Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Topeng Perak
Kevin hampir merobek pintu lift servis dari luar.
Ketika pintu akhirnya terbuka, Keira berdiri dengan satu tangan mencengkeram jas lelaki bertopeng. Wajahnya pucat karena alkohol, matanya basah, dan bibirnya sedikit merah seperti baru digigit. Revano Hartono berdiri di depannya, masih memakai topeng perak, kedua tangannya terangkat setengah, seolah ingin membuktikan kepada seluruh dunia bahwa ia tidak menyentuh lebih dari yang perlu.
Kevin melihat itu.
Udara di koridor langsung berubah.
"Lepas dari dia."
Revano melepaskan tangan Keira.
Keira hampir jatuh, tetapi ia menahan diri di dinding lift. Kevin maju dan menariknya ke belakang tubuhnya.
"Kau memakai topeng untuk mendekati perempuan mabuk?" suara Kevin rendah, sangat rendah.
"Aku menghentikannya keluar lewat lift servis."
"Dengan mematikan lift?"
"Agar pengawalmu sempat menyusul."
Kevin tertawa tanpa humor. "Kau punya tiga detik sebelum aku lupa kau Hartono."
Keira mengangkat kepala. "Ko Kevin."
"Diam dulu, Kei."
"Jangan pukul dia."
Kevin menoleh tajam. "Apa?"
Keira menatap topeng perak itu. Dunia masih miring, tetapi di balik pusingnya, satu suku kata yang keluar dari mulutnya tadi menggantung seperti pecahan kaca.
Koh.
Ia tidak tahu kenapa menyebut itu.
Ia tidak memanggil Rayhan begitu. Ia tidak pernah memanggil Rayhan begitu. Namun kata itu keluar dari tempat yang lebih tua daripada pernikahan, lebih kabur daripada ingatan.
Revano menatapnya dari balik topeng.
"Bawa dia pulang," katanya kepada Kevin. "Dia butuh tidur, bukan keributan."
"Jangan beri perintah padaku."
"Itu saran."
"Saranmu bisa kau telan."
Keira tertawa kecil. Suaranya pecah.
Kevin langsung melunak. "Kei."
"Aku mau pulang."
Kevin memeluk bahunya dan membawanya pergi. Keira tidak menoleh lagi, tetapi saat mereka mencapai ujung koridor, ia mendengar suara Revano di belakangnya, hampir tidak terdengar.
"Maaf."
Satu kata.
Terlalu pelan.
Terlalu akrab.
Keesokan paginya, Keira bangun dengan sakit kepala yang terasa seperti ada palu kecil bekerja di balik pelipis.
Di meja samping ranjang, ada air mineral, obat hangover, bubur hangat, dan catatan dari Kevin.
Aku tidak bertanya apa yang terjadi di lift karena aku masih ingin hidup tenang pagi ini. Minum obat. Jangan bunuh siapa pun sebelum sarapan.
Keira membaca catatan itu dua kali.
Lalu ingatan datang.
Topeng perak.
Suara rendah.
Bibir yang tidak membalas sampai ia hampir marah.
Koh...
Keira menutup mata.
Rasa malu tidak datang lebih dulu. Yang datang lebih dulu adalah curiga.
Ia membuka ponsel, memanggil rekaman CCTV yang dikirim pengawal Liem. Dalam video tanpa suara, Revano berdiri di lift, menahan tangannya, menjaga jarak, lalu menekan tombol darurat. Tidak ada gerakan cabul, tidak ada celah untuk menyalahkannya sebagai lelaki bejat.
Justru itu masalahnya.
Ia terlalu tahu bagaimana tidak menyakitinya.
Keira mengganti pakaian dalam lima belas menit.
Kevin masuk tepat saat ia mengikat rambut.
"Kau mau ke mana?"
"Hartono Group."
"Tentu saja." Kevin menunjuk pintu dengan wajah tidak percaya. "Karena setelah mabuk, mencium pria bertopeng di lift, dan hampir membuat kakakmu terkena serangan jantung, langkah berikutnya memang mendatangi sarang pria itu sendirian."
