NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Suamiku Anak Mami

Selanjutnya...

Lampu tidur berbingkai emas memancarkan cahaya remang-remang yang temaram, memantulkan bayangan dua insan yang terlelap di bawah selimut sutra tebal.

Aisyah terbangun beberapa saat sebelum gema adzan Subuh berkumandang dari masjid terdekat. Kelopak matanya bergetar pelan, menyesuaikan diri dengan pendar lampu yang temaram.

Rasa pegal dan sisa-sisa kelelahan di persendian tubuhnya beradu dengan kesadaran penuh saat ia merasakan kehangatan kulit tubuh seseorang menempel erat di seluruh punggungnya.

Aisyah membulatkan matanya lalu menurunkan pandangannya ke bawah selimut.

Sebuah lengan kekar berselimut kekuatan pria dewasa melingkar di pinggangnya. Napas hangat Dimas yang teratur berhembus di tengkuk Aisyah.

Saat Aisyah menyadari kondisi tubuhnya yang polos tanpa benang sehelai pun di bawah gulungan selimut, begitu pula dengan Dimas yang merengkuhnya tanpa jarak, rona merah padam pun seketika membakar seluruh permukaan wajah hingga ke ujung telinganya.

"Astagfirullahaladzim..." batin Aisyah histeris. Jantungnya berdebar kencang bagaikan ditabuh ribuan genderang.

Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Aisyah memegang pergelangan tangan Dimas yang melingkari perutnya. Ia kemudian mencoba menggeser lengan kekar itu milimeter demi milimeter agar tidak membangunkan suaminya.

"Eungh..." Dimas bergumam serak dalam tidurnya. Gerakan kecil Aisyah membuat Dimas terusik. Ia lalu merapatkan tubuhnya, dan justru makin membenamkan wajahnya di leher Aisyah yang hangat.

Aisyah hanya bisa menahan napasnya dan mematung total. Wajahnya yang memerah makin terasa membara. "Bagaimana ini, Mas Dimas tidak mau melepaskan...," batin aiysa.

Setelah menunggu beberapa saat hingga napas Dimas kembali teratur dan kembali terlelap, Aisyah memberanikan diri melepaskan pelukan itu secara perlahan. Dengan gerakan berjinjit dan memeluk erat kain selimut untuk menutupi tubuhnya, Aisyah merayap turun dari kasur.

Ia menyambar pakaian gantinya dan mukena putih bersih yang tersimpan rapi di dalam lemari, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi berlantai marmer yang dingin.

Di depan cermin kamar mandi, Aisyah memegang kedua pipinya yang terasa amat panas.

Bayangan momen suci semalam, malam pertama di mana ia menyerahkan seluruh kepasrahan dan baktinya sebagai istri salehah di bawah ikatan pernikahan yang sah, membuat hatinya dipenuhi kehangatan dan rasa syukur.

"Aku sudah menyempurnakan separuh agamaku..."

Setelah menyucikan diri melalui mandi wajib dan berwudu, Aisyah mengenakan pakaian bersih serta mukena putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna.

Setengah jam kemudian, waktu Subuh hampir tiba. Aisyah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak begitu segar, bersih, dan memancarkan kecantikan yang alami.

Aisyah melangkah pelan mendekati tempat tidur. Dimana, di atas kasur itu Dimas masih terbaring miring, dan terlelap nyenyak dalam balutan selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya.

Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, dan raut wajahnya saat tidur tampak begitu polos tanpa sisa keangkuhan anak muda kota.

Aisyah yang berdiri di samping tempat tidur, kini mendudukkan dirinya perlahan di tepi kasur. Ia mengulurkan tangannya yang tertutup kain mukena dan menyentuh lembut bahu Dimas.

"Mas... Bentar lagi subuh, kita salat berjamaah yuk..." panggil Aisyah. Suaranya begitu lembut, merdu, dan penuh kehangatan yang sejuk, bagaikan tetesan embun pagi di tengah gersangnya hati.

Suara merdu itu merayap menyusup ke dalam alam mimpi Dimas. Pria muda itu pun bergerak gelisah, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya perlahan-lahan terbuka.

Iris mata coklat jernihnya menangkap sosok wanita bermukena putih yang duduk anggun tepat di sampingnya di bawah pendar lampu yang temaram.

Dimas mengedipkan matanya berulang kali, lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Rasa kantuk yang menggelayut di kepalanya perlahan luntur, berganti dengan binar kebahagiaan yang tak mampu ia sembunyikan.

"Aisyah... Ternyata aku gak mimpi," ujar Dimas dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, lalu mengukir senyuman lebar yang sangat tulus.

Aisyah pun tersenyum tipis seraya menatap Dimas dengan kehangatan seorang istri. "Mas gak mimpi, yuk bangun," balas Aisyah sambil beranjak dan hendak berdiri dari tepi kasur.

