Kisah tentang bagaimana Lia dan Ali membesarkan si kembar. Juga Lia yang harus menghadapi masalah dari Franda yang mulai berulah.
"Kak ali mau apa? mau kita pisah? ya udah. Lia juga gak butuh cowok kayak kak ali, gak bisa milih antara istri sama anaknya? lebih milih wanita lain?" Lia kesal.
"Apaan sih Lia, siapa yang mau minta pisah. Aku bukannya ngebelain Franda."
"Terus apa, Franda itu jahat kak, dia pura-pura, mau celakain Si kembar dan mau misahin kita."
"buat apa Lia, dia itu gak tau apa-apa."
"Buat dapetin kakak. Dia pernah cinta kan sama kakak." kata Lia.
Ali terdiam. Franda didepan Ali sangat polos, tapi dibelakang Ali ingin melakukan apapun untuk memisahkan Lia dan Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Nathan membawa dua cincin pasangan dengan ukiran nama lia dan ali di cincin itu, simple, tapi indah, dengan harga yang lumayan mahal jug. Nathan juga memberikan sebuah cincin untuk mbak ningning, sebagai tanda terimakasih sudah mau ikut bantu pilih.
"makasih ya tuan cincinnya." kata mbak ningning.
Mobil nathan sudah sampai di rumah nathan, didepan rumah alex, hari sudah malam, nathan ingin langsung melamar lia.
"Mbak, saya ke rumahnya lia ya. Doain?" kata nathan pada ningning.
"Siap tuan. Doa terbaik buat tuan dan non lia yang cantik, imut, manis." kata mbak ningning mengacungkan jempolnya.
Nathan minta supir di rumahnya untuk memasukan mobilnya ke bagasi, sementara dia berjalan ke rumah alex, dengan melihat kotak cincin berbentuk hati berwarna merah yang ada ditangannya. Nathan tersenyum senang, yakin jika lia akan menerimanya.
***
Lia masih menonton televisi, drama korea kesukaannya. Ditemani mamanya dan juga papanya, dengan cemilan yang tak pernah lepas dari tangan lia.
"Dek, nontonnya apaan sih, ini mulu. Ganti bola kek, film robot, atau berita terkini."
Kata lio yang baru bangun setelah seharian tidur. Lio duduk disamping lia, mengambil remot tv dari lia. Lia langsung menatap kesal kakaknya itu, yang seenaknya mengganti chanel.
"Mama, kak lio. Sana tidur lagi." Kata lia, mengadi pada mamanya.
"Lio, kasih remot tv ke adeknya." kata ara membela lio.
Lio kesal, dia memberikan remot tvnya lagi pada lia, dengan sedikit meremas, tapi mengusap kepala lia dengan gemas.
"Ma, lio laper. Ada makanan?" tanya lio, yang seharian belum malan, kecuali makan di supermarket. Selebihnya tidur.
"Ada, mama panasin bentar ya." ara meninggalkan alex yang sejak tadi duduk disan, menemani lia, sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Mas, mau minta dibikinin minuman sekalian gak?" tanya ara pada suaminya.
"Boleh. Makasih ya, ra." kata alex tanpa menoleh dari laptopnya.
"Sayang pa, sayang. Lio kan udah ngajarin." Protes lio. Ara hanya tertawa.
"Iya, sayang mau kopi satu, buat jaga-jaga siapa tau anak papa yang paling cantik minta dibeliin makanan tengah malam." kata alex berteriak pada ara yang sudah didapur.
Lia masa bodo, dia tak mau mendengarnya. Lagi pula lia tau papanya cuma bercanda, walau lia merepotkan, lia yakin papanya tak keberatan.
Tok tokk
Ketika semua sedang asik berkumpul, mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu rumah mereka, malam-malam. Jam sembilan malam?
Siapa?
"Biar lio pa." kata lio beranjak dari sofa. Lio langsung keluar untuk membuka pintu.
Krekkk...
Ketika lio membuka pintu. Lio tak percaya orang yang ada diluar, yang mengetuk pintu rumahnya.
"Kak nathan?" tanya lio pada orang didepannya.
"Hai lio." Nathan menyapa dan tersenyum pada lio.
"Kak nathan, ngapain disini?" tanya lio masih bingung dengan situasi yang dia hadapi.
"Semua orang di rumah kan, kakak boleh masuk?" tanya nathan pada lio. Lio diam, gak tau harus memperbolehkan masuk atau tidak.
***
"Loh, lionya mana?" Ara datang dengan membawa makanan yang sudah dia panaskan, untuk anak laki-laki satu-satunya. Tapi di ruang tengah, lio malah tak ada.
"keluar ma, ada tamu kayaknya. Tapi kok gak balik-balik ya ma. Apa kak lio diculik tamunya, tamunya penculik." kata lia bercanda.
"Lia, jangan gitu ahh. Gitu-gitu kakak kamu, ganteng loh. Kalau beneran di culik gimana, gak ada yang tau kan."
Ara menaruh kopi milio alex diatas meja. Dia langsung menyusul lio untuk mengecek lio membukakan pintu untuk siapa.
