Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Kegelapan di dalam dungeon bawah tanah Sekte Racun Jiwa bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan cairan pekat yang berbau nanah, belerang, dan lendir busuk. Udara di ruangan itu begitu berat hingga setiap hembusan napas terasa seperti meraup segenggam pasir panas yang merobek paru-paru.
Mu Jin masih tergantung kaku. Tubuhnya tak lagi menyerupai manusia.
Kulit dadanya telah berubah menjadi lapisan kusam berwarna ungu kehitaman, melepuh dan merekah di puluhan titik. Dari celah-celah luka yang menganga, cairan bening bercampur nanah kekuningan terus menetes perlahan, menghantam lantai batu dengan bunyi plok... plok... yang monoton dan menyiksa.
Tetua Du Kang berdiri begitu dekat. Bau napasnya yang membara akibat racun terasa tepat di atas wajah Mu Jin. Di tangan kanan iblis tua itu, sepasang penjepit besi mencengkeram Cacing Darah Murni, seekor ulat merah tebal sepanjang jari yang tubuhnya bergetar dan meliuk-liuk licin, menumpahkan lendir asam yang memercik dan melubangi meja batu di bawahnya.
“Satu goresan kecil di ulu hati...” bisik Du Kang, suaranya dipenuhi gairah gila yang menjijikkan. “...dan cacing ini akan menggali jalannya sendiri masuk ke dalam jantungmu.”
SRET!
Tanpa pembius, tanpa belas kasihan, Du Kang menusukkan belati berkait ke ulu hati Mu Jin, lalu memutarnya perlahan untuk membuka luka melingkar sebesar ibu jari.
Darah hitam kental yang terpolusi berbagai zat beracun menyembur keluar, mengenai wajah Du Kang. Namun iblis tua itu justru tertawa histeris. Menggunakan penjepit besinya, dia menjejalkan ujung kepala Cacing Darah Murni lurus ke dalam luka terbuka tersebut.
SSSSZZZZT!
Sensasi yang tercipta bukan lagi sekadar rasa sakit, melainkan horor murni yang menjijikkan.
Mu Jin bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana ulat berlendir tebal itu mulai menggerogoti daging dalamnya. Dinding internal dadanya serasa diparut secara paksa dari dalam. Ulat itu menggeliat, memakan jaringan otot dan pembuluh darah murni, meninggalkan jejak lendir panas yang membakar setiap serat saraf di sekitar rongga dadanya.
AAGGHHHH!
Jeritan pertama akhirnya pecah dari kerongkongan Mu Jin. Suaranya serak, pecah, dan penuh dengan penderitaan liar yang tak sanggup ditahan oleh ketahanan fisik mana pun.
Matanya mendelik lebar hingga pembuluh darah di putih matanya pecah, menumpahkan air mata bercampur darah murni ke pipinya yang melepuh. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol kebiruan, berdenyut kencang seolah hendak meledak.
“Ya! Berteriaklah, Cacing!” jerit Du Kang gila.
Tak berhenti di sana, Du Kang menyambar sebuah mangkuk perunggu berisi Bubuk Larva Pemakan Lemak. Dia menyiramkan bubuk kasar berwarna hijau kemerahan itu lurus ke atas luka-luka terbuka di paha, rusuk, dan pundak Mu Jin.
Reaksi kimianya terjadi seketika.
Ribuan telur mikroskopis di dalam bubuk itu menetas saat menyentuh darah hangat. Dalam hitungan detik, larva-larva berukuran beras mulai menggeliat aktif di dalam jaringan daging terbuka Mu Jin. Mereka menggerogoti lapisan lemak dan otot secara masif, menciptakan bunyi desisan basah kriuk... kriuk... yang bergema mengerikan di dalam ruangan sunyi itu.
Sensasi gatal yang membakar, perih yang merobek, dan rasa geliut ribuan makhluk hidup di dalam dagingnya sendiri mendorong mental Mu Jin melampaui batas kegilaan.
Rantai besi hitam yang mengikat pergelangan tangannya berguncang hebat. BAM! BAM! BAM! Mu Jin memukulkan belakang kepalanya ke dinding batu di belakangnya secara berulang-ulang, sebuah upaya instingtif yang murni untuk menghancurkan kesadarannya sendiri agar tidak perlu merasakan siksaan yang tak masuk akal ini lagi.
Darah segar dari belakang kepalanya mengalir membasahi rambutnya yang kotor dan bergumpal nanah.
Setiap detik terasa seperti jutaan tahun di neraka paling dasar. Bau dagingnya sendiri yang membusuk, suara gigitan larva di dalam paha dan dadanya, serta cairan hangat jijik yang mengalir di seluruh tubuhnya melumat habis sisa-sisa kemanusiaan dan memori indah yang pernah dia miliki.
Wajah Jiang Xia yang lembut kini sepenuhnya pudar, tergantikan oleh rupa larva merah yang menggeliat di dalam matanya yang mengabur.
Mu Jin terkulai lemas saat malam kembali menelan dungeon. Napasnya tersengal-sengal tipis, sangat lemah bagai benang basah yang hampir putus. Dada dan pahanya dipenuhi lubang-lubang kecil tempat larva-larva racun bersarang dan mengalirkan bisa kental.
Di dalam kehampaan yang menjijikkan dan menyiksa itu, kesadaran Mu Jin tidak sepenuhnya padam. Kewarasannya telah mati dan hancur menjadi debu, meninggalkan sebuah ruang kosong yang kelam di mana insting pemangsa paling liar dan kegelapan murni mulai merayap naik mengisi seluruh jiwanya.