Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: RUNTUHNYA SEBUAH EGO
Aroma khas cairan antiseptik dan karbol menguar pekat memenuhi koridor bangunan poliklinik ksatrian Bukit Raya sore itu. Di balik meja kerja utamanya yang luas, Kolonel Victor sejak tadi tidak bisa memfokuskan pikirannya pada tumpukan berkas rencana latihan taktis gabungan yang terbuka di hadapannya. Pena mahalnya hanya diketuk-ketuk pelan di atas meja, sementara pandangan matanya berkali-kali terlempar menatap kosong ke arah jendela luar.
"Johan, bagaimana dengan Arkan?" tanya Victor tiba-tiba, memecah keheningan ruang kerja Mako dengan suara baritonnya yang berat.
Sersan Satu Johan yang sedang berdiri merapikan map di dekat lemari arsip langsung menegakkan posisinya. Ia menarik napas pendek sebelum menyampaikan laporan yang sejak subuh tadi sebenarnya sudah ia simpan, ragu untuk disampaikan karena tahu sang komandan sedang dalam mode menjaga jarak.
"Siap Komandan. Izin melaporkan, anak kecil itu... Arkan, masuk ke poliklinik sejak semalam karena demam tinggi lagi," ucap Johan dengan nada suara yang berhati-hati. "Menurut laporan dari bintara kesehatan yang berjaga, kondisi fisiknya drop. Mungkin... ini efek karena hampir setiap hari dalam seminggu ini ia nekat datang dan berdiri di depan gedung Mako hanya untuk bertemu dengan anda komandan."
Mendengar penuturan Johan, ada sesuatu yang mendadak mencos di dalam dada tegap Kolonel Victor. Denyut jantungnya berdegup satu kali lebih kencang, disusul oleh rasa bersalah yang teramat besar yang seketika menjalar dan merubuhkan dinding egonya. Sisi kemanusiaan dan rasa sayangnya pada bocah polos itu seketika melumpuhkan segala bentuk kemarahan atau rasa tersinggung yang sempat ia rasakan akibat ucapan Ayu tempo hari. Victor mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa seorang pria dewasa setegas dirinya membiarkan egonya mengorbankan kondisi fisik seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa?
Tanpa membuang waktu atau mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Victor langsung bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. Ia membetulkan letak baret dan seragam PDL-nya dengan gerakan taktis, lalu melangkah lebar keluar dari ruang kerja Mako. Langkah kaki tegapnya berderap cepat menuju ke arah blok belakang, melewati samping kiri lapangan upacara yang luas, di mana berdiri kokoh sebuah bangunan yang lumayan besar dan megah untuk ukuran sebuah poliklinik militer pada biasanya.
Alih-alih datang dengan pengawalan ketat, Victor sengaja memilih berjalan kaki dengan dalih dinas formal untuk mengecek situasi dan fasilitas di dalam poliklinik tersebut di hadapan para staf medis. Namun, tujuan utama Victor sebenarnya cuma satu, mencari di mana kamar rawat inap Arkan berada.
Langkah kakinya menyusuri lorong-lorong berlantai keramik putih itu dengan cepat. Satu per satu kamar perawatan terlewati, hingga langkah kakinya melambat tepat satu kamar sebelum ujung lorong, saat indra pendengarannya yang tajam menangkap sebersit suara tangis anak kecil yang terdengar sangat familier. Benar, itu adalah suara tangis Arkan bagi pendengaran Victor—suara tangis lirih yang sarat akan rasa sakit dan kelelahan fisik.
Victor segera mempercepat langkah kakinya menyusuri koridor poliklinik yang tersisa. Tanpa mengetuk atau meminta permisi sedikit pun dari perawat yang berjaga, tangan kokohnya langsung mendorong dan membuka pintu ruang perawatan VIP tersebut dengan satu hentakan tegas.
CEKLEK!
"Apa yang terjadi?" tanya Victor tanpa aba-aba begitu melangkah masuk ke dalam ruangan. Pandangan matanya langsung tertuju pada sosok Ayu yang sedang berdiri panik di samping ranjang, berusaha mendekap tubuh Arkan yang sedang menangis histeris sembari meronta dalam gendongannya.
Melihat kehadiran pria raksasa itu, Ayu tersentak kaget. Namun, belum sempat Ayu mengeluarkan kata penolakan atau mengatur ritme napasnya, Victor sudah melangkah maju dengan cepat. Dengan gerakan yang sangat cekatan, dominan, namun penuh kehati-hatian, Victor langsung mengambil alih posisi gendongan dari dekapan hangat Ayu, memindahkan tubuh ringkih Arkan ke dalam rengkuhan tangannya sendiri yang kekar.
"Ayah...?" Panggilan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Arkan yang kering akibat demam. Panggilan lirih itu dibarengi oleh isak tangis sesenggukan yang perlahan mulai mereda begitu kulitnya bersentuhan dengan kain seragam loreng Victor yang kokoh.
Arkan langsung menenggelamkan wajah gembulnya yang memerah ke ceruk leher Victor. Menanggapi hal itu, Victor langsung menepuk-nepuk pelan punggung kecil Arkan dengan telapak tangannya yang besar, mengayunkan tubuh anak itu dengan sangat lembut laksana seorang ayah yang sedang menenangkan darah dagingnya sendiri.
Entah kenapa, bocah empat tahun itu tampak jauh lebih kecil, ringkih, dan rentan di dalam dekapan dada bidang Victor yang raksasa. Pemandangan itu berbanding terbalik saat Ayu yang menggendongnya, tubuh Arkan yang padat bagi anak seusianya bahkan hampir separuh dari tinggi badan ibunya yang ramping, membuat Ayu sering kali tampak kepayahan menopangnya sendirian.