Keira memasukkan ponsel ke tas. "Aku tidak sendiri. Aku membawa amarah."
"Amarahmu tidak punya izin membawa senjata."
"Tapi cukup untuk membuat orang bicara."
Kevin berdiri menghalangi pintu. "Kei, dengarkan aku. Rekaman lift servis hilang selama dua menit. Bukan rusak. Hilang. Orang yang bisa menghapus kamera hotel kelas itu tanpa meninggalkan tanda bukan sekadar pewaris kaya."
"Aku tahu."
"Tidak, kau belum tahu. Pengawal kita melihat lambang perak di akses lift. Simbol itu sama dengan perangkat komunikasi yang pernah muncul di laporan S404."
Keira berhenti.
Simbol topeng tanpa mata.
Simbol yang pernah masuk lewat ponsel hitam Rayhan, meski saat itu ia belum tahu arti apa pun di baliknya.
Kevin melihat perubahan kecil di wajahnya. "Kau kenal simbol itu?"
"Aku pernah melihat sesuatu yang mirip."
"Di mana?"
Keira menutup tasnya. "Dekat orang yang sudah mati."
Kevin tidak langsung menjawab.
Keheningan itu lebih berat daripada larangan. Ia menurunkan tangan dari pintu, tetapi tidak menyingkir sepenuhnya.
"Kalau kau menemukan jawaban yang kau takutkan," katanya pelan, "telepon aku sebelum kau menghancurkan ruangan."
Keira menatap kakaknya. Ada lelah di wajah Kevin yang tidak sempat ia lihat semalam. Ia bukan hanya marah pada Revano. Ia juga takut menyaksikan Keira hancur lagi dengan bentuk yang berbeda.
"Kalau aku menemukan jawaban itu," kata Keira, "mungkin ruangan sudah lebih dulu hancur."
"Setidaknya sisakan pelakunya hidup untuk kuinterogasi."
Untuk pertama kalinya sejak bangun, Keira hampir tersenyum.
"Aku usahakan."
Pukul sepuluh, ia tiba di Hartono Group tanpa membuat janji.
Lobi gedung itu dingin, tinggi, dan hening. Orang-orang yang tadinya berjalan cepat mendadak melambat saat melihat Keira Liem masuk dengan wajah tanpa riasan dan mantel hitam. Resepsionis berdiri dengan gugup.
"Bu Keira, apakah Ibu memiliki..."
"Revano Hartono."
"Maaf?"
"Katakan padanya aku di sini. Kalau dia tidak turun dalam tiga menit, aku naik sendiri dan membeli gedung ini hanya untuk membongkar liftnya."
Resepsionis memucat.
Sebelum ia sempat menekan interkom, pintu akses pribadi di sisi kiri terbuka.
Sinar berdiri di sana.
Keira membeku.
Sinar memakai setelan hitam Hartono, rapi, tanpa bekas jelaga, tanpa perban. Namun itu tetap Sinar. Lelaki yang berlutut di rumah duka sambil menyerahkan kotak abu Rayhan. Lelaki yang memanggil Rayhan dengan "Tuan" ketika panik di rumah sakit.
"Nona Keira," katanya pelan.
Suara itu menghantam lebih keras daripada semua alkohol semalam.
"Kenapa kau di sini?"
Sinar tidak menjawab.
Keira melangkah mendekat. "Aku tanya, kenapa kau di gedung Revano Hartono?"
Sinar menunduk. "Tuan menunggu."
"Tuan siapa?"
Sinar tetap diam.
Keira tertawa sekali. Pendek. Tajam. "Bagus."
Ia berjalan melewati Sinar.
Lift pribadi membawa mereka turun, bukan naik. Angka lantai bergerak ke bawah sampai tidak lagi menampilkan nomor, hanya simbol garis perak. Keira berdiri di tengah lift, tidak bicara. Sinar berdiri di belakangnya seperti orang yang menerima hukuman sebelum sidang dimulai.
Pintu terbuka ke sebuah lorong bawah tanah.
Tidak ada dekorasi mewah. Hanya dinding beton halus, lampu putih, dan pintu baja di ujung. Di samping pintu itu, alat pemindai retina menyala kecil.
