Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"Siapa kalian?" tanya Dafa sambil menatap tajam ke arah dua orang yang ingin mendekati Jingga.
"Kau tak perlu tahu siapa kami, karena itu bukan urusanmu. Ikut kami nona!" ucap salah seorang yang berbadan tegap itu. Bahkan dia sengaja terus berjalan ke arah Jingga, namun cepat dihalau oleh Dafa, menyembunyikan tubuh Jingga ke belakang tubuhnya.
"Saya tanya sekali lagi, siapa kalian?" tanya Dafa lagi dengan suara meninggi.
"Kami cuma punya urusan dengan nona Jingga, dan kau tak berhak ikut campur urusan kami," jawab lelaki itu lagi, dan langsung memberi kode pada rekannya untuk segera membawa Jingga pergi.
Jingga yang disebut namanya jelas kaget, dia saja tidak mengenal mereka, tapi dari mana mereka tahu, pikirnya takut.
"Dafa, aku takut," ucap Jingga dengan nada bergetar.
"Tenang ya, ada aku disini. Kamu tetap dibelakang aku," balas Ken dan Jingga hanya mengangguk
"Cepatlah minggir, atau kau mau mati huh!" teriak lelaki itu dengan wajah marah.
"Sudah kubilang, aku tak akan pernah minggir sebelum tahu, siapa kalian dan kenapa kalian harus membawa Jingga?" tanya Dafa marah.
Tanpa banyak bicara lagi, salah satu dari lelaki itu langsung memberikan pukulan pada Dafa, namun dengan cepat Dafa menghindar.
Jingga yang melihat itu langsung syok, dia sungguh ketakutan. Disana Dafa sedang melawan lelaki sangar itu, hanya untuk melindunginya, sekarang dia bingung harus apa? Bahkan dari tadi tak ada seorang pun yang lewat untuk dimintai pertolongannya, pikir Jingga panik.
Namun karena Jingga panik dan terus berpikir bagaimana caranya menolong Dafa, tiba-tiba saja ada yang mencekal tangannya. Jingga nemekik keras, kala tahu siapa yang berusaha membawanya pergi. Rupanya salah satu rekan lelaki itu, tak mau ambil waktu terlalu lama, sementara rekannya membereskan Dafa, dia langsung mengambil kesempatan untuk segera membawa Jingga pergi.
"Lepaskan saya!" teriak Jingga keras. Bahkan dia terus berontak, namun lelaki itu terus menyeret Jingga agar masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan! Tolong... Tolong!" teriak Jingga lagi, berusaha agar ada yang mendengar teriakannya dan segera menolongnya.
"Diam!" bentak lelaki itu keras, bahkan dia terus mengeratkan cekalan pada tangan Jingga, yang membuat Jingga meringis.
"Saya mohon, saya mohon jangan bawa saya!" tangis Jingga, namun sudah terlambat karena lelaki itu sudah berhasil membawanya sampai didepan pintu mobil.
"Sekarang cepat masuk atau kami akan berbuat kasar!" ucap lelaki itu marah. Dia segera membawa Jingga masuk kedalam mobil.
Dafa terus melawan lelaki yang akan membawa Jingga pergi, namun karena kekuatan dia tak sebanding dengan lelaki itu, Dafa akhirnya kalah. Bahkan seluruh wajahnya babak belur, pipinya lebam dan ujung bibirnya sobek, hingga mengeluarkan darah.
Dafa begitu syok kala melihat Jingga yang diseret oleh rekan lelaki itu, bahkan dia sudah berhasil membawa Jingga masuk ke dalam mobilnya.
"Sial!" teriak Dafa frustrasi. Dia bingung harus apa, karena dia sendiri tidak bisa mengalahkan lelaki bertubuh tegap itu.
Dia ingin kembali melawan mereka, berusaha berdiri walau seluruh badannya terasa remuk, karena lelaki itu terus memberi pukulan pada wajah, perut, bahkan lelaki itu sempat menendang kakinya.
"Lepaskan dia!" teriak Dafa sambil berusaha mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, namun rupanya lelaki itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Dafa sedikit limbung karenanya.
"Akh sial! Bagaimana aku bisa menolong Jingga!" ucap Dafa frustrasi. Bahkan dia sangat khawatir, karena tadi dari kaca mobilnya, dia sempat melihat Jingga yang menangis karena ketakutan.
Dafa mencoba untuk menelepon Ray, agar bisa membantunya, tapi percuma karena jarak dari Bandung ke Malang sangat jauh. Dia terus mengotak-atik ponselnya, mencoba mencari pertolongan, namun sayangnya dia tak punya seseorang yang dia kenal di Malang, untuk dimintai pertolongan.
