Sepeninggal Ibunya , Anne dibesarkan oleh Ayahnya , Antonio . Anne tumbuh menjadi gadis yang cantik dan tangguh . Namun , berbagai macam peristiwa tak menyenangkan ia alami sejak ayahnya menikah lagi .
Kebahagiaan dan kesedihan silih berganti , hingga akhirnya ia menerima cinta sang kakak yang telah lama menaruh perasaan padanya . Namun , kebahagiaannya harus luntur seketika saat masalah demi masalah datang menerpa hidupnya hingga ia berada di titik terberatnya .
Bagaimana kelanjutan kisah Anne ? Mari membaca !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syarifah Nur Hasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Gerald memandangi wanita yang baru saja keluar dari ruangan rias itu dengan balutan gaun hitam nan elegan dan make up-nya yang terkesan natural . Ia hanya bisa menenggak saliva nya ketika melihat penampilan ibu dua anak itu .
" Perfect " Ia membatin dan berusaha menyembunyikan perasaan kagumnya .
" Ayo pergi " Gerald berjalan duluan dan meninggalkan Anne yang mengikuti langkahnya dari belakang .
" Apa-apaan dia itu , kalau saja tidak hilang ingatan pasti sudah aku habisi dia memperlakukan ku seperti ini " Batin Anne yang kesal dengan perlakuan Gerald terhadapnya .
***
" Tolong bersikap manis padaku saat kita sampai nanti " Pinta Gerald dengan nada datarnya .
Anne hanya mengangguk pelan mengiyakan apa yang di minta oleh pria yang sedang duduk di sampingnya itu . Mereka memasuki gedung restoran yang menjadi tempat pertemuan itu . Di gandeng nya lengan kekar Gerald seraya berjalan beriringan memasuki ruangan yang telah di pesan sebelumnya .
" Hey boss " Sapa Richard yang sudah berada di ruangan itu lebih dulu .
Gerald hanya tersenyum hangat melirik kearah anak buahnya yang satu itu .
" Hey , tersenyumlah seolah-olah kau bangga bisa bersanding denganku " Bisik Gerald di telinga Anne .
Anne yang mendengar bisikan itu , sontak segera menyunggingkan senyum termanisnya pada Richard .
" Perkenalkan , dia Anne " Ucap Gerald memperkenalkan wanita yang tengah bersamanya sekarang .
" Anne " Ucapnya memperkenalkan diri pada Richard .
" Richard " Balas Richard seraya menjabat tangan Anne .
Tak berselang lama , para tamu lainnya mulai berdatangan di restoran itu . Serangkaian acara minum dan makan-makan berlangsung sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam .
" Ayo minum lagi sayang " Celetuk Anne yang sedang mabuk berat seraya menuangkan minuman beralkohol itu ke gelas Gerald .
Gerald hanya memajang tatapan tidak biasa pada Anne . " Baiklah , kurasa hari ini cukup . Aku ingin pulang karena wanitaku sudah mabuk berat , bayarlah bill nya pakai kartu ini " Ucap Gerald pada rekan-rekannya sebelum ia berlalu pergi meninggalkan restoran itu .
Gerald memapah wanita yang tengah mabuk itu menuju mobilnya .
" Allen , apakah kau mengenali aku istrimu ? " Racau Anne seraya menatap ke arah Gerald yang tengah menyetir mobilnya .
" Hey , kau dengar aku tidak ? " Anne mulai mendekatkan wajahnya kearah Gerald .
" Duduklah , kau terlalu mabuk " Ucap Gerald seraya mendorong tubuh Anne agar kembali duduk dengan semestinya .
" Kau " Anne menunjuk wajah Gerald yang sedang fokus dengan jalanan . " Meninggalkan aku dan anak-anak kita , dan kembali sebagai Tuan Gerald si ketua mafia , hahaha lucu sekali kau Tuan James Vallentino " Racau Anne yang mulai tidak terkendali .
Gerald mendengus kesal mendengar apa yang di ucapkan Anne . Mendengar nama Allen yang tidak asing baginya semakin mengganggu alam pikirannya . Laju mobilnya semakin bertambah membelah jalanan kota yang mulai lengang, kemudian di hentikannya mobil itu tepat di depan apartemennya .
" Apa maksudmu membawaku ke apartemenmu ? " Tanya Anne yang masih duduk menyaksikan Gerald yang membukakannya pintu mobil .
Tanpa menjawab pertanyaan Anne , Gerald segera menggendong Anne dengan gaya bridal menuju ke dalam apartemennya .
" Turunkan aku " Pekik Anne , namun sama sekali tidak di indahkan oleh Gerald .
" Hey , turunkan aku " Anne terus meronta-ronta dalam gendongan pria itu .
Bruukkk ...
Tubuh mungil Anne ia rebahkan dengan kasar di ranjang berukuran king size nya .
" Jelaskan padaku siapa Allen ? " Tanya Gerald dengan tatapan penuh amarah .
" Apa perlu aku beritahu lagi tentang siapa dirimu sebenarnya " Jawab Anne dengan nada yang tak kalah tingginya dengan Gerald .
" Aku bilang jelaskan ! " Bentak Gerald seraya menampar keras pipi Anne .
Anne hanya memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan itu . Bulir-bulir air matanya merembes mengairi pipinya .
" Tampar aku sekali lagi ! " Pinta Anne dengan nada bergetar .
" Jika kau memang benar istriku , kau tidak melarang ku untuk melakukan ini padamu " Ucap Gerald sembari menyobek gaun yang di kenakan Anne .
" Apa yang kau lakukan " Anne berusaha menutupi *****nya yang telah terekspos jelas di depan Gerald .
