NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:952.7k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.

********

Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.

Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.

Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.

Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.

Ikuti kisahnya di sini!

Cover: PicsArt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermain Game

"Ayah, apa hari ini Ayah akan ke restauran?" tanya Ayra sembari berjalan meninggalkan rumah Rendy bersama Fachru dan Akmal yang berjalan di hadapan mereka, Hendi juga Mega berjalan di belakangnya bersama Mia dan Farel.

"Iya, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Ayah," tukasnya menunduk agar dapat melihat Ayra. Gadis kecil itu pun mendongak menatap ayahnya. Razka menggandeng tangan Ayra erat. Karena jarak rumah Rendy dan Razka hanya beberapa rumah saja, mereka hanya berjalan kaki saja.

"Siapa tamu Ayah hari ini?" tanyanya lagi, matanya melirik Akmal yang berjalan di depannya. Bocah itu meloncat-loncat ringan dengan tangan yang digenggam Fachru.

"Ayah pun tak tahu ... kau ingin ikut ke restauran?" tawar Razka kembali menunduk menatap Ayra. Gadis kecil itu pun menatap ayahnya. Ia menggeleng.

"Aku di rumah saja hari ini, ingin bermain dengan Kak Dery," jawabnya sembari memalingkan wajahnya ke depan. Razka hanya tersenyum.

Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri. Berganti pakaian biasa. Begitu pun dengan Razka. Karena ia pikir orang yang ingin menemuinya itu, hanya orang biasa. Karena jika rekan bisnisnya, maka sudah pasti akan membuat janji terlebih dahulu.

Ayra yang sudah selesai terlebih dahulu, ia berjalan keluar dari kamar. Menemui mamah Quin yang sedang berada di dapur bersama bu Sum.

"Omah! Aku mau sarapan," ucapnya saat melihat mamah Quin yang sedang meletakkan hidangan untuk makan pagi. Ia tersenyum melihat Ayra yang berjalan memasuki ruang makan.

Mamah Quin menghampirinya, memberikan kecupan di dahinya dan mengangkatnya ke atas. Ia mendudukkan Ayra di atas kursinya. Tak berselang lama, satu per satu anggota keluarga datang ke ruangan itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, semua orang bersantai hari ini, karena ini adalah Minggu. Kecuali Razka dan Fachru yang harus pergi untuk melakukan tugas mereka.

"Bagaimana kuliahmu, Dery?" tanya Razka yang secara rutin selalu menanyakan tentang kuliahnya. Dery tersenyum, "Tak ada masalah apa pun, Kak. Selama ini baik-baik saja dan lancar," tukasnya tersenyum saat Razka menatapnya.

"Bagaimana restauranmu, sayang?" Kali ini pertanyaan itu dilemparkan untuk Emilia. Wanita yang kini beranak satu itu, mengangkat wajahnya menatap Razka yang menanti jawabannya.

"Ada beberapa kendala sedikit, tapi sudah dapat diatasi dengan baik. Selebihnya, tak ada masalah apa pun lagi," katanya kembali menyuapi Akmal setelah melihat Razka mengangguk.

Satu per satu beranjak dari ruang makan, paman Max dan bibi Nuri akan berkunjung ke rumah Rendy. Mamah dan Papah pun, berencana menjenguk anak-anak asuh mereka. Emil seperti biasa, ke restauran bersama Akmal diantar Fachru.

Tinggal Razka dan Ayra di teras, bersama bu Sum yang berdiri di belakang gadis kecilnya.

"Ayah berangkat. Jangan menyusahkan Nenek Sum," ucapnya memberi nasihat. Ayra mengangguk, ia mencium tangan Razka dan dibalas kecupan pada dahinya.

Ayra melambaikan tangan saat motor Razka mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Bu Sum mengajak Ayra untuk masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu utama dan kembali pada pekerjaannya.

"Kakak! Kak Dery!" Ayra berjalan sembari memanggil Dery yang belum ia ketahui di mana keberadaannya.

"Kakak di sini," katanya berbisik dengan memunculkan sedikit kepalanya dari balik sofa di ruang keluarga. Ayra berlari memutari sofa dan duduk di pangkuan Dery yang sudah beranjak terlebih dahulu dari posisi tidur menjadi duduk.

"Kakak sedang bermain?" tanyanya menatap gawai yang sedang dimainkan Dery. Tubuh kecilnya terkungkung kedua tangan Dery yang melingkar. Dery tidak menjawab, ia hanya berdehem sebagai jawaban.

Kedua bola matanya bergerak seirama mengikuti kedua ibu jari yang menari lincah di atas layar gawai.

"Apa yang Kakak mainkan?" Ayra bertanya lagi. Matanya fokus pada layar yang sedang dimainkan Dery.

"Ini hanya permainan angka," tukasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan yang sedang dimainkannya.

"Bagaimana cara mainnya?" Bertanya lagi karena yang ia lihat hanya deretan angka yang berputar-putar di layar.

"Kita harus memecah angka yang sedang bergerak. Itu disebut kode rahasia. Mengacaknya dan jika bisa menjadikannya sebagai senjata makan tuan untuk lawan," jawab Dery sembari terus menggerakkan ibu jarinya bermain di layar gawai nya.

Ayra mengangguk-angguk kecil, ia terdiam dan fokus pada permainan yang sedang dimainkan Dery. Bola matanya bergerak mengikuti gerakan angka yang terus berputar di layar benda pipih itu.