Disaat pikiran Dafa yang sedang kalut, tiba-tiba ada sebuah kendaraan yang lewat.
"Pak, berhenti! Tolong saya!" teriak Dafa sambil berusaha mengejar seorang lelaki yang sudah cukup berumur sedang mengendarai motornya.
Untungnya bapak itu langsung memberhentikan motornya, setelah mendengar teriakan Dafa, dan Itu membuat Dafa bernafas lega.
"Ada apa Nak?" tanya bapak itu penasaran.
"Pak tolong saya, antar saya mengejar mobil tadi. Teman saya diculik," jawab Dafa cepat.
"Apa! Ya sudah, cepat naik! Kita kejar mereka," ucap bapak itu, dan Dafa langsung naik ke atas motor Revo yang dikendarai bapak itu.
...-------...
Didalam mobil, Jingga terus berteriak dan terus berontak, karena dia sangat takut, membuat dia terus dibentak oleh lelaki yang menculiknya.
"Saya mohon lepaskan saya!" ucap Jingga dengan nada bergetar.
"Diam! Sudah ku katakan untuk diam, atau kau mau, kami melakukan sesuatu agar mulutmu itu diam!" bentak lelaki yang ada disamping Jingga, membuat tangis Jingga semakin keras.
"Aduh, kenapa dia berisik sekali? Coba kau tutup mulutnya dengan lakban, agar dia diam," ucap lelaki bernama Jojo pada rekannya. Dia sangat kesal mendengar teriakan dan tangisan dari wanita yang diculiknya itu.
"Baiklah," balasnya, dan langsung menutup mulut Jingga dengan lakban. Dia juga mengikat tangan Jingga dengan tali, agar dia berhenti berontak.
"Jo, kita mau bawa wanita ini kemana?" tanyanya lagi.
"Kita bawa dia ke hotel. Bukannya bos menyuruh kita untuk bersenang-senang," jawab Jojo dengan senyum iblisnya, dan dibalas seringaian oleh rekannya.
Jingga yang mendengar itu sontak membesarkan matanya. Dia langsung panik, bagaimana jika mereka akan memperkosanya lalu membunuhnya? Pikir Jingga panik.
Jingga terus menangis dan sesekali berdoa dalam hati, agar ada orang yang menolongnya.
...----------...
Dafa terus menyuruh bapak tadi untuk menambah kecepatan motornya, karena dia sangat khawatir pada Jingga. Dia sangat takut mereka melukai Jingga.
Dia terus berusaha mencari bantuan lagi, akhirnya dia bisa menghubungi kakaknya, dan menyuruhnya untuk segera menolongnya. Untunglah, Ray punya orang-orang yang sengaja dia tugaskan untuk menjaga neneknya di Malang. Sekarang Dafa sedikit lega karena orang-orang kepercayaan kakaknya, segera bergerak untuk mencari keberadaan Jingga.
Untunglah Dafa tadi sempat mengingat nomor polisi mobil yang membawa Jingga, setidaknya itu akan membantu orang suruhan kakaknya agar secepatnya menemukan keberadaan Jingga.
Dia juga mencoba melacak keberadaan Jingga lewat GPS ponsel Jingga, yang untungnya saat itu sedang aktif. Setidaknya itu akan membantu, agar cepat menemukan keberadaan Jingga.
Hampir saja Dafa berteriak kegirangan, kala dia menemukan lokasi Jingga saat ini. Dia segera menelepon orang suruhan Ray dan memberitahukan keberadaan lokasinya.
Namun dia sedikit kaget, dan langsung panik, saat dia tahu bahwa orang yang menculiknya itu akan membawa Jingga ke sebuah hotel.
"Pak lebih cepat lagi! Kita langsung menuju ke Hotel *******. Bapak tahu kan Hotel itu?" tanya Dafa lagi, namun dia terus mendesak agar bapak itu menambah kecepatan motornya, karena dia tak mau, mereka berbuat sesuatu pada Jingga.
"Iya Nak, saya tahu Hotel itu. Saya juga tahu jalan tercepat ke Hotel itu," jawabnya dan langsung menambah kecepatan motornya.
"Baiklah, terima kasih, " ucap Dafa sedikit lega. Mudah-mudahan saja, dia tidak terlambat menolong Jingga, pikirnya.
Jingga, bertahanlah sebentar lagi. Aku akan segera datang menolongmu, ucap Dafa dalam hati.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