Namun, sebelum kaki Aisyah sempat menapak di lantai, jemari Dimas bergerak cepat. Pria itu meraih pergelangan tangan Aisyah dan menariknya dengan dorongan yang lembut namun bertenaga.

"Eh—! Mas!"

Aisyah terpekik kaget. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap kembali ke atas kasur yang empuk.

Sebelum ia sempat membetulkan posisinya, Dimas dengan cekatan memutar tubuhnya dan bergerak mengungkung Aisyah tepat di bawah tubuhnya.

Aisyah seketika membelalakkan matanya, lalu dengan cepat menutup kedua matanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya.

"Mas! Jangan begini!" pekik Aisyah dengan terengah-engah, wajahnya merah padam bagaikan udang rebus karena ia tau betul jika suaminya di atas sana masih belum mengenakan pakaian sehelai pun di balik selimut yang menjuntai.

Dimas malah terkekeh rendah, suara tawa seraknya terdengar amat seksi di keheningan subuh itu. Melihat istrinya yang begitu malu dan menggemaskan dalam balutan mukena putih, rasa cinta dan gelora di dalam hati Dimas membumbung tinggi.

Dimas lalu memegang kedua pergelangan tangan Aisyah, dan menariknya perlahan dari depan wajah Aisyah agar mata indah istrinya terbuka.

"Aisyah... Makasih ya buat semalam. Aku sangat mencintaimu, Syah..." bisik Dimas dengan nada suara yang begitu dalam, tulus, dan penuh emosi yang membara.

Dimas menatap bibir Aisyah yang merona alami. Rasa bahagia yang meluap usai menyatu penuh sebagai suami istri semalam membuat birahi dan pendar hasratnya kembali muncul secara alami di pagi yang dingin ini.

Dimas memiringkan kepalanya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya dan hendak mendaratkan kecupan hangat di bibir Aisyah.

Aisyah yang menyadari hal itu langsung membelalak dengan napas yang memburu. Namun dengan kecerdasan dan kesalehannya, Aisyah menahan dada bidang Dimas menggunakan kedua tangannya yang berbalut kain mukena bersih.

"Mas... Aku sudah mandi dan sudah bersiap untuk salat. Mas mandi dulu ya," kata Aisyah sambil menunjukkan mukena putih yang sudah melekat rapi di tubuhnya.

Dimas pun menghentikan gerakannya yang hanya beberapa sentimeter di depan wajah Aisyah. Pandangannya beralih dari bibir Aisyah ke kain mukena putih bersih yang melapisi dada istrinya.

Dimas mengerlipkan matanya, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang merajuk dan amat manja lalu kembali pada sifat khasnya saat keinginannya tertunda.

"Yah... Aisyah..." rengek Dimas, seraya memanyunkan bibirnya sedikit sambil menyandarkan dahi hangatnya di bahu berselimut mukena milik Aisyah. "Sebentar aja padahal... Kan kita udah sah..."

Aisyah yang tak tahan untuk tidak terkekeh pelan melihat tingkah manja suaminya yang menggemaskan, lantas mengelus lembut rambut belakang Dimas yang berantakan dengan penuh rasa kasih sayang.

"Iya, Aisyah tau kita sudah sah, Mas..." tutur Aisyah. "Tapi waktu Subuh tidak bisa menunggu. Bukankah Mas Dimas sekarang adalah imam keluarga ini? Seorang imam harus memimpin makmumnya menghadap Allah di awal waktu."

Kata-kata "imam keluarga" yang keluar dari bibir Aisyah menyentuh lubuk hati Dimas yang paling dalam.

Ada rasa bangga, tanggung jawab, dan kedewasaan yang mendadak mekar di dalam hatinya. Pria muda yang biasanya bersikap acuh tak acuh itu perlahan mengangkat kepalanya, dan menatap Aisyah dengan pandangan yang penuh rasa hormat.

"Kamu benar, Syah..." ujar Dimas yang akhirnya mengalah dengan senyuman hangat. "Ya udah, aku mandi wajib dulu ya. Kamu tungguin aku, kita salat berjamaah."

"Iya, Mas. Aisyah tunggu di sini," jawab Aisyah.

Dimas melepaskan kungkungannya, lalu bangkit dari kasur dengan membebatkan selimut sutra di pinggangnya, kemudian melangkah mantap menuju kamar mandi untuk bersuci.

Kini Aisyah duduk bersila di atas sajadah yang telah ia bentangkan menghadap kiblat. Hatinya dipenuhi rasa haru dan syukur yang sangat besar.

Di balik keputusasaan akibat fitnah warga dan tekanan mertua yang keras, Allah ternyata menyelipkan sesosok suami yang tidak hanya mencintainya dengan tulus, namun juga memiliki kelembutan hati yang mau dibimbing menuju kebaikan.

"Mudah-mudahan pernikahan kita selalu dalam Ridho-Nya... Aamiin..."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!