Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Selesai makan siang, rombongan beralih ke area lapangan terbuka di dalam benteng pertahanan. Angin utara yang tajam dan menggigit langsung menyambut begitu mereka melangkah keluar dari aula utama.
Di tengah lapangan yang terlapisi sisa salju tipis, puluhan prajurit berzirah besi tengah berlatih keras di bawah komando ketat Sir Oric.
Ting!
Ting!
Ting!
Suara dentingan pedang yang beradu dan teriakan disiplin militer memecah kesunyian udara dingin. Sir Oric tampak sibuk mengatur formasi barisan tombak, memastikan ketahanan fisik para prajurit perbatasan tetap berada di tingkat tertinggi.
Elliot berjalan di sisi Davira, sesekali melirik untuk memastikan mantel bulu merah peninggalan ibunya cukup menghangatkan sang istri dari terpaan angin es. Namun, atmosfer tenang itu seketika ikut terusik ketika Fiona dan Elizabeth merapat di dekat mereka.
Fiona sengaja sedikit menyusutkan bahunya, memeluk mantel pastelnya erat-erat seolah terkejut oleh suara dentingan baja yang keras. Ia memasang ekspresi rapuh nan polos, persis seperti arahan sang bibi malam tadi.
"Suara logam itu... terdengar begitu mengerikan," bisik Fiona dengan nada lembut yang sengaja dibuat sedikit gemetar, memposisikan dirinya dekat dengan Elliot. "Tempat ini selalu keras dan melelahkan. Aku selalu kagum pada ketahananmu memimpin mereka semua, Elliot."
Elliot bahkan tidak melirik ke arah Fiona. Pria itu mengabaikan pujian tersebut begitu saja, matanya justru beralih sejenak untuk memastikan kerah mantel bulu merah Davira terpasang dengan baik dan melindunginya dari angin dingin.
Melihat Elliot bergeming dan mengabaikannya, Elizabeth langsung maju selangkah untuk menutupi kecanggungan sekaligus menyambung perkataan Fiona.
"Tentu saja Lady Fiona, Anda sangat paham kerja keras kehidupan di benteng pertahanan ini," ucap Elizabeth dengan nada riang.
Fiona langsung tersenyum manis, meraih lengan Elizabeth dan merangkulnya erat-erat dengan penuh keakraban.
"Ah, omong-omong soal masa lalu, ingatkah dulu waktu kita diam-diam menonton latihan prajurit dari balkon utara?" tanya Fiona, sambil sengaja mengeratkan rangkulannya agar terlihat sangat dekat. "Kau bahkan hampir menjatuhkan topi wol kesayanganmu ke dalam lumpur waktu itu."
Elizabeth tertawa kecil, wajahnya merona hangat oleh kenangan tersebut. "Ya ampun, aku ingat sekali! Kau selalu ada di sisiku, Lady Fiona."
Fiona tersenyum penuh kemenangan, melirik sekilas ke arah Davira dengan sudut matanya, seolah ingin memastikan racun kecil itu mendarat tepat sasaran.
Namun, Davira tak bergeming. Wanita itu sedikit pun tidak terusik, bagi Davira, drama pamer keakraban murahan itu sama sekali tidak layak mendapatkan sedikitpun perhatiannya.
"My Lord!" panggil Sir Oric dari tengah lapangan, menghentikan latihan sejenak dan mengangkat pedang latihannya sebagai tanda hormat.
Elliot melangkah maju merespons. "Lanjutkan, Sir Oric! Tunjukkan pergerakan formasi pertahanan kedua!"
"Baik, My Lord!" seru Sir Oric, lalu kembali meniup peluit perak untuk mengatur barisan pasukannya.
Fiona mendadak merapatkan langkahnya ke sisi Elliot, memeluk mantel pastelnya sambil sedikit bergidik. "Suara benturan baja itu... sungguh memekakkan telinga. Tempat ini selalu keras, Elliot. Kau pasti sangat lelah memimpin mereka."