Ajaibnya, di dalam rengkuhan tangan kekar sang Kolonel, Arkan berangsur-angsur jauh lebih tenang. Isak tangisnya mereda menjadi hembusan napas yang teratur. Tidak butuh waktu lama bagi anak itu untuk akhirnya tertidur pulas dalam gendongan Victor. Kedua lengan kecilnya melingkar erat memeluk leher Victor, mencengkeram kain seragam pria itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya, seolah-olah ia dirundung ketakutan yang teramat sangat jika Ayah Besarnya akan pergi menghilang lagi jika ia melepaskan pegangannya.
Melihat pemandangan magis di depannya—menatap punggung tegap pria raksasa yang kini membelakanginya sembari menimang penuh kasih sayang anak kandungnya—lagi-lagi Ayu hanya bisa menangis dalam diam. Air matanya kembali menetes deras tanpa suara, membasahi pipinya yang kuyu.
Sungguh, di dalam benaknya saat ini, Ayu benar-benar dirundung dilema dan penyesalan yang luar biasa dahsyat. Ia merutuki dirinya sendiri, dialah orang dewasa yang berpikiran sempit yang telah menyebabkan Arkan jatuh sakit hingga seperti ini. Ego dan trauma masa lalunya telah membutakan logikanya, membuatnya tega beradu argumen secara kaku dengan putra kecilnya sendiri yang masih polos, menuntut Arkan secara paksa untuk tidak lagi memanggil Victor dengan sebutan ayah, atau sekadar melarangnya mencari keberadaan pria itu di depan gedung utama Mako. Hasil dari ketegasan egonya justru berakhir dengan tubuh Arkan yang tumbang dihantam demam tinggi.
Ayu terduduk lemas di atas kursi kayu di samping ranjang pasien. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajah sembapnya sembari kedua jarinya memijit pelan pangkal hidungnya yang terasa linu akibat terlalu banyak menangis dan kurang tidur.
Melihat kondisi Ayu yang tampak begitu hancur dan rapuh, Victor perlahan membalikkan tubuhnya. Setelah memastikan Arkan benar-benar telah terlelap dalam tidur nyenyaknya, Victor melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara sepatu bot yang bising. Tangan kirinya yang bebas terangkat, lalu dengan gerakan yang teramat lembut dan sarat akan perasaan, ia mengelus pucuk kepala wanita di hadapannya—wanita yang menjadi ibu dari Arkan, sekaligus wanita dari masa lalunya yang selamanya tak pernah benar-benar bisa ia hapus dari ruang hatinya.
"Kemarilah," ucap Victor dengan suara baritonnya yang melembut, berbisik pelan agar tidak mengusik tidur Arkan.
Merasakan adanya sentuhan hangat yang mendadak mendarat di kepalanya, Ayu spontan mendongakkan kepalanya dengan cepat. Tatapan mata mereka bertemu dalam jarak dekat. Wanita itu tampak begitu lusuh dan kehilangan binar ketegarannya. Entahlah, melihat lingkaran hitam di bawah matanya, Victor ragu apakah wanita ini sudah sempat mandi dengan layak, apakah ia sudah mengisi perutnya dengan makanan hari ini, atau apakah tidurnya sudah cukup selama menjaga Arkan sendirian di ruang perawatan yang sunyi ini.
Tanpa menunggu persetujuan verbal, Victor langsung menarik lembut tubuh mungil wanita itu agar mendekat, mengikis habis sisa jarak kedinasan yang selama ini sengaja mereka bangun di antara mereka berdua.
"Tolong... jangan lakukan ini, Komandan," ucap Ayu parau di sela-sela tangisnya yang kembali pecah. Suaranya bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa benteng pertahanannya yang terakhir.
Namun, Victor tidak memedulikan penolakan lirih tersebut. Dengan satu pergerakan tangan kiri yang kokoh dan protektif, ia menarik bahu Ayu, membuat tubuh mungil wanita itu langsung bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.
Sudah lama sekali rasanya, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terjebak dalam perang dingin masa lalu, Kolonel Victor melakukan tindakan seberani dan sefrontal ini di lingkungan ksatrian. Ia melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Ayu, mendekap wanita itu dan putranya sekaligus dalam satu pelukan yang teramat erat dan protektif.
Ayu terpaku, tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak memiliki keberanian atau kekuatan lagi untuk membalas sentuhan hangat yang berupa sebuah pelukan tulus itu. Di bawah dekapan dada bidang Victor yang kokoh, Ayu merasa seolah seluruh beban dunia yang selama ini ia pikul sendirian sebagai seorang single mom mendadak diangkat runtuh.
Victor menundukkan kepalanya sedikit, lalu mengecup lama pucuk kepala Ayu yang berbalut jilbab instan dengan penuh kelembutan, menyalurkan seluruh rasa bersalah, kerinduan, dan janji perlindungan yang tak terucapkan. Kecupan tulus itu justru membuat tangis Ayu semakin bertambah lebat, menumpahkan seluruh rasa lelahnya di balik dada bidang sang komandan.
"Ayo, istirahatlah... Jangan dipaksakan lagi," bisik Victor lembut, jemarinya mengusap pelan punggung Ayu untuk menenangkan badai emosinya. "Atau kamu mau apa sekarang? Katakan saja. Biar malam ini aku yang menjaga dan menemani Arkan di sini. Kamu harus tidur."