Cerita 18+ Seru, Lucu bikin ngakak guling-guling. Banyak kalimat makian dan umpatan. Mohon bijak memilih bacaan.
Ini adalah kisah Tarisa yang menolak saat diminta Abram suaminya untuk menggugurkan kandungan. Lalu sang suami pergi menikahi janda kaya di kota lain. Namun kenapa belakangan Abram ingin kembali ke Tarisa? Apakah karena anaknya baby Rizki yang lucu dan tampan laris jadi bintang iklan? Lantas siapa seorang pemain sinetron yang gagah dan naksir Tarisa? Jangan lewatkan pula Nola Pagina tokoh menyebalkan yang sekaligus bikin pembaca suka padanya. Baca saja dan kamu akan ngakak sendiri mengikuti keseruan ulah Nola Pagina sang penyanyi ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Goyangan Nola Membuat Pisang Bengkak
Mobil meluncur pelan membelah lalu lintas Jakarta yang macet.
Dada tarisa berdegup kencang. Sentuhan tangan Abram memberikan sensasi tersendiri baginya.
Tak dipungkiri Tarisa menyukai sentuhan itu. Tubuhnya pun merespon dengan aliran darahnya yang seolah menyalurkan gairah yang mampet dan kini mengalir kembali.
Dan si bayi Rizki pun tenang saja dalam pelukan tarisa. Anak ini memang kalem. Jarang menangis. Ia memang bayi manis yang tidak merepotkan.
“Cakep bener nih anak.” tangan Glen mengusap baby Rizki.
Yaaaa. Sungguh Tarisa kecewa. Kenapa Glen malah melanjutkan mengusap anaknya? Kenapa gak terus mengusap emaknya?
Gila kamu Tarisa! Suara dalam hatinya menghardik. Kenapa kamu malah mengharapkan sesuatu yang belum pantas kamu rasakan. Glen itu Cuma tetanggamu. Dia bukan suamimu. Gak pantas kamu menikmati sentuhannya. Meski Glen cuma menyentuh tanganmu.
Padahal dalam tubuhnya, ada bagian tubuh Tarisa yang mulai bergetar. Sejujurnya, kalau mengikuti naluri liar, Tarisa mengharapkan Glen menyentuh bagian di samping lengannya.
“WOOWWW. BABY RIZKI…!” Tiba-tiba Glen berteriak.
Tarisa sampai kaget. Ia menatap Glen yang tadi berteriak.
“Kenapa sih?.”
“Lihat tuh!” Glen menunjuk ke depan.
Ada sebuah billboard atau papan reklame besar di pinggir jalan. Sebuah Billboard yang biasa mempromosikan iklan-iklan berbudget besar.
Mata Tarisa terbelalak. Wajah baby Rizki terpampang besar sekali disitu. Rizki kelihatan lucu dan menawan. Membuat orang yang melihat iklan itu gemas. Ingin bermain dengan si bayi yang meski masih kecil tapi mudah membuat orang jatuh cinta.
“Rizki, sayang. Itu ada Rizki di iklan.” Tarisa memberi tahu anaknya.
Si bayi belum bisa bicara. Tapi saat Tarisa berkata demikian sekilas Tarisa melihat baby Rizki tersenyum.
Ya Tuhan. Sungguh Tarisa suka melihatnya. Bayinya seolah bicara bahwa ia paham apa yang dikatakan ibunya. Seolah bilang. “Iya, Ma. Bagus kok iklannya.”
“Gemes gue lihat iklan si Rizki.” Glen bicara sambil terus menyetir.
Mobil Glen sudah melewati papan billboard tadi. Tapi di benak Tarisa masih terbayang wajah Rizki di papan reklame itu.
*
Dua puluh menit kemudian mobil Glen sudah melewati pinggiran Taman Menteng. Tapi ternyata sulit cari parkir mobil disitu. Lokasinya terlalu di pinggir jalan besar yang sangat ramai kendaraan.
“Bapak kalau mau parkir yang enak dan santai mendingan ke Taman Lembang.” Seorang ibu gendut yang sedang jogging di dekat taman Menteng memberi tahu Glen. Si Ibu mengenakan kaus ketat dan celana training ketat. Tarisa risih karena bagian apem si ibu lumayan tercetak di celana trainingnya.