Entah apa yang sedang dilakukannya? Tapi, Ayra sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar gawai di hadapannya.

"Oh, ayolah! Sedikit lagi!" Dery bergumam, terdengar menggeram di telinga Ayra. "Ah!" Ia memekik. Ayra mengernyit, tidak mengerti jalan seperti apa yang diambil Dery.

"Sial!" Ia bahkan mengumpat, saat tidak bisa memecahkan kode lawan yang terus menerobos pertahanannya.

Ayra mendesah, 'jika bermain seperti ini terus, Kakak akan kalah.' Ayra bergumam dalam hati. Ia menggeleng mendengar umpatan dari Dery.

"Ah, gagal!" Dery membanting tubuhnya pada sandaran sofa, kedua tangannya lunglai terjatuh di atas sofa. Ayra meraih gawai yang tergeletak di samping tangan kanan Dery.

Permainan itu telah usai, terapat tulisan failed pada layar. Menandakan Dery telah kalah bermain.

"Kakak, bagaimana caranya mengulang?" tanyanya pada Dery. Ia beranjak memposisikan tubuhnya menjadi duduk. Ayra masih berada di pangkuannya.

"Seperti ini ...." tukasnya seraya ikut memegangi tangan Ayra yang menggenggam gawai. Dery mulai menyetel ulang permainan. Kembali pada permainan semula.

Angka-angka mulai bermunculan, seolah menyerbu Ayra yang berdiam di titik merah. Serangan datang dari berbagai arah. Ayra mulai mengaktifkan mode serang.

Dery melepas tangannya dan membiarkan Ayra memainkan permainan itu. Ia hanya akan melihat. Dery membiarkan Ayra untuk bermain, ia pikir Ayra hanya akan bersenang-senang dengan permainan itu.

Kedua ibu jari mungil Ayra mulai bergerak dengan cepat, lincah dan tak terbaca. Dery berdecak, bagaimana Ayra melakukannya? Tidak seperti Dery, yang menyerang dari berbagai arah. Ayra menyerang satu per satu musuh yang berdatangan sesuai arah dari mana mereka datang.

Success

Dery terperangah saat melihat tulisan itu. Ayra terus menggerakkan ibu jarinya, seperti kata Dery. Dia ingin mencoba mengubah angka-angka yang dikirimkan lawan menjadi senjata yang akan menyerang balik mereka.

Strike back

Dery kembali dibuat terkejut begitu tulisan itu muncul. Ayra berhasil mengubah kode yang dikirimkan musuh menjadi senjata yang menyerang balik musuh.

Dery menatap tak percaya pada gadis kecil yang duduk di pangkuannya. Saat tulisan you win muncul di layar gawai nya. Itu artinya Ayra memenangkan permainan itu.

Dery menepuk dahinya tak percaya, ia menatap Ayra yang penuh kejutan. Gadis kecil itu mengembalikan gawai Dery dengan senyum polos dan lugu. Seolah tidak melakukan apa pun.

Ia beranjak dari pangkuan Dery, dan melangkahkan kakinya meninggalkan Dery yang masih menatapnya dengan mulutnya yang terbuka lebar.

"Omah!" katanya manja. Bergelayut di kaki mamah Quin yang baru saja datang dari menjenguk anak-anak asuhnya.

"Kenapa cepat sekali?" tanyanya lucu. Mamah tersenyum, ia menggandeng tangan Ayra membawanya ke tempat Dery berada.

"Opah mendadak ada urusan, jadi sekalian saja Omah ikut pulang. Mengingat cucu Omah hanya berdua saja dengan Kakak Dery," tukasnya seraya duduk di sofa samping Dery yang hanya mendesah saat mereka datang.

Mamah mengusap rambut Dery, "kenapa lagi, sayang? Kalah bermain lagi?" tanya Mamah. Dery hanya mengangguk lesu. Wajahnya berubah kusut saat bertatapan dengan Ayra. Gadis kecil itu terkikik geli.

1
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
si Aul, hadeh bikin repot malahan nanti
菲菲 Dwi L Arema: Terlalu banyak drama dia
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
kanapa Ibrahim jadi batu

bayi dong
🌹🪴eiv🪴🌹
hiks.....mewek saiya
🌹🪴eiv🪴🌹
tenda - tenda
🌹🪴eiv🪴🌹
apakah kita akan menghabiskan tisu juga disini 🤭
Aisy Hilyah: sepertinya
total 1 replies
Ummu Ayyas
MasyaaAllah nangis jadinya teringat ibu yg telah tiada
Ummu Ayyas: oke shiaap 💖💖💖
total 2 replies
susi 2020
🥰🥰🥰
susi 2020
😘😘
susi 2020
😍😍
susi 2020
🥰🥰
susi 2020
😍😍😍😘
susi 2020
😘😘
susi 2020
x🥰🥰
susi 2020
😘😘
Faris Setyawan Fais
Novel bagus betul, cuman aku gak sanggup baca sampai habis, selalu ingat Aisyah jadi nyesek
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Sativa Kyu
👍👍👍
Maura
visual Ayra dan yang lainnya dong thor biar tambah semangat membaca🙏
Aisy Hilyah: ada ga ya, aku lupa. hehe
total 1 replies
Maura
visual jangan lupa thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!