"Lio, ada tamu? siapa?" tanya ara pada lio yang masih menutupi nathan didepan pintu.
"ini ma, ada..." lio menyingkir dari pandangan sang mama, memperlihatkan nathan dibalik sana.
"Ali?" kata ara, terkekut juga senang. Bukan marah, rindu. Ara langsung memeluk nathan dengan erat.
"Mama." Nathan juga memeluk ara.
"Ali minta maaf ma. Ali mungkin gak bisa ingat semua masa kecil ali, tapi ali butuh mama, butuh papa, terlebih lia. Ali butuh lia ma." Kata ali dalam pelukan ara.
"Ali mau lamar lia, boleh ma?" tanya nathan mengeluarkan kotak cincinnya.
"Kan mau ngelamarnya lia, kenapa tanya ke mama?" Kata ara tersenyum, mempersilakan ali masuk.
"Papa gak akan marah ma?" tanya ali ragu. Ara menggeleng.
Ali meneguhkan hatinya untuk melangkah masuk, setelah diberitahu katanya lia juga sedang santai, dan mulai uring-uringan mikirin ali juga status bayinya, masak gak punya ayah.
"Pa,"
sesampainya di ruang tengah, ali menyapa alex, alex yang sejak tadi fokus ke laptop jadi menoleh. Ali mendekati papanya dan menciun tangan sang papa.
Lia yang melihatnya, langsung kesal. Lia mengeraskan suara tvnya. Seakan tak perduli dengan kedatangan nathan. Lia masih sibuk ngemil.
"kamu mau ngapain kesini?" tanya alex, terdengar kesal, tapi sebenarnya tidak. Pertanyaan apalagi yang pantas buat ali coba?
"Mau minta izin pa. Ali mau kamar lia." Kata ali melirik lia.
Lia senang, tapi semudah itu bagi nathan setelah mengata-ngatai dia. Gak akan. Lia berdiri dari sofa, meninggalkan bantal sofa yang sejak tadi dia peluk, lia bergegas ke kamar, lia gak mau terima lamaran nathan segampang itu, lia juga belum siap ketemu nathan, semua kata-kata nathan masih terngiang jelas dipikirannya. Dan mama papanya, semudah itu menerima nathan.
Gak akan, kak.
Lia bergegas berjalan ke kamarnya, di lantai dua. Melihat lia yang akan pergi, nathan langsung mengejar dan menahannya.
"Lia, aku mau kamu jadi istri aku, selamanya, kamu mau kan?" Pinta nathan meraih tangan lia yang akan pergi.
Lia berbalik. Nathah menyodorkannya cincin yang tadi nathan beli. Lia memperhatikannya, mempertimbangkan keputusan.
"Setelah kakak ngatain lia seenaknya. Gak semudah itu kak."
Lia mengambil cincin yang nathan beli, dia berjalan kesamping rumahnya, menuju ke kolam mernang. Takut Lia nekat, semua mengejar lia, termasuk lio, yang masih kelaparan.
"Ya ampun ya, drama banget sih hidup loo.." Lio mencoba mengejar lia dan menahannya.
"Lo mau apa, ya. Bunuh diri dengan terkun ke kolam itu gak akan bikin lo mati, paling sakit. Eh, lo gak boleh sakit, lo gak kasian sama calon ponakan gue." kata lio menahan lia.
"Lia, jangan nekat." ara pun mencoba menahan lia. Dikira lia mau terjun ke kolam mernang.
Plungg...
Lia melemparkan cincinnya ke kolam mernang, dibawah langit malam singapur yang dingin.
"Kakak mau lamar lia kan, cari sampai ketemu. Kalau ketemu, baru lia mempertimbangkannya." kata lia kesal pada nathan. Nathan hanya pasrah dan diam, dia melepas jasnya bersiap masuk ke kolam. Tapi ditahan oleh ara dan alex,
"Nanti kamu sakit, Al." kata alex.
"Bik, tolong bantuin surutin air kolamnya." kata ara pada pembantunya.
"Kalau mama surutin, lia gak akan ngomong ke siapapun, lia lebih baik tinggal dengan nenek dan kakek di jakarta." kata lia mengancam semuanya.
"sakit kakak, gak akan ada apa-apanya dibanding sakit hati lia kak, kakak sebut lia-"
Lia tak mau melanjutkannya. Menyakitkan. Lia masuk begitu saja ke rumah, dan berjalan menuju kamarnya.
Nathan langsung masuk ke kolam dan mencari cincinnya. Sampai ketemu, bahkan sampai habis malam ini. Nathan terus mencari cincinnya, tak perduli air kolam yang dingin, ditambah udara dingin malam.
***
Eghh... kasian.
Spoiler bab 29
"Non, tuan nathannya sakit. Demamnya tinggi." mbak ningning datang ke rumah alex dan menemui lia. Lia sangat khawatir.
"ngigau nama non lia terus. Tapi mau dipanggilin dokter, mau dibawa ke rumah sakit, gak mau." kata ningning lagi.
wahhh