Kematian kakaknya membuat Ayu memiliki hubungan percintaan dengan Angga, polisi tampan yang bertugas mengungkap kasus kematian tersebut, Herman sahabat sekaligus teman kuliah yang telah lama mencintai Ayu ternyata adalah anak dari suami almarhum kakak, apa yang terjadi selanjutnya dengan hubungan Ayu dan Herman, mungkinkah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin baik setelah mereka tahu latar belakang masing masing, bisakah Angga mengungkap pembunuh kakak Ayu yang sesungguhnya ikuti kisah Ayu, Herman dan Angga dalam kisah mawar kali ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Robbiyana Widiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mungkin simpanan
Ayu menutup telpnya sambil tersenyum membayangkan teman semasa abgnya itu, Dewi memang selalu ceria, dia memang teman yang sangat baik, sayangnya komunikasi mereka sempat terputus karena Dewi memutuskan sekolah ke luar kota dan Ayu terlalu sibuk dengan ambisinya agar cepat lulus, sehingga kadang nggak ada waktu untuk sekedar hang out atau ngobrol ngobrol dengannya.
"Sepertinya ada yang lagi seneng nih...dari tadi senyam senyum sambil main hp."
Ayu terperanjat mendengar suara Angga yang tiba tiba sudah Ada di belakangnya.
" Aduhhh..mas Angga ngagetin aja."
" Masa sih? kamu aja yang keasikan main telp sampai nggak denger aku jalan ke sini."
" Hehehehe...iya kali ya. mau aku temenin kemana nih, abis ini? "
tanya Ayu sambil memperhatikan Angga yang sudah siap dan tampak lebih segar dari waktu datang beberapa saat tadi.
" Makan dulu ya. Aku sudah kelaparan."
" Okey..mau makan apa?'
" Kamu dong yang tentuin, aku kan tamu, ngikutlah..tuan rumah mau ngasih makanan apa."
" Nggak gitu mas..aku kan nggak tau mas Angga lagi pingin makan apaan?"
"Apa aja, yang penting makanannya enak, tempatnya bersih dan nyaman."
" Ke resto aja ya..mas bisa pilih sendiri mau makan apa, yang penting makanan Indonesia kan?"
" Apa aja."
Mereka berdua keluar dari hotel menuju restoran yang di pilih oleh Ayu. Restoran itu nampak ramai karena mendekati jam makan siang, Angga memilih private room, karena dia juga ingin sedikit berbincang mengenai pribadi kakak Ayu.
sambil menunggu makanan mereka datang Angga mulai berbincang serius dengan Ayu
" Yu...ada yang mau aku katakan tentang kakakmu. Kamu nggak keberatan kan?"
" Tanya aja, aku nggak keberatan kok, aku juga sudah mulai menerima kematiannya."
" Soal diary kakakmu, aku boleh pinjam?"
" Boleh, tapi diarynya masih di rumah, aku nggak bawa."
" Nggak papa, nanti bisa diambil setelah ini."
" Kakakmu suka bunga mawar?"
" Sepertinya tidak, aku nggak pernah melihat dia ingin menanam atau melakukan apapun dengan tanaman, dia lebih suka dengan binatang seingatku."
" Apa dia pernah bilang kalau dia sedang hamil?"
" Nggaklah mas, dia punya suami saja aku nggak tahu, bagaimana mungkin dia cerita kalau dia sedang hamil."
" Suaminya sudah menghubungimu?"
" Tidak sama sekali, karena kamipun tidak saling kenal."
" Bagaimana dengan status rumah kakakmu yang di Pondok Indah dan aset aset lainnya?"
" Aku nggak tahu."
" Lalu bagaimana dengan biaya hidupmu?"
" Selama ini kakakku sudah memberikan banyak sekali, termasuk uang yang dia transfer ke rekeningku tiap bulan, cukuplah. Aku juga punya deposito dari uang asuransi orangtuaku dulu."
