Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Malam itu, meja kerja Hafeng lebih rapi daripada pikirannya.
Tablet diletakkan sejajar dengan penggaris logam. Pensil mekanik tersusun berdasarkan ukuran. Buku referensi arsitektur berdiri di rak kecil sesuai tinggi punggung buku. Semua berada di tempat yang benar.
Kecuali satu amplop putih.
Amplop itu tergeletak di sisi kanan meja, terlalu dekat untuk diabaikan, terlalu jauh untuk disebut sengaja dibaca ulang. Hafeng sudah tiga kali memindahkannya. Dari meja ke laci. Dari laci ke tas. Dari tas kembali ke meja.
Dan sekarang ia ada di sana lagi.
`Dasar gila.`
Tulisan itu seperti sengaja menempel di kepalanya.
Hafeng menutup laptop.
"Aku benar-benar sudah gila."
Kalimat itu keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. Di apartemen kecil dekat kampus yang ia sewa agar dekat dengan studio, tidak ada Chiko yang tertawa, tidak ada Meiran yang menjawab dengan senyum menyebalkan, tidak ada Wanyu yang datang membawa air hangat.
Sunyi seharusnya nyaman.
Malam ini sunyi terasa salah.
Ia membuka laci untuk mengambil flashdisk, lalu melihat ruang kosong tempat payung hitam biasanya berada. Payung itu sekarang ada pada Meiran. Ia memang sengaja meninggalkannya di gagang pintu studio, tetapi kata `sengaja` membuat kepalanya lebih sakit.
Kenapa ia meninggalkannya?
Karena kemungkinan hujan.
Karena Meiran sering lupa membawa payung.
Karena maketnya bisa basah.
Karena...
Hafeng menghentikan pikirannya di sana.
"Karena aku tidak mau repot menjawab kalau dia sakit," gumamnya.
Alasan itu terdengar buruk bahkan bagi dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Nama Wanyu muncul di layar.
`Ko Hafeng, kamu baik-baik saja? Hari ini kamu terlihat lelah.`
Dulu, pesan seperti itu akan ia jawab singkat tetapi tetap dijawab. Wanyu adalah bagian dari lingkaran lama, seseorang yang sudah ada sebelum Lim Meiran mengacaukan ritme hidupnya.
Jarinya melayang di atas layar.
`Aku baik.`
Ia tidak menekan kirim.
Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti membuka percakapan yang tidak ingin ia buka. Ia menghapusnya, lalu meletakkan ponsel terbalik di meja.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponsel itu lagi.
Bukan untuk membalas Wanyu.
Ia membuka riwayat pesan dengan Meiran.
Percakapan terakhir hanya berisi instruksi lama.
`Studio maket, pukul 15.00. Pakai tanganmu.`
Hafeng menatap kalimat itu dan mendengus. "Perempuan jahat."
Namun ibu jarinya tetap menggulir ke atas. Kopi. Map. Printer. Payung. Semua perintah kecil itu kini terlihat seperti rute yang pernah ia jalani tanpa sadar.
Ia mengetik satu kalimat.
`Besok kamu butuh payung?`
Ia menatapnya.
Gila.
Ia menghapusnya.
Lalu mengetik lagi.
`Payungmu ada padamu?`
Lebih buruk.
Ia menghapusnya juga.
Ponsel dilempar ke sofa kecil di samping meja.
Hafeng berdiri, berjalan ke jendela, lalu melihat lampu-lampu Jakarta yang berbaris dingin di bawah sana. Dari lantai dua puluh apartemen, kota terlihat seperti maket besar yang terlalu rumit. Semua jalur bersilang, semua lampu punya arah, tetapi dari jauh tetap tampak kacau.
Seperti Lim Meiran.
Tidak.
Seperti dirinya sejak perempuan itu berhenti mengejarnya.
Hafeng memejamkan mata.
Ia masih membencinya.
Itu fakta.
Ia membenci caranya memaksa masuk ke hidupnya. Membenci ciuman itu. Membenci taruhan. Membenci bagaimana namanya dan nama Meiran sekarang muncul bersamaan di grup angkatan.
Tetapi kebencian seharusnya sederhana.
Kenapa kebencian ini membawa kopi favoritnya?
Kenapa kebencian ini ingat posisi payung?
Kenapa kebencian ini menyimpan surat?
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini dari Chiko.
`Bro, besok ke perpustakaan? Aku mau cari referensi. Jangan nyasar ke studio Meiran lagi.`
Hafeng mengetik cepat.
`Aku tidak pernah nyasar.`
Chiko membalas hampir seketika.
`Tentu. Gedung seni cuma cabang spiritual arsitektur.`
Hafeng mematikan layar.
Perpustakaan.
Kata itu menancap di kepalanya. Ia memang perlu mencari referensi untuk proyek lintas studio. Dan Meiran mungkin juga akan berada di sana, karena ia selalu mengejar data pengguna dan buku-buku tebal yang dulu tidak pernah disentuhnya.
Hafeng mengambil amplop putih dari meja.
Ia berniat memasukkannya ke laci.
Sebaliknya, ia memasukkannya ke dalam buku referensi yang akan ia bawa besok.
Sebelum menutup tas, ujung amplop itu terselip keluar sedikit. Hafeng mendorongnya masuk, lalu membuka lagi buku itu hanya untuk memastikan kertasnya tidak terlipat.
Ia membeku ketika sadar dirinya sedang melindungi surat yang katanya akan dibuang.
Ponsel di sofa menyala lagi.
Wanyu mengirim pesan kedua.
`Kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.`
Hafeng menatap layar dari jauh. Pesan itu hangat, benar, dan seharusnya mudah dijawab.
Namun pikirannya justru kembali ke satu kalimat Meiran.
`Kalau sakit, aku tidak mau asisten pribadiku bolos.`
Tidak lembut.
Tidak manis.
Tetapi entah kenapa lebih sulit diusir.
Hafeng mengambil ponsel, mengetik balasan singkat untuk Wanyu.
`Aku mau istirahat.`
Kali ini ia menekan kirim.
Setelah itu, ia mematikan notifikasi.
Baru setelah buku itu masuk ke tas, ia sadar apa yang baru saja ia lakukan.
Untuk beberapa detik, Hafeng berdiri diam di tengah kamar.
Lalu ia mematikan lampu meja.
"Besok cuma ke perpustakaan," katanya pada ruangan kosong.
Tidak ada yang menjawab.
Tetapi bahkan dalam gelap, ia tahu kalimat itu terdengar seperti alasan.
Malam itu, Hafeng baru tertidur setelah hampir satu jam menatap langit-langit, dan setiap kali hujan menyentuh kaca, ia teringat payung hitam yang tidak lagi ada di kamarnya.
Itu jelas bukan tidur yang tenang.