“Taman Lembang gak jauh dari sini kok, Pak. Tamannya lebih bagus. Ada danaunya disitu. Cantik banget.” Tambah si Ibu.
“Terima kasih, Bu.” Glen senang mendapat informasi itu.
Ternyata Taman Lembang memang tidak jauh amat dari taman Menteng. Terletak di bagian pemukiman paling mahal di Jakarta, di kawasan Menteng yang asri. Taman Lembang bak surga hijau yang mempesona di tengah kota Jakarta.
Glen mudah mendapatkan parkir karena di sepanjang pinggiran Taman Lembang, mobil boleh parkir.
“Bagus sekali tamannya.” Tarisa memuji. Meski sering melihat Taman Lembang di berita di TV atau melihat gambarnya, tapi baru kali ini Tarisa ke taman Lembang.
“Gue juga baru ini kemari.” Aku Glen. “Kalau tau tamannya sebagus ini, bisa sering-sering kita santai kesini.”
Yang sangat menyita perhatian di Taman Lembang adalah danaunya. Danau yang disebut Situ Lembang itu ukurannya tidak terlalu besar. Namun banyak sekali tumbuh bunga teratai di air danau.
“Ya ampun, cantik banget bunga teratainya.” Tarisa terpesona.
“Foto dong. Sini gue fotoin lo sama Rizki.”
Tarisa memberikan hand phonenya ke Glen. Saat Tarisa memberikan hand phone itu tangan mereka bersentuhan. Tarisa kembali merasakan darahnya berdesir.
Busyet Tarisa. Lo kok kayak kegatelan bener. Suara hati Tarisa protes lagi. Tiap kesenggol Glen lo merasa senang berlebihan sampe gairah lo berkobar?
Tarisa berusaha melupakan sentuhan Glen. Ia menggendong rizki.
Klik. Klk. Klik! Glen memotret Tarisa beberapa kali dengan hand phone Tarisa.
“Kita foto selfie dong. Biar gue punya foto sama Rizki.” Saran Glen.
Memakai hand phonenya sendiri, sebuah hand phone mahal berlogo buah terkenal, Glen melakukan selfie bersama Tarisa yangmenggendong Rizki. Tarisa tersenyum di foto. Glen juga tersenyum bahagia.
Klik. Klik. Klik. Glen melakukan foto selfie beberapa kali.
“ini Om Glen yang suka main sinetron ya?” Tiba-tiba dua remaja putri mendekat.
Glen mengangguk. Ia senang kedua remaja ini mengenal wajahnya.
“Boleh ya Om kita foto bareng?” Kedua remaja menatap Glen.
“Boleh,” kata Glen ramah.
“Permisi ya Tante, kita foto sama Om Glen?” Seorang remaja tadi menatap Tarisa. Sepertinya ia mengira Tarisa adalah istri Glen.
“Oh silakan. Silakan.” Tarisa rada geli karena dipanggil Tante.
Lalu kedua remaja putri tadi foto bergantian bersama Glen. Glen senyum ramah kala berfoto dengan kedua remaja tadi.
“Om Glen ganteng banget. Istrinya juga cantik.” Si remaja yang rambutnya agak pendek senyum. “Ini anaknya Om Glen ya?” Dia menunjuk baby Rizki di gendongan Tarisa.
DEEGG!
Sejenak Glen bingung mau jawab apa.
“Iya ini anak Om. Namanya Rizki.” Kata Glen kemudian.
“Iihh, lucu banget anak Om Glen.” Temannya terpekik kala mengamati baby Rizki di gendongan Tarisa. “Imuuuut bangeeett mukaaanyaaaa…”
“Boleh ya Om kami foto sama Om sekeluarga ya? Boleh ya.” Gadis itu minta foto lagi.
Glen menatap Tarisa.
“Boleh,” sahut Tarisa.
Kedua remaja putri tadi sumringah. Lantas mereka bergantian foto dengan Glen, Tarisa dan baby Rizki.
*
“Lo baik banget.” Maudi memuji Abram. Ia mengecup pipi Abram dengan senang.
“Makasih lho duitnya.” Maudi menaruh uang 5 juta dari Abram ke dalam dompetnya. “Gue jadi tenang kalo megang duit. Maklum gue kan gak nyanyi tiap malam di café.”
Abram senyum. “Aku juga baru beli motor. Biar gampang nganterin kamu kalo mau nyanyi.”
“Wuih, asik banget.” Maudi makin girang. “Entar gampang dong kalo kita mau kelayapan. Apalagi lo lagi banyak duit.”
Abram gak bilang, ‘rejeki anakku’. ia berlagak seolah dapat uang 50 juta yang sudah ditransfer Tarisa ke rekeningnya adalah hasil kerja kerasnya. “Entar aku dapat duit lagi.” Kata Abram yakin. “Kamu juga kebagian.”
“Iiiih, so sweet.” Maudi makin girang. “Gue servis deh lo sampe puas. Sampe pisang lo kecapekan.”
Perempuan ini lalu melepas bajunya. Lantas melepas rok mininya. Kini Maudi hanya mengenakan beha dan celana dalam. “Mau dada apa paha, Mas?” katanya seolah pelayan di restoran ayam goreng.
“Dua-duanya.” Sahut Abram.
“Ya udah. Silakan, Mas. makan sesuka mas…” Maudi lalu melepas beha dan celana dalamnya.
Abram segera menikmati melon Maudi. Lalu menikmati kue apemnya. Maudi terbakar gairah. Ia merespon dengan liar. Dibuatnya Abram memejamkan mata dengan nikmat. Keduanya terpacu gairah. saling melakukan dengan menggebu. Ujung-ujungnya mereka sudah tak berpakaian dan bergelut dengan ganas di lantai.
Hand phone Maudi berdering.
Keduanya terganggu. Maudi berhenti bergoyang.
“Sudah biarin.” Kata Abram. “Ganggu aja yang nelpon!"
Ia dan Maudi lalu kembali meneruskan aksinya. Saling menuntaskan gejolak yang menggebu. Sangat ganas. Penuh gairah yang menyala-nyala dan berkobar.
*
Nola menatap hand phonenya.
“Si Maudi gak ngangkat telpon gue.” Katanya ke Gani suaminya. “Padahal gue pengen minta job. “Siapa tau café tempat maudi kerja butuh penyanyi lagi.”
Bu Sumarni masuk rumah. “itu ada tamu.” Katanya ke Nola. “Pak Supardi mau nyunatin anaknya. Dia tanya kamu mau nyanyi gak di acara sunatan anaknya? Dibayar kok.”
Nola antusias. “Mau. Gue mau!”
Pak Supardi senang kala masuk rumah dan bicara dengan Nola. “Tapi maaf, bayarannya gak mahal ya. Maklum saya gak banyak duit.”
“Tenang, Pak.” Kata Nola. “Buat tetangga sih gue gak main harga. Yang penting bisa membuat tamu happy.”
“Tapi kamu juga entar nyanyi dang dut ya?” Kata Pak Supardi lagi. “Ini permintaan bapak-bapak tetangga. Mereka maunya penyanyi yang bisa nyanyi dangdut.”
“Kecil itu sih.” sahut Nola santuy. “Semua lagu bisa gue nyanyiin. Pokoknya tamu bapak dijamin puas dah kalo gue nyanyi.”
“Jangan lupa. Nyanyi lagu ‘tarik sis, semongko’, lagu wajib bapak-bapak disini.” Pak Supardi nyengir.
“Waduh. Gue tau dah maunya. Oke. Entar gue nyanyi lagu itu.“ Nola senyum ke Pak Supardi. “Tapi awas, kalo bapak-bapak disini pisangnya pada bengkak ngeliat gue goyang. Bukan salah gue ya… ”
BERSAMBUNG…..
Yang suka cerita ini jangan lupa LIKE dan VOTE ya. komen juga dipersilakan. yang kagum dan mau memaki Nola juga boleh.
JUST INFO. Sebenarnya author lagi sibuk nulis skenario sinetron. Lagi dikejar deadline skenario. Tapi demi memuaskan pembaca, author bela-belain up episode baru BABY MY LOVE. Semoga reader suka. Love U all.
trus risa juga oon dah tau suami bejat ninggalin istri malah ga minta cerai..
Glen kasih tahu Gani supaya seludiki Biji Zhakar