" Notarisnya belum menghubungimu?"
"Belum. Hanya kata Simbok, semua pekerja di rumah kakak selama ini yang menggaji memang bukan kakak langsung, tapi di bayar dari kantor suaminya."
" Kamu tidak ingin menghubungi kakak iparmu?"
" Untuk apa mas?"
Angga tampak mengangkat bajunya sebagai jawaban.
" Aku menghubungi ada urusan apa? kenal saja tidak, lalu tiba tiba aku datang terus bilang, hai kakak ipar....gitu?" tanya Ayu sambil senyum
" Ya nggak gitu juga Yu..tapi seandainya begitu juga nggak salah lo, kan emang dia sudah jadi kakak iparmu?"
" Kapan mereka menikah aja aku nggak tahu, bagaimana aku bisa mengakui dia kakak iparku."
" Kamu pernah bilang, sebelum kematiannya, kakakmu berencana pulang ke Semarang, kamu tahu ada urusan apa?"
"Nggak, dia cuma bilang mau pulang agak lama, jadi minta kamarnya di rapikan, karena sudah lama tidak di tempati."
" Dia tidak ada omongan tentang hal lain?"
" Seingatku tidak ada"
Pembicaraan mereka terputus karena makanan yang di pesan sudah datang, pelayan pelayan itu sibuk menghidangkan berbagai makanan pesanan mereka di atas meja, dan segera undur diri setelah mempersilahkan Angga dan Ayu untuk menikmatinya. Ayu langsung mengambil jus jeruk pesanannya dan meminumnya perlahan. Angga nampak menyiapkan makanan yang akan di makan terlebih dahulu. Mereka tampak bersiap untuk segera makan.
Tanpa banyak bicara makanan yang terhidang segera berpindah ke perut mereka. Hanya sesekali terdengar Angga meminta bantuan ayu untuk menuangkan minuman atau mengambilkan makanan yang letaknya lebih dekat dengan Ayu. Tak berapa lama acara makan merekapun selesai, hanya sepertinya Angga masih ingin berlama lama di tempat itu sambil berbicara dengan Ayu.
" Yu..sambung lagi yang tadi ya"
" Iya."
" Menurut kamu, sifat kakakmu itu seperti apa?"
" Kakakku orangnya baik, keras dan tegas. tapi dia gak tegaan sama orang lain, sebenarnya dia itu gampang sekali terenyuh sama orang."
" Maksudnya gampang terenyuh itu gimana Yu?"
" Gampang terharu. Melihat orang sedih pasti dia ikutan sedih, kadang kebaikannya itulah yang sering orang manfaatin kebaikan kakak."
" Maaf, kamu ada feeling gak orang seperti apa suami kakakmu?"
" Kakakku selama tinggal bersamaku belum pernah sekalipun pacaran, jadi aku nggak tahu pria macam apa yang menjadi seleranya."
" Kalau aku bilang kakakmu itu istri kedua atau parahnya simpanan kamu percaya nggak?" tanya Angga hati hati.
Ayu tampak terkejut dan matanya melotot ke arah Angga sambil memajukan badannya namun tak ada satu katapun yang terucap. Tapi menit berikutnya Ayu tampak menarik badannya mundur dan menghela nafas panjang sambil menunduk dan menyenderkan badannya pada kursinya
" Mungkin saja, karena aku juga nggak tahu kapan mereka menikah, semua sangat mungkin, tapi itu jelas diluar akal sehatku."
konflik antara Anya - Wira - William yg asli dan bener tuh gimana. Trs Wira bilang "Anya itu perempuan ular" , itu jg ga dijelasin lebih detail ularnya dimana.
trs Wira bilang "kalau ttd berkas, jgn pas terburu-buru. Jgn mudah percaya sama siapapun meski asisten pribadimu sendiri" itu jg ga dijelasin gimananya :(
Trs Wira kok tiba2 meninggal tuh gimana
huhh masih ganjel bgtt :(