Elliot menatap Fiona sekilas dengan ekspresi datar. "Sudah kewajibanku memastikan para prajurit tetap siap, Fiona."
Davira hanya melirik sekilas ke arah barisan prajurit yang saling beradu pedang.
"Bagaimana menurutmu, Kakak Ipar?" panggil Elizabeth, suaranya sarat akan provokasi terang-terangan. "Apakah debu dan suara pedang di sini terlalu kasar untuk seleramu?"
Davira menoleh perlahan. Manik kelamnya menatap Elizabeth dengan pandangan lurus yang dingin, tanpa secercah pun emosi terusik di wajahnya.
"Prajurit berlatih untuk mengangkat pedang demi keselamatan wilayah, bukan untuk mencari perhatian penonton," jawab Davira tenang, sebelum ia melanjutkan dengan nada yang jauh lebih menusuk, "Dan jika yang kalian banggakan adalah latihan dengan gerakan lamban seperti itu, hanya butuh beberapa detik bagi satu prajurit Avarian untuk meruntuhkan sepuluh prajurit Orion sekaligus."
Pernyataan tajam itu langsung menghantam udara dingin lapangan.
Suasana di sekitar mendadak membeku. Dentingan pedang yang tadinya memekakkan telinga seketika berhenti.
Para prajurit berzirah besi menoleh dengan napas tertahan, sementara Sir Oric mematung di tempatnya, matanya membelalak lebar mendengar sebuah penghinaan telak terhadap kehormatan militer utara.
Elizabeth dan Fiona langsung naik pitam.
"Berani sekali kau!" seru Elizabeth, wajah mudanya memerah padam karena amarah yang meledak-ledak. "Kau merendahkan prajurit kami?!"
Fiona, yang sedari tadi memasang topeng gadis rapuh dan lembut, kini ikut melotot tajam. Seringai penuh kebencian tergambar jelas di wajahnya, tak menyangka wanita ibu kota itu tidak hanya diam, but membalas dengan pukulan paling mematikan yang langsung menghantam harga diri seluruh isi benteng.
Sebelum Elizabeth dan Fiona sempat melontarkan makian lebih jauh, suara berat Elliot langsung memotong udara dingin lapangan.
"Cukup, diam!"
Perintah mutlak itu terlontar, seketika membungkam ocehan panas keduanya.
Elliot kemudian berbalik sepenuhnya menghadap Davira. Pria itu melangkah mendekat, manik kelamnya menatap sang istri dengan sorot yang tajam, menyisipkan nada sinis yang dingin di balik suaranya.
"Apakah pasukan Avarian begitu hebat di matamu? Apakah kamu pernah menghadapi mereka secara langsung?" tanya Elliot perlahan, sebelah alisnya terangkat dengan tatapan menguji. "Atau kau hanya melempar bual besar untuk menutupi ketidaktahuanmu tentang bagaimana darah ditumpahkan di perbatasan ini?"
Davira terdiam sejenak. Manik kelamnya menerawang, membiarkan ingatan kelam dari kehidupan sebelumnya berkelebat cepat di dalam kepalanya. Ia teringat kembali laporan-laporan berdarah yang dulu diterimanya—bagaimana suku Avarian tampil begitu beringas dan tak kenal ampun dalam menumbangkan pasukan Orion, hingga akhirnya meratakan Kastil Orion beserta seluruh benteng pertahanannya menjadi lautan abu dan darah.
“Jelas suku Avarian memiliki mekanisme perang yang lebih mutakhir dibandingkan Orion,” batin Davira dingin, menyadari sebuah kenyataan pahit yang bahkan belum disadari oleh para petinggi utara yang sombong akan kekuatan masa lalu mereka.
Melihat Davira hanya terdiam tanpa langsung membela diri, Elliot menyipitkan mata, menuntut penjelasan atas ucapan sang istri yang dianggapnya sebagai bualan kosong.
"Jangan hanya diam, Davira," desak Elliot dengan suara berat dan penuh tekanan, menuntut jawaban segera. "Jelaskan apa maksud ucapanmu tadi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...