tengah mengejekku!!" Tukas kakek dengan nada tinggi. "Aku sedang keluar, cari makan!! Menunggu kalian membuat perut tuaku menjadi sakit!!"
Kun langsung terbahak mendengarnya. "Wooow!! Akhirnya kau mengakui kalau kau tua Bangka!!"
"Kurang ajar!! Ku hajar juga kau bocah!!" Pekik kakek sambil mengangkat tangannya sejajar dengan wajah, seolah bersiap untuk memukuli Kun menggunakan tangannya itu.
Aku mendesah napas panjang, menutup mata sesaat lalu membukanya sembari menatap kakek Didi. "Maafkan kami karena membuatmu kelaparan, kek. Kami mampir ke rumah Bu Puput dan membantunya di sana. Sampai tak menyadari kalau ada pekerjaan yang harus kami lakukan di sini." Ucapku penuh sesal. Aku merasa bersalah sekali karena telah membuat kakek Didi kelaparan begitu.
Mendengar perkataanku, kakek Didi hanya terdiam tanpa menjawab. Tapi dari sorot matanya, aku menangkap rasa bersalah tiap kali aku memperlakukannya dengan baik.
Itu adalah tatapan mata seseorang yang melakukan keburukan pada orang yang memberikan kebaikan untuknya. Lagi-lagi kakek ini melakukannya, dan aku yakin.. dia keluar tak hanya mencari makan, tapi ada suatu hal besar yang telah ia lakukan.
Dan tentu saja hal besar itu meliputi kami berdua.
Aku berbalik, kembali memotong daging untuk santapan kami hari ini. Ketika selesai dan hendak mencucinya, aku melihat ke arah Kun karena merasa dia tiba-tiba saja terkesiap tanpa ada yang mengagetinya.
Dan ketika pandanganku terarah padanya seluruhnya, ku lihat mata hijau Kun menatap lekat ke kakek Didi. Meskipun Kun pandai menyembunyikan bahasa tubuhnya, tapi berada lama di dekatnya membuatku mampu menyadari kalau ia benar-benar terkejut.
Tak ada suara dari kami, berarti Kun sedang mendengarkan suara hati kakek Didi. Lantas yang menjadi pertanyaan ku, apa yang telah di ucapkan kakek Didi di dalam hatinya?
Aku merasa ini akan menjadi hal buruk. Mengajak Kun keluar di detik ini, ketika kami sedang sibuk melakukan pekerjaan dapur tentu akan membuat kakek Didi merasa curiga.
Jadi, aku harus menyelesaikan ini dulu baru menanyakannya pada Kun.
Kun menenggak ludah sambil membantuku. Ia terus mengernyitkan dahi. Itu.. raut ketakutan Kun.
Sebenarnya apa yang telah di ucapkan kakek Didi??
Ah, aku.. merasa penasaran sekali!!!
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
dan belati itu yg akan menikam ayu sendiri