" Aku juga membayarmu untuk melakukan ini " Ucap Gerald seraya tersenyum licik .
Gerald melahap bibir ranum Anne dengan rakusnya hingga membuat Anne kesulitan dalam mengambil nafas . Lengan kekarnya dengan sigap mengunci pergerakan wanita yang tengah berada dibawah tubuhnya itu .
" Hen-ti-kan " Ucap Anne di sela-sela permainan Gerald yang mulai tidak terkendali .
" Dalam situasi mabuk pun kau masih bisa menolak ku , tolong jangan munafik nona aku telah membayarmu " Celetuk Gerald sembari berusaha melucuti pakaian yang dikenakan Anne .
Prakkk....
Satu tamparan mendarat tepat di pipi Gerald .
" Setelah ingatanmu kembali , aku tidak akan memaafkan mu " Tukas Anne dengan nada bergetar . Matanya kini kembali mengeluarkan cairan bening nan hangat .
Dengan sisa-sisa tenaganya ia mendorong tubuh Gerald yang diam mematung usai mendengar apa yang dikatakannya .
" Jika ingatanmu kembali , jangan pernah berpikir untuk mencariku , Allen " Kalimat itu menjadi kalimat terakhir sebelum Anne benar-benar meninggalkan apartemen itu .
Mantel berkain tebal yang ia ambil dari ruangan apartemen itu kini menutupi bagian tubuhnya yang telah terbuka . Air matanya mengalir dengan sangat deras , kepalanya pening akibat mabuk , Anne pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan menemui anak-anaknya yang mungkin sudah lama menunggunya .
***
" Ibu . Apa ibu baik-baik saja ? " Tanya Arron saat melihat ibunya datang dengan mata yang sembab .
Anne tersenyum tipis kearah Arron dan kemudian mendekap tubuh Arron dengan air matanya yang kembali tumpah .
" Apa yang terjadi ? Mengapa ibu menangis ? Bukannya ibu pergi bersama paman Gerald ? " Arron menghujani Anne dengan beberapa pertanyaan .
" Hiks ... Hiks .. Lupakan dia ! " Ucap Anne di sela-sela Isak tangisnya .
" Apa yang telah dia lakukan pada ibu ? " Tanya Arron lagi dengan wajahnya yang tampak khawatir .
Namun , Anne sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Arron .
" Jangan pernah berhubungan dengan orang itu lagi ! " Balas Anne seraya melepaskan pelukannya pada Arron .
Arron hanya mengangguk mengiyakan apa yang di perintahkan oleh ibunya itu . Batinnya ikut teriris melihat air mata sang ibu yang terus mengalir . Jemarinya mengusap perlahan bulir air mata yang berjatuhan dari pipi ibunya .
Keesokkan harinya , tidak terasa hari begitu cepat berlalu meninggalkan apa yang telah telah terjadi kemarin . Arron membuka matanya perlahan usai tidurnya yang larut . Dilihatnya sang ibu yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruangan itu .
Tok tok tok ..
Mendengar suara ketukan , dengan cepat Arron berlari kearah pintu .
" Selamat pagi Arron " Sapa pria itu seraya memperlihatkan senyuman hangatnya .
" Untuk apa kau kemari ? " Tanya Arron dengan nada seolah-olah menentang orang yang kini berada di hadapannya itu .
" Apakah ibumu .... "
" Tidak perlu mencari ibuku , dia sudah lelah disakiti oleh pria sepertimu dan terimakasih atas bantuannya Tuan , saya sangat menghargainya , tapi bisakah anda pergi dari sini ! " Potong Arron dengan amarahnya yang mulai meluap-luap .
" Aku tidak bermaksud membuat ibumu seperti itu " Gerald melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri .
" Silahkan pergi , selagi masih ada sedikit rasa sopan dalam diri saya "
Gerald segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan wajah yang lesu . Rasa bersalah kini hadir memenuhi hatinya yang sudah lama hambar . Dan di hari itu juga , Gerald memutuskan untuk memesan tiket pesawat dan kembali ke rumahnya .
Entah mengapa , hatinya begitu tak tega meninggalkan Anne dan kedua anak-anak itu . Namun semua kini telah terlambat , tidak mungkin bagi Anne untuk memaafkan perbuatannya .
🌫️
" Gerald , jangan membuat malu keluarga kita . Mau tidak mau , kau harus menikahi Erika secepatnya " Ucap Sean dengan nada yang sangat tinggi .
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya , suasana hatinya kini hancur berantakan .
" Apa kau dengar aku ? " Tanya Sean dengan lantangnya .
" Maafkan aku paman , aku tidak bisa mencintai Erika " Balas Gerald dengan nada yang terkesan datar .
" Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya , berapa kali harus aku jelaskan padamu tentang hal itu "
" Ya , kau memang selalu menjelaskan padaku tentang hal itu . Tapi , apa kau bisa menjelaskan padaku tentang siapa Allen dan Theresa ? " Pertanyaannya benar-benar menyambar Sean bag petir .
" Aku , aku tidak tau tentang itu " Sean berusaha menutupi apa yang ia ketahui sebenarnya .
Halo reader's , jangan bosan untuk membaca dan mendukung karya saya yah . Jangan lupa juga untuk meninggalkan jejak usai membaca .
Jangan lupa
- like 👍
- Komen 💬
- Vote 🌟
- Dan tambahkan ke favorit yah 💝
Terimakasih telah membaca karya saya dan telah mendukung saya dalam berkarya .
apa yg akan dilakukan ane ya,apa dia akn kuat atw minta pisah..???