Keira menatapnya. "Private dining-mu ternyata punya ruang bawah tanah."
Sinar tidak menjawab.
Pintu baja terbuka.
Ruangan di dalamnya tidak besar, tetapi terlalu rapi untuk disebut kantor. Ada meja panjang, layar dinding berisi peta jaringan, lemari senjata tertutup kaca gelap, dan di tengah ruangan, di atas dudukan hitam, topeng perak semalam tergeletak seperti bukti kejahatan.
Revano berdiri membelakangi pintu.
Tanpa topeng.
Wajah asingnya terlihat jelas saat ia berbalik. Wajah yang hanya memiliki sedikit bayangan Rayhan di garis mata dan cara menahan rahang. Lima puluh persen, mungkin enam puluh, cukup untuk membuat orang yang merindukan melihat hantu, tetapi tidak cukup untuk membuat akal sehat menyerah begitu saja.
Keira masuk.
Pintu baja tertutup di belakang Sinar.
"Keluar," kata Keira.
Sinar melihat Revano.
Revano mengangguk.
Sinar keluar tanpa suara. Pintu tertutup lagi, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang terlalu sunyi.
Keira berjalan ke meja, mengambil topeng perak, lalu melemparkannya ke dada Revano.
Ia menangkapnya.
"Pakai."
Revano menatapnya. "Keira."
"Pakai."
Ia tidak bergerak.
Keira mendekat, merebut topeng itu, dan menempelkannya ke wajah Revano dengan tangannya sendiri. Logam dingin bertemu kulit. Revano tidak melawan. Ia hanya berdiri, membiarkan jari-jari Keira gemetar di tepi topeng.
Begitu topeng menutupi setengah wajahnya, udara di paru-paru Keira hilang.
Lift.
Bar.
Ruang rumah sakit.
Telepon pukul dua pagi.
Api di Marunda.
Semua potongan itu bergerak cepat, terlalu cepat.
"Bicara," kata Keira.
"Apa yang ingin kau dengar?"
Suara dari balik topeng itu lebih dekat.
Terlalu dekat.
Keira mundur setengah langkah, lalu maju lagi dengan marah pada tubuhnya sendiri.
"Katakan namaku."
Revano diam.
"Katakan."
"Keira."
Satu kata.
Keira menamparnya.
Suara tamparan itu keras di ruang baja.
Topeng perak miring.
Revano tidak bergerak.
Keira menarik napas pendek, lalu menamparnya lagi, bukan karena ia sudah tahu, tetapi karena ia takut tahu.
"Jangan pakai suaranya."
"Itu suaraku."
Keira membeku.
Kalimat itu jatuh terlalu pelan.
Ia menatap topeng yang miring di wajah Revano, lalu meraih tepinya dengan kedua tangan.
"Kalau kau berani berbohong dengan wajah orang mati..."
Ia menarik topeng itu.
Logam terlepas.
Wajah Revano kembali terlihat, asing, tampan, dan terlalu hidup. Tidak ada wajah Rayhan di sana sepenuhnya. Tidak ada luka bakar Marunda. Tidak ada abu. Hanya mata yang sama gelapnya dengan malam ketika seseorang bercerita sampai ia tertidur.
Keira menggenggam topeng itu begitu keras sampai buku jarinya memutih.
"Kau siapa?"
Revano menatapnya.
Semua kalimat yang sudah ia siapkan selama tiga puluh tujuh hari hancur di depan wajah Keira yang terluka.
Tubuhnya sebenarnya belum siap berlutut. Luka lama di punggung masih menarik setiap kali ia bergerak terlalu cepat, dan terapi dari negara H belum selesai sepenuhnya. Namun ada hukuman yang tidak bisa diwakilkan oleh Sinar, tidak bisa dibayar dengan saham Hartono, dan tidak bisa ditunda sampai tubuhnya lebih kuat.
Ia berlutut.
Lututnya menyentuh lantai beton dengan suara tumpul.
Keira mundur satu langkah.
Revano menundukkan kepala.
"Ini aku."