"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 27
Happy reading!
.
***
Alita menyibakkan rambut yang menutupi matanya dan berjalan sambil memegangi tembok, penglihatannya buram.
Efek bangun pagi akibat kehausan membuatnya terlihat seperti seorang wanita tua, berjalan membungkuk dan meraba-raba sekitar.
Sambil menuruni tangga, sayup-sayup dia mendengar suara aneh dari arah dapur. Berjalan dengan mata yang menyipit, Alita hampir menabrak seseorang yang baru saja hendak berdiri dari lantai.
"Astaga, apa kesalahanku sehingga berhadapan dengan zombie setiap bangun pagi?" omel Diego sambil kembali kemudian membaringkan diri lagi di lantai.
Alita tidak menghiraukan. Pandangannya yang buram kembali membuatnya terlibat masalah. Kaki kosongnya tidak sengaja menginjak sesuatu yang menggelitik, halus dan lembut, Alita berteriak.
"Shaun?! Apa ini? Dragon?" teriaknya tidak percaya sambil melebarkan mata.
Pandangannya belum kembali, namun Alita bisa melihat sesuatu yang berwarna putih dan mengeluarkan suara rintihan kesakitan akibat injakannya yang kuat.
"Oh Tuhan, kamu menginjak Bentley, Lele," erang Diego sambil bangun dari tidur-tidurannya di lantai dapur ditemani dua ekor anak anjing berjenis Maltese.
Alita mengucek matanya lagi, seketika manik hijau itu melebar melihat anak anjing yang imut dan menatapnya dengan sayu.
Alita tersenyum dan duduk sambil memangku anak anjing yang diberi nama Bentley oleh Diego.
"Maaf, Bentley, aku tidak sengaja, ok," ujarnya dengan nada sedikit dibuat-buat sedih.
Dengan lembut dia mengusap bulu-bulu putih panjang nan halus itu. "Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Alita.
"Tumben kamu bangun pagi," celetuk Diego tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
Alita berdecak, kemudian menurunkan anak anjing yang berada di pangkuannya lalu beranjak untuk mengambil air putih. "Kamu mengambil cerek di kamarku semalam dan tidak mengembalikannya," gerutu Alita karena pemuda itu semalam mengeluh haus dan menenteng cerek miliknya keluar dari kamar.
Diego tertawa kecil, dia mengusap kepala anak anjing yang tadi diinjak Alita. "Aku lupa," kilahnya meski sebenarnya Diego sengaja melakukannya agar gadis itu cepat bangun pagi karena kehausan.
Alita mengangguk paham. Dia melirik satu ekor lagi anak anjing yang duduk di paha Diego. "Siapa lagi nama yang satunya?"
"Leo," jawab Diego singkat.
"Wow, nama Leo waktu itu hampir aku namai pada Alesandro," kenang Alita sambil tertawa. Mengingat kembali saat dia memberi nama pada adik laki-lakinya waktu masih di dalam kandungan.
Diego ikut tertawa dan menyodorkan anak anjing yang tadi diinjak Alita. "Kamu yang mengurus Bentley sebagai permintaan maaf karena sudah menginjaknya."
"Kenapa bukan Leo?"
Pemuda itu mengedik acuh. "Karena Bentley yang pertama kali kamu sentuh."
Alita mengangguk tanpa protes. Memiliki binatang peliharaan yang lucu dan imut memang keinginannya sejak lama dan entah dari mana Diego tahu, Alita bersyukur untuk itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Dari mana kamu mendapatkan ini?"
Diego mengangkat alisnya tinggi dan menyeringai tipis. Melihat ekspresi menyebalkan bin aneh milik Diego, Alita mulai curiga.
"Sha-unnn," rengeknya karena tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Aku membelinya di Pet shop di jalan sepulang dari menyelesaikan urusan," jelas Diego singkat.
Alita melebarkan matanya. "Jangan bilang kamu menghabiskan uang hanya untuk membeli ini? Tidak jadi menolong Summer?"
Pemuda itu berdecak sebal, sambil menggendong Leo, Diego berlari ke kamarnya sebelum mendapatkan lemparan panci oleh Alita. "Jangan marah, Sayang! Aku mencintaimu!!!" teriak Diego sebelum menutup pintu kamarnya dengan cepat.
Alita tertawa tidak percaya. Meski menghabiskan uang, kali ini dia merasa senang karena uang mereka dipakai untuk membeli anak anjing yang manis dan imut. "Aku tidak marah kok, kenapa dia seperti orang kesetanan," gumam Alita dan mengelus-elus kepala Bentley.
***
Kabar mengejutkan kembali menggemparkan kota LA. Kematian yang melibatkan seorang pemuda sebagai tersangka pembunuhan diributkan lagi karena beredarnya berbagai video dan foto yang menampilkan korban bunuh diri.
Sebuah video yang berdurasi satu menit menjadi bukti utama bahwa korban bunuh diri karena menyesal telah menjadi pembunuh. Dan juga beberapa foto yang mengejutkan. Michael alias korban adalah pembunuh yang selama ini dicari para polisi karena membunuh seorang sersan yang bernama Samuel Mathis.
Bukti itu membebaskan pemuda berlesung pipit, juga menjadi bumerang pada sang ayah. Kematian Michael membuat para mafia Rusia geram dan menjadikan Lucas Owhadi sebagai buronan yang pantas dihukum mati, dikarenakan lelaki itu yang pertama kali menemukan bukti bunuh diri yang dilakukan Michael.
"Dad, kau baik-baik saja?" tanya Summer melihat wajah kusut sang ayah.
Lelaki berseragam polisi itu mengangguk kemudian mengantarkan sang anak keluar dari kantor polisi setelah mencabut kasus yang menjerat Summer.
"Aku tidak pernah sebaik ini sebelumnya. Kamu juga harus baik-baik saja, Summerall," ujar Lucas dan menepuk pundak anaknya yang selalu saja muram sejak tadi.
Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya tipis. Hal yang sangat dia benci sekarang adalah pura-pura tersenyum sementara suasana hatinya tidak sesuai dengan apa yang dia ekspresikan.
Dengan enggan, Summer mengangguk dan berlalu begitu saja setelah menatap mata ayahnya mantap.
"Semangatlah, kamu harus menjalani hidup baru lagi," ucap Lucas meski tidak didengar Summer.
Lelaki itu berbalik, senyum lembut dan tatapan teduh yang ditunjukkan pada Summer tadi langsung berubah menjadi sendu. Pikirannya kembali memutar memori pertemuannya dengan pemuda yang mengaku bernama Shaun Anthony.
Shaun Anthony menepati janjinya untuk membebaskan Summer, tetapi keselamatan Lucas masih menjadi tanda tanya besar. Mafia Rusia tidak terima dengan bukti bunuh diri Michael dan berniat membunuh Lucas.
***
Gadis bermanik hijau itu duduk tanpa konsentrasi. Matanya selalu menatap bergantian dua kursi kosong yang sudah dua hari tidak ditempati.
Tanpa menghiraukan penjelasan guru yang katanya pengganti Mr. Michael, Alita terus memikirkan pemuda berkaca mata yang tidak pernah masuk sekolah lagi.
"Apa dia trauma masuk sekolah? Takut dibully?" gumam Alita menerka-nerka.
"Tapi bukti 'kan sudah ditemukan," gumamnya lagi dan mendapat lemparan pensil di kepala.
Alita terlonjak dan hampir berteriak protes jika saja tidak melihat mata melotot seseorang dari depan. "Sorry, Mr. Kim," ujarnya seraya menunduk.
Seseorang yang bernama Santiago Kim berjalan mendekat ke arahnya. "Berdiri! Kerjakan soal yang tertulis di papan!"
Perintah tegas itu keluar tanpa ragu di bibir sang guru yang bernama Kim. Alita menoleh takut-takut. Perawakan dan kepribadian Mr. Kim hampir sama dengan Mr. Michael, yang membedakan hanyalah postur tubuh dan perintahnya yang tegas layaknya seorang pemimpin, bos dari semua bos.
Dengan perasaan was-was, Alita bangkit setelah memasang wajah penuh senyum.
"Aku menyuruhmu mengerjakan soal bukan tersenyum bodoh!" Sekali lagi suara tegas itu mengejutkan Alita.
Alita hampir saja menghentakkan kakinya jika sang guru tidak segera menyusul. Dengan langkah berat, Alita menuju ke papan tulis yang berisi beberapa deretan angka yang seketika membuat kepalanya pusing.
Mean, median, dan modus tertulis, rupanya pelajaran hari ini tentang statistik. Dan Alita sejak tadi tidak konsentrasi.
"Kamu mengerti apa itu median?" tanya Mr. Kim.
Alita mengangguk. Beberapa hari yang lalu dia baru saja mencari di internet karena bahan untuk menggombal pria miliknya telah terkuras habis, dan tanpa sengaja menemukan kata-kata gombal tentang median.
"Katakan!"
"Median merupakan nilai tengah dari salah satu ukuran pemusatan data. Dan kamu adalah nilai median dalam hidupku karena kamu berada di tengah-tengah hatiku," ujar Alita lantang, sengaja membuat kuping sang guru panas.
Dan benar saja, pekikan dan tawa seisi kelas menggelegar dan membuat telinga Mr. Kim memerah. "Kerjakan soalnya!" perintah tegas itu kembali terdengar.
Tak berhenti sampai di situ, Alita membalikkan badannya dan menggeleng. "Sorry, Mr. Kim. Aku tidak bisa mengerjakan soal yang membuat otakku berhenti memikirkanmu," imbuhnya dengan senyum tipis terpatri di bibir.
Pemuda itu menyeringai tipis, dia mendekat pada Alita. "Aku akan membiarkanmu memikirkanku dengan soal Matematika," ujarnya.
Selembar kertas jatuh di lantai dan Mr. Kim menyuruh Alita memungutnya. "Itu tugasmu! Besok berikan padaku sebelum masuk kelas."
Mata Alita melebar sempurna. Bagaimana tidak, kertas putih itu penuh dengan soal-soal matematika yang sungguh mendebarkan jantung, membuat pingsan dalam setahun.
"Mr. Kim ...."
"Tidak ada penawaran dan toleransi. Di sini bukan pasar!"
Bersamaan dengan kaki Alita yang lemas dan hampir jatuh, pintu kelas terbuka kasar. Memunculkan sosok yang sedari tadi menghantui pikiran Alita.
"Summer ...," gumamnya tak percaya melihat penampilan tak biasa dari pemilik lesung pipi itu.
.
---
---
Coba tebak, spt apa penampilan Summer yg terbaru??😁
Ke depannya bakal banyak konten ttg Summer, jan bosan ya😊❤. Ingat klik jempol dan